Cretad by: Fatimatasari, M.Keb., Bdn
Peringatan Hari Ibu seharusnya tidak hanya menjadi momen simbolik untuk mengucapkan terima kasih, tetapi juga ruang refleksi untuk melihat secara jujur realitas yang masih dihadapi perempuan. Di balik peran besar perempuan dalam keluarga dan masyarakat, masih terdapat ketimpangan dan kerentanan yang berdampak langsung pada kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup mereka.
Kemajuan di bidang pendidikan dan partisipasi kerja perempuan memang patut diapresiasi. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan perempuan belum berakhir. Tantangan yang dihadapi hari ini bukan hanya soal akses, tetapi juga soal beban struktural yang terus melekat pada kehidupan perempuan sepanjang siklus hidupnya.
Beban Ganda yang Masih Dianggap Wajar
Salah satu tantangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan adalah beban ganda. Banyak perempuan menjalani peran sebagai pekerja—baik di sektor formal maupun informal—sekaligus tetap memikul tanggung jawab utama atas pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan keluarga.
Di Indonesia, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai sekitar 54%, sementara laki-laki berada di atas 80%. Namun meskipun semakin banyak perempuan yang bekerja, tanggung jawab pekerjaan domestik dan perawatan keluarga masih sangat didominasi perempuan. Pekerjaan domestik dan perawatan ini sebagian besar bersifat unpaid domestic work: tidak dibayar, tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi, dan sering dianggap sebagai “kodrat”. Padahal, pekerjaan ini membutuhkan waktu, energi, dan mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental perempuan.
Kekerasan dan Pelecehan Seksual
Selain beban domestik, perempuan juga lebih rentan mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, baik di ranah domestik maupun publik. Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 10 perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan selama hidupnya, dan angka ini lebih tinggi jika termasuk kekerasan oleh pelaku non-pasangan.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat puluhan ribu kasus kekerasan berbasis gender setiap tahun, dengan kekerasan seksual sebagai salah satu bentuk yang paling dominan. Dampaknya tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga mencakup trauma psikologis, gangguan kesehatan reproduksi, dan penurunan kualitas hidup perempuan.
Kematian Ibu dan Penyakit Degeneratif pada Perempuan
Dalam bidang kesehatan, ketimpangan terhadap perempuan juga tercermin dari masih tingginya angka kematian ibu. Berdasarkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu di Indonesia mencapai sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup, padahal sebagian besar penyebabnya dapat dicegah melalui pelayanan kesehatan yang tepat waktu dan berkualitas.
Di luar kehamilan dan persalinan, perempuan juga menghadapi beban penyakit degeneratif yang signifikan. Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hipertensi, dan osteoporosis merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Perempuan memiliki kerentanan khusus terhadap beberapa penyakit ini, dipengaruhi oleh faktor biologis, hormonal, beban kerja ganda, stres kronis, serta keterlambatan deteksi dini.
Mengapa Bidan Harus Ikut Andil?
Dalam konteks tantangan tersebut, bidan memiliki peran yang sangat strategis. Bidan bukan hanya tenaga kesehatan yang hadir saat persalinan, tetapi pendamping perempuan sepanjang siklus hidup—dari remaja, usia reproduksi, kehamilan, nifas, hingga masa lanjut usia.
Peran bidan menjadi krusial dalam hal:
- promosi kesehatan yang peka gender,
- deteksi dini masalah kesehatan dan kekerasan terhadap perempuan,
- penguatan perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi,
- pemberdayaan perempuan agar memiliki pengetahuan dan posisi tawar dalam pengambilan keputusan kesehatan.
Hari Ibu sebagai Momentum Perubahan
Hari Ibu seharusnya menjadi pengingat bahwa menghormati perempuan tidak cukup dengan simbol dan ucapan. Penghormatan sejati terwujud melalui upaya nyata untuk mengurangi beban yang tidak adil, melindungi perempuan dari kekerasan, serta memastikan perempuan dapat hidup sehat dan bermartabat sepanjang hidupnya.
Perjuangan perempuan belum berakhir. Dan bidan, dengan ilmu, empati, dan perannya di masyarakat, harus ikut andil dalam perjuangan ini.
Untuk mewujudkan keadilan dan kesehatan bagi perempuan, dibutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga peka terhadap realitas sosial. Program Studi S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata memegang peran penting dalam menyiapkan bidan yang mampu berkontribusi nyata bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat.
Menjadi bidan bukan sekadar profesi, tetapi panggilan untuk mendampingi, melindungi, dan memperjuangkan kesehatan perempuan—hari ini dan untuk generasi yang akan datang.
Daftar Pustaka
- Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia 2023. Jakarta: BPS; 2023.
- Badan Pusat Statistik. Angka Kematian Ibu (AKI) Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020. Jakarta: BPS; 2021.
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024. Jakarta: KemenPPPA; 2024.
- Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan. Jakarta: Komnas Perempuan; 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
- World Health Organization. Noncommunicable Diseases Country Profile: Indonesia. Geneva: WHO; 2022.