Created by Fatimatasari, M.Keb., Bd
Di era digital saat ini, Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Gemini, dan platform sejenis telah menjadi bagian dari keseharian dalam proses belajar. AI menawarkan kemudahan dalam mengakses informasi, mulai dari menjawab pertanyaan, meringkas materi, hingga membantu menemukan referensi untuk penulisan akademik. Namun demikian, keberadaan AI perlu disikapi secara bijak agar benar-benar mendukung proses belajar yang bermakna.
Penggunaan AI tanpa sikap kritis dapat memengaruhi kedalaman pemahaman dalam proses belajar. Sebaliknya, jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperluas wawasan dan memperkaya proses belajar kita.
Berikut ini adalah panduan agar AI dapat digunakan sebagai alat bantu belajar yang kritis, efektif, dan bertanggung jawab.
- Memahami Jawaban AI secara Menyeluruh
Setiap jawaban yang diberikan AI perlu dipahami secara menyeluruh. Ketika muncul istilah atau konsep yang belum jelas, diperlukan upaya untuk menelusuri dan mempelajarinya lebih lanjut. Menerima informasi tanpa pemahaman yang memadai berisiko menimbulkan kesalahpahaman dan memperkuat ketidakpahaman yang telah ada.
Mengajukan pertanyaan lanjutan seperti apa, mengapa, dan bagaimana dapat membantu kita memperoleh pemahaman yang lebih kuat. Dengan pendekatan ini, AI berfungsi sebagai pemantik diskusi dan refleksi, bukan sekadar penyedia jawaban instan.
2. Mengembangkan Sikap Kritis terhadap Jawaban AI
Jawaban AI perlu selalu kita cermati dari segi konteks dan substansinya. Hal ini karena AI menghasilkan respons berdasarkan pola data, bukan pemahaman konseptual maupun penilaian kebenaran ilmiah. Oleh karena itu, penggunaan AI membutuhkan pemahaman dasar dan pengetahuan awal yang memadai agar kesalahan atau ketidaktepatan informasi dapat segera dikenali.
Sikap kritis tumbuh melalui kebiasaan membaca, memahami, dan merefleksikan informasi. Proses belajar berlangsung secara berkelanjutan, dimulai dari membaca dan memahami, kemudian mengkritisi, mencari jawaban, serta memperdalam pengetahuan secara berulang. Melalui proses ini, kemampuan berpikir kritis dan minat untuk terus belajar dapat berkembang secara seimbang.
3. Meminta dan Memverifikasi Sumber Referensi
Dalam menggunakan AI, penting bagi kita untuk membiasakan diri meminta sumber referensi yang jelas sebagai dasar penelusuran informasi. Langkah selanjutnya adalah memverifikasi apakah referensi tersebut benar-benar ada, relevan, dan sesuai dengan konteks pembahasan.
Sumber resmi seperti jurnal peer-reviewed, buku ajar, dokumen kebijakan, atau rekomendasi institusional perlu menjadi rujukan utama. Dengan cara ini, informasi yang digunakan memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
4. Menyusun Kesimpulan dengan Pemahaman Sendiri
Setelah memahami dan memverifikasi informasi yang diperoleh, langkah penting selanjutnya adalah menyusun kesimpulan dengan bahasa dan pemahaman sendiri. Proses ini membantu memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dipahami, bukan sekadar diterima.
Menuliskan kembali inti informasi dengan bahasa sendiri juga berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir analitis, meningkatkan retensi ingatan dan keterampilan menulis akademik.
Penutup
Kehadiran AI memberikan peluang besar dalam mendukung proses belajar di perguruan tinggi. Dibandingkan generasi sebelumnya, kita kini memiliki akses informasi yang lebih luas, cepat, dan mudah. Jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang memperkaya pemahaman dan memperluas perspektif.
Sebaliknya, penggunaan AI yang tidak disertai refleksi dan verifikasi berpotensi memengaruhi kualitas proses belajar. Oleh karena itu, sikap kritis, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam menggunakan AI menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar memberikan manfaat optimal.
Sejalan dengan prinsip tersebut, Program Studi S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menempatkan proses belajar sebagai fondasi utama pendidikan. Pembelajaran dirancang untuk mendorong pemahaman yang mendalam, berpikir kritis, dan refleksi ilmiah, bukan sekadar pencapaian hasil secara instan.
AI merupakan alat bantu belajar yang memiliki potensi besar, dan kebermanfaatannya sangat ditentukan oleh cara kita menggunakannya dalam proses pembelajaran.
Referensi
Pikhart, M., & Al-Obaydi, L. H. (2025). Reporting the potential risk of using AI in higher education: Subjective perspectives of educators. Computers in Human Behavior Reports, 18, Article 100693. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2025.100693
Orhani, Senad & Hoti Kolukaj, Mimoza. (2025). The Risks and Potential of AI in Education. Contemporary Research Analysis Journal. 2. 448-459. https://doi.org/10.55677/CRAJ/08-2025-Vol02I07
Vieriu, A. M., & Petrea, G. (2025). The Impact of Artificial Intelligence (AI) on Students’ Academic Development. Education Sciences, 15(3), 343. https://doi.org/10.3390/educsci15030343