Penulis; Dosen Prodi Kebidanan

Salah satu alasan paling umum seseorang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) dengan kepanikan adalah nyeri dada. Pasien sering kali yakin mereka mengalami serangan jantung, namun setelah diperiksa (EKG dan tes darah), jantung mereka ternyata sehat. Diagnosanya? GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah GERD hanya sekadar “peniru” serangan jantung, atau bisakah asam lambung benar-benar merusak jantung?

Literatur medis internasional tahun 2023-2024 memberikan jawaban yang bernuansa: GERD tidak secara langsung menyumbat pembuluh darah jantung, tetapi memiliki korelasi kuat dengan gangguan irama jantung (aritmia) dan berbagi faktor risiko yang sama.

1. Fenomena “Nyeri Dada Non-Kardiak” (The Mimic)

Hubungan yang paling sering terjadi bukanlah sebab-akibat, melainkan kesalahan persepsi tubuh.

  1. Persarafan yang Sama: Jantung dan kerongkongan (esofagus) berbagi jalur saraf yang berdekatan saat mengirim sinyal rasa sakit ke otak, yaitu melalui saraf vagus dan akar saraf toraks.
  2. Kebingungan Otak: Ketika asam lambung membakar esofagus bagian bawah, otak sering kali salah menafsirkan sinyal nyeri tersebut sebagai nyeri dari jantung (angina). Ini disebut Non-Cardiac Chest Pain (NCCP).

2. Hubungan GERD dengan Aritmia (Atrial Fibrillation)

Ini adalah temuan riset yang paling signifikan dalam dekade terakhir. Meskipun GERD tidak menyebabkan penyumbatan koroner, GERD terbukti dapat memicu gangguan irama jantung, khususnya Atrial Fibrillation (AFib).

  1. Mekanisme Vagal: Riset dalam jurnal Frontiers in Cardiovascular Medicine menjelaskan bahwa asam yang naik ke esofagus merangsang saraf vagus secara berlebihan. Karena saraf vagus juga mengatur detak jantung, rangsangan ini bisa menyebabkan jantung berdetak tidak teratur (berdebar) setelah makan.
  2. Inflamasi Sistemik: Peradangan kronis pada mukosa esofagus akibat GERD melepaskan sitokin (zat radang) ke dalam aliran darah, yang diduga dapat mempengaruhi aktivitas listrik jantung.

3. “Dua Sisi Mata Uang”: Faktor Risiko Bersama

Sering kali, GERD dan penyakit jantung koroner muncul bersamaan bukan karena yang satu menyebabkan yang lain, tetapi karena keduanya disebabkan oleh “akar” yang sama.

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa pasien GERD memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung karena faktor gaya hidup berikut:

  1. Obesitas Sentral (Perut Buncit): Lemak perut menekan lambung (memicu refluks) dan juga melepaskan zat yang merusak pembuluh darah jantung.
  2. Pola Makan: Diet tinggi lemak jenuh dan kolesterol memperlambat pengosongan lambung (memicu GERD) sekaligus menumpuk plak di pembuluh darah.
  3. Merokok: Melemahkan katup esofagus dan merusak dinding arteri jantung.

4. Perdebatan Obat Asam Lambung (PPI) dan Risiko Jantung

Beberapa tahun lalu, muncul kekhawatiran bahwa obat GERD golongan Proton Pump Inhibitors (PPI) seperti Omeprazole dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

  1. Konsensus Terbaru: Tinjauan terbaru di jurnal Gastroenterology dan JAMA mengklarifikasi bahwa bagi populasi umum, penggunaan PPI tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung.
  2. Pengecualian Penting: Perhatian khusus diberikan pada pasien yang mengkonsumsi pengencer darah Clopidogrel (Plavix) pasca pasang ring jantung. Beberapa jenis PPI dapat mengurangi efektivitas Clopidogrel, sehingga meningkatkan risiko sumbatan ulang. Oleh karena itu, dokter jantung biasanya akan memilih jenis obat lambung yang aman (seperti Pantoprazole) untuk pasien ini.

Kesimpulan

Secara langsung, GERD tidak menyebabkan penyumbatan pembuluh darah jantung (Penyakit Jantung Koroner). Asam lambung tidak bisa masuk ke pembuluh darah dan menyumbat arteri.

Namun, GERD dapat memicu gangguan irama jantung (aritmia) melalui rangsangan saraf, dan nyeri dada akibat GERD seringkali membingungkan diagnosis serangan jantung. Jika Anda memiliki GERD kronis, ini adalah “alarm” dari tubuh untuk memperbaiki gaya hidup (turunkan berat badan, berhenti merokok) yang secara otomatis juga akan melindungi jantung Anda.

Penting: Jangan pernah mendiagnosis diri sendiri. Jika Anda mengalami nyeri dada (terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, atau menjalar ke lengan kiri), selalu anggap itu jantung sampai dokter membuktikan sebaliknya. Lebih baik waspada di UGD daripada terlambat.

Artikel kesehatan yang menarik lainya tentang Gerd bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.

Referensi 

  1. Sinha, T., et al. 2025.. The association between gastroesophageal reflux disease and atrial fibrillation: A systematic review and meta-analysis. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40034621/
  2. Katz, P. O., et al. (2022). ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease. The American Journal of Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34807007/
  3. Lanas, A., et al. (2023). Proton Pump Inhibitors and Cardiovascular Events. Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39354720/