Membesarkan Anak Tangguh: Cara Melatih Ketegasan agar Anak Tidak Menjadi Korban Perundungan

Membesarkan Anak Tangguh: Cara Melatih Ketegasan agar Anak Tidak Menjadi Korban Perundungan

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Di era modern yang penuh tantangan digital dan sosial, kekhawatiran terbesar orang tua sering kali runtuh pada satu kata: bullying (perundungan). Banyak orang tua berpikir bahwa cara terbaik agar anak tidak diganggu adalah dengan memasukkan mereka ke kelas bela diri agar bisa memukul balik. Namun, sains psikologi menunjukkan hal yang berbeda.

Senjata paling ampuh untuk melindungi anak dari radar pelaku perundungan bukanlah kekuatan fisik untuk menyerang, melainkan ketegasan (assertiveness). Melatih anak menjadi asertif bukan agresif maupun pasif adalah investasi mental terbaik untuk membangun jaring pengaman bagi diri mereka sendiri.

1. Mengapa Pelaku Bullying Menghindari Anak yang Asertif?

Pelaku perundungan (bullies) pada dasarnya adalah oportunis. Mereka mencari target yang memberikan reaksi yang mereka inginkan: ketakutan, tangisan, kepasrahan, atau kemarahan yang meledak-ledak tanpa kendali.

Ketika seorang anak merespons gangguan dengan sikap asertif (tegas, tenang, dan terkendali), pelaku perundungan kehilangan kendali kekuasaannya. Anak yang asertif memancarkan sinyal bahwa mereka bukanlah target yang mudah diintimidasi.

2. Langkah Praktis Melatih Ketegasan (Assertiveness) pada Anak

Ketegasan bukan bakat bawaan lahir, melainkan keterampilan yang bisa dilatih di rumah melalui metode berikut:

A. Latih “Bahasa Tubuh yang Tangguh” (Confident Body Language)

Sebelum kata-kata keluar dari mulut, tubuh anak sudah mengirimkan pesan. Latih anak Anda di rumah untuk menerapkan Power Posing:

  1. Kontak Mata: Ajarkan anak untuk menatap langsung mata orang yang mengganggunya. Menunduk adalah sinyal kepasrahan.
  2. Postur Tegak: Berdiri dengan bahu tegap dan kedua kaki kokoh di tanah.
  3. Ekspresi Wajah Netral: Melatih anak untuk tidak menunjukkan wajah menangis atau ketakutan, melainkan wajah yang tenang dan datar.

B. Formula “Katakan dengan Tegas” (The Assertive Script)

Anak-anak sering kali membeku (freeze) saat diganggu karena tidak tahu harus bicara apa. Berikan mereka kalimat template yang pendek, jelas, dan menggunakan nada suara yang lantang (bukan berteriak):

“Hentikan. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu.”

“Stop. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ajarkan anak untuk langsung berjalan pergi menuju keramaian atau area yang dekat dengan guru. Jangan bertahan di tempat untuk melayani perdebatan.

C. Ajarkan Perbedaan Asertif vs Agresif vs Pasif

Anak-anak perlu memahami batasan perilaku mereka sendiri agar tidak bias:

  1. Pasif: Membiarkan orang lain menginjak-injak haknya (Menangis, diam saja saat dihina).
  2. Agresif: Menyerang balik dengan kekerasan atau makian (Memukul, balas mengejek).
  3. Asertif: Mempertahankan hak diri sendiri dengan cara yang sopan, tegas, dan menghargai diri sendiri serta orang lain.

3. Strategi Penguat di Lingkungan Sosial

Selain ketahanan individu, orang tua harus membekali anak dengan taktik lingkungan yang cerdas:

StrategiAplikasi Nyata
Buddy System (Sistem Teman)Dorong anak untuk selalu berjalan bersama minimal satu atau dua teman dekat saat berada di area sepi sekolah (toilet, lorong, atau belakang kantin). Pelaku bullying jarang menyerang anak yang berada dalam kelompok.
Menghapus Stigma “Tukang Ngadu”Tanamkan dogma di rumah bahwa melaporkan kekerasan atau intimidasi kepada otoritas (guru/orang tua) bukanlah tindakan pengecut, melainkan hak asasi untuk menjaga keamanan diri.

Kesimpulan

Membesarkan anak yang tangguh tidak berarti menciptakan anak yang ditakuti karena kebrutalannya. Anak yang tangguh adalah anak yang tahu harga dirinya, mampu menetapkan batasan yang jelas bagi orang lain, dan berani bersuara ketika batasan itu dilanggar. Dengan melatih ketegasan sejak dini di rumah, Anda sedang memberikan perisai tak kasat mata yang akan melindungi anak dimanapun mereka berada.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. UNICEF (2024). The Power of Peer Connectedness and Assertiveness in School Bullying Prevention. New York: UNICEF Guidance Series.
  2. World Health Organization (WHO). (2025). School-based Violence Prevention: A Global Framework for Action. Jenewa: WHO Guidelines..
  3. American Psychological Association (APA). (2023). Bullying Prevention for Parents: Empowering Assertive Children. APA PsychNET.
  4. International Journal of Behavioral Development. (2025). Longitudinal Study on Assertiveness Training and Victimization Rates among Young Adolescents, 49(2), 115-128.
Mencegah Cyberbullying: Cara Membentengi Anak dari Sisi Gelap Dunia Digital

Mencegah Cyberbullying: Cara Membentengi Anak dari Sisi Gelap Dunia Digital

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Kehadiran ruang digital telah mengubah cara anak-anak kita belajar, bermain, dan bersosialisasi. Namun, dibalik kemudahan teknologi, terdapat ancaman laten yang mengintai kesehatan mental mereka: Cyber Bullying (Perundungan Siber).

Berbeda dengan perundungan konvensional yang berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi, cyberbullying tidak mengenal batas waktu dan ruang. Ejekan, intimidasi, penyebaran rumor, hingga pengucilan digital dapat masuk langsung ke dalam kamar anak melalui layar gawai mereka, selama 24 jam sehari. Dampak psikologisnya pun masif, mulai dari kecemasan akut, penurunan performa akademik, hingga risiko depresi berat.

Sebagai orang tua dan pendidik, kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan anak dari internet. Langkah terbaik adalah memberikan mereka “baju zirah” digital. Berikut adalah strategi konkret untuk membentengi anak dari sisi gelap dunia digital.

1. Membangun Literasi Digital dan Etika Siber (Netiquette)

Banyak anak terjebak menjadi korban—atau bahkan tanpa sadar menjadi pelaku—karena tidak memahami batasan di dunia maya.

  1. Prinsip Jejak Digital: Ajarkan anak bahwa apapun yang diunggah di internet (foto, komentar, video) akan meninggalkan jejak permanen yang sulit dihapus (digital footprint).
  2. Pikir Sebelum Mengklik (T.H.I.N.K): Latih anak untuk mengevaluasi apa yang akan mereka ketik atau bagikan dengan prinsip: Apakah itu Benar (True), Membantu (Helpful), Menginspirasi (Inspiring), Diperlukan (Necessary), dan Baik (Kind)? Jika tidak, minta mereka untuk urung membagikannya.

2. Membekali Anak dengan Keterampilan Taktis Digital

Anak-anak harus tahu apa yang harus dilakukan secara teknis ketika mereka mulai melihat atau mengalami tanda-tanda intimidasi siber.

  1. Jangan Membalas (Don’t Retaliate): Pelaku cyberbullying sangat mengharapkan reaksi marah atau sedih dari korbannya. Membalas makian hanya akan memperpanjang konflik.
  2. Blokir dan Laporkan (Block & Report): Manfaatkan fitur keamanan di platform media sosial. Ajarkan anak cara memblokir akun yang mengganggu dan melaporkannya (report) ke sistem moderasi platform (seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp).
  3. Simpan Bukti Digital (Screenshots): Ini adalah langkah krusial. Ajarkan anak untuk segera mengambil tangkapan layar (screenshot) dari pesan teks, komentar, atau unggahan yang bersifat merundung sebelum dihapus oleh pelaku, sebagai bukti otentik untuk pelaporan lanjutan.

3. Menerapkan Aturan Penggunaan Gawai di Rumah

Batasan fisik di dunia nyata sangat membantu menjaga kewarasan mental anak di dunia maya.

  1. Zona Bebas Gawai (Screen-Free Zones): Buat kesepakatan bersama bahwa tidak boleh ada gawai di meja makan dan di dalam kamar tidur saat jam tidur malam. Banyak kasus cyberbullying terjadi atau memburuk pada larut malam saat pengawasan orang tua melemah.
  2. Gunakan Aplikasi Pemantauan (Parental Control): Tanpa melanggar privasi anak secara ekstrem, orang tua dapat menggunakan aplikasi pelacak untuk menyaring konten dewasa dan membatasi durasi aktif media sosial anak.

Ringkasan Langkah Mitigasi untuk Orang Tua

1.Edukasi Fitur Keamanan:Tindakan Preventif.

Ajarkan anak cara mengunci akun menjadi privat (private account) dan menyaring komentar yang mengandung kata-kata kasar secara otomatis.

2.Buka Jalur Komunikasi:Kebiasaan Harian.

Sempatkan mengobrol tanpa gawai setiap malam. Tanyakan: “Ada cerita menarik atau yang bikin kamu nggak nyaman nggak di media sosial hari ini?”

3.Respons Cepat & Tenang:Tindakan Tanggap.

Jika anak melapor menjadi korban, tanggapi dengan tenang. Kumpulkan bukti screenshot, lakukan mediasi bersama pihak sekolah, atau bawa ke psikolog jika anak menunjukkan trauma berat.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. UNICEF (2024). Cyberbullying: What is it and how to stop it – A Digital Safety Guide.
  2. World Health Organization (WHO). (2023). Global Status Report on Preventing Violence Against Children in the Digital Age.
  3. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP). (2025). Social Media and Teens: Clinical Update on Cyber-Harassment.
  4. Putri, A., & Santoso, B. (2025). Dampak Perundungan Siber Terhadap Resiliensi Psikologis Remaja. Jurnal Psikologi Perkembangan Indonesia, 12(2), 145-158.
Hidup Sehat adalah Pilihan

Hidup Sehat adalah Pilihan

Oleh Fatimatasari, M.Keb., Bd

Hidup sehat sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit dilakukan. Ada yang merasa tidak memiliki cukup waktu, ada yang menganggap biayanya terlalu mahal, dan ada pula yang berpikir bahwa hidup sehat hanya dapat dilakukan jika memiliki fasilitas yang memadai. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan yang dilakukan secara konsisten daripada oleh mahal atau tidaknya pilihan yang diambil.

Bagi remaja akhir dan dewasa awal, tantangan terbesar bukan hanya kesibukan sekolah dan kuliah, tetapi juga bagaimana mengelola kebiasaan sehari-hari. Jadwal belajar yang padat, tugas, kegiatan organisasi, hingga aktivitas di media sosial dapat membuat waktu makan, aktivitas fisik, dan tidur menjadi kurang teratur. Kondisi tersebut sering kali mendorong pilihan yang lebih praktis, seperti melewatkan sarapan, memilih makanan siap saji, mengurangi aktivitas fisik, atau tidur larut malam.

Padahal, kebiasaan yang terbentuk pada masa remaja dan dewasa awal cenderung berlanjut hingga usia dewasa. Oleh karena itu, periode ini merupakan waktu yang penting untuk membangun gaya hidup sehat.

Kabar baiknya, hidup sehat tidak selalu membutuhkan perubahan besar ataupun biaya tambahan. Dalam banyak situasi, hidup sehat dimulai dari pilihan-pilihan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih makanan yang lebih bergizi, meluangkan waktu untuk bergerak, dan menjaga waktu tidur merupakan contoh kebiasaan yang dapat dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya yang lebih besar.

Memilih Makanan yang Lebih Bergizi

Pola makan sehat tidak selalu identik dengan makanan yang mahal. Telur, tempe, tahu, ikan lokal, sayuran, dan buah musiman merupakan contoh bahan pangan bergizi yang relatif terjangkau dan mudah ditemukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mengeluarkan biaya yang hampir sama, tetapi memperoleh kualitas gizi yang sangat berbeda. Misalnya, harga satu gelas minuman berpemanis sering kali setara dengan beberapa butir telur. Sebungkus camilan atau keripik dapat memiliki harga yang tidak jauh berbeda dengan satu papan tempe atau beberapa potong tahu. Demikian pula, satu porsi makanan cepat saji atau makanan tinggi tepung belum tentu lebih murah dibandingkan seporsi nasi dengan lauk sederhana seperti telur, tempe, atau tahu yang dilengkapi sayur.

Perbedaannya bukan hanya pada rasa kenyang, tetapi juga pada kandungan gizinya. Minuman berpemanis umumnya mengandung gula tambahan yang tinggi, sedangkan camilan seperti keripik didominasi oleh lemak, garam, dan kalori yang terbukti meningkatkan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya jika dikonsumsi secara berlebih. Sebaliknya, telur, tempe, tahu, dan ikan memberikan protein berkualitas, sementara sayur dan buah melengkapi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral yang membantu tubuh belajar, berpikir, dan beraktivitas secara optimal, sekaligus memberikan rasa kenyang yang lebih lama.

Memilih untuk Tetap Bergerak

Kesibukan sering menjadi alasan untuk tidak berolahraga. Sebagian orang juga menganggap olahraga yang efektif harus dilakukan di pusat kebugaran dengan berbagai peralatan modern. Padahal, manfaat utama aktivitas fisik diperoleh dari tubuh yang bergerak secara teratur, bukan dari mahalnya tempat atau fasilitas olahraga.

WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit setiap minggu, atau sekitar 30 menit sehari selama lima hari. Aktivitas tersebut dapat berupa berjalan kaki, bersepeda, menaiki tangga, jogging ringan, senam, atau latihan kekuatan menggunakan berat badan sendiri di rumah.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik sederhana yang dilakukan secara rutin tetap memberikan manfaat yang besar, seperti meningkatkan kebugaran jantung dan paru, membantu menjaga berat badan, menurunkan risiko diabetes dan penyakit jantung, memperbaiki kualitas tidur, serta membantu mengurangi stres dan kecemasan. Dengan kata lain, berjalan kaki selama 30 menit setiap hari tetap memberikan manfaat kesehatan yang nyata meskipun tidak pernah berolahraga di pusat kebugaran. Yang terpenting bukanlah seberapa mahal tempat berolahraga, tetapi seberapa konsisten tubuh diajak bergerak.

Memilih Waktu Istirahat yang Cukup

Tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika tugas sekolah atau kuliah mulai menumpuk. Selain itu, penggunaan media sosial juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya waktu istirahat pada remaja dan mahasiswa. Tidak sedikit yang berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi tanpa disadari menghabiskan waktu hingga berjam-jam sebelum tidur.

Padahal, orang dewasa dianjurkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga konsentrasi, daya ingat, suasana hati, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan metabolik. Sebaliknya, kurang tidur dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit kardiovaskular.

Mengurangi penggunaan gawai dan media sosial sebelum tidur merupakan langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Selain memberikan waktu istirahat yang cukup, kebiasaan ini juga membantu tubuh dan otak pulih sehingga siap belajar dan beraktivitas keesokan harinya.

Mulai dari Pilihan Sederhana

Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada siswa yang harus membantu orang tua setelah pulang sekolah, mahasiswa yang aktif berorganisasi, atau yang harus bekerja sambil kuliah. Karena itu, hidup sehat bukan berarti melakukan semua anjuran secara sempurna.

Yang lebih penting adalah memilih perubahan yang realistis dan dapat dilakukan secara konsisten. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Hidup sehat dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari sebagai berikut:

1. Pilih makanan dan minuman yang lebih bergizi.

  • Perbanyak konsumsi sayur, buah, serta sumber protein seperti telur, tempe, tahu, dan ikan.
  • Kurangi konsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta camilan ultra-proses yang rendah nilai gizi.
  • Pilih air putih sebagai minuman utama dan batasi konsumsi minuman berpemanis.

2. Pilih untuk tetap aktif bergerak setiap hari.

  • Luangkan sekitar 30 menit untuk berjalan kaki, bersepeda, senam, atau aktivitas fisik lainnya.
  • Kurangi waktu duduk yang terlalu lama dengan berdiri atau berjalan singkat setiap 30–60 menit.

3. Pilih waktu tidur yang cukup dan berkualitas.

  • Usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam.
  • Batasi penggunaan gawai dan media sosial menjelang waktu tidur agar kualitas istirahat lebih baik.

4. Pilih mengelola waktu dengan lebih bijak.

  • Kesibukan sekolah dan kuliah memang tidak dapat dihindari, tetapi menyisihkan waktu untuk makan, bergerak, dan beristirahat merupakan bagian dari menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan produktivitas belajar.

5. Pilih perubahan yang realistis dan konsisten.

  • Tidak perlu menunggu semua kondisi menjadi ideal.
  • Mulailah dari satu kebiasaan sehat yang paling mudah dilakukan, kemudian tingkatkan secara bertahap hingga menjadi bagian dari gaya hidup.

Hidup sehat tidak selalu membutuhkan biaya yang besar. Dalam banyak situasi, pilihan yang lebih sehat justru dapat dilakukan dengan biaya yang relatif sama, bahkan lebih hemat, dibandingkan pilihan yang kurang sehat. Yang membedakan sering kali bukan kemampuan finansial, melainkan kebiasaan yang dipilih dan dilakukan secara konsisten setiap hari.

Membangun gaya hidup sehat membutuhkan pengetahuan yang benar dan kemampuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata siap menjadi tempat bertumbuh bagi calon bidan yang profesional. Melalui pembelajaran yang berbasis bukti (evidence-based midwifery), mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat serta berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan perempuan, ibu, bayi, anak, remaja, dan keluarga.

Referensi

  1. Bull FC, Al-Ansari SS, Biddle S, et al. World Health Organization 2020 Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. British Journal of Sports Medicine. 2020;54(24):1451–1462. doi:10.1136/bjsports-2020-102955.
  2. World Health Organization. Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO; 2020.
  3. World Health Organization. Healthy Diet. Geneva: World Health Organization. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Sleep. Available at: https://www.cdc.gov/sleep/about/index.html
  5. Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. The Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228. doi:10.1016/S2352-4642(18)30022-1.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2024.
  8. World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: WHO; 2015.
  9. World Health Organization. Global Action Plan for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases 2013–2030. Geneva: WHO.
Kuat dari Dalam: Langkah Praktis Mengubah Anak Pasif Menjadi Berani dan Percaya Diri

Kuat dari Dalam: Langkah Praktis Mengubah Anak Pasif Menjadi Berani dan Percaya Diri

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Setiap anak lahir dengan temperamen yang unik. Ada anak yang secara alami berani tampil di depan publik, namun tidak sedikit pula yang cenderung pasif, pemalu, dan menarik diri dari interaksi sosial.

Sifat pasif pada anak sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan. Namun, jika kepasifan ini berakar dari rasa rendah diri, ketakutan ekstrim akan penolakan, atau kurangnya keterampilan sosial, anak berisiko tinggi menjadi target empuk perundungan (bullying) dan mengalami gangguan kecemasan di kemudian hari.

Membangun keberanian anak bukanlah dengan cara memaksa mereka menjadi orang lain, melainkan memperkuat karakter mereka dari dalam (inside-out). Berikut adalah langkah praktis berbasis psikologi perkembangan untuk mengubah anak pasif menjadi pribadi yang berani dan percaya diri.

1. Latih Assertive Communication (Komunikasi Tegas) sejak di Rumah

Anak yang pasif seringkali kesulitan menyatakan keinginan atau menolak hal yang tidak mereka sukai karena takut memicu konflik. Orang tua perlu melatih mereka dasar-dasar komunikasi asertif.

  1. Kontak Mata dan Bahasa Tubuh: Saat anak meminta sesuatu di rumah, biasakan mereka untuk berbicara sambil menatap mata Anda dengan bahu yang tegak. Bahasa tubuh yang tegap memancarkan sinyal percaya diri ke otak mereka sendiri dan orang di sekitarnya.
  2. Gunakan “I-Statement”: Latih anak untuk mengekspresikan diri menggunakan struktur kalimat: “Aku merasa… ketika kamu… jadi aku minta…”

Contoh: “Aku merasa sedih ketika mainanku direbut, jadi aku minta tolong kembalikan.” Ini melatih anak mempertahankan haknya tanpa perlu menjadi agresif.

2. Berikan “Pujian Berbasis Proses” (Growth Mindset Praise)

Banyak orang tua keliru memberikan pujian yang berfokus pada hasil atau label permanen, seperti “Kamu pintar sekali” atau “Kamu anak hebat”. Pujian jenis ini justru membuat anak pasif takut mencoba hal baru karena takut kehilangan label “pintar” tersebut jika mereka gagal.

  1. Ubah Pola Pujian: Berfokuslah pada usaha, strategi, dan ketahanan mereka.

1)    Salah: “Wah, kamu berani banget langsung menang lomba!”

2)    Benar: “Ibu bangga sekali melihat kamu tadi berani maju ke depan kelas meskipun tanganmu sempat gemetar. Itu namanya keberanian nyata!”

3. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan Kecil

Anak menjadi pasif dan dependen jika semua aspek hidupnya disetir oleh orang tua (helicopter parenting). Rasa percaya diri tumbuh ketika anak merasa memiliki kendali atas dirinya (sense of agency).

  1. Berikan Pilihan Terbatas: Mulai dari hal kecil sehari-hari. “Hari ini kamu mau pakai baju yang biru atau hijau?” atau “Untuk bekal sekolah besok, kamu lebih suka dibawakan buah apel atau pisang?”
  2. Dampaknya: Ketika anak dibiasakan memilih dan pilihannya dihargai, mereka belajar mempercayai penilaian mereka sendiri. Ini adalah modal utama agar mereka berani bersuara di lingkungan luar.

4. Salurkan pada Komunitas Positif di Luar Sekolah

Sekolah formal terkadang memiliki dinamika sosial yang terlalu intimidatif bagi anak pasif. Membuka “lembaran baru” di lingkungan lain dapat memicu rasa percaya diri yang tidak terduga.

  1. Klub Minat dan Bakat: Daftarkan anak pada kegiatan kelompok kecil yang sesuai minatnya—baik itu klub sains, kelas menggambar, atau seni bela diri.
  2. Mengapa Ini Efektif? Di lingkungan baru yang tidak memiliki label masa lalu tentang dirinya, anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi sisi berani mereka. Selain itu, menguasai suatu keterampilan baru secara otomatis mendongkrak harga diri (self-esteem) anak.

Strategi Transformasi Karakter Anak

1.Validasi dan Beri Ruang Berpendapat:Fase 1: Di Rumah.

Hargai emosi anak, dengarkan pendapat mereka saat diskusi keluarga, dan hindari melabeli mereka sebagai “anak penakut” atau “pemalu”.

2.Simulasi Skenario Sosial:Fase 2: Interpersonal.

Lakukan bermain peran (role-play) di rumah. Simulasikan cara berkenalan dengan teman baru atau cara menegur teman yang usil secara tegas.

3.Pelepasan Mandiri Bertahap:Fase 3: Lingkungan Luar.

Biarkan anak melakukan transaksi sendiri (misalnya membayar di kasir atau memesan makanan sendiri) untuk memupuk kemandirian fisik dan mental.

Kesimpulan: Percaya Diri adalah Otot Otak

Mengubah anak pasif menjadi berani bukanlah proses instan yang terjadi dalam semalam. Keberanian dan rasa percaya diri layaknya otot otak; ia perlu dilatih, diberikan beban tantangan yang pas secara bertahap, dan didukung oleh nutrisi emosional yang tepat dari orang tua. Ketika anak tahu bahwa rumah mereka adalah tempat teraman untuk pulang, mereka akan memiliki keberanian penuh untuk menaklukkan dunia luar.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. World Health Organization (WHO) (2024) – Guidelines on Promotive and Preventive Mental Health Interventions for Adolescents and Children:
  2. UNICEF (2025) – The Power of Positive Parenting: Building Resilience and Confidence in Children
  3. Dweck, C. S. (2023). Mindset: Changing the Way You Think to Fulfill Your Potential (Edisi Pembaruan Jurnal Psikologi):
  4. International Journal of Behavioral Development (2024) – The Role of Assertiveness Training in Reducing Bullying Vulnerability among Passive Children
Perkuat Kompetensi Klinis, Mahasiswa S1 Kebidanan Alma Ata Disiapkan Hadapi Kegawatdaruratan

Perkuat Kompetensi Klinis, Mahasiswa S1 Kebidanan Alma Ata Disiapkan Hadapi Kegawatdaruratan

Yogyakarta, 7 Agustus 2026 — Mahasiswa Program Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata angkatan 2022 mengikuti Pelatihan KKMN (Kewaspadaan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal) yang diselenggarakan bersama Sieka Medika pada 3–7 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan maternal dan neonatal yang membutuhkan respons cepat, tepat, dan terukur.

Pelatihan KKMN dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali kondisi kegawatdaruratan sejak dini. Tidak hanya memahami tanda dan gejala bahaya, mahasiswa juga dilatih untuk melakukan penanganan awal, menentukan prioritas tindakan, mengambil keputusan klinis secara cepat dan tepat, serta memahami prinsip sistem rujukan dalam penanganan kasus kegawatdaruratan.

Kegawatdaruratan maternal dan neonatal merupakan kondisi yang membutuhkan kesiapan tenaga kesehatan karena perubahan kondisi pasien dapat terjadi dengan cepat. Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk mengenali tanda bahaya dan memberikan pertolongan awal secara tepat menjadi bagian penting dalam upaya mencegah komplikasi yang lebih berat.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh penguatan pengetahuan secara teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan. Proses pembelajaran diarahkan agar mahasiswa mampu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan klinis, komunikasi, pengambilan keputusan, dan kerja sama dalam memberikan pelayanan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembentukan kesiapan profesional mahasiswa sebelum memasuki dunia pelayanan kebidanan. Seorang bidan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi dalam memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif, tetapi juga harus mampu bertindak tanggap ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan segera.

“Kesiapan menghadapi kegawatdaruratan tidak hanya dibangun ketika seorang bidan sudah berada di tempat pelayanan. Kesiapan tersebut perlu dilatih sejak masa pendidikan melalui pembelajaran, simulasi, dan pengalaman praktik yang terarah,” ungkap salah satu pendamping kegiatan.

Pelatihan KKMN bersama Sieka Medika juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya koordinasi dan komunikasi dalam penanganan kegawatdaruratan. Dalam kondisi darurat, keberhasilan pelayanan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kemampuan tim dalam bekerja secara terkoordinasi serta memastikan pasien mendapatkan penanganan dan rujukan sesuai kebutuhan.

Bagi mahasiswa Program Sarjana Kebidanan angkatan 2022, kegiatan ini menjadi salah satu pengalaman pembelajaran yang memperkuat kesiapan menghadapi tantangan profesi di masa mendatang. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal untuk memberikan pelayanan kebidanan yang aman, profesional, dan berorientasi pada keselamatan ibu dan bayi.

Melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik, Program Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata terus berkomitmen mempersiapkan calon bidan yang kompeten, responsif, dan mampu memberikan pelayanan berbasis bukti (evidence-based midwifery).

Pelatihan KKMN bukan sekadar tentang belajar menghadapi kondisi darurat, tetapi juga tentang membangun kesiapan untuk hadir dan memberikan respons terbaik ketika ibu dan bayi membutuhkan pertolongan.

Learn. Train. Ready to Serve. 🩺🩷