by Admin Kebidanan | Oct 23, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes
Masa remaja adalah masa yang penuh warna. Ada banyak hal baru yang ingin dicoba, impian yang ingin diraih, pertemanan yang ingin dijaga, serta perubahan fisik dan emosi yang terkadang membingungkan. Di tengah kesibukan sekolah, pergaulan, dan dunia digital, remaja memiliki kesempatan besar untuk membangun diri menjadi pribadi yang sehat, berkualitas, dan salehah.
Menjadi remaja hebat bukan hanya tentang memiliki nilai akademik yang tinggi, penampilan menarik, atau banyak pengikut di media sosial. Remaja yang hebat adalah mereka yang mampu menjaga kesehatan, mengembangkan potensi, menghargai diri sendiri, berperilaku baik, dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan.
1. Sehat Itu Lebih dari Sekadar Tidak Sakit
Remaja yang sehat tidak hanya terbebas dari penyakit, tetapi juga memiliki kondisi mental dan sosial yang baik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting untuk membentuk kebiasaan yang memengaruhi kesehatan hingga dewasa. https://www.who.int/health-topics/adolescent-health
Karena itu, mulailah membangun kebiasaan sehat dari hal-hal sederhana: mengonsumsi makanan bergizi seimbang, minum air putih yang cukup, berolahraga secara teratur, tidur cukup, serta menjaga kebersihan diri. Bagi remaja putri, penting juga untuk memahami kesehatan menstruasi, mengenali tanda-tanda anemia, dan mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Jangan mudah tergoda oleh tren diet ekstrem atau standar kecantikan di media sosial. Setiap orang memiliki bentuk tubuh dan proses pertumbuhan yang berbeda. Tubuh yang sehat bukan berarti harus memiliki bentuk tertentu, melainkan tubuh yang dirawat dengan baik dan mampu mendukung aktivitas sehari-hari.
2. Kuat Mental, Berani Menghargai Diri Sendiri
Remaja sering menghadapi tekanan, mulai dari tuntutan prestasi, konflik pertemanan, perubahan emosi, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat mempengaruhi kesehatan mental.
Ingatlah, kamu tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi berharga. Setiap orang mempunyai kelebihan, kekurangan, dan waktu berkembang yang berbeda. Belajarlah menerima diri sendiri, mengenali emosi, berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang merugikan, serta meminta bantuan ketika menghadapi masalah yang terasa berat.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu bahagia. Menangis, merasa kecewa, atau mengalami kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Yang penting adalah belajar menghadapi perasaan tersebut dengan cara yang sehat. Jika kesedihan, kecemasan, atau tekanan berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas, jangan ragu bercerita kepada orang tua, guru BK, konselor, atau tenaga kesehatan.
3. Cerdas Memilih Pergaulan di Era Digital
Teknologi memberikan banyak manfaat bagi remaja, mulai dari belajar hingga mengembangkan kreativitas. Namun, dunia digital juga menyimpan risiko, seperti perundungan siber, penyebaran informasi palsu, penipuan, dan konten yang tidak sesuai usia.
Remaja berkualitas perlu memiliki kemampuan untuk memilih informasi dan lingkungan pergaulan. Bertemanlah dengan orang-orang yang mendukung pertumbuhan positif, menghargai batasan pribadi, dan mengajak melakukan kegiatan bermanfaat. Jangan merasa harus mengikuti semua tren hanya agar diterima oleh kelompok pertemanan.
Jagalah privasi, hindari membagikan foto atau informasi pribadi secara sembarangan, dan jangan meneruskan konten yang mempermalukan orang lain. Ingat, jejak digital dapat bertahan lama. Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: apakah konten ini bermanfaat, aman, dan tidak merugikan siapa pun?
Dalam pergaulan sehari-hari, termasuk hubungan dengan lawan jenis, penting untuk saling menghormati, menjaga batasan diri, memahami kesehatan reproduksi, dan berani menolak tekanan yang bertentangan dengan nilai serta keselamatan diri. Menjaga diri bukan tanda tidak percaya kepada orang lain, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.
4. Menjadi Salehah: Memadukan Iman, Ilmu, dan Akhlak
Menjadi remaja salehah bukan sekadar terlihat baik di hadapan orang lain. Kesalehan tercermin dalam hubungan dengan Allah SWT, sikap kepada sesama, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Membiasakan salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, berdoa, berkata jujur, menghormati orang tua dan guru, serta membantu sesama merupakan langkah sederhana untuk membangun karakter Islami. Sikap menjaga kebersihan, menepati janji, tidak merundung teman, dan tidak menyebarkan keburukan orang lain juga merupakan bagian dari akhlak mulia.
Nilai agama seharusnya menjadi bekal untuk membuat keputusan yang baik, bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Remaja salehah tetap perlu belajar ilmu pengetahuan, berpikir kritis, menjaga kesehatan, dan berani mencari pertolongan ketika mengalami masalah.
Menjaga kesehatan tubuh dan pikiran juga merupakan bentuk tanggung jawab. Dengan tubuh yang sehat, hati yang terjaga, dan ilmu yang terus bertambah, remaja dapat menjalani aktivitas serta berkontribusi lebih baik bagi keluarga dan masyarakat.
5. Berkualitas Berarti Terus Bertumbuh dan Berprestasi
Kualitas seorang remaja tidak ditentukan hanya oleh nilai rapor atau penghargaan yang dimiliki. Remaja berkualitas adalah pribadi yang mau belajar, disiplin, bertanggung jawab, kreatif, dan mampu bekerja sama.
Temukan potensi yang kamu miliki. Bisa jadi kamu unggul dalam bidang akademik, olahraga, seni, organisasi, teknologi, atau kegiatan sosial. Kembangkan kemampuan tersebut secara bertahap. Jangan takut mencoba hal baru dan jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti.
Gunakan waktu untuk kegiatan yang mendukung masa depan. Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan, atur waktu belajar dan beristirahat, serta sisihkan waktu untuk keluarga dan ibadah. Kamu tidak harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Jadilah pribadi yang terus memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
6. Mulai dari Langkah Kecil Hari Ini
Menjadi remaja sehat, berkualitas, dan solehah tidak terjadi dalam satu malam. Perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mulailah dengan membuat komitmen sederhana: menjaga pola makan, aktif bergerak, tidur cukup, membatasi penggunaan gawai, menjaga kebersihan diri, beribadah dengan lebih disiplin, memilih pergaulan yang sehat, dan berani meminta bantuan ketika membutuhkannya.
Keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam mendukung remaja agar tumbuh dengan sehat dan percaya diri. Informasi yang benar, lingkungan yang aman, serta dukungan yang tidak menghakimi akan membantu remaja mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Penutup: Jadilah Remaja yang Membanggakan
Masa remaja adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan. Jangan habiskan waktu hanya untuk mengejar pengakuan orang lain, tetapi gunakanlah untuk mengenali potensi, menjaga kesehatan, memperkuat iman, menambah ilmu, dan membangun akhlak.
Jadilah remaja yang sehat tubuhnya, kuat mentalnya, luas ilmunya, baik akhlaknya, dan dekat dengan Allah SWT. Tidak perlu menunggu dewasa untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Mulailah dari diri sendiri, dari kebiasaan kecil, dan dari hari ini.
Sebab, generasi masa depan yang berkualitas tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kesehatan, karakter yang kuat, dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi pegangan dalam kehidupan.
Sehat dirinya, cerdas pikirannya, mulia akhlaknya, salehah pribadinya, dan bermanfaat bagi sesama.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Remaja. Ayo Sehat. https://ayosehat.kemkes.go.id/kategori-usia/remaja
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Bayi Sehat Lahir dari Ibu Sehat sejak Remaja. https://kemkes.go.id/id/bayi-sehat-lahir-dari-ibu-sehat-sejak-remaja
- World Health Organization. Adolescent Health. https://www.who.int/health-topics/adolescent-health
- World Health Organization. (2025). Mental Health of Adolescents. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
by Admin Kebidanan | Oct 21, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
“Saya masih muda dan merasa sehat. Mengapa harus diperiksa?”
Pertanyaan tersebut mungkin sering muncul di kalangan remaja. Pemeriksaan kesehatan biasanya dianggap hanya diperlukan ketika seseorang sedang sakit. Padahal, banyak masalah kesehatan dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas.
Tahun 2026 menjadi momentum penting dengan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah. Program ini bertujuan mendeteksi masalah kesehatan sejak dini sekaligus mendorong masyarakat untuk beralih dari pola menunggu sakit menjadi mencegah dan menemukan masalah kesehatan sedini mungkin.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa hingga Agustus 2026, CKG telah menjangkau jutaan siswa dan menemukan berbagai masalah kesehatan, antara lain gangguan kesehatan gigi, anemia pada remaja putri, obesitas, serta masalah kesehatan lainnya.
Sehat Bukan Sekadar Tidak Merasa Sakit
Remaja dapat tetap bersekolah, bermain, dan beraktivitas seperti biasa meskipun memiliki masalah kesehatan tertentu. Karena itu, merasa sehat belum tentu berarti seluruh kondisi tubuh benar-benar baik.
Pemeriksaan kesehatan dapat membantu menemukan berbagai masalah seperti anemia, gangguan gizi, obesitas, tekanan darah yang tidak normal, gangguan penglihatan, masalah gigi dan mulut, maupun masalah kesehatan mental.
Mengapa Remaja Putri Perlu Lebih Peduli?
Remaja putri memiliki beberapa kebutuhan kesehatan yang khas. Salah satunya berkaitan dengan menstruasi.
Menstruasi menyebabkan kehilangan darah secara rutin sehingga kebutuhan zat besi perlu diperhatikan. Apabila asupan zat besi tidak mencukupi, remaja putri berisiko mengalami anemia.
Anemia dapat menyebabkan mudah lelah, lemas, pusing, mengantuk, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya kemampuan melakukan aktivitas. Namun, keluhan tersebut sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, jika keluhan berlangsung terus-menerus, pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Pencegahan anemia dapat dilakukan melalui pola makan bergizi seimbang dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran. Pemeriksaan kesehatan juga membantu mengetahui apakah upaya pencegahan yang dilakukan sudah cukup.
Kesehatan Tidak Hanya Tentang Berat Badan
Remaja sering menghubungkan kesehatan dengan berat badan atau bentuk tubuh. Padahal, kesehatan jauh lebih luas.
Remaja membutuhkan gizi yang cukup, aktivitas fisik, tidur yang baik, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan reproduksi, serta kesehatan mental.
Masalah gizi pada anak dan remaja juga semakin kompleks. Di satu sisi masih ditemukan anemia dan kekurangan zat gizi, sedangkan di sisi lain terdapat masalah gizi lebih dan obesitas.
Karena itu, sehat bukan berarti harus kurus.
Tubuh yang sehat adalah tubuh yang mendapatkan nutrisi cukup, mampu beraktivitas, berkembang sesuai usia, dan didukung oleh kondisi mental yang baik.
Remaja tidak perlu melakukan diet ekstrim hanya untuk mendapatkan bentuk tubuh tertentu. Pola makan yang terlalu ketat justru dapat menyebabkan kekurangan zat gizi yang dibutuhkan tubuh pada masa pertumbuhan.
Jangan Lupakan Kesehatan Mental
Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan remaja.
Tekanan belajar, masalah pertemanan, hubungan keluarga, perubahan tubuh, rasa tidak percaya diri, hingga berbagai persoalan di lingkungan digital dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan seharusnya tidak hanya berfokus pada kondisi fisik. Remaja juga membutuhkan kesempatan untuk membicarakan kondisi emosional dan psikologisnya.
Ketika merasa sedih, cemas, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, atau mengalami masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari, remaja sebaiknya tidak memendamnya sendirian.
Berbicara dengan orang tua, guru, konselor, bidan, tenaga kesehatan, atau orang yang dipercaya merupakan langkah yang baik.
Pemeriksaan Bukan Sesuatu yang Menakutkan
Sebagian remaja mungkin merasa takut ketika akan menjalani pemeriksaan kesehatan. Takut mengetahui hasilnya, takut dimarahi, atau takut harus menjalani pengobatan.
Padahal, mengetahui kondisi kesehatan lebih awal justru memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan.
Jika ditemukan anemia, misalnya, remaja dapat segera memperbaiki pola makan dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Jika ditemukan masalah gigi, perawatan dapat dilakukan sebelum menjadi lebih berat. Jika terdapat masalah psikologis, dukungan dapat diberikan lebih awal.
Program CKG dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun budaya kesehatan di sekolah. Namun, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada kegiatan skrining. Hasil pemeriksaan perlu ditindaklanjuti sehingga siswa yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh pelayanan yang sesuai.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa CKG bukan sekadar pemeriksaan, tetapi menjadi awal untuk memastikan masalah kesehatan yang ditemukan mendapatkan tindak lanjut.
Jangan Menunggu Sakit untuk Peduli
Paradigma kesehatan perlu berubah.
Jangan menunggu tubuh sangat lemas untuk memperhatikan anemia. Jangan menunggu gigi sakit untuk memeriksakan kesehatan gigi. Jangan menunggu masalah menjadi berat untuk berbicara mengenai kesehatan mental.
Dan jangan menunggu dewasa untuk mulai menjaga kesehatan.
Remaja merupakan kelompok penting dalam pembangunan masa depan Indonesia. Kebiasaan sehat yang dibangun sejak sekarang dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki usia dewasa.
Bagi remaja putri, menjaga kesehatan sejak dini juga merupakan investasi untuk kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan di masa mendatang.
Remaja Sehat, Masa Depan Lebih Kuat
Kesehatan remaja bukan hanya tentang bebas dari penyakit. Kesehatan mencakup kondisi fisik, mental, sosial, gizi, dan kesehatan reproduksi.
Karena itu, merasa sehat bukan alasan untuk tidak peduli terhadap kesehatan.
Kenali tubuhmu. Perhatikan perubahan yang terjadi. Jaga pola makan. Aktif bergerak. Tidur cukup. Jaga kesehatan mental. Jangan abaikan keluhan menstruasi. Dan manfaatkan kesempatan pemeriksaan kesehatan yang tersedia.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Setahun Cek Kesehatan Gratis Anak: Pemerintah Targetkan Seluruh Temuan Penyakit Ditindaklanjuti Tuntas. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Temukan Masalah Gigi hingga Obesitas pada Siswa, Kemenkes Jadikan CKG Pintu Masuk Wujudkan Generasi Unggul. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. (2024). Adolescent Health. Geneva: WHO.
- UNICEF Indonesia. (2026). Investasi pada Remaja Perempuan: Penggerak Strategis Menuju Visi Indonesia Emas 2045. Jakarta: UNICEF Indonesia.
by Admin Kebidanan | Oct 19, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan
Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
Kesehatan Remaja Putri merupakan Bekal Menuju Perempuan Sehat dan Berkualitas
Oleh : Prodi DIII Kebidanan
Masa remaja merupakan periode penting dalam kehidupan seorang perempuan. Pada usia 10–19 tahun, remaja mengalami berbagai perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional. Pada remaja putri, perubahan tersebut antara lain ditandai dengan perkembangan payudara, perubahan bentuk tubuh, pertumbuhan rambut di area tertentu, munculnya menstruasi, serta perkembangan kematangan organ reproduksi.
Masa remaja menjadi kesempatan penting untuk membangun kebiasaan hidup sehat. Pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan tidur, kemampuan mengelola stres, serta pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi yang dibentuk sejak remaja dapat memengaruhi kesehatan perempuan hingga dewasa.
Menstruasi dan Kesehatan Reproduksi
Menstruasi merupakan proses fisiologis yang normal pada perempuan. Namun, menstruasi pertama atau menarche sering kali menimbulkan kebingungan dan kecemasan apabila remaja belum mendapatkan informasi yang cukup.
Remaja putri perlu memahami bahwa siklus menstruasi dapat belum teratur pada beberapa tahun pertama. Meskipun demikian, keluhan seperti perdarahan yang sangat banyak, nyeri menstruasi yang mengganggu aktifitas, atau tidak mengalami menstruasi dalam waktu lama perlu mendapatkan perhatian tenaga kesehatan.
Kebersihan menstruasi juga harus diperhatikan. Remaja perlu mengganti pembalut secara berkala, mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut, menjaga kebersihan area genital, dan menggunakan air bersih. Pengetahuan yang benar akan membantu remaja menjalani menstruasi dengan nyaman dan percaya diri.
Kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan menstruasi. Remaja juga perlu memperoleh informasi mengenai pubertas, perawatan organ reproduksi, hubungan yang sehat, batasan diri, pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual, serta risiko kehamilan pada usia remaja.
Pendidikan kesehatan reproduksi yang tepat bertujuan membekali remaja agar mampu menjaga diri, mengambil keputusan yang bertanggung jawab, dan mencari bantuan ketika menghadapi masalah. WHO menekankan pentingnya informasi kesehatan, keterampilan hidup, lingkungan yang aman, serta layanan kesehatan yang ramah bagi remaja.
Waspadai Anemia pada Remaja Putri
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian pada remaja putri. Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin tidak mencukupi untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi merupakan salah satu penyebab yang paling umum.
Remaja putri memiliki risiko anemia karena mengalami menstruasi secara rutin. Risiko tersebut dapat semakin besar apabila asupan zat besi dari makanan tidak mencukupi.
Anemia dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, lemas, pusing, mengantuk, sulit berkonsentrasi, dan menurunkan kemampuan melakukan aktivitas. Dalam jangka panjang, anemia dapat berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup.
Di Indonesia, pencegahan anemia pada remaja putri salah satunya dilakukan melalui pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Selain mengonsumsi TTD sesuai anjuran, remaja perlu mengonsumsi makanan yang kaya zat besi seperti daging, ikan, telur, dan sumber pangan lainnya. Konsumsi sayur dan buah, terutama sumber vitamin C, juga mendukung pemenuhan kebutuhan zat gizi.
Gizi Seimbang untuk Tumbuh Sehat
Masa remaja merupakan masa pertumbuhan sehingga kebutuhan energi dan zat gizi meningkat. Sayangnya, sebagian remaja putri memiliki keinginan untuk mendapatkan bentuk tubuh tertentu sehingga melakukan diet ketat atau mengurangi makanan secara berlebihan.
Pola makan yang terlalu ketat dapat menyebabkan kekurangan energi, protein, vitamin, dan mineral. Oleh karena itu, remaja perlu menerapkan pola makan bergizi seimbang dengan mengonsumsi makanan yang beragam, cukup, dan sesuai kebutuhan tubuh.
Makanan sehari-hari sebaiknya terdiri dari sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, serta cukup air. Makanan tinggi gula, garam, lemak, dan makanan ultra-proses sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Menjaga berat badan bukan berarti harus melakukan diet ekstrem. Tubuh remaja masih berkembang sehingga kebutuhan gizinya harus dipenuhi dengan baik.
Kesehatan Mental Juga Penting
Kesehatan remaja putri tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Kesehatan mental juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Tekanan akademik, masalah pertemanan, konflik keluarga, perubahan tubuh, rasa tidak percaya diri, serta pengaruh media sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial juga dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap tubuh dan diri sendiri.
Remaja perlu belajar mengenali dan mengelola emosinya. Berbicara dengan orang tua, guru, teman yang dipercaya, konselor, atau tenaga kesehatan dapat menjadi langkah penting ketika menghadapi masalah.
Tidak perlu merasa malu untuk meminta bantuan. Mencari pertolongan bukan tanda kelemahan, tetapi merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Aktif Bergerak dan Istirahat Cukup
Aktivitas fisik merupakan bagian dari gaya hidup sehat. Remaja dapat melakukan olahraga yang disukai seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, senam, bermain olahraga, atau aktivitas fisik lainnya.
Aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran tubuh dan dapat mendukung kesehatan mental. Sebaliknya, terlalu banyak duduk dan menghabiskan waktu dengan gawai perlu diimbangi dengan aktivitas fisik.
Selain bergerak aktif, tidur yang cukup juga penting. Kebiasaan tidur terlalu larut dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, remaja perlu membangun kebiasaan tidur yang teratur dan membatasi penggunaan gawai menjelang tidur.
Remaja Putri Sehat, Masa Depan Lebih Kuat
Kesehatan remaja putri merupakan investasi untuk masa depan. Remaja yang tumbuh dengan gizi baik, memahami kesehatan reproduksi, mampu menjaga kesehatan mental, aktif bergerak, dan memiliki kebiasaan hidup sehat akan memiliki bekal yang lebih baik untuk memasuki kehidupan dewasa.
Menjaga kesehatan remaja bukan hanya tanggung jawab remaja itu sendiri. Orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.
Bagi remaja putri, menjaga kesehatan dapat dimulai dari langkah sederhana: makan bergizi, mengonsumsi Tablet Tambah Darah sesuai anjuran, menjaga kebersihan saat menstruasi, aktif bergerak, tidur cukup, menjaga kesehatan mental, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi masalah.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. (2024). Adolescent and young adult health. Geneva: WHO.
- World Health Organization. (2024). Adolescent health. Geneva: WHO.
- World Health Organization. (2025). Anaemia. Geneva: WHO.
- UNICEF Indonesia. (2019). Aksi Bergizi: An integrated gender responsive adolescent nutrition program to support the Government of Indonesia to address the triple burden of malnutrition among adolescent girls and boys. Jakarta: UNICEF Indonesia.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi Remaja Putri pada Masa Pandemi COVID-19 bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
by Admin Kebidanan | Oct 16, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Program Studi D3 Kebidanan
Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
Masa remaja merupakan periode penting dalam kehidupan. Pada masa ini terjadi berbagai perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional yang akan mempengaruhi kesehatan seseorang di masa dewasa. Karena itu, menjaga kesehatan remaja bukan hanya penting untuk kondisi saat ini, tetapi juga merupakan investasi untuk membentuk generasi Indonesia yang sehat dan produktif.
Indonesia memiliki jumlah remaja yang besar. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan dalam pembangunan kesehatan. Saat ini, masalah kesehatan remaja semakin beragam, mulai dari kesehatan mental, kesehatan reproduksi, anemia, penggunaan rokok dan rokok elektronik, pola hidup tidak sehat, hingga risiko penyakit tidak menular.
Kesehatan Mental Remaja
Kesehatan mental menjadi salah satu isu penting pada kelompok remaja. Tekanan akademik, masalah keluarga, pertemanan, perundungan, pencarian identitas diri, serta penggunaan media sosial dapat mempengaruhi kondisi psikologis remaja.
Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi depresi paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 15–24 tahun, yaitu 2%. Namun, hanya sebagian kecil anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kebutuhan dan pemanfaatan layanan kesehatan mental.
Remaja membutuhkan lingkungan yang aman untuk bercerita dan mendapatkan dukungan. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, serta tenaga kesehatan perlu membantu remaja mengenali emosi, mengelola stres, membangun hubungan yang sehat, dan mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis.
Kesehatan Reproduksi Remaja
Masa remaja merupakan tahap penting dalam perkembangan sistem reproduksi. Remaja perlu memperoleh informasi yang benar mengenai pubertas, menstruasi, kebersihan diri, kesehatan reproduksi, hubungan yang sehat, infeksi menular seksual, dan pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan.
Pendidikan kesehatan reproduksi yang tepat bukan berarti mendorong perilaku seksual berisiko. Sebaliknya, informasi yang benar membantu remaja memahami tubuhnya, mengenali risiko, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025 juga memperkuat upaya kesehatan reproduksi anak usia sekolah dan remaja melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif.
Kesehatan reproduksi perlu dipandang sebagai bagian dari kesehatan sepanjang siklus kehidupan. Kesehatan remaja putri saat ini akan berkaitan dengan kesehatan perempuan ketika memasuki masa reproduksi dan menjadi calon ibu di kemudian hari.
Anemia pada Remaja Putri
Anemia merupakan salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian pada remaja putri. Menstruasi menyebabkan kebutuhan zat besi meningkat sehingga remaja putri memiliki risiko mengalami kekurangan zat besi.
SKI 2023 menunjukkan bahwa 54,8% remaja putri belum pernah mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD). Selain itu, lebih dari separuh remaja putri yang tidak mengkonsumsi TTD menyatakan belum mengetahui manfaatnya.
Anemia dapat menyebabkan mudah lelah, lemah, kurang konsentrasi, dan menurunkan produktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi kesehatan remaja putri juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan ketika memasuki masa kehamilan.
Pencegahan anemia perlu dilakukan melalui konsumsi makanan bergizi, terutama sumber zat besi, serta konsumsi TTD sesuai anjuran. Edukasi mengenai manfaat TTD juga perlu diperkuat agar remaja memahami bahwa pencegahan anemia merupakan bagian dari investasi kesehatan mereka.
Rokok dan Rokok Elektronik
Penggunaan rokok dan rokok elektronik atau vape juga menjadi perhatian dalam kesehatan remaja. Produk nikotin dapat menimbulkan ketergantungan dan berisiko terhadap kesehatan.
WHO melaporkan bahwa penggunaan rokok pada pelajar usia 13–17 tahun di Indonesia meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penggunaan rokok elektronik juga ditemukan pada kelompok usia tersebut.
Pencegahan perlu dilakukan sejak sebelum remaja mulai mencoba. Remaja perlu memiliki kemampuan untuk menolak tekanan teman sebaya, memahami risiko nikotin, serta mampu mengenali berbagai strategi pemasaran produk rokok dan rokok elektronik.
Keluarga dan sekolah mempunyai peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung remaja untuk tidak merokok.
Gaya Hidup di Era Digital
Perkembangan teknologi memberikan banyak manfaat bagi remaja. Internet dan media sosial dapat menjadi sumber informasi, sarana belajar, dan media komunikasi. Namun, penggunaan teknologi secara berlebihan juga dapat berdampak pada pola tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, dan kesehatan mental.
Remaja perlu memiliki literasi kesehatan dan literasi digital. Tidak semua informasi kesehatan di media sosial dapat dipercaya. Informasi mengenai diet, obat, suplemen, kesehatan reproduksi, maupun kesehatan mental perlu diperiksa melalui sumber yang terpercaya.
Gaya hidup sehat juga perlu dibangun sejak remaja melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang baik, tidak merokok, serta menjaga kesehatan mental.
Kebiasaan tersebut penting karena berbagai faktor risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung dapat mulai terbentuk sejak usia muda.
Membangun Remaja Sehat Membutuhkan Kolaborasi
Kesehatan remaja tidak dapat menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan saja. Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat harus bekerja sama.
Keluarga perlu menjadi tempat yang aman bagi remaja untuk bertanya dan bercerita. Sekolah dapat memberikan pendidikan kesehatan serta menciptakan lingkungan yang aman dari perundungan dan kekerasan. Sementara itu, fasilitas kesehatan perlu menyediakan pelayanan yang mudah diakses, ramah, menjaga privasi, dan sesuai dengan kebutuhan remaja.
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi, konseling, skrining, dan pelayanan kesehatan bagi remaja.
Peran Bidan dalam Kesehatan Remaja
Dalam bidang kesehatan perempuan, bidan memiliki peran strategis dalam mendukung kesehatan remaja. Pelayanan kebidanan tidak hanya dimulai ketika seorang perempuan hamil, tetapi dapat dimulai sejak masa remaja melalui promosi kesehatan dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi.
Bidan dapat berperan dalam memberikan edukasi mengenai pubertas dan menstruasi sehat, pencegahan anemia, kesehatan reproduksi, pola hidup sehat, konseling, serta persiapan kesehatan sebelum memasuki masa reproduksi.Pendekatan kepada remaja perlu dilakukan secara ramah, komunikatif, tidak menghakimi, menjaga privasi, dan sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Anemia pada Remaja Putri: Tantangan Pencegahan melalui Konsumsi Tablet Tambah Darah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Bayi Sehat Lahir dari Ibu Sehat sejak Remaja. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- UNICEF Indonesia. (2025). Profil Kesehatan Remaja Indonesia 2024. Jakarta: UNICEF Indonesia.
- World Health Organization. (2024). Transforming Adolescent Health: WHO’s Comprehensive Report on Global Progress and Gaps. Geneva: World Health Organization.
- World Health Organization. (2026). WHO Calls for Bold Moves to Protect the Next Generation from Tobacco and Nicotine. Jakarta: WHO Indonesia.
by Admin Kebidanan | Oct 14, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M. Kes.
Kesehatan merupakan salah satu indikator penting dalam menggambarkan kualitas kehidupan masyarakat. Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan dalam pembangunan kesehatan, baik melalui peningkatan akses pelayanan, penguatan fasilitas kesehatan, program pencegahan penyakit, maupun perluasan cakupan jaminan kesehatan. Namun demikian, berbagai tantangan kesehatan masih perlu mendapatkan perhatian.
Kondisi kesehatan Indonesia saat ini menunjukkan adanya beban ganda masalah kesehatan. Di satu sisi, penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah, sementara di sisi lain penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker, dan obesitas semakin banyak ditemukan. Selain itu, kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi remaja, masalah gizi, serta kesehatan mental juga menjadi bagian penting dari agenda pembangunan kesehatan.
Penyakit Tidak Menular Semakin Menjadi Perhatian
Penyakit tidak menular merupakan salah satu tantangan kesehatan yang semakin penting di Indonesia. Perubahan gaya hidup masyarakat, pola makan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta meningkatnya berat badan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk usia lebih dari 18 tahun meningkat dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Selain itu, sebanyak 96,7% penduduk berusia ≥5 tahun masih kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai standar yang digunakan dalam survei.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan penyakit harus dimulai sejak dini. Edukasi mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, tidak merokok, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Penyakit Menular Masih Menjadi Tantangan
Kemajuan dalam pengendalian penyakit tidak menular tidak berarti Indonesia telah terbebas dari penyakit menular. Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Indonesia termasuk negara dengan beban TBC tinggi di dunia.
Pengendalian TBC membutuhkan penemuan kasus secara aktif, diagnosis yang tepat, kepatuhan terhadap pengobatan, serta dukungan keluarga dan masyarakat. Selain TBC, penyakit seperti demam berdarah dengue, malaria di wilayah tertentu, dan berbagai penyakit infeksi lainnya juga tetap perlu diwaspadai.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan surveilans kesehatan, imunisasi, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta deteksi dini penyakit.
Kesehatan Ibu, Anak, dan Remaja
Kesehatan ibu dan anak merupakan bagian penting dari pembangunan kesehatan Indonesia. Berbagai program telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, balita, serta keluarga berencana. Namun, upaya penurunan kematian ibu dan bayi masih membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Kesehatan perempuan juga perlu dilihat dalam perspektif siklus hidup, bukan hanya ketika seorang perempuan hamil. Kesehatan sejak masa remaja, prakonsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui, hingga masa lanjut usia saling berkaitan.
Pada kelompok remaja, kesehatan reproduksi menjadi isu yang semakin penting. Remaja membutuhkan informasi yang benar mengenai pubertas, kesehatan reproduksi, hubungan yang sehat, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual, serta kesehatan mental.
Masalah Gizi dan Stunting
Masalah gizi di Indonesia masih bersifat kompleks. Indonesia menghadapi masalah kekurangan gizi sekaligus peningkatan kelebihan berat badan dan obesitas.
SKI 2023 menunjukkan prevalensi stunting balita sebesar 21,5%. Pada saat yang sama, masalah wasting dan kelebihan berat badan pada anak juga masih ditemukan.
Pencegahan masalah gizi perlu dimulai sejak sebelum kehamilan. Status gizi remaja putri, kesehatan calon ibu, pemenuhan gizi selama kehamilan, pemberian ASI, makanan pendamping ASI, serta pemantauan pertumbuhan anak merupakan rangkaian yang saling berkaitan.
Dalam hal ini, keluarga memiliki peran penting. Tenaga kesehatan, termasuk bidan, juga memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada perempuan, bayi, anak, keluarga, dan masyarakat.
Kesehatan Mental Semakin Penting
Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental. Anak muda menghadapi berbagai tekanan, baik dari pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, maupun perkembangan teknologi dan media sosial.
Karena itu, kesehatan mental perlu dipandang sebagai bagian dari kesehatan secara menyeluruh. Promosi kesehatan mental, dukungan keluarga, lingkungan pendidikan yang aman, kemampuan mengelola stres, deteksi dini masalah psikologis, serta akses terhadap bantuan profesional perlu terus diperkuat.
Lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat mempunyai peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.
Penguatan Deteksi Dini
Salah satu perkembangan penting dalam pembangunan kesehatan Indonesia adalah semakin kuatnya pendekatan promotif dan preventif. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan deteksi dini masalah kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat. Deteksi dini terhadap hipertensi, diabetes, gangguan kesehatan lainnya, serta edukasi mengenai pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak seharusnya datang ke fasilitas kesehatan hanya ketika sudah sakit. Mencegah dan menemukan masalah kesehatan sedini mungkin jauh lebih baik daripada menunggu penyakit berkembang.
Peran Tenaga Kesehatan dan Pendidikan Kebidanan
Perubahan masalah kesehatan masyarakat juga menyebabkan tuntutan terhadap tenaga kesehatan semakin besar. Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga kemampuan komunikasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, kerja sama lintas profesi, dan pemanfaatan teknologi.
Bidan memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan perempuan, bayi, anak, remaja, keluarga, dan masyarakat. Peran bidan tidak hanya berkaitan dengan kehamilan dan persalinan, tetapi juga mencakup kesehatan reproduksi sepanjang siklus hidup, keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, promosi kesehatan, pencegahan penyakit, serta pemberdayaan masyarakat.
Oleh karena itu, pendidikan kebidanan perlu terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa kebidanan perlu dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, komunikatif, berorientasi pada keselamatan pasien, serta mampu memberikan pelayanan berbasis bukti.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Statistik Kesehatan 2025. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Profil Kesehatan Indonesia 2025. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). CKG Ungkap Masalah Kesehatan di Setiap Kelompok Usia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. (2025). New Year, New Opportunities: How Indonesia Aims to Rapidly Improve Reproductive, Maternal, Newborn, Child and Adolescent Health. WHO Indonesia.
- World Health Organization. (2025). Strengthening TB Surveillance to Accelerate Indonesia’s Path to Elimination. WHO Indonesia.
- World Health Organization. (2026). Indonesia Charts Next Phase of TB Response Through National Programme Review. WHO Indonesia.
by Admin Kebidanan | Oct 12, 2026 | Artikel D3
Penulis: Restu Pangestuti, S.ST., M.Kes.
Anak berlari ke sana kemari, sulit duduk diam, banyak bertanya, atau cepat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain sering kali membuat orang tua bertanya, “Apakah anak hiperaktif?”. Padahal, anak yang aktif belum tentu mengalami hiperaktivitas atau ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder). Anak memiliki karakter dan kebutuhan bergerak yang berbeda sesuai usia dan tahap perkembangannya.
Anak Aktif Itu Seperti Apa?
Anak aktif umumnya memiliki energi yang besar dan senang mengeksplorasi lingkungan. Mereka dapat banyak bergerak, berbicara, bermain, dan mencoba berbagai aktivitas. Namun, anak yang aktif pada umumnya masih dapat mengikuti aturan sederhana sesuai usianya, mengalihkan perhatian pada aktivitas yang menarik, dan menyesuaikan perilaku ketika diberikan arahan. Karena itu, perilaku anak perlu dilihat berdasarkan usia, situasi, dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari, bukan hanya berdasarkan seberapa banyak anak bergerak.
Kapan Anak Disebut Hiperaktif?
Dalam konteks kesehatan, hiperaktivitas merupakan salah satu kelompok gejala yang dapat muncul pada ADHD. ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat melibatkan kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gejalanya dapat muncul dalam berbagai pola dan tidak selalu berupa anak yang terus-menerus bergerak. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah gejala tersebut menetap, cukup berat, dan menyebabkan gangguan dalam kehidupan anak, misalnya di rumah, sekolah, atau dalam hubungan dengan teman.
Tanda yang Perlu Diperhatikan
Orang tua dapat mulai berkonsultasi apabila anak secara konsisten mengalami beberapa kondisi seperti:
- Sangat sulit mempertahankan perhatian;
- Sering bertindak tanpa mempertimbangkan akibatnya;
- Sulit menunggu giliran;
- Sering menyela atau berbicara berlebihan;
- Sangat sulit mengikuti instruksi;
- Sering kehilangan atau melupakan barang;
- Perilaku tersebut muncul dalam lebih dari satu lingkungan; atau
- Perilaku tersebut mengganggu kegiatan belajar, bermain, hubungan sosial, atau kehidupan keluarga.
Namun, satu atau dua perilaku tersebut saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami ADHD. Banyak kondisi lain, termasuk gangguan tidur, kecemasan, atau kesulitan belajar, dapat memiliki gejala yang menyerupai ADHD.
Jangan Diagnosis Anak Berdasarkan Media Sosial
Saat ini banyak konten mengenai ADHD beredar di TikTok, Instagram, dan platform lainnya. Informasi tersebut dapat membantu meningkatkan kesadaran, tetapi tidak dapat menggantikan penilaian profesional. Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang dapat digunakan untuk memastikan ADHD. Evaluasi dilakukan melalui beberapa tahapan dan dapat melibatkan informasi dari orang tua, guru, serta tenaga kesehatan.
Pedoman American Academy of Pediatrics juga menekankan bahwa dalam evaluasi ADHD perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya kondisi lain yang menyertai atau menyerupai gejalanya, termasuk gangguan perkembangan, gangguan belajar dan bahasa, serta masalah kesehatan tertentu.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Daripada langsung memberikan label “nakal” atau “hiperaktif”, orang tua dapat mulai dengan mengamati pola perilaku anak. Perhatikan: Apa yang dilakukan anak? Kapan perilaku tersebut muncul? Seberapa sering? Apakah terjadi di rumah saja atau juga di sekolah? Dan apakah perilaku tersebut benar-benar mengganggu aktivitas anak?
Orang tua juga dapat membantu anak melalui rutinitas yang konsisten, aturan yang sederhana dan jelas, kesempatan bermain aktif, waktu tidur yang cukup, serta komunikasi yang positif. Jika terdapat kekhawatiran mengenai perilaku atau perkembangan anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan bidan, dokter anak, psikolog, atau tenaga kesehatan terkait untuk mendapatkan penilaian yang tepat.
Anak aktif tidak otomatis berarti hiperaktif.
Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan perkembangan yang berbeda. Hal yang penting bukan sekadar melihat apakah anak banyak bergerak, tetapi memahami pola perilaku, konsistensi gejala, lingkungan tempat gejala muncul, serta dampaknya terhadap kehidupan anak. Daripada terburu-buru memberikan label, mari mengamati, memahami, dan melakukan deteksi dini bila diperlukan. Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat memperoleh dukungan sesuai kebutuhan perkembangannya.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
- Wolraich ML, Hagan JF Jr, Allan C, et al. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis, Evaluation, and Treatment of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Children and Adolescents. Pediatrics. 2019;144(4):e20192528.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diagnosing ADHD. Updated July 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Symptoms of ADHD. Updated July 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). ADHD in Children. Updated July 2026.
- American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guidelines: Diagnosis, Evaluation, and Treatment of ADHD in Children and Adolescents.