Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Berbuka puasa dengan gorengan sudah menjadi tradisi yang sulit dipisahkan di Indonesia. Sensasi gurih dan renyah memang terasa sangat nikmat setelah seharian menahan lapar. Namun, dibalik kenikmatan tersebut, ada ancaman serius yang mengintai kesehatan jantung Anda.
Berikut adalah tinjauan medis mengenai dampak gorengan saat berbuka dan bagaimana cara menyiasatinya berdasarkan riset terbaru.
Saat berpuasa, tubuh mengalami fase istirahat metabolik. Mengonsumsi gorengan dalam keadaan perut kosong memberikan kejutan negatif bagi sistem kardiovaskular karena beberapa alasan utama:
1. Lemak Trans dan Peradangan Pembuluh Darah
Gorengan, terutama yang dijual di pinggir jalan, sering kali dimasak dengan minyak yang digunakan berulang kali (minyak jelantah). Proses ini meningkatkan kadar Lemak Trans secara drastis. Lemak trans dikenal sebagai musuh utama jantung karena meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL).
2. Lonjakan Stres Oksidatif
Berbuka dengan makanan tinggi lemak jenuh memicu lonjakan radikal bebas di dalam darah. Hal ini menyebabkan disfungsi endotel (lapisan dalam pembuluh darah), yang merupakan langkah awal terjadinya aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah jantung.
3. Beban Kerja Jantung Meningkat
Makanan berminyak memerlukan energi besar untuk dicerna. Hal ini memaksa jantung memompa darah lebih kuat ke saluran pencernaan secara mendadak, yang bagi penderita gangguan jantung, bisa memicu rasa sesak atau ketidaknyamanan dada.
Strategi Berbuka yang Lebih Aman (Heart-Friendly)
Jika Anda belum bisa sepenuhnya meninggalkan gorengan, berikut adalah langkah mitigasi yang disarankan oleh para ahli nutrisi:
- Aturan “Satu Saja”: Batasi konsumsi maksimal satu buah gorengan dan imbangi dengan buah tinggi serat seperti kurma atau pepaya untuk mengikat lemak.
- Ganti Metode Memasak: Gunakan minyak yang lebih stabil seperti minyak zaitun (khusus suhu rendah) atau minyak kelapa sawit baru (sekali pakai).
- Hidrasi Dulu: Minumlah air putih atau air kelapa sebelum menyentuh gorengan untuk memberikan rasa kenyang lebih awal dan mengencerkan darah.
Menjaga jantung adalah investasi jangka panjang. Berbuka dengan yang manis memang disarankan, tapi pastikan “manisnya” berasal dari sumber alami, bukan dari lemak jenuh yang membahayakan nadi. Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
- Pie Qin, dkk, 2021. Fried-food consumption and risk of cardiovascular disease and all-cause mortality: a meta-analysis of observational studies. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33468573/
- The American Journal of Clinical Nutrition, 2025. Postprandial Lipidemia and Endothelial Function during Ramadan Fasting: The Impact of Saturated Fat Intake.
- Zahra Dadaei, dkk, 2023. Dietary inflammatory index in relation to severe coronary artery disease in Iranian adults. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10570611/
- Musaab Ahmed, dkk. 2025. The Impact of Ramadan Fasting on Endothelial Function, Cardiovascular Risk Factors, and Cardiovascular Disease. J Clin Med. 2025 Sep 2;14(17):6191. doi: 10.3390/jcm14176191. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12429300/