Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Apa Itu Fenomena Brain Rot pada Anak?
Perkembangan teknologi digital membawa dampak besar pada pola pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Salah satu isu yang kini banyak dibahas adalah fenomena brain rot. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan menurunnya kemampuan konsentrasi, fungsi kognitif, dan pengendalian emosi anak akibat paparan layar yang berlebihan, terutama dari konten digital yang cepat dan minim interaksi.
Meskipun brain rot bukan istilah medis resmi, namun fenomena ini relevan dalam kajian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) karena berkaitan langsung dengan kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Perkembangan Otak Anak dalam Perspektif Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Dalam pelayanan KIA, masa bayi dan balita dikenal sebagai golden period, yaitu periode emas perkembangan otak anak. Pada fase ini, otak berkembang sangat pesat dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan, stimulasi, serta kualitas pengasuhan dari orang tua.
Stimulasi yang optimal mencakup komunikasi dua arah, sentuhan, bermain aktif, dan respons emosional yang hangat. Sebaliknya, paparan layar yang berlebihan tanpa pendampingan orang tua dapat mengurangi interaksi langsung anak dengan lingkungan. Anak menjadi lebih pasif, sehingga proses pembelajaran bahasa, sosial, dan emosi tidak berkembang secara optimal.
Dampak Brain Rot terhadap Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak
Fenomena brain rot berpotensi menimbulkan berbagai dampak kesehatan anak, antara lain:
- Gangguan perkembangan kognitif dan bahasa, seperti kesulitan fokus, keterlambatan bicara, dan rendahnya kemampuan berpikir kritis.
- Masalah kesehatan mental dan emosional, termasuk mudah marah, tantrum, serta kesulitan mengelola emosi.
- Gangguan kesehatan fisik, seperti berkurangnya aktivitas fisik dan gangguan pola tidur yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.
Dampak-dampak tersebut menjadi perhatian penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak secara holistik.
Peran Orang Tua dan Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan Brain Rot
Dalam pendekatan KIA, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama orang tua. Keterlibatan aktif ayah dan ibu dalam mendampingi anak, termasuk saat menggunakan gawai, sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Bidan dan tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada orang tua melalui pelayanan antenatal, postnatal, dan pemantauan tumbuh kembang balita. Edukasi tersebut meliputi pembatasan waktu layar sesuai usia anak, pemilihan konten yang edukatif, serta pentingnya stimulasi dini melalui interaksi langsung dan bermain.
Kesimpulan
Fenomena brain rot merupakan tantangan baru dalam upaya menjaga kualitas tumbuh kembang anak di era digital. Dalam perspektif Kesehatan Ibu dan Anak, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat berdampak pada perkembangan kognitif, emosional, dan fisik anak. Oleh karena itu, peran aktif orang tua yang didukung oleh edukasi dari tenaga kesehatan menjadi kunci dalam menciptakan pola asuh yang seimbang dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi:
- Hutton JS, Dudley J, Horowitz-Kraus T, DeWitt T, Holland SK. Associations between screen-based media use and brain white matter integrity in preschool-aged children. JAMA Pediatrics. 2019;173(3):244–250.
- Madigan S, McArthur BA, Anhorn C, Eirich R, Christakis DA. Associations between screen use and child language skills: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2020;174(7):665–675.
- World Health Organization. Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children Under 5 Years of Age. Geneva: WHO; 2019.
- Domingues-Montanari S. Clinical and psychological effects of excessive screen time on children. Journal of Paediatrics and Child Health. 2017;53(4):333–338.
- Radesky JS, Schumacher J, Zuckerman B. Mobile and interactive media use by young children: The good, the bad, and the unknown. Pediatrics. 2015;135(1):1–3.
- Christakis DA. The challenges of defining and studying “digital addiction” in children. JAMA. 2019;321(23):2277–2278.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK). Jakarta: Kemenkes RI; 2022.
- American Academy of Pediatrics. Media and young minds. Pediatrics. 2016;138(5):e20162591.