Created by: Bdn. Rani Ayu Hapsari, S.ST.,SKM.,MKM

Kesadaran Masyarakat terutama seorang ibu tentang pentingnya Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan secara eksklusif kian diperkuat oleh berbagai kebijakan pemerintah. Bukan sekadar nutrisi biasa, ASI kini dipandang sebagai “investasi emas” bagi pembentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Bagi bayi yang baru lahir, ASI adalah satu-satunya asupan yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan gizi secara sempurna tanpa bantuan cairan lain selama enam bulan pertama. 

Kualitas Air Susu Ibu (ASI) sangat bergantung pada asupan nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu setiap harinya. Di antara berbagai zat gizi, protein menempati posisi yang utama sebagai nutrisi makro yang secara signifikan memengaruhi komposisi ASI dan pertumbuhan bayi.

Kunci ASI Berkualitas: Mengapa Asupan Protein Ibu Jadi Penentu Kecerdasan Bayi?

Di tengah upaya nasional mencetak Generasi Emas 2045, para ahli di bidang kesehatan terus menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah Salah satu komponen yang menjadi sorotan utama adalah protein, yang disebut-sebut sebagai arsitek utama dalam pembangunan sel tubuh dan otak bayi. Dibalik teksturnya yang cair, ASI menyimpan ribuan komponen bioaktif kompleks yang bekerja secara cerdas mengikuti kebutuhan bayi.

Protein dalam ASI berperan sebagai zat pembangun utama untuk membentuk jaringan otot, tulang, hingga organ vital bayi yang sedang tumbuh pesat. Tanpa asupan protein yang adekuat dari ibu, pertumbuhan fisik bayi berisiko mengalami hambatan, yang dalam jangka panjang dapat memicu kondisi stunting 

Asam amino esensial yang terkandung dalam protein ASI sangat dibutuhkan untuk pembentukan jaringan saraf dan perkembangan kognitif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan asupan protein cukup melalui ASI memiliki modalitas lebih baik dalam mendukung kemampuan belajar dan kecerdasan mereka di masa depan.

ASI memiliki rasio protein yang sangat unik, yaitu sekitar 60% whey dan 40% kasein. Berbeda dengan susu formula yang didominasi kasein, protein whey dalam ASI jauh lebih mudah dicerna oleh lambung bayi yang masih sensitif. Selain itu, whey mengandung antibodi seperti imunoglobulin A (IgA) dan laktoferin yang berfungsi sebagai benteng perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus.

Rahasia ASI Melimpah: Pakar Ungkap Konsumsi Protein Ibu Jadi Kunci Utama Produksi “Cairan Emas”

Banyak ibu menyusui mulai menyadari bahwa kunci volume ASI yang melimpah bukan hanya pada kecukupan cairan, melainkan pada asupan nutrisi makro, khususnya protein. Para ahli menegaskan bahwa protein merupakan “mesin penggerak” yang secara langsung memengaruhi produktivitas kelenjar susu. Tubuh ibu memerlukan bahan baku yang cukup untuk menghasilkan produk berkualitas. Protein mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan oleh jaringan payudara untuk mensintesis ASI. Kekurangan protein pada diet ibu seringkali menjadi penyebab utama menurunnya suplai ASI meskipun frekuensi menyusui sudah ditingkatkan. 

Konsumsi protein yang adekuat membantu menjaga keseimbangan hormon dalam tubuh ibu. Hormon prolaktin (hormon pemicu produksi ASI) dan oksitosin (hormon pelepas ASI) bekerja lebih optimal saat tubuh ibu berada dalam kondisi nutrisi yang stabil. Protein memberikan energi jangka panjang yang menjaga stamina ibu agar tetap prima dalam memproduksi ASI sepanjang hari. Protein memengaruhi densitas atau kekentalan ASI. ASI yang kaya akan protein dan lemak sehat cenderung membuat bayi merasa kenyang lebih lama. Hal ini menciptakan siklus menyusui yang teratur, yang secara alami menstimulasi tubuh ibu untuk terus memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayi.

“SUPERFOOD”:  Sumber Protein Terbaik untuk Dongkrak Produksi ASI

 Ibu menyusui yang mengonsumsi variasi protein berkualitas tinggi cenderung memiliki suplai ASI yang lebih stabil dan kaya akan nutrisi makro untuk pertumbuhan otak bayi. 

  1. Telur sebagai salah satu camilan pelancar ASI terbaik. Selain mengandung protein lengkap, telur kaya akan kolin dan vitamin D yang berperan dalam meningkatkan hormon prolaktin. hormon utama yang merangsang produksi ASI di payudara.
  2. Ikan salmon dan Kembung yang merupakan rendah merkuri bukan hanya sumber protein, tapi juga penyumbang utama asam lemak Omega-3 (DHA).Dari hasil riset menunjukkan bahwa konsumsi ikan seperti salmon mendukung perkembangan retina dan kecerdasan kognitif bayi melalui ASI yang dihasilkan.
  3. Daging merah tanpa lemak dan dada ayam menyediakan zat besi dan zink yang krusial. Kekurangan zat besi pada ibu sering kali dikaitkan dengan rasa lelah berlebih yang dapat menghambat refleks pengeluaran ASI (let-down reflex).
  4. Sari kacang hijau. Kandungan protein nabatinya terbukti secara signifikan meningkatkan volume produksi ASI pada ibu pascasalin karena kemampuannya meningkatkan kadar hormon prolaktin secara alami.
  5.  Tempe dan tahu tetap menjadi pilihan utama. Selain itu, kacang almond sering direkomendasikan sebagai “booster” karena kandungan protein dan kalsiumnya yang membantu menjaga kepadatan nutrisi dalam ASI.

Kualitas vs Kuantitas ASI: Mana yang Lebih Penting? 

Kuantitas dan kualitas ASI adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya memegang peranan krusial dalam menentukan masa depan kesehatan anak.  kuantitas atau volume ASI yang cukup adalah syarat mutlak untuk memastikan bayi terhidrasi dengan baik dan mendapatkan asupan kalori harian yang stabil. Volume ASI yang melimpah, yang dipicu oleh stimulasi rutin dan asupan cairan serta protein ibu yang cukup, berkolerasi langsung dengan kenaikan berat badan bayi yang ideal pada seribu hari pertama kehidupan. Kualitas komposisi ASI terutama kadar DHA, imunoglobulin, dan protein fungsional menentukan seberapa kuat sistem imun bayi menghadapi serangan virus dan bakteri. Riset menunjukkan bahwa ibu dengan pola makan gizi seimbang menghasilkan ASI dengan profil nutrisi mikro yang lebih kaya, yang secara signifikan mampu meningkatkan skor kognitif (IQ) anak di masa depan. 

Air Susu Ibu (ASI)  yang “berkualitas dalam jumlah yang cukup” merupakan intervensi kesehatan paling efektif untuk mencegah stunting dan obesitas sejak dini. Komposisi ASI yang dinamis yang berubah sesuai usia bayi membuktikan bahwa tubuh ibu secara cerdas memproduksi nutrisi yang paling dibutuhkan pada waktu yang tepat. Memberikan ASI bukan sekadar memberi makan, melainkan memberikan perlindungan biologis yang tak tertandingi. Kombinasi antara volume ASI yang cukup dan komposisi nutrisi yang padat adalah fondasi utama bagi terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh.

Referensi 

  1. Lien Meilya Muriasti Prastiyani, Nuryanto, Journal Of Nutrition Collage (2019), https://doi.org/10.14710/jnc.v8i4.25838 
  2. Canel oner sayar, Sabiha zeynep,Europan Journal Clinical Of Nutrition (2025), https://www.nature.com/articles/s41430-025-01588-z#citeas
  3. Ray Wagiu Basrowi, Febriansyah Darus,  Tonny Sundjaya, Runi Arumndari, Amerta Nutrition (2025) https://doi.org/10.20473/amnt.v9i4.2025.735-746
  4. Febi Marissa, Rostika Flora, Mohammad Zulkarnain,(2023) Journal Of Health Science https://doi.org/10.51712/mitraraflesia.v15i2.283
  5. Linda Ratna Wati, Djanggan Sargowo,Tatit Nurseta, Lilik Zuhriyah, Nutrients (2023) https://doi.org/10.3390/nu15112584
  6. Desi Dwi Anissa, Ratna Kumala Dewi, Jurnal Tadris IPA Indonesia (2021) https://doi.org/10.21154/jtii.v1i3.393
  7. Su yeong kim, Dae young yi, Clinical And Experimental Pediatrics (2020), https://doi.org/10.3345/cep.2020.00059