by Admin Kebidanan | Mar 31, 2026 | Artikel
(Written by Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb)
Masa postpartum atau masa nifas merupakan periode penting dalam siklus reproduksi perempuan yang dimulai setelah proses persalinan hingga sekitar enam minggu kemudian. Pada periode ini tubuh ibu mengalami berbagai proses pemulihan fisiologis setelah melalui kehamilan dan persalinan. Perubahan yang terjadi meliputi involusi uterus, penyesuaian hormon, pemulihan luka persalinan, serta adaptasi sistem tubuh lainnya. Selain itu, otot dan jaringan pada area abdomen mengalami peregangan yang cukup besar selama kehamilan sehingga memerlukan waktu untuk kembali ke kondisi semula. Oleh karena itu, berbagai metode perawatan postpartum dilakukan untuk membantu mempercepat proses pemulihan tubuh ibu, salah satunya adalah belly binding postpartum.
Belly binding postpartum merupakan teknik membungkus atau mengikat area perut menggunakan kain panjang atau alat khusus yang bertujuan memberikan dukungan pada otot abdomen setelah persalinan. Praktik ini telah lama dikenal dalam berbagai budaya di dunia sebagai bagian dari perawatan tradisional ibu setelah melahirkan. Di beberapa negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia, teknik ini dikenal dengan istilah bengkung, yaitu penggunaan kain panjang yang dililitkan secara bertahap dari bagian panggul hingga bawah dada. Dalam perkembangan praktik kesehatan modern, belly binding juga tersedia dalam bentuk alat khusus seperti belly wrap atau abdominal binder yang lebih praktis digunakan oleh ibu postpartum.
Selama masa kehamilan, rahim yang membesar menyebabkan peregangan pada otot perut dan jaringan ikat di sekitarnya. Kondisi ini sering menyebabkan kelemahan otot abdomen setelah persalinan sehingga ibu merasa kurang stabil saat melakukan aktivitas sehari-hari. Penggunaan belly binding dapat memberikan kompresi ringan pada area perut sehingga membantu menopang otot abdomen dan memberikan rasa stabilitas pada tubuh ibu. Dengan adanya dukungan tersebut, ibu dapat merasa lebih nyaman saat berjalan, duduk, atau melakukan aktivitas lainnya selama masa pemulihan setelah melahirkan.
Selain memberikan dukungan pada otot perut, belly binding juga dilaporkan dapat membantu mengurangi rasa nyeri setelah persalinan, terutama pada ibu yang menjalani operasi caesar. Tekanan ringan yang diberikan oleh abdominal binder dapat membantu menstabilkan area luka operasi sehingga ibu merasa lebih nyaman saat bergerak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan abdominal binder setelah operasi caesar dapat membantu mengurangi tingkat nyeri dan meningkatkan mobilitas ibu pada hari-hari pertama setelah persalinan. Dengan mobilitas yang lebih baik, proses pemulihan ibu dapat berlangsung lebih optimal.
Manfaat lain dari belly binding adalah membantu memperbaiki postur tubuh ibu setelah melahirkan. Pada masa postpartum, otot inti tubuh masih dalam kondisi lemah sehingga ibu sering mengalami keluhan nyeri punggung atau cenderung membungkuk saat menyusui dan merawat bayi. Belly binding dapat membantu menjaga posisi tubuh agar tetap stabil dan tegak sehingga mengurangi tekanan pada punggung. Selain itu, penggunaan belly binding juga sering dikaitkan dengan dukungan dalam proses pemulihan kondisi diastasis recti, yaitu pemisahan otot perut yang sering terjadi setelah kehamilan.
Meskipun demikian, penggunaan belly binding harus dilakukan dengan cara yang tepat dan tidak terlalu ketat. Tekanan yang berlebihan pada area perut dapat menimbulkan ketidaknyamanan bahkan berpotensi mengganggu pernapasan atau memberikan tekanan berlebih pada dasar panggul. Oleh karena itu, penggunaan belly binding sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan ibu serta dilakukan dengan teknik yang benar. Tenaga kesehatan, khususnya bidan, memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada ibu mengenai cara penggunaan belly binding yang aman selama masa nifas.
Selain itu, penting untuk dipahami bahwa belly binding bukanlah metode utama untuk menurunkan berat badan atau mengembalikan bentuk tubuh seperti sebelum hamil secara instan. Pemulihan tubuh setelah kehamilan merupakan proses alami yang membutuhkan waktu. Faktor seperti nutrisi yang adekuat, aktivitas fisik yang sesuai, istirahat yang cukup, serta dukungan keluarga juga memiliki peran penting dalam membantu pemulihan ibu postpartum secara optimal.
Secara keseluruhan, belly binding postpartum merupakan salah satu metode perawatan nonfarmakologis yang dapat memberikan dukungan pada proses pemulihan fisik ibu setelah persalinan. Dengan penggunaan yang tepat, belly binding dapat membantu meningkatkan kenyamanan, memberikan stabilitas pada otot abdomen, serta mendukung mobilitas ibu selama masa nifas. Oleh karena itu, praktik ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi pendukung dalam perawatan ibu postpartum, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan rekomendasi dari tenaga kesehatan.
Referensi:
- Lin, S. L., Lee, Y. H., & Chen, Y. C. (2024). Effectiveness of abdominal binder after cesarean section: A systematic review and meta-analysis. Midwifery, 131, 103933.
Studi ini menemukan bahwa penggunaan abdominal binder dapat meningkatkan kenyamanan serta membantu pemulihan mobilitas ibu setelah persalinan operasi.
- Sophia, S., Nurhayati, N., & Rahmawati, D. (2023). The effect of belly binding and abdominal exercise on reducing diastasis recti in postpartum mothers. Jurnal Keperawatan Komprehensif, 9(1), 1–8.
Penelitian ini menjelaskan bahwa belly binding yang dikombinasikan dengan latihan abdomen dapat membantu menurunkan derajat diastasis recti pada ibu postpartum.
- Healthline Editorial Team. (2020). Postpartum belly binding: Types, benefits, and how-to. Healthline.
Artikel ini menjelaskan konsep belly binding postpartum, manfaat, jenis belly wrap, serta cara penggunaan yang aman bagi ibu setelah melahirkan.
by Admin Kebidanan | Mar 30, 2026 | Artikel
Belum lolos SNBP? Tidak perlu berkecil hati. Masih ada kesempatan untuk melanjutkan studi di bidang kebidanan dan mewujudkan cita-cita menjadi bidan profesional bersama S1 Kebidanan Universitas Alma Ata.
Program ini hadir sebagai pilihan tepat bagi kamu yang memiliki minat dan kepedulian di dunia kesehatan ibu dan anak. Dengan kurikulum berbasis evidence-based practice, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dibekali keterampilan klinis yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan saat ini.
Proses pembelajaran dirancang secara interaktif melalui pendekatan case-based learning, praktik laboratorium, serta pengalaman langsung di lahan praktik, sehingga mahasiswa siap menghadapi tantangan di dunia kerja.
Didukung oleh dosen profesional dan berpengalaman, S1 Kebidanan Universitas Alma Ata berkomitmen mencetak lulusan yang:
- Kompeten dan siap kerja
- Memiliki keterampilan klinis yang kuat
- Beretika dan profesional
- Mampu berpikir kritis dalam pengambilan keputusan
Fasilitas pembelajaran yang lengkap, jejaring praktik yang luas, serta lingkungan akademik yang kondusif menjadi nilai tambah dalam mendukung proses belajar yang optimal.
✨ Kesempatan masih terbuka!
Melalui jalur seleksi yang tersedia, kamu tetap memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan di bidang kebidanan.
Karena tidak lolos SNBP bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari langkah baru menuju impianmu bersama S1 Kebidanan Universitas Alma Ata.
by Admin Kebidanan | Mar 26, 2026 | Artikel
Perayaan Idul Fitri selalu identik dengan kebersamaan, silaturahmi, serta beragam hidangan khas yang menggugah selera. Setelah sebulan menjalani ibadah puasa, momen Lebaran menjadi ajang “balas dendam” bagi sebagian orang untuk menikmati berbagai makanan favorit. Namun, euforia tersebut sering kali tidak berhenti saat hari raya usai. Pada kalangan remaja, kebiasaan makan berlebih justru berlanjut hingga beberapa hari bahkan minggu setelah Lebaran.
Perubahan pola makan selama Lebaran umumnya ditandai dengan meningkatnya konsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan kalori. Kue kering, minuman manis, serta hidangan bersantan menjadi menu harian yang sulit dihindari. Dalam kondisi ini, remaja menjadi kelompok yang cukup rentan karena cenderung belum memiliki kontrol diri yang kuat terhadap pilihan makanan, serta mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa periode libur panjang, termasuk Lebaran, sering dikaitkan dengan peningkatan asupan energi yang tidak diimbangi dengan aktivitas fisik. Kebiasaan ini berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan dalam waktu singkat. Pada remaja, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berisiko memicu gangguan kesehatan yang lebih serius jika berlangsung terus-menerus.
Konsumsi gula, garam, dan lemak dalam jumlah berlebih telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular. Pada usia remaja, kebiasaan ini dapat menjadi awal munculnya berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, gangguan metabolisme, hingga risiko Diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Selain itu, pola makan tinggi kalori tanpa diimbangi aktivitas fisik juga dapat memengaruhi keseimbangan energi tubuh dan menurunkan kebugaran.
Tidak hanya berdampak jangka panjang, pola makan berlebih pasca Lebaran juga dapat menimbulkan keluhan jangka pendek, seperti perut kembung, gangguan pencernaan, hingga rasa lemas akibat fluktuasi kadar gula darah. Hal ini berkaitan dengan kondisi Gut health yang terganggu akibat perubahan pola konsumsi secara mendadak.
Situasi ini semakin diperparah dengan menurunnya aktivitas fisik selama masa liburan. Remaja cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan aktivitas sedentari, seperti bermain gawai atau menonton, sehingga energi yang masuk tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Kombinasi antara pola makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama meningkatnya risiko kelebihan berat badan pada remaja.
Oleh karena itu, periode pasca Lebaran menjadi momentum penting untuk kembali menerapkan pola hidup sehat. Remaja perlu mulai mengatur kembali pola makan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta memperbanyak asupan buah dan sayur. Selain itu, peningkatan aktivitas fisik secara bertahap, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan, dapat membantu mengembalikan kondisi tubuh ke حالت optimal.
Peran lingkungan juga tidak kalah penting. Dukungan dari keluarga dan sekolah dalam menyediakan pilihan makanan sehat serta edukasi gizi yang tepat dapat membantu remaja membangun kebiasaan yang lebih baik. Literasi kesehatan sejak dini menjadi kunci agar remaja mampu membuat keputusan yang tepat terkait pola makan dan gaya hidupnya.
Euforia Lebaran memang menjadi bagian dari tradisi yang penuh makna. Namun, menjaga keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan tetap menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Dengan kesadaran dan langkah sederhana, remaja dapat menikmati momen Lebaran tanpa harus mengorbankan kesehatan di masa depan.
Referensi
- Hamiati, H. (2025). Pengaruh Libur Lebaran terhadap Kenaikan Berat Badan. Jurnal Kesehatan Nusantara.
- Masri, E. (2022). Literasi Gizi dan Konsumsi Gula, Garam, Lemak pada Remaja.
- Pamungkas, C.R.S. (2025). Kebiasaan Konsumsi Gula pada Remaja.
- Marpaung, S.H. (2024). Pola Makan dan Obesitas pada Remaja.
- Kusnul, Z. (2025). Edukasi Pembatasan Konsumsi Gula, Garam, Lemak pada Remaja.
by Admin Kebidanan | Mar 12, 2026 | Artikel
Created by Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb
Menjelang Hari Raya Idulfitri, berbagai aktivitas biasanya mulai meningkat. Mulai dari membantu persiapan di rumah, berbelanja kebutuhan Lebaran, hingga berkumpul dengan keluarga dan teman. Bagi remaja, momen ini tentu menjadi waktu yang menyenangkan. Namun di sisi lain, perubahan rutinitas menjelang Lebaran sering kali memengaruhi pola makan, waktu tidur, serta kebiasaan sehari-hari.
Secara ilmiah, masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Pada fase ini, tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, aktivitas fisik yang seimbang, serta waktu istirahat yang memadai untuk mendukung perkembangan fisik dan mental. Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa kesehatan remaja sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup sehari-hari, termasuk pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur. Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat tetap penting meskipun aktivitas menjelang Lebaran meningkat.
Salah satu perubahan yang sering terjadi menjelang Lebaran adalah pola makan. Berbagai makanan khas seperti kue kering, makanan manis, dan makanan tinggi lemak biasanya tersedia dalam jumlah banyak. Konsumsi makanan tersebut sebenarnya tidak dilarang, tetapi perlu diperhatikan jumlah dan frekuensinya. Asupan gula dan lemak yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, meningkatkan risiko gangguan pencernaan, serta memengaruhi keseimbangan energi dalam tubuh. Oleh karena itu, remaja dianjurkan untuk tetap mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, serta serat dari sayur dan buah.
Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan remaja. Saat libur menjelang Lebaran, banyak remaja lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan aktivitas pasif seperti bermain gawai atau menonton. Padahal, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan metabolisme, serta membantu menjaga kesehatan mental. Rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan anak dan remaja untuk melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari dengan intensitas sedang hingga tinggi. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, olahraga ringan, atau membantu pekerjaan rumah dapat menjadi cara efektif untuk tetap aktif selama masa persiapan Lebaran.
Kualitas tidur juga sering mengalami perubahan menjelang Lebaran. Kesibukan mempersiapkan berbagai kebutuhan atau meningkatnya penggunaan gawai dapat membuat waktu tidur menjadi tidak teratur. Padahal remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam untuk mendukung fungsi otak, konsentrasi belajar, serta sistem kekebalan tubuh. Kurang tidur dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi suasana hati.
Di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan juga menjadi salah satu kebiasaan yang sering terjadi pada remaja saat masa libur. Gawai digunakan untuk berbagai aktivitas seperti bermain media sosial, menonton video, atau bermain gim. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa durasi screen time yang terlalu lama dapat memengaruhi kesehatan mata, kualitas tidur, serta menurunkan aktivitas fisik pada remaja. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk mengatur waktu penggunaan gawai agar tetap seimbang dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial.
Menjelang Lebaran merupakan momen yang penuh kebahagiaan dan kebersamaan. Namun menjaga kesehatan tetap menjadi hal yang penting, terutama bagi remaja yang sedang berada pada masa pertumbuhan. Dengan menjaga pola makan yang seimbang, tetap aktif bergerak, cukup istirahat, serta menggunakan gawai secara bijak, remaja dapat menikmati suasana Lebaran dengan tubuh yang sehat dan bugar.
Kesehatan yang baik tidak hanya mendukung aktivitas sehari-hari, tetapi juga membantu remaja menjalani masa pertumbuhan secara optimal serta mempersiapkan masa depan yang lebih sehat.
Referensi
World Health Organization. Adolescent health. Geneva: World Health Organization; 2024.
World Health Organization. Guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: World Health Organization; 2020.
Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228.
Chaput JP, Willumsen J, Bull F, et al. WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour for children and adolescents. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity. 2020;17:141.
Stiglic N, Viner RM. Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: a systematic review of reviews. BMJ Open. 2019;9:e023191.
by Admin Kebidanan | Mar 5, 2026 | Artikel
Written by Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb.
Puasa merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Muslim. Namun, bagi ibu hamil, keputusan untuk berpuasa sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan bagi diri sendiri dan janin yang dikandung. Secara medis, kehamilan adalah kondisi fisiologis yang membutuhkan perhatian khusus terhadap keseimbangan nutrisi, cairan, serta stabilitas metabolisme tubuh.
Perubahan Fisiologis Saat Hamil dan Berpuasa
Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan metabolik. Kebutuhan energi meningkat untuk mendukung pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, serta perubahan jaringan tubuh ibu. Laju metabolisme basal meningkat sekitar 15–20%, dan terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12–14 jam (bahkan lebih, tergantung lokasi geografis). Dalam kondisi ini, kadar glukosa darah akan menurun secara bertahap, lalu tubuh mulai menggunakan cadangan glikogen dan lemak sebagai sumber energi. Pada ibu hamil, proses ini dapat berlangsung lebih cepat karena kebutuhan energi yang lebih tinggi. Adaptasi ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh, namun perlu diperhatikan agar tidak terjadi kekurangan energi atau dehidrasi.
Dampak Puasa terhadap Ibu dan Janin
Berdasarkan berbagai penelitian terbaru hingga tahun 2025, sebagian besar studi menunjukkan bahwa puasa pada ibu hamil yang sehat dan tanpa komplikasi tidak secara konsisten meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, atau gangguan skor Apgar. Namun, beberapa penelitian tetap menemukan variasi kecil pada berat lahir bayi, terutama bila asupan nutrisi ibu saat sahur dan berbuka tidak mencukupi.
Secara fisiologis, janin mendapatkan nutrisi melalui plasenta yang berfungsi sebagai sistem distribusi zat gizi dari ibu. Jika ibu mengalami penurunan asupan kalori dan cairan secara signifikan dalam waktu lama tanpa kompensasi nutrisi yang baik di luar jam puasa, maka potensi gangguan pertumbuhan janin dapat meningkat.
Selain itu, dehidrasi menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Kekurangan cairan dapat menyebabkan ibu merasa lemas, pusing, hingga memicu kontraksi dini pada sebagian kasus tertentu. Oleh karena itu, hidrasi optimal saat berbuka dan sahur sangat penting.
Trimester Kehamilan dan Pertimbangan Risiko
Trimester pertama sering dikaitkan dengan mual muntah yang cukup berat. Pada kondisi ini, puasa dapat memperberat gejala dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Trimester kedua umumnya dianggap sebagai periode paling stabil dalam kehamilan, sehingga sebagian ibu merasa lebih mampu menjalani puasa. Sementara pada trimester ketiga, kebutuhan energi meningkat pesat karena pertumbuhan janin yang cepat, sehingga pemantauan kondisi ibu dan janin menjadi sangat penting.
Ibu dengan kondisi khusus seperti anemia, diabetes gestasional, hipertensi dalam kehamilan, riwayat kelahiran prematur, atau gangguan pertumbuhan janin sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut sebelum memutuskan untuk berpuasa.
Perspektif Ilmiah Jangka Panjang
Beberapa kajian terbaru juga membahas konsep “programming janin”, yaitu bagaimana kondisi nutrisi selama kehamilan dapat memengaruhi kesehatan anak di masa depan. Meskipun bukti mengenai dampak jangka panjang puasa Ramadan masih belum konklusif, para peneliti menyarankan agar kecukupan nutrisi tetap menjadi prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan optimal janin. Artinya, puasa bukan semata-mata persoalan boleh atau tidak, tetapi lebih pada bagaimana menjaga keseimbangan nutrisi dan memastikan kondisi kesehatan ibu tetap stabil.
Prinsip Aman Berpuasa bagi Ibu Hamil
Secara umum, ibu hamil yang ingin berpuasa perlu memperhatikan beberapa prinsip penting. Asupan sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta cukup serat agar energi bertahan lebih lama. Cairan harus dipenuhi secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi. Suplementasi zat besi, asam folat, dan kalsium tetap harus dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Apabila muncul tanda bahaya seperti pusing berat, lemas ekstrem, nyeri perut hebat, kontraksi teratur, atau penurunan gerakan janin, maka puasa sebaiknya segera dihentikan dan ibu perlu mendapatkan evaluasi medis.
Kesimpulan
Secara ilmiah, puasa pada ibu hamil yang sehat tidak selalu berbahaya dan dalam banyak penelitian tidak menunjukkan dampak negatif yang signifikan terhadap luaran kehamilan. Namun, setiap kehamilan bersifat unik. Kondisi kesehatan ibu, usia kehamilan, status nutrisi, serta riwayat obstetri menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Pendekatan terbaik adalah keputusan yang bersifat individual, berdasarkan konsultasi medis dan pemantauan yang tepat. Dengan perencanaan nutrisi yang baik, hidrasi yang cukup, serta pemantauan kesehatan secara berkala, ibu hamil dapat mempertimbangkan puasa dengan lebih aman dan bertanggung jawab.
Referensi
Glazier JD, Hayes DJL, Hussain S, D’Souza SW, Whitcombe J, Heazell AEP. The effect of Ramadan fasting during pregnancy on perinatal outcomes: An umbrella review. Int J Gynecol Obstet. 2025;168(2):345–356.
Bakhsh H, Al-Raddadi R, Al-Malki A, et al. Ramadan fasting and its impact on fetal Doppler indices and perinatal outcomes in healthy pregnant women: A prospective cohort study. Pak J Med Sci. 2025;41(1):112–118.
Musa AB, Ibrahim SM, Lawal AO, et al. Maternal fasting during pregnancy and birth weight outcomes in a sub-Saharan population. BMC Pregnancy Childbirth. 2025;25:148.
by Admin Kebidanan | Feb 26, 2026 | Artikel
Created by Ratih Devi Alfiana, S.ST., M.Keb
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Menstruasi atau haid menjadi tanda seorang perempuan mengalami pubertas atau baligh. Sehingga ia harus mengenali sifat-sifat, apa yang tidak boleh dikerjakan selama haid, dan hal lainnya.
Usia menarche atau pertama kali mendapatkan haid berbeda-beda setiap perempuan. Rata-rata usia menarche di Indonesia adalah 13 tahun dengan usia menarche termuda 9 tahun dan usia tertua 20 tahun. Sependapat dengan jumhur ulama tentang umur haid bahwa umur minimal permulaan haid yaitu umur 9 tahun.
Perlu diketahui, bahwa sifat-sifat darah haid yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu ada 4 sifat:
- Pertama, warna dari darah haid hitam pekat.
- Kedua, darahnya itu mempunyai tekstur yang kental dan pada saat keluar dari kemauluan sedikit seperti terbakar/panas.
- Ketiga, karena teksturnya yang kental maka darah haid ini ke luarnya secara perlahan dari kemaluan perempuan dan tidak mengalir deras seperti cairan yang dituang.
- Keempat, darah haid mempunyai bau yang tidak sedap dengan warna darah yang pekat hitam dan sangat merah. Bau tidak sedap tersebut merupakan akibat dari busuknya sel-sel telur yang tidak mengalami pembuahan.
Siklus menstruasi merupakan waktu dari hari pertama mengalami menstruasi sampai pada hari pertama di periode selanjutnya. Rata-rata lamanya siklus menstruasi adalah 28 hari. Namun adapula yang lebih pendek yaitu 21 hari, atau justru lebih panjang sampai 35 hari. Sedangkan untuk lama hari menstruasi rata-rata adalah 2 sampai 7 hari. Apabila melebihi 15 hari, maka darah yang keluar setelah 15 hari tersebut tidak dianggap sebagai darah haid melainkan istihadhoh.
Larangan-larangan bagi perempuan yang sedang haid antara lain:
- Melaksanakan ibadah Shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah. Hal tersebut berlaku, karena syarat sah shalat yaitu suci dari hadas besar maupun hadas kecil, haid masuk dalam kategori hadas besar.
- Berwudhu’ atau mandi janabah. Melaksanakan wudhu dan mandi janabah sah ketika sudahselesai masa haidnya dan darah sudah tidak mengalir lagi.
- Puasa, puasa yang dilaksanakan oleh perempuan yang mengalami masa haid hukumnya adalah haram. Karena salah satu syarat sah puasa yaitu suci dari hadas haid.
- Thawaf, thawaf haram dilaksanakan oleh perempuan haid karena salah satu syarat dari thawaf yaitu suci dari hadas besar.
- Menyentuh mushaf dan membawanya.
- Melafalkan Ayat-ayat Al-Qur’an. Mengenai hukum ini ada dua pendapat,
- pertama, menurut jumhur ulama, yang dimaksud jumhur ulama disini yaitu Syafi’i, Hanafi dan Hanbali. Beliau-beliau berpendapat bahwa melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an merupakan haram bagi perempuan yang sedang dalam kondisi haid.
- Pendapat kedua yaitu dari madzhab Maliki dan Azh-Zhahiri. Kedua, madzhab memperbolehkan perempuan yang dalam kondisi haid untuk melafazkan ayat-ayat Al-Qur’an. Tetapi ada pengecualian untuk madzhab Maliki, dibolehkan dengan syarat atau alas takut lupa akan hafalannya atau adanya tujuan ta’lim.
- Memasuki masjid dan menetap. Madzhab yang mutlak mengharamkan yaitu Madzhab Hanafi. Mutlak mengharamkan perempuan yang haid untuk masuk kedalam masjid, baik sekedar lewat atau menetap.
- Bersetubuh. Perempuan haid haram hukumnya bersetubuh dengan suaminya. Sesuai firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222.
- Menceraikan istri. Suami dilarang dan hukumnya pun haram menceraikan istri dalam keadaan haid. Apabila tetap menceraikannya maka status dari thalaqnya adalah thalaq bid’ah.
Sedangkan hukum untuk perempuan yang istihadhah, yaitu:
- Ketika akan melaksanakan segala bentuk ibadah baik shalat atau pun yang lain. Maka tidak diwajibkan untuk mandi. Mandi dilaksanakan hanya sekali saja pada waktu suci dari haid. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf (terdahulu) maupun Khalaf (kemudian).
- Sebelum melaksanakan shalat wajib wudhu, seperti biasanya. Hal ini mengacu pada hadis riwayat Al-Bukhari: “kemudian berwudhu lah setiap ingin melaksanakan shalat”. Namun dalam hal lain, Imam Malik berpendapat bahwa wudhu setiap hendak melaksanakan shalat bagi perempuan yang mengalami istihadhah hukumnya hanya Sunnah dan tidak diwajibkan kecuali ada Hadas lain.
- Sebelum wudhu sebaiknya membasuh kemaluan dan membalutnya dengan kain atau pun kapas agar najisnya tidak terlalu banyak kalau bisa sampai najis tersebut hilang. Jika darah tidak dapat disumbat dengan kapas, maka kemaluannya harus dibalut dengan sesuatu yang dapat menghentikan darah yang mengalir tersebut. Tetapi, hal tersebut tidak diwajibkan, melainkan lebih diutamakan.
- Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya, janganlah wudhu sebelum waktu shalat tiba, karena kondisi suci itu darurat. Jadi, jika waktu shalat belum tiba maka janganlah wudhu dan berwudhulah pada saat waktu shalat tiba dan kemudian segeralah melaksanakan shalat.
- Berdasarkan pandangan mayoritas ulama, suami boleh berhubungan atau jima’ dengan istrinya bukan pada masa haid, walaupun ada darah yang ke luar dari kemaluannya yang terpenting darah tersebut bukan darah haid.
- Seorang perempuan yang sedang mengalami istihadhah, karena status dari perempuan istihadhah adalah suci, maka mereka yang istihadhah wajib yang namanya menjalankan ibadah wajib dan boleh menjalankan segala ibadah dalam Islam. Contohnya yaitu shalat, puasa, i’tikaf di masjid, membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Wallahu a’lam bisshowab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.