Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes
Pulang sekolah, langsung rebahan. Waktu luang dihabiskan untuk bermain gim, menonton video, atau scrolling media sosial. Saat akhir pekan tiba, memilih tidur lebih lama daripada berolahraga. Apakah kebiasaan ini terasa familier?
Di tengah kehidupan yang semakin praktis, banyak aktivitas dapat dilakukan tanpa perlu banyak bergerak. Belajar bisa melalui laptop, berkomunikasi melalui ponsel, bahkan memesan makanan cukup dengan beberapa sentuhan layar. Teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jika membuat kita semakin jarang bergerak, ada kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Mager atau malas gerak bukan sekadar persoalan kebiasaan. Jika berlangsung terus-menerus, kurang aktivitas fisik dapat mempengaruhi kebugaran dan kesehatan dalam jangka panjang.
Mengapa Remaja Perlu Banyak Bergerak?
Masa remaja merupakan periode penting untuk pertumbuhan tulang, perkembangan otot, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat. Aktivitas fisik membantu meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru, memperkuat tulang dan otot, serta mendukung kesehatan mental.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per hari sepanjang minggu. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan sekaligus dan dapat berupa olahraga, berjalan kaki, bersepeda, menari, bermain, atau kegiatan fisik lainnya.
Kurang bergerak juga dapat membuat tubuh lebih mudah lelah saat beraktivitas. Jika disertai pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan gangguan kesehatan metabolik.
Namun, bukan berarti remaja yang tidak rutin berolahraga pasti sakit. Yang terpenting adalah mulai meningkatkan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan.
Bergerak Tidak Harus Mahal
Sebagian remaja menganggap olahraga harus dilakukan di pusat kebugaran, menggunakan perlengkapan khusus, atau mengikuti tren olahraga tertentu. Padahal, banyak kegiatan sederhana yang dapat dilakukan tanpa mengeluarkan biaya besar.
Cobalah berjalan kaki menuju tempat yang dekat jika aman, membantu pekerjaan rumah, bermain bulu tangkis bersama teman, bersepeda, menari mengikuti musik, atau mengikuti kegiatan olahraga di sekolah.
Jika banyak menghabiskan waktu untuk belajar sambil duduk, sempatkan berdiri, meregangkan tubuh, atau berjalan sebentar di sela aktivitas. Kurangi waktu layar yang tidak diperlukan, terutama ketika sebenarnya tubuh membutuhkan istirahat atau gerakan.
Pilih aktivitas yang menyenangkan agar lebih mudah dilakukan secara rutin. Tidak semua orang harus menyukai olahraga yang sama. Ada yang menikmati sepak bola, ada yang suka berenang, dan ada pula yang lebih senang berjalan santai bersama keluarga.
Tantangan Tujuh Hari Melawan Mager
Kamu dapat memulai perubahan melalui tantangan sederhana berikut:
- Hari 1: Berjalan kaki atau melakukan aktivitas fisik selama 10–15 menit.
- Hari 2: Membantu pekerjaan rumah yang membuat tubuh aktif.
- Hari 3: Mengajak teman berolahraga bersama.
- Hari 4: Mengurangi waktu duduk terlalu lama dengan jeda gerak.
- Hari 5: Mencoba aktivitas baru, seperti menari atau bersepeda.
- Hari 6: Menghabiskan waktu bersama keluarga dengan kegiatan aktif.
- Hari 7: Mengevaluasi kebiasaan dan menyusun target aktivitas untuk minggu berikutnya.
Durasi tersebut merupakan langkah awal, bukan pengganti rekomendasi aktivitas fisik untuk remaja. Tingkatkan aktivitas secara bertahap hingga mencapai anjuran yang sesuai usia dan kemampuan.
Jadikan Bergerak sebagai Gaya Hidup
Remaja yang aktif bukan berarti harus selalu berolahraga berat. Bergerak adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat dilakukan dengan cara sederhana dan menyenangkan.
Mulailah dari sekarang. Letakkan ponsel sejenak, bangkit dari tempat duduk, dan berikan kesempatan kepada tubuh untuk bergerak.
Jangan sampai teknologi membuat kita semakin pasif. Jadilah generasi yang aktif, bugar, produktif, dan siap meraih masa depan!
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128
- World Health Organization. Physical Activity. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity