Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Banyak penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang terbiasa hidup dengan “rasa terbakar” di dada dan hanya mengandalkan obat antasida warung saat kambuh. Namun, data medis menunjukkan bahwa membiarkan esofagus (kerongkongan) terpapar asam lambung secara kronis, bertahun-tahun dapat memicu kerusakan jaringan yang permanen dan berbahaya.
1. Esofagitis Erosif: Luka Kronis
Ini adalah komplikasi tahap awal yang paling umum. Asam lambung yang bersifat korosif (pH 1-2) mengikis lapisan mukosa kerongkongan.
- Dampak: Terjadi peradangan, pembengkakan, dan luka terbuka (ulkus).
- Gejala: Nyeri saat menelan (odynophagia) dan risiko perdarahan yang bisa menyebabkan anemia atau muntah darah. Penyembuhan total esofagitis erosif seringkali memerlukan terapi obat penekan asam (PPI) selama minimal 8 minggu.
2. Striktur Esofagus (Penyempitan Saluran)
Tubuh berusaha menyembuhkan luka akibat asam dengan membentuk jaringan parut (scar tissue). Sayangnya, proses penyembuhan ini bisa menjadi masalah baru.
- Mekanisme: Jaringan parut bersifat kaku dan tidak elastis. Jika menumpuk, jaringan ini akan mempersempit diameter kerongkongan.
- Gejala Klinis: Disfagia atau kesulitan menelan. Pasien sering merasa makanan “tersangkut” di dada, yang bisa memicu penurunan berat badan drastis karena takut makan.
3. Barrett’s Esophagus: Transformasi Sel Prakanker
Ini adalah komplikasi yang paling diwaspadai oleh dokter spesialis gastroenterologi.
- Mutasi Sel (Metaplasia): Sebagai mekanisme pertahanan diri, sel-sel pelapis kerongkongan (skuamosa) berubah bentuk menyerupai sel-sel usus (kolumnar) yang lebih tahan asam. Perubahan ini disebut Barrett’s Esophagus.
- Risiko: Meskipun sel ini lebih “tahan banting”, mereka tidak stabil secara genetik. Jurnal Gastroenterology menyebutkan bahwa pasien dengan Barrett’s memiliki risiko 30-40 kali lipat lebih tinggi terkena kanker esofagus dibandingkan populasi umum.
4. Adenokarsinoma Esofagus (Kanker Kerongkongan)
Ini adalah ujung tombak dari komplikasi GERD yang paling fatal.
- Tren Global: adenokarsinoma esofagus adalah salah satu jenis kanker dengan pertumbuhan tercepat di negara maju, berkorelasi lurus dengan peningkatan angka obesitas dan GERD kronis.
- Deteksi: Kanker ini sering kali tidak bergejala di tahap awal, itulah sebabnya pemantauan rutin (surveilans) pada pasien GERD kronis sangat vital.
5. Komplikasi Ekstra-Esofageal (Di Luar Saluran Cerna)
Asam lambung tidak hanya merusak kerongkongan, tetapi bisa naik lebih tinggi (laringofaringeal) atau teraspirasi ke paru-paru (mikro-aspirasi).
- Paru-paru: GERD yang tidak terkontrol dapat memicu atau memperparah asma, menyebabkan bronkitis kronis, hingga fibrosis paru idiopatik (jaringan parut di paru-paru) akibat iritasi asam yang terhirup sedikit demi sedikit saat tidur.
- Gigi dan Mulut: Asam yang mencapai rongga mulut dapat mengikis enamel gigi bagian dalam, menyebabkan gigi sensitif dan keropos yang parah.
Kesimpulan
GERD bukanlah penyakit yang boleh dianggap “normal”. Perjalanan penyakit ini bersifat progresif: dimulai dari peradangan (esofagitis), penyempitan (striktur), perubahan sel (Barrett’s), hingga keganasan (kanker).
Kabar baiknya, komplikasi ini sangat bisa dicegah. Pengobatan dini, perubahan gaya hidup yang konsisten, dan pemantauan endoskopi berkala bagi pasien berisiko tinggi adalah kunci untuk memutus mata rantai kerusakan ini.
Artikel kesehatan yang menarik lainya tentang Gerd bisa diakses di website Prodi
D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul
Referensi
- Katz, P. O., et al. 2022. ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease. The American Journal of Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34807007/
- Rakhmetova, V, et,al. 2024. New Mechanisms of Barrett’s Esophagus Development. Journal of Clinical Medicine of Kazakhstan. https://www.clinmedkaz.org/article/new-mechanisms-of-barretts-esophagus-development-14680
- WHO. 2026. The global landscape of esophageal squamous cell carcinoma and esophageal adenocarcinoma incidence and mortality in 2020 and projections to 2040: new estimates from GLOBOCAN 2020. https://www.iarc.who.int/news-events/the-global-landscape-of-esophageal-squamous-cell-carcinoma-and-esophageal-adenocarcinoma-incidence-and-mortality-in-2020-and-projections-to-2040-new-estimates-from-globocan-2020/