“Terkadang, obat terbaik untuk hati yang lelah bukanlah resep dokter, melainkan telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi.”

Siapa yang tidak terpesona dengan kembalinya Kim Seon-ho di drama terbarunya, Can This Love Be Translated?. Dipasangkan dengan Go Youn-jung, drama ini tidak hanya menyuguhkan visual yang memanjakan mata, tetapi juga premis cerita yang unik tentang seorang penerjemah multibahasa dan seorang bintang top.

Namun, di balik bumbu romansa dan komedinya, drama ini menyentil isu yang sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama bagi generasi muda: Kesehatan Mental dan Komunikasi.

Seringkali kita merasa berbicara dengan bahasa yang sama (Bahasa Indonesia), tapi kenapa rasanya lawan bicara kita tidak paham apa yang kita rasakan?

1. Fenomena “Lost in Translation” pada Emosi

Dalam drama, tokoh Joo Ho-jin (Kim Seon-ho) bekerja menerjemahkan bahasa asing. Tapi di dunia nyata, tugas terberat kita sebenarnya adalah menerjemahkan isi kepala dan perasaan agar dimengerti orang lain.

Banyak masalah kesehatan mental, mulai dari burnout, kecemasan (anxiety), hingga depresi, berawal dari emosi yang gagal diterjemahkan. Kita sering bilang “Aku nggak apa-apa” (I’m fine), padahal hati berteriak “Tolong dengarkan aku”. Ketidakmampuan lingkungan untuk memahami kode ini sering membuat seseorang merasa terisolasi.

2. Pentingnya Validasi: Lebih dari Sekadar Kata-kata

Pelajaran mahal dari drakor ini adalah tentang Validasi. Kesehatan mental yang terjaga dimulai dari perasaan “diterima”.

Ketika seseorang curhat tentang lelahnya kuliah, beratnya pekerjaan, atau pusingnya masalah percintaan, mereka seringkali tidak butuh solusi. Mereka butuh penerjemah yang bisa berkata: “Wajar kok kamu merasa begitu,” atau “Aku ngerti kenapa kamu marah.”

Validasi adalah P3K (Pertolongan Pertama) pada kecelakaan mental. Tanpa validasi, “luka” kecil di hati bisa menjadi infeksi yang berbahaya bagi jiwa.

3. Apa Kaitannya dengan Dunia Kesehatan?

Meskipun drama ini tentang industri hiburan, filosofi “penerjemah” ini sangat relevan dengan dunia kesehatan, termasuk kebidanan.

Tahukah kamu? Tenaga kesehatan modern tidak lagi hanya diajarkan menyuntik atau memberi obat. Di jurusan kesehatan yang berkualitas, mahasiswa diajarkan seni Komunikasi Terapeutik.

Seorang Bidan, misalnya, sejatinya adalah “Penerjemah Kehidupan”.

  • Menerjemahkan rasa sakit ibu menjadi semangat.
  • Menerjemahkan tangisan bayi menjadi tanda kehidupan.
  • Menerjemahkan kecemasan remaja menjadi rasa aman.

Kemampuan mendengarkan dan memahami emosi orang lain (empati tingkat tinggi) adalah skill mahal yang dibutuhkan di semua lini pekerjaan masa depan, bukan hanya di rumah sakit.

Belajar dari Can This Love Be Translated?, mari kita mulai lebih peka. Tanyakan kabar temanmu dengan sungguh-sungguh. Dengarkan tanpa memotong. Di Universitas Alma Ata, khususnya Prodi D3 Kebidanan, kami percaya bahwa healing terbaik dimulai dari hearing (mendengarkan) yang baik. Ingin punya skill komunikasi sekeren Kim Seon-ho tapi versi tenaga kesehatan? Yuk, kepoin prodi kami yang sudah Terakreditasi Unggul dan menjadi salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja.

Referensi:

  1. Goleman, D. (2021). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books
  2. Adler, R. B., & Proctor, II, R. F. (2019). Looking Out, Looking In. Cengage Learning.
  3. Lee, S., et al. (2023). The Impact of Korean Dramas on Mental Health Awareness among Youth. Journal of Cultural and Psychological Studies.
  4. Linehan, M. M. (2018). Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder. Guilford Press.
  5. World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health: Strengthening Our Response
  6. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Kurikulum Berbasis Kompetensi Tenaga Kesehatan: Komunikasi Terapeutik