Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Gaya hidup remaja saat ini telah mengalami pergeseran drastis akibat kemajuan teknologi dan perubahan lingkungan sosial. Fenomena ini sering disebut sebagai “era sedenter digital,” di mana aktivitas fisik menurun sementara konsumsi informasi dan makanan olahan meningkat tajam.

Gaya hidup tidak sehat pada remaja bukan sekadar masalah kemalasan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor lingkungan, psikologis, dan perkembangan teknologi. Pola hidup yang terbentuk di usia remaja berisiko 70% menetap hingga dewasa, memicu penyakit tidak menular (PTM) di masa depan.

1. Perilaku Sedenter dan “Screen Dependency”

Penyebab utama menurunnya aktivitas fisik adalah durasi penggunaan gawai yang berlebihan.

  • Displacement Effect: Remaja menghabiskan rata-rata 6–8 jam di depan layar, yang secara langsung “menggantikan” waktu untuk berolahraga atau aktivitas luar ruangan.
  • Gangguan Ritme Sirkadian: Paparan blue light di malam hari menunda produksi melatonin, menyebabkan kurang tidur kronis yang merusak metabolisme tubuh.

2. Lingkungan Obesogenik dan Pola Makan Malnutrisi

Remaja kini terpapar pada lingkungan yang mempromosikan makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi (Ultra-Processed Foods/UPF).

  • Pemasaran Digital: Algoritma media sosial sering kali menampilkan iklan makanan cepat saji yang ditargetkan secara personal.
  • Emotional Eating: Sebagai bentuk pelarian dari stres akademik atau sosial, remaja cenderung mengkonsumsi makanan tinggi gula (dopamin rush) untuk regulasi emosi sesaat.

3. Tekanan Sosial dan Eksperimen Zat

Masa remaja adalah fase pencarian jati diri yang rentan terhadap pengaruh teman sebaya (peer pressure).

  • Vaping dan E-Cigarettes: Tren penggunaan rokok elektrik meningkat pesat karena dianggap “lebih aman” dan memiliki variasi rasa, padahal riset terbaru dalam The Lancet (2024) menunjukkan dampak kerusakan paru yang setara dengan rokok konvensional pada remaja.
  • Normalisasi Minuman Berenergi: Konsumsi berlebihan minuman berkafein tinggi untuk menunjang aktivitas belajar atau gaming hingga larut malam.

Strategi Intervensi: Memutus Rantai Kebiasaan Buruk

Pendekatan terbaik bukan melalui pelarangan total, melainkan melalui:

  • Digital Detox: Menetapkan area bebas gawai di rumah (seperti di meja makan dan kamar tidur).
  • Nudge Theory: Menyediakan pilihan camilan sehat yang mudah diakses di lingkungan sekolah dan rumah.
  • Role Modeling: Orang tua harus menunjukkan perilaku hidup sehat terlebih dahulu sebelum menuntut perubahan pada anak.

Role Modeling tentang remaja bisa dipelajari di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja yang terakreditasi Unggul.

Referensi 

  1. Louise Holly, dkk, 2024/ Public health interventions to address digital determinants of children’s health and wellbeing. The Lancer Public Health.https://www.thelancet.com/journals/lanpub/article/PIIS2468-2667(24)00180-4/fulltext
  2. Jiaxin Guo, dkk. 2025.  Adolescents’ ultra-processed food consumption status and its association with food literacy: a cross-sectional study in Chongqing, China. Front Nutr. 2025 Sep 11;12:1494896. doi: 10.3389/fnut.2025.1494896. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12460124/
  3. Alicia Chung, dkk. 2021. Adolescent Peer Influence on Eating Behaviors via Social Media: Scoping Review. J Med Internet Res. 2021 Jun 3;23(6):e19697. doi: 10.2196/19697. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8212626/