by Admin Kebidanan | May 15, 2026 | Artikel D3
Penulis: Alifah Risda Fadilasari, Bdn., M. Tr.,M.Keb.
GUWOSARI, BANTUL – Mahasiswa semester 6 Program Studi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA) resmi mengakhiri rangkaian Praktik Kebidanan Komunitas melalui acara Musyawarah Masyarakat Desa III (MMD III). Kegiatan yang dibarengi dengan seremoni penarikan mahasiswa ini berlangsung khidmat di Aula Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, pada Rabu (04/03/2026).
Kegiatan MMD III merupakan puncak dari pengabdian mahasiswa di masyarakat, di mana mereka memaparkan hasil evaluasi program kesehatan yang telah dijalankan selama masa praktik. Acara ini dihadiri oleh jajaran perangkat Kalurahan Guwosari, tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta dosen pembimbing lapangan dari Universitas Alma Ata.
Evaluasi Program dan Keberlanjutan Kesehatan Masyarakat
Dalam musyawarah tersebut, mahasiswa memaparkan berbagai capaian positif terkait intervensi kesehatan yang dilakukan, mulai dari kesehatan remaja, edukasi pencegahan stunting, kesehatan ibu dan anak, hingga pendampingan lansia. Forum ini menjadi ruang diskusi interaktif antara mahasiswa dan warga untuk memastikan program-program yang telah diinisiasi dapat dilanjutkan secara mandiri oleh kader desa.
“Kehadiran mahasiswa Universitas Alma Ata memberikan dampak nyata bagi literasi kesehatan warga kami. MMD III ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat desa sangat efektif dalam memetakan serta menyelesaikan masalah kesehatan lokal,” ujar salah satu perwakilan perangkat Kalurahan Guwosari dalam sambutannya.
Sebagai bentuk kontribusi nyata dan warisan edukasi bagi desa, pada acara tersebut juga dilakukan penyerahan Modul Kesehatan Remaja hasil karya mahasiswa kepada pihak Kalurahan Guwosari. Modul ini disusun khusus untuk menjadi panduan bagi para kader dan remaja di desa dalam memahami kesehatan reproduksi serta pola hidup sehat secara mandiri dan berkelanjutan.
Penarikan Mahasiswa: Kembali ke Kampus dengan Pengalaman Berharga
Acara diakhiri dengan penarikan secara resmi mahasiswa semester 6 dari lahan praktik oleh pihak prodi. Praktik Kebidanan Komunitas ini bertujuan untuk mengasah soft skill dan hard skill mahasiswa sebelum mereka terjun ke dunia kerja profesional, terutama dalam menghadapi dinamika kesehatan di tingkat akar rumput.
Dosen pembimbing lapangan Prodi D3 Kebidanan UAA menyampaikan apresiasi mendalam kepada warga Guwosari yang telah menerima mahasiswa sebagai bagian dari keluarga selama proses belajar di lapangan. Harapannya, pengalaman ini menjadi modal berharga bagi calon bidan untuk menjadi tenaga kesehatan yang humanis dan kompeten.
Kegiatan komunitas seperti ini menegaskan kualitas pendidikan di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Sebagai prodi terakreditasi UNGGUL dan merupakan salah satu yang terbaik di Yogyakarta, UAA selalu berkomitmen menerjunkan mahasiswanya dalam kegiatan nyata yang berdampak pada masyarakat.Kurikulum yang berbasis bukti (evidence-based) dan fokus pada kesehatan komunitas memastikan lulusan D3 Kebidanan UAA siap bersaing di dunia kerja, baik sebagai ASN (CPNS/PPPK), tenaga profesional di puskesmas, rumah sakit, maupun wirausaha di bidang kesehatan reproduksi dan anak.
by Admin Kebidanan | May 13, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di tengah ketatnya persaingan publikasi ilmiah global, para akademisi dan peneliti kini dituntut untuk menguasai metode riset yang lebih komprehensif dan terukur. Salah satu langkah strategis yang kini tengah naik daun adalah penyelenggaraan workshop intensif mengenai Systematic Literature Review (SLR) dan Analisis Bibliometrik.
Kedua metode ini dianggap sebagai “senjata ampuh” bagi peneliti untuk menembus jurnal bereputasi internasional (Scopus/SJR tinggi) tanpa harus selalu bergantung pada pengambilan data lapangan yang memakan waktu lama.
Dalam dunia riset modern, membanjirnya informasi seringkali membuat peneliti terjebak dalam duplikasi penelitian. Di sinilah peran krusial dari workshop tersebut:
- Pemetaan Tren Riset (Bibliometrik): Analisis bibliometrik memungkinkan peneliti melihat peta sebaran ilmu pengetahuan secara visual. Dengan bantuan perangkat lunak seperti VOSviewer atau Biblio Shiny, peneliti dapat mengidentifikasi topik mana yang sudah jenuh dan topik mana yang masih memiliki peluang besar untuk diteliti (research gap).
- Sintesis Data yang Rigorus (SLR): Berbeda dengan tinjauan pustaka biasa, SLR menggunakan protokol yang ketat (seperti standar PRISMA) untuk mengumpulkan, mengevaluasi, dan mensintesis seluruh penelitian yang relevan. Hal ini memberikan kredibilitas tinggi pada hasil riset karena prosesnya yang transparan dan dapat direplikasi.
Pentingnya workshop ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada performa institusi pendidikan tinggi. Peningkatan jumlah publikasi di jurnal bereputasi secara otomatis akan menaikkan peringkat universitas di kancah internasional. Banyak dosen memiliki data yang bagus, namun lemah dalam melakukan sintesis literatur yang mendalam. Workshop SLR dan Bibliometrik memberikan kerangka kerja logis agar ide-ide brilian tersebut dapat diterima oleh editor jurnal kelas dunia,” ujar salah satu pakar publikasi ilmiah dalam sebuah sesi diskusi.
Pelaksanaan workshop dilakukan oleh Universitas Alma Ata Bidang Riset, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat (WR-RPPM) pada hari Senin, 4 Mei 2026 dan Rabu, 6 Mei 2026 mulai jam 08.00-16.30 WIB dengan narasumber yang sangat berpengalaman yaitu dr. Rossi Sanusi, MPA., Ph. D. dari Faculty member FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai narasumber pertama dan apt. Danang Prasetyaning Amukti, M. Farm dosen S1 Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata sebagai narasumber kedua serta Dr. Veriani Aprilia, STP., M.Sc dan Muhammad Najib Mubarok, S.Si., M. Sc sebagai moderator. Pelaksanaan workshop dihadiri dosen dari berbagai fakultas di Universitas Alma Ata termasuk Dosen D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di jogja dan terakreditasi Unggul (yaitu Ibu Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes dan Fatimah, S.SiT., M.Kes.). Jumlah dosen yang mengikuti sekitar 56 orang dari berbagai dosen prodi di Universitas Alma Ata. Workshop hari pertama dengan materi” Pendahuluan mengenai integrasi konsep, desain dan protokol SLR serta Bibliometrik” sedangkan hari kedua yaitu ” Praktik: Transformasi Data SLR dan Bibliometrik menjadi Naskah Siap Publikasi pada Jurnal Bereputasi”. Pelaksanaan workshop berjalan lancar sesuai rencana dan diharapkan semua dosen yang mengikuti kegiatan tersebut bisa langsung menghasilkan artikel yang berkualitas.
by Admin Kebidanan | May 11, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
“Nanti Aku Jadi Apa, Ya?”
Pernah tiba-tiba kepikiran masa depan?
Tentang kuliah, pekerjaan, atau bahkan kehidupan nanti?
Kadang muncul pertanyaan seperti:
“Aku bakal sukses nggak ya?”
“Pilihan aku sekarang sudah benar belum?”
“Gimana kalau aku gagal?”
Kalau kamu pernah ngerasa seperti itu..tenang, itu normal banget. Hampir semua remaja pernah mengalami hal yang sama.
Kenapa Remaja Sering Takut Masa Depan?
Masa remaja adalah fase penuh pilihan. Dan pilihan itu sering terasa “menentukan hidup”.
Beberapa penyebab munculnya ketakutan ini antara lain:
- Banyak Pilihan, Tapi Bingung Menentukan
Jurusan sekolah, kuliah, karier—semuanya terasa penting dan bikin ragu.
- Tekanan dari Lingkungan
Kadang kita merasa harus mengikuti ekspektasi orang tua, menyamai teman yang terlihat lebih “maju”, tidak boleh gagal
- Pengaruh Media Sosial
Lihat orang lain sukses di usia muda bisa bikin kita merasa tertinggal. Padahal, setiap orang punya timeline masing-masing.
- Overthinking Berlebihan
Terlalu banyak memikirkan “kemungkinan buruk” yang bahkan belum tentu terjadi.
Antara Harapan dan Realita
Setiap remaja pasti punya harapan ingin sukses, ingin membanggakan orang tua, ingin hidup bahagia…Tapi realitanya, hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana. Dan itu bukan berarti kamu gagal. Justru di situlah proses belajar terjadi.
Takut Itu Wajar, Tapi Jangan Sampai Menghentikan Langkah
Rasa takut sebenarnya punya sisi positif—itu tanda kamu peduli dengan masa depanmu. Tapi kalau berlebihan, bisa membuat tidak berani mencoba, menunda-nunda, kehilangan kepercayaan diri
Jadi, yang perlu dilakukan bukan menghilangkan rasa takut, tapi mengelolanya.
Cara Menghadapi Ketakutan Masa Depan
- Fokus ke Langkah Kecil
Nggak perlu langsung memikirkan 10 tahun ke depan.
Mulai dari belajar lebih baik hari ini, mengembangkan skill sedikit demi sedikit
- Kenali Diri Sendiri
Tanya ke diri sendiri tentang Apa yang aku suka?, Apa yang aku kuasai?, Apa yang membuat aku semangat? Ini penting untuk menentukan arah hidup.
- Berhenti Membandingkan Diri
Setiap orang punya waktu sukses yang berbeda.
Kamu nggak terlambat—kamu hanya sedang di jalurmu sendiri.
- Terima bahwa Gagal Itu Bagian dari Proses
Nggak ada orang sukses tanpa pernah gagal.
Gagal bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan.
- Cerita dan Minta Pendapat
Ngobrol dengan orang tua, guru, teman atau mentor. Kadang, perspektif orang lain bisa membantu kita lebih tenang.
Kamu Nggak Harus Punya Semua Jawaban Sekarang
Banyak remaja merasa harus sudah tahu “akan jadi apa” sejak sekarang.
Padahal kenyataannya banyak orang dewasa pun masih belajar tentang hidup mereka.
Jadi, nggak apa-apa kalau kamu masih bingung. Yang penting, kamu tetap berjalan.
Penutup
Masa depan memang penuh ketidakpastian, dan itu wajar membuat takut. Tapi jangan sampai rasa takut membuatmu berhenti mencoba.
Ingat:
✨ Kamu tidak harus sempurna hari ini
✨ Kamu tidak harus tahu semua jawaban sekarang
✨ Yang penting, kamu terus melangkah
Karena masa depan tidak ditentukan oleh satu keputusan besar saja,
tapi oleh langkah kecil yang kamu lakukan setiap hari.
Bergabunglah bersama Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul yang salah satu pembelajarannya tentang kesehatan remaja.
Daftar Pustaka
- World Health Organization (2021). Adolescent Mental Health
- UNICEF (2022). Mental Health of Adolescents
- Santrock, J.W. (2017). Adolescence
- American Psychological Association (2020). Stress in America
by Admin Kebidanan | May 8, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universtas Alma Ata
“Cuma 5 Menit”… Tahu-Tahu 2 Jam
Niat awal cuma buka HP sebentar. Eh, tiba-tiba sudah scroll TikTok, Instagram, atau Reels selama berjam-jam. Pernah? Hampir semua remaja pasti pernah ngalamin ini.
Media sosial memang seru—bisa hiburan, cari info, sampai tetap terhubung dengan teman. Tapi kalau sudah “scroll tanpa henti”, ada dampak yang sering nggak kita sadari.
Kenapa Media Sosial Susah Dilepas?
Media sosial dirancang supaya bikin kita betah. Konten yang muncul selalu menarik, sesuai minat kita, terus muncul tanpa henti (infinite scroll). Akibatnya, otak kita terus ingin “satu video lagi… satu video lagi…” Tanpa sadar, waktu habis, energi terkuras, dan pikiran jadi penuh.
Dampak ke Kesehatan Mental Remaja
- Overthinking & Cemas
Sering melihat hidup orang lain yang terlihat “sempurna” bisa bikin kita merasa kurang. Padahal, yang ditampilkan itu hanya bagian terbaik mereka.
- Rasa Minder & Tidak Percaya Diri
Mulai membandingkan penampilan, prestasi, gaya hidup
Akhirnya muncul pikiran: “Aku kok nggak seperti mereka ya?”
- Gangguan Tidur
Scroll sampai larut malam bikin susah tidur, kualitas tidur menurun, bangun jadi nggak segar
- Kecanduan Digital
Kalau sudah nggak bisa lepas dari HP, gelisah kalau nggak online, selalu ingin cek notifikasi..Itu tanda kamu mulai ketergantungan.
- Mudah Lelah Secara Emosional
Terlalu banyak informasi, drama, dan berita negatif bisa bikin mental capek tanpa sadar.
Media Sosial Nggak Selalu Buruk, Kok
Tenang, media sosial bukan musuh. Kalau digunakan dengan bijak, justru bisa jadi tempat belajar hal baru, mencari inspirasi. menyalurkan kreativitas, menjaga hubungan dengan teman. Kuncinya ada di cara kita menggunakannya.
Tips Biar Nggak Terjebak Scroll Tanpa Henti
- Batasi Waktu Main HP
Coba atur screen time, misalnya maksimal 2–3 jam sehari.
- Stop Bandingin Diri
Ingat….media sosial = highlight, bukan realita penuh.
- Pilih Konten yang Sehat
Follow akun yang memberi motivasi, edukatif, positif
- Istirahat dari Media Sosial (Digital Detox)
Sesekali coba sehari tanpa medsos dan fokus ke dunia nyata
- Isi Waktu dengan Aktivitas Nyata
Seperti olahraga, ngobrol langsung sama teman, hobi yang kamu suka
Tanda Kamu Perlu “Rem” dari Media Sosial
Coba refleksi, kalau kamu mulai :
- Mudah cemas
- Sering membandingkan diri
- Susah tidur
- Kehilangan fokus belajar
Mungkin sudah waktunya kamu istirahat sejenak dari layar.
Penutup
Scroll media sosial memang menyenangkan, tapi kalau tanpa batas bisa berdampak ke kesehatan mental.
Ingat, hidup kamu bukan untuk dibandingkan dengan orang lain di layar. Kadang, yang kamu butuhkan bukan “satu video lagi”… tapi istirahat dan kembali ke diri sendiri.
Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul menyediakan waktu untuk anda bisa sharing tentang masalah-masalah remaja loh..
Daftar Pustaka
- World Health Organization (2021). Adolescent Mental Health
- UNICEF (2022). The State of the World’s Children
- American Psychological Association (2020). Stress in America
- Kementerian Kesehatan RI (2018). Riskesdas
by Admin Kebidanan | May 6, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Lagi Capek? Kamu Nggak Sendiri
Jadi remaja itu nggak selalu seru. Di satu sisi, kamu lagi cari jati diri, pengen bebas, dan mulai punya mimpi besar. Tapi disisi lain, ada banyak banget tekanan dari sekolah, keluarga, teman, bahkan media sosial.
Pernah ngerasa overthinking? Minder melihat pencapaian orang lain? Atau capek banget sampai pengen “hilang dulu”? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak remaja mengalami hal yang sama.
Kenapa Sih Kesehatan Mental Itu Penting?
Kesehatan mental itu bukan cuma soal “nggak gila”. Tapi tentang bagaimana kamu:
- Mengelola emosi
- Menghadapi masalah
- Menjalin hubungan dengan orang lain
- Tetap merasa “oke” sama diri sendiri
Kalau mental kamu sehat, hidup bakal terasa lebih ringan. Tapi kalau nggak, hal kecil pun bisa terasa berat banget.
Self-Healing: Trend atau Kebutuhan?
Sekarang ini, istilah self-healing lagi hits banget. Banyak yang bilang:
“Lagi self-healing dulu ya…”
Sebenarnya, self-healing itu bagus lho, selama dilakukan dengan benar. Contohnya:
- Dengerin musik favorit
- Nonton film yang bikin happy
- Nulis perasaan di jurnal
- Jalan-jalan santai
- Curhat ke teman terpercaya
Ini semua bisa bantu kamu recharge energi dan nenangin pikiran.
Tapi Hati-Hati… Bisa Jadi Cuma Pelarian
Nah, ini yang penting. Nggak semua yang disebut self-healing itu benar-benar menyembuhkan.
Kadang, tanpa sadar kita cuma menghindari masalah, menunda tanggung jawab, scroll media sosial berjam-jam, menutup diri dari orang lain. Kalau terus-terusan begitu, masalahnya nggak selesai—malah numpuk.
Jadi, self-healing itu bukan berarti kabur dari masalah, tapi memberi waktu untuk kuat lagi… lalu balik menghadapi masalahnya.
Tekanan Sosial: Musuh Diam-Diam
Coba jujur, pernah nggak kamu ngerasa hidup orang lain lebih sempurna di media sosial?, minder karena nilai, penampilan, atau pencapaian? atau takut nggak diterima di lingkungan pertemanan?
Itu namanya tekanan sosial…
Media sosial sering bikin kita lupa kalau yang ditampilkan orang lain itu cuma “highlight”, bukan kehidupan sebenarnya.
Cara Biar Mental Tetap Waras di Tengah Tekanan
Berikut beberapa tips simpel tapi penting:
- Jangan Bandingin Diri Terus : Setiap orang punya jalan masing-masing. Kamu nggak harus sama dengan orang lain.
- Batasi Media Sosial : Kalau mulai bikin overthinking, coba istirahat sebentar dari scrolling.
- Cerita ke Orang yang Dipercaya : Jangan dipendam sendiri. Cerita itu bukan tanda lemah.
- Kenali Perasaan Sendiri : Sedih, marah, capek—itu normal. Yang penting tahu cara mengelolanya.
- Cari Bantuan Kalau Perlu : Kalau sudah terasa berat banget, jangan ragu ke konselor atau psikolog.
Ingat Ini Baik-Baik
Kamu nggak harus selalu kuat. Kamu nggak harus selalu terlihat bahagia. Dan kamu nggak sendirian.
Self-healing itu penting, tapi jangan lupa bahwa sembuh itu bukan cuma istirahat, tapi juga berani menghadapi.
Penutup
Jadi remaja memang penuh tantangan, apalagi di era sekarang. Tapi dengan mengenali diri sendiri, mengelola tekanan sosial, dan melakukan self-healing yang sehat, kamu bisa tetap kuat dan berkembang.
Pelan-pelan aja, nggak perlu buru-buru.
Yang penting, kamu tetap jalan.
Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul menyediakan waktu untuk anda bisa sharing tentang masalah-masalah remaja loh..
Daftar Pustaka :
- Kementerian Kesehatan RI (2018). Riskesdas
- World Health Organization (2021). Adolescent Mental Health
- UNICEF (2022). Mental Health of Adolescents
- American Psychological Association (2020). Stress in America
by Admin Kebidanan | May 4, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Belakangan ini, kita semakin sering mendengar berbagai permasalahan seputar kehamilan di masyarakat. Mulai dari ibu hamil yang mengalami anemia kronis, keracunan kehamilan (preeklampsia), hingga bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau berisiko stunting. Kondisi-kondisi darurat ini sebenarnya dapat dicegah jika kehamilan dipantau secara ketat dan komprehensif. Salah satu langkah paling efektif yang sangat direkomendasikan adalah melalui pelayanan Antenatal Care (ANC) Terpadu.
Apa Itu ANC Terpadu?
ANC Terpadu bukan sekadar pemeriksaan detak jantung bayi atau mengukur perut ibu. Pelayanan ini merupakan pemeriksaan kehamilan komprehensif yang melibatkan kolaborasi berbagai tenaga kesehatan profesional. Saat melakukan ANC Terpadu di Puskesmas atau rumah sakit, ibu hamil akan mendapatkan penanganan dari bidan, dokter umum, analis laboratorium, ahli gizi, dan dokter gigi. Tujuannya dari ANC Terpadu ini sangat jelas, yaitu memastikan kesehatan ibu dan janin secara fisik maupun psikologis, serta mendeteksi secara dini segala bentuk faktor risiko penyulit persalinan.
Aturan Terbaru Pemeriksaan Kehamilan: Wajib 6 Kali!
Seiring dengan tingginya risiko permasalahan kehamilan saat ini, Kementerian Kesehatan RI telah memperbarui standar pelayanan kehamilan. Jika dulu minimal periksa adalah 4 kali, kini ibu hamil wajib memeriksakan kehamilannya minimal 6 kali dengan rincian:
- 2 kali pada Trimester Pertama (usia kandungan 0-12 minggu).
- 1 kali pada Trimester Kedua (usia kandungan 13-24 minggu).
- 3 kali pada Trimester Ketiga (usia kandungan 25 minggu hingga persalinan).
Penting: Pada kunjungan pertama (Trimester 1) dan kunjungan kelima (Trimester 3), ibu diwajibkan untuk diperiksa oleh dokter. Pada momen ini, dokter akan melakukan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) dasar untuk memantau laju pertumbuhan janin, posisi plasenta, dan mendeteksi potensi kelainan sejak dini.
Mengapa ANC Terpadu Menjadi Solusi Utama?
ANC Terpadu menjawab langsung berbagai permasalahan kehamilan yang sering terjadi di masyarakat melalui langkah-langkah medis berikut:
- Cegah Preeklampsia: Pemeriksaan tekanan darah dan protein urine secara rutin sangat ampuh mendeteksi risiko preeklampsia (hipertensi dalam kehamilan) yang kerap membahayakan nyawa ibu dan janin.
- Lawan Anemia dan Stunting: Melalui pengecekan kadar Hemoglobin (Hb) dan ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA), bidan dan ahli gizi akan memastikan ibu tidak kekurangan energi kronis. Asupan gizi yang terkontrol adalah kunci utama mencegah bayi lahir stunting.
- Program Triple Eliminasi: ANC Terpadu mewajibkan tes laboratorium untuk mendeteksi tiga penyakit menular berbahaya: HIV, Sifilis, dan Hepatitis B. Hal ini memastikan rantai penularan dari ibu ke janin dapat segera diputus.
- Kesiapan Menghadapi Persalinan: Ibu akan mendapatkan konseling intensif (temu wicara) terkait persiapan persalinan, tanda bahaya kehamilan, hingga pemilihan metode kontrasepsi pascasalin.
Kehamilan yang sehat dan persalinan yang aman bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari persiapan dan pemantauan yang tepat. Jangan menunggu hingga muncul keluhan atau rasa sakit untuk memeriksakan kandungan. Segera kunjungi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat sejak tanda kehamilan positif pertama kali Anda sadari!
Temukan artikel kesehatan lainnya di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan RI. (2021). Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Revisi 2021. Jakarta: Kementerian Kesehatan dan JICA.
- Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir di Era Adaptasi Kebiasaan Baru. Jakarta: Direktorat Kesehatan Keluarga Kemenkes RI.
- World Health Organization (WHO). (2016). WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. Geneva: World Health Organization.