Self-Diagnosis oleh Ibu Hamil berdasarkan informasi Google dan TikTok

Self-Diagnosis oleh Ibu Hamil berdasarkan informasi Google dan TikTok

Penulis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM.

Di era digital, mencari informasi kesehatan semudah mengetik kata kunci di Google atau menonton video di TikTok. Bagi ibu hamil, informasi tersebut dapat membantu memahami perubahan tubuh, nutrisi, tanda bahaya, dan persiapan persalinan. Namun, kemudahan ini juga dapat mendorong self-diagnosis, yaitu menentukan sendiri kondisi kesehatan berdasarkan informasi yang ditemukan tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.

Ketika Gejala Langsung Dicari di Internet

Mual, pusing, sakit kepala, nyeri perut, atau kelelahan merupakan keluhan yang dapat terjadi selama kehamilan. Namun, satu gejala dapat memiliki berbagai penyebab. Misalnya, sakit kepala dapat berkaitan dengan kelelahan atau dehidrasi, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat menjadi tanda masalah yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Masalah muncul ketika ibu langsung menyimpulkan, “Saya hanya mengalami keluhan biasa karena hamil,” atau sebaliknya, “Saya pasti mengalami penyakit tertentu,” hanya berdasarkan hasil pencarian internet.

Apa Risikonya?

Pertama, salah memahami gejala. Informasi di internet tidak selalu mempertimbangkan riwayat kesehatan dan kondisi kehamilan setiap individu.

Kedua, terlambat mendapatkan pertolongan. Menganggap gejala sebagai kondisi yang normal dapat menyebabkan ibu menunda pemeriksaan, padahal beberapa tanda kehamilan memerlukan evaluasi segera.

Ketiga, penggunaan obat atau herbal secara sembarangan. Rekomendasi dari influencer atau pengalaman pengguna lain tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan keamanan obat atau suplemen selama kehamilan.

Keempat, meningkatkan kecemasan. Pencarian informasi kesehatan secara berlebihan dapat membuat ibu menemukan berbagai kemungkinan penyakit dan semakin khawatir. Kondisi ini dikenal sebagai cyberchondria.

Tidak Semua Informasi di Media Sosial Salah

Google dan TikTok bukanlah musuh. Media digital justru dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Ibu hamil dapat memperoleh informasi mengenai nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, pemeriksaan kehamilan, hingga tanda bahaya.

Yang perlu diperhatikan adalah sumber dan kualitas informasinya. Jumlah likes, followers, atau penayangan bukan jaminan bahwa informasi kesehatan tersebut benar.

Sebelum mempercayai suatu konten, pastikan:

  1. Siapa yang membuat informasi tersebut?
  2. Apakah sumbernya berasal dari tenaga atau organisasi kesehatan yang kredibel?
  3. Apakah terdapat referensi ilmiah?
  4. Apakah informasi tersebut masih relevan?
  5. Apakah informasi tersebut sesuai dengan kondisi saya?

Jangan Gantikan Pemeriksaan dengan Google

Ibu hamil perlu segera mendapatkan pertolongan apabila mengalami tanda bahaya seperti perdarahan, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, nyeri perut hebat, sesak napas, kejang, demam, atau gerakan janin berkurang.

Peran Bidan di Era Digital

Bidan memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kesehatan digital ibu hamil. Edukasi tidak hanya tentang kesehatan kehamilan, tetapi juga bagaimana memilih informasi yang benar dan menghindari informasi kesehatan yang menyesatkan. Ibu hamil tidak perlu takut menggunakan internet. Justru, jadikan teknologi sebagai sumber pengetahuan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan konsultasi. Google dapat membantu mencari informasi. TikTok dapat memberikan edukasi. Tetapi diagnosis dan keputusan kesehatan selama kehamilan tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan dan bukti ilmiah.

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Referensi

  1. World Health Organization. (2024). Infodemic. WHO.
  2. World Health Organization. (2023). Global strategy on digital health 2020–2025. WHO.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Health Literacy. CDC.
  4. Starcevic, V., & Berle, D. (2013). Cyberchondria: Towards a better understanding of excessive health-related Internet use. Expert Review of Neurotherapeutics, 13(2), 205–213.
  5. Moorhead, S. A., et al. (2013). A new dimension of health care: Systematic review of the uses, benefits, and limitations of social media for health communication. Journal of Medical Internet Research, 15(4), e85.
Sudah Tidur Cukup Tapi Masih Ngantuk? Ini Penyebabnya, Gen Z Perlu Tahu!

Sudah Tidur Cukup Tapi Masih Ngantuk? Ini Penyebabnya, Gen Z Perlu Tahu!

Penulis: Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes

Pernah merasa sudah tidur cukup, tetapi saat kuliah atau beraktivitas di siang hari tetap mengantuk? Kondisi ini cukup sering dialami, tetapi jangan buru-buru menganggapnya sebagai hal sepele.

Tidur yang sehat bukan hanya soal berapa lama kita berada di tempat tidur. Durasi dan kualitas tidur sama-sama penting. Untuk orang dewasa usia 18–60 tahun, kebutuhan tidur umumnya setidaknya 7 jam setiap malam. Namun, tidur yang cukup secara durasi belum tentu membuat tubuh terasa segar apabila kualitas tidur terganggu atau terdapat faktor lain yang mempengaruhi kesehatan.

 “Ada Enam hal yang seringkali tidak kita sadari menjadi penyebab kantuk meski waktu sudah tidur cukup” ujar Dyah, dosen Prodi DIII Kebidanan, Universitas Alma Ata. Enam hal tersebut adalah:

1. Kebiasaan Menggunakan Gadget hingga Larut Malam

Siapa yang masih scrolling media sosial sebelum tidur?

Kebiasaan menggunakan gadget hingga larut malam dapat mengganggu pola tidur. Paparan cahaya dari layar pada malam hari, ditambah aktivitas yang membuat otak tetap terstimulasi, dapat mempengaruhi waktu tidur dan ritme tidur-bangun.

Karena itu, cobalah mengurangi penggunaan gadget menjelang tidur. Buat suasana kamar lebih nyaman, redup, dan tenang agar tubuh memiliki kesempatan untuk memasuki waktu istirahat dengan lebih optimal.

2. Kurang Aktivitas Fisik

Terlalu banyak duduk dan minim aktivitas fisik juga dapat membuat tubuh terasa kurang bugar. Aktivitas fisik secara teratur merupakan bagian dari gaya hidup sehat dan dapat membantu mendukung kualitas tidur.

Tidak harus langsung olahraga berat. Jalan kaki, peregangan, bersepeda, atau aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara rutin dapat menjadi pilihan sederhana untuk memulai.

3. Pola Makan Kurang Seimbang

Rasa lelah dan mengantuk juga dapat berkaitan dengan pola makan. Konsumsi minuman atau makanan tinggi gula secara berlebihan, terutama jika menggantikan makanan bergizi, bukan pilihan yang baik untuk menjaga energi sepanjang hari.

Daripada mengandalkan kopi atau minuman manis setiap kali mengantuk, cobalah membangun pola makan yang lebih seimbang dengan sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan cairan yang cukup.

4. Kekurangan Zat Besi dan Anemia

Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan ketika tubuh sering terasa lelah adalah anemia, termasuk anemia akibat kekurangan zat besi.

Anemia dapat menyebabkan tubuh terasa lemah, mudah lelah, pusing, sakit kepala, atau mengalami sesak terutama pada kondisi tertentu. Pada perempuan, kehilangan darah saat menstruasi juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan status zat besi.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi, konsumsi makanan seperti daging tanpa lemak, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, sayuran berdaun hijau, dan pangan yang diperkaya zat besi dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Konsumsi makanan sumber vitamin C juga dapat membantu penyerapan zat besi dari sumber nabati.

Jika terdapat keluhan yang menetap atau dicurigai anemia, jangan melakukan suplementasi zat besi secara sembarangan. Pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

5. Stres dan Beban Aktivitas

Tugas kuliah, organisasi, pekerjaan, masalah hubungan sosial, hingga tekanan untuk selalu produktif dapat membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi “siaga”.

Stres berkepanjangan dapat mengganggu pola tidur dan membuat seseorang sulit mendapatkan tidur yang benar-benar menyegarkan. Akibatnya, bangun pagi tetap terasa berat meskipun waktu tidur sudah cukup.

Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya tentang fisik. Memberikan waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, berolahraga, dan berbicara dengan orang yang dipercaya juga merupakan bagian dari menjaga kesejahteraan diri.

6. Kualitas Tidur Terganggu oleh Sleep Apnea

Ada kondisi yang mungkin tidak disadari tetapi dapat mengganggu kualitas tidur, yaitu sleep apnea. Kondisi ini terjadi ketika pernapasan berhenti dan kembali berulang kali selama tidur.

Seseorang mungkin tidak menyadari gangguan tersebut karena terjadi ketika sedang tidur. Namun, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain dengkuran keras, napas seperti berhenti saat tidur, terbangun dengan sensasi terengah atau tersedak, sakit kepala saat bangun, serta rasa kantuk dan lelah berlebihan pada siang hari.

Jika tanda-tanda tersebut muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebab gangguan tidur.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika kamu sering mengantuk pada siang hari, coba evaluasi kebiasaan sehari-hari:

  1. Pertahankan jadwal tidur dan bangun yang relatif teratur.
  2. Kurangi penggunaan gadget menjelang tidur.
  3. Lakukan aktivitas fisik secara rutin.
  4. Pilih makanan bergizi seimbang dan batasi minuman tinggi gula.
  5. Penuhi kebutuhan cairan tubuh sepanjang hari.
  6. Kelola stres dan berikan waktu yang cukup untuk beristirahat.
  7. Perhatikan tanda-tanda anemia atau gangguan tidur.
  8. Jangan mengandalkan kopi atau minuman energi sebagai solusi utama untuk mengatasi kantuk.

Dyah menyampaikan: “jangan menganggap rasa kantuk berlebihan sebagai sesuatu yang harus selalu “dilawan” dengan kafein. Jika keluhan berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, mencari penyebabnya bersama tenaga kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat.”

Kenali Tubuh, Jaga Kesehatan Sejak Dini

Tubuh sebenarnya sering memberikan sinyal ketika ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Rasa lelah, mengantuk, sulit berkonsentrasi, atau tidur yang tidak menyegarkan dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali pola hidup maupun kondisi kesehatan.

Bagi remaja dan dewasa muda, membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini merupakan bagian penting dari upaya promotif dan preventif, yaitu menjaga kesehatan sekaligus mencegah munculnya masalah kesehatan. Literasi kesehatan akan membantu seseorang tidak hanya mengetahui cara menjaga kesehatan, tetapi juga mengenali kapan membutuhkan bantuan tenaga kesehatan.

Program Studi Diploma Tiga Kebidanan Universitas Alma Ata berkomitmen turut berkontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan melalui edukasi yang dekat dengan kebutuhan remaja, perempuan, ibu, anak, dan keluarga. Melalui pendekatan promotif dan preventif, mahasiswa kebidanan dipersiapkan untuk memiliki kemampuan memberikan edukasi kesehatan yang relevan, komunikatif, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Referensi

1. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Sleep. Atlanta: CDC.

2. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). FastStats: Sleep in Adults. Atlanta: CDC.

3. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. (2024). Iron: Fact Sheet for Health Professionals. Bethesda, MD: NIH.

4. National Heart, Lung, and Blood Institute. (2025). Sleep Apnea: Symptoms. Bethesda, MD: National Institutes of Health.

5. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Sleep and Your Heart Health. Atlanta: CDC.

Tren Vagus Nerve Hacks di TikTok: Mengapa Stimulasi Saraf Vagus Jadi Kunci Utama Atasi Nyeri Haid dan PCOS Remaja?

Tren Vagus Nerve Hacks di TikTok: Mengapa Stimulasi Saraf Vagus Jadi Kunci Utama Atasi Nyeri Haid dan PCOS Remaja?

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Di lini masa media sosial belakangan ini, tren “Vagus Nerve Hacks” atau teknik merangsang Saraf Vagus sedang meledak di kalangan health enthusiast dan Gen Z. Mulai dari merendam wajah di air es (ice facial), pernapasan box breathing, hingga teknik pemijatan telinga bagian dalam mendadak viral karena diklaim ampuh meredakan kecemasan instan.

Namun, di luar manfaat mentalnya, ada satu fakta medis besar yang sangat jarang dibahas oleh media utama: Saraf Vagus adalah “saklar utama” yang mengontrol peradangan organ reproduksi perempuan.

Bagi remaja putri dan perempuan muda yang kerap tersiksa oleh nyeri haid hebat (dysmenorrhea), perut kembung ekstrem saat PMS, hingga gejala Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), memahami kerja Saraf Vagus bisa menjadi kunci jawaban yang selama ini terlewatkan.

Hubungan Saraf Vagus dan Sistem Reproduksi

Saraf Vagus (Vagus Nerve) adalah saraf kranial terpanjang dalam tubuh yang membentang dari batang otak hingga ke organ-organ di dalam rongga dada dan perut, termasuk usus, rahim, dan ovarium. Saraf ini bertindak sebagai komandan utama sistem saraf parasimpatis, sistem yang bertugas untuk “rest, digest, and heal” (istirahat, mencerna, dan memulihkan).

Ketika seorang perempuan mengalami stres kronis, kurang tidur, atau kelelahan emosional, fungsi Saraf Vagus akan menurun (low vagal tone). Akibatnya:

  1. Sirkulasi Darah ke Rahim Terhambat

Otot-otot rahim menjadi tegang dan kekurangan oksigen (hipoksia lokal), memicu kram menstruasi yang jauh lebih menyiksa.

  1. Peradangan Kronis pada Ovarium

Low vagal tone gagal menekan produksi sitokin inflamasi, yang memperparah pembengkakan jaringan dan mengganggu pematangan sel telur pada penderita PCOS.

  1. Pencernaan Lambat saat Menstruasi

Mengingat Saraf Vagus juga mengontrol usus, penurunannya menyebabkan kembung parah, mual, dan diare yang sering menyertai hari pertama haid.

Cara Sederhana Merangsang Saraf Vagus di Rumah

Mengaktifkan Saraf Vagus tidak memerlukan alat mahal. Beberapa teknik alami yang terbukti secara ilmiah dapat dicoba antara lain:

  1. Pijat Area Concha Telinga

Mengurut lembut lekukan bagian dalam daun telinga yang dilewati oleh cabang Saraf Vagus selama 2–3 menit.

  1. Mendengung atau Bernyanyi (Humming)

Getaran di pita suara saat mendengung atau bernyanyi secara aktif menstimulasi Saraf Vagus di area leher.

  1. Pola Nafas 4-7-8

Menarik napas selama 4 detik, menahan 7 detik, dan menghembuskan perlahan lewat mulut selama 8 detik untuk mengaktifkan mode pemulihan tubuh.

Berkembangnya tren kesehatan berbasis sains seperti stimulasi Saraf Vagus membuktikan bahwa penanganan masalah kesehatan reproduksi modern tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. 

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan kami berkomitmen untuk selalu berada di garis depan perkembangan ilmu kesehatan. Mahasiswa D3 Kebidanan UAA dibekali dengan kurikulum holistik. Sebagai prodi yang telah Terakreditasi UNGGUL dan dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan kebidanan terbaik di Yogyakarta, UAA terus melahirkan lulusan yang cerdas, inovatif, peka terhadap tren kesehatan global, serta siap menjadi mitra terpercaya bagi perempuan Indonesia di era modern.

Kesimpulan

Nyeri haid dan gangguan hormon bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja setiap bulan. Dengan memahami dan merawat kerja Saraf Vagus, Anda sedang memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari dalam.

Ingin mempelajari sains kesehatan perempuan secara mendalam dan menjadi tenaga medis yang unggul serta adaptif? Mari bergabung bersama D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kuliah 3 tahun yang penuh makna, siap kerja, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.

Referensi Ilmiah:

  1. Bonaz, B., et al. (2024). The Vagus Nerve at the Interface of the Microbiota-Gut-Brain Axis and Reproductive Inflammation. Frontiers in Neuroscience.
  2. Tracey, K. J. (2023). The Inflammatory Reflex and Volitional Control of the Vagus Nerve. Nature Reviews Immunology.
  3. Journal of Obstetric, Gynecologic, & Neonatal Nursing. Parasympathetic Activation in Managing Primary Dysmenorrhea and Pelvic Pain.
Terakreditasi Unggul, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata Perkuat Budaya Mutu melalui AIMA

Terakreditasi Unggul, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata Perkuat Budaya Mutu melalui AIMA

Penulis: Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes.

Yogyakarta, 30 September 2026 – Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata melaksanakan Audit Internal Mutu Akademik (AIMA) pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) untuk memastikan penyelenggaraan pendidikan dan tridharma perguruan tinggi berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Sebagai program studi yang telah meraih predikat Terakreditasi Unggul, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata terus melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan. AIMA menjadi salah satu mekanisme evaluasi dalam penerapan siklus PPEPP, yaitu Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan.

Tiga Aspek Utama Menjadi Fokus Audit

Pelaksanaan AIMA mencakup tiga kelompok utama, yaitu layanan kemahasiswaan dan alumni, layanan akademik, serta kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada aspek layanan akademik, auditor melakukan penelaahan terhadap kesesuaian perencanaan, pelaksanaan, dan proses pembelajaran dengan standar yang telah ditetapkan. Evaluasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi penyelenggaraan pembelajaran sekaligus memastikan proses akademik berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Audit juga mencakup layanan bagi mahasiswa dan alumni. Penelaahan terhadap aspek tersebut menjadi bagian dari upaya program studi untuk memastikan layanan pendukung pendidikan berjalan secara terarah dan mendukung keberlangsungan hubungan antara program studi dengan lulusan.

Sementara itu, kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa turut menjadi bagian dari proses audit. Aspek tersebut berkaitan dengan pelaksanaan tridharma perguruan tinggi sebagai bagian integral dari penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Proses Evaluasi Bersama Auditor Internal

Kegiatan audit diikuti oleh Ketua Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes., bersama jajaran dosen dan pengelola administrasi program studi.

Proses audit dipandu oleh auditor internal Universitas Alma Ata, yaitu:

  1. Eliza Jayanti Lestari, MM
  2. An-nisa Apriani, S.Pd., M.Pd.

Penelaahan dilakukan melalui pemeriksaan dokumen dan klarifikasi terhadap pelaksanaan kegiatan. Proses tersebut memberikan ruang bagi program studi untuk melihat kembali kesesuaian antara standar yang telah ditetapkan dengan pelaksanaannya di tingkat program studi.

AIMA sebagai Bagian dari Budaya Mutu

Ketua Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes., menyampaikan bahwa predikat Terakreditasi Unggul perlu diiringi dengan upaya menjaga dan meningkatkan mutu secara konsisten.

“Predikat Terakreditasi Unggul bukan menjadi akhir dari proses peningkatan mutu. AIMA menjadi momentum bagi kami untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan standar yang telah ditetapkan, baik dalam layanan kemahasiswaan dan alumni, proses akademik, maupun kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil audit nantinya akan menjadi bahan bagi program studi untuk menentukan tindak lanjut dan penguatan mutu ke depan,” ungkapnya.

Melalui pelaksanaan AIMA, program studi tidak hanya melakukan pemeriksaan terhadap pemenuhan standar, tetapi juga membangun kebiasaan untuk melakukan evaluasi secara berkala. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya mutu yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

Menjaga Mutu, Mendorong Peningkatan Berkelanjutan

Pelaksanaan AIMA menjadi salah satu bentuk komitmen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan. Evaluasi terhadap layanan mahasiswa dan alumni, proses pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat memberikan gambaran menyeluruh mengenai pelaksanaan kegiatan di tingkat program studi.

Hasil audit yang diperoleh selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut sesuai dengan siklus PPEPP. Dengan demikian, proses penjaminan mutu tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi berlanjut pada upaya pengendalian dan peningkatan kualitas secara berkesinambungan.

Bagi Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Terakreditasi Unggul merupakan capaian yang perlu dijaga melalui proses mutu yang terus berjalan. Pelaksanaan AIMA menjadi salah satu langkah untuk memastikan komitmen tersebut diwujudkan melalui evaluasi dan peningkatan yang dilakukan secara konsisten.

Merangkai Kehangatan dalam Kebersamaan: Farewell Party Jurusan Kebidanan Universitas Alma Ata

Merangkai Kehangatan dalam Kebersamaan: Farewell Party Jurusan Kebidanan Universitas Alma Ata

Penuis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM.

Yogyakarta, 14 Agustus 2026 — Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai kegiatan Farewell Party Jurusan Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata yang diselenggarakan di De Tropen pada Jumat, 14 Agustus 2026. Mengusung tema “Floral”, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari Program Studi D3 Kebidanan, S1 Kebidanan, dan Profesi Bidan bersama para dosen dalam suasana santai, akrab, dan penuh keceriaan.

Kegiatan farewell party diselenggarakan sebagai momentum kebersamaan menjelang para mahasiswa menyelesaikan masa studi dan memasuki tahap wisuda. Lebih dari sekadar acara perpisahan, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara mahasiswa lintas program studi serta antara mahasiswa dan dosen di lingkungan Jurusan Kebidanan. Nuansa floral yang menjadi tema utama turut memberikan warna tersendiri dalam acara. Para peserta hadir dengan berbagai sentuhan busana dan aksesori bernuansa bunga yang menciptakan suasana ceria, hangat, dan penuh warna. Semangat kebersamaan semakin terasa melalui berbagai rangkaian kegiatan yang dikemas secara santai dan interaktif.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah games bersama yang menghadirkan gelak tawa sekaligus membangun interaksi dan keakraban antara mahasiswa dan dosen. Selain itu, peserta juga mengikuti tukar kado antar peserta. Kegiatan tersebut menjadi momen sederhana namun bermakna untuk berbagi kebahagiaan dan kenangan sebelum para mahasiswa meninggalkan kehidupan perkuliahan. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya penampilan dari masing-masing program studi, yang menunjukkan kreativitas dan kekompakan mahasiswa D3 Kebidanan, S1 Kebidanan, maupun Profesi Bidan. Setiap penampilan menjadi representasi semangat, kebersamaan, dan karakter masing-masing program studi.

Momen yang paling menyentuh hadir melalui “Pesan Cinta dari Ketua Program Studi”. Para ketua program studi menyampaikan pesan, doa, motivasi, dan harapan kepada mahasiswa yang akan segera menyelesaikan pendidikan. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan mahasiswa di Jurusan Kebidanan bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang proses bertumbuh, membangun persahabatan, dan menjadi bagian dari keluarga besar kebidanan. Kemeriahan semakin lengkap dengan pembagian berbagai doorprize bagi peserta. Kejutan-kejutan kecil tersebut menambah antusiasme dan keceriaan sepanjang acara, sekaligus menciptakan banyak momen yang dapat dikenang bersama.

Farewell Party Jurusan Kebidanan tahun 2026 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan menjelang perpisahan. Acara ini menjadi simbol bahwa meskipun para mahasiswa nantinya akan melangkah menuju fase kehidupan dan profesi masing-masing, ikatan kebersamaan yang telah terbentuk selama berada di lingkungan Universitas Alma Ata akan tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka. Farewell bukan akhir dari kebersamaan, tetapi awal dari perjalanan baru. Semoga setiap langkah para lulusan menjadi bunga yang terus tumbuh, mekar, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, profesi, dan bangsa.

Tren “Cortisol Detox” di Media Sosial, Apakah Benar Bisa Mengatasi Stres?

Tren “Cortisol Detox” di Media Sosial, Apakah Benar Bisa Mengatasi Stres?

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan istilah cortisol detox. Banyak konten mengklaim bahwa minuman tertentu, suplemen, atau rutinitas pagi dapat “membuang racun kortisol” sehingga tubuh menjadi lebih rileks, berat badan turun, wajah tampak lebih segar, hingga hormon kembali seimbang.

Namun, benarkah tubuh memerlukan “detoks” kortisol?

Jawabannya adalah tidak.

Apa Itu Kortisol?

Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Hormon ini sering disebut sebagai hormon stres karena kadarnya meningkat saat tubuh menghadapi tekanan, baik fisik maupun emosional.

Namun, kortisol bukanlah hormon yang “jahat”. Justru hormon ini memiliki banyak fungsi penting, seperti:

  1. Mengatur tekanan darah.
  2. Membantu mengontrol kadar gula darah.
  3. Mendukung sistem kekebalan tubuh.
  4. Membantu tubuh tetap waspada saat menghadapi situasi tertentu.

Masalah muncul ketika kadar kortisol terus-menerus tinggi akibat stres kronis, kurang tidur, atau pola hidup yang tidak sehat.

Benarkah Ada “Cortisol Detox”?

Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan atau dapat melakukan “detoks kortisol” melalui minuman, jus, atau suplemen tertentu.

Tubuh memiliki sistem alami untuk mengatur kadar hormon, termasuk kortisol. Jadi, istilah cortisol detox lebih merupakan istilah populer di media sosial daripada istilah medis.

Apa Dampaknya Jika Kortisol Terlalu Tinggi?

Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat berdampak pada kesehatan, seperti:

  1. Sulit tidur.
  2. Mudah lelah.
  3. Sulit berkonsentrasi.
  4. Berat badan meningkat, terutama di area perut.
  5. Siklus menstruasi menjadi tidak teratur.
  6. Penurunan kualitas ovulasi dan kesuburan pada perempuan.

Karena itu, menjaga kadar kortisol tetap seimbang penting untuk kesehatan tubuh, termasuk kesehatan reproduksi.

Cara Menurunkan Kortisol yang Didukung Penelitian

Alih-alih mengikuti tren “detoks”, para ahli menyarankan langkah-langkah sederhana yang terbukti lebih efektif, yaitu:

  1. Tidur cukup 7–9 jam setiap malam.
  2. Berolahraga secara rutin dengan intensitas sedang.
  3. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  4. Melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi atau latihan pernapasan.
  5. Menjaga hubungan sosial yang positif.
  6. Mengelola stres dengan cara yang sehat, misalnya melalui hobi atau konseling bila diperlukan.

Jangan Mudah Percaya Klaim Viral

Banyak produk di media sosial mengklaim dapat menurunkan kortisol secara instan. Padahal, hingga kini belum ada makanan atau minuman yang terbukti mampu “membersihkan” kortisol dari tubuh.

Jika stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan hanya mengandalkan produk yang sedang viral. Berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cortisol detox bukanlah istilah medis. Yang dibutuhkan tubuh bukanlah “detoks”, melainkan gaya hidup sehat yang membantu menjaga keseimbangan hormon secara alami.

Daripada menghabiskan uang untuk produk dengan klaim yang belum terbukti, mulailah dari kebiasaan sederhana seperti tidur cukup, makan bergizi, aktif bergerak, dan mengelola stres. Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menjaga kadar kortisol tetap normal, tetapi juga mendukung kesehatan reproduksi dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. Epel, E. S., et al. (2024). Stress, cortisol, and health: An update on biological mechanisms and clinical implications. The Lancet, 403(10442), 2105–2118.
  2. Russell, G., Lightman, S. (2023). The human stress response: Physiology and pathophysiology of cortisol. Nature Reviews Endocrinology, 19(11), 673–688.
  3. Endocrine Society. (2024). Hormone Health Network: Cortisol and Adrenal Gland Health.
  4. American Psychological Association. (2024). Stress effects on the body.
  5. McEwen, B. S., & Akil, H. (2022). Revisiting the stress concept: Implications for health and disease. Neuron, 110(1), 12–27.