Skincare Saja Tidak Cukup! Lindungi Kulit Remaja dari Paparan Sinar Matahari

Skincare Saja Tidak Cukup! Lindungi Kulit Remaja dari Paparan Sinar Matahari

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

Merawat kulit kini menjadi bagian dari keseharian banyak remaja. Berbagai produk pembersih wajah, pelembab, dan tabir surya semakin mudah ditemukan. Namun, apakah kamu sudah memahami bahwa kesehatan kulit tidak hanya ditentukan oleh produk yang digunakan?

Paparan sinar matahari, khususnya radiasi ultraviolet (UV), juga perlu diperhatikan. Aktivitas di sekolah, olahraga di lapangan, bersepeda, atau bepergian pada siang hari dapat membuat kulit terpapar sinar UV.

Sinar matahari memiliki manfaat bagi tubuh, tetapi paparan berlebihan dapat menyebabkan kulit terbakar, mempercepat penuaan kulit, dan meningkatkan risiko kanker kulit dalam jangka panjang. Karena itu, melindungi kulit bukan sekadar urusan penampilan, melainkan bagian dari menjaga kesehatan.

Apa yang Membuat Sinar UV Perlu Diwaspadai?

Radiasi ultraviolet tidak selalu dapat dirasakan secara langsung. Cuaca yang mendung juga tidak berarti paparan UV sepenuhnya hilang.

WHO menjelaskan bahwa paparan UV berlebihan dapat merusak kulit dan mata. Anak-anak serta remaja perlu mendapatkan perlindungan karena paparan berlebihan sejak usia muda dapat meningkatkan risiko dampak kesehatan di kemudian hari.

Beberapa tanda akibat paparan matahari yang berlebihan antara lain kulit kemerahan, terasa panas, nyeri, atau mengelupas. Namun, kerusakan akibat UV juga dapat terjadi tanpa tanda langsung yang mudah dikenali.

Perlindungan Kulit Tidak Harus Rumit

Kamu tidak harus menghindari kegiatan di luar ruangan. Aktivitas luar ruangan tetap penting untuk kesehatan fisik dan kesejahteraan. Kuncinya adalah melindungi diri secara tepat.

Pertama, gunakan tabir surya. Pilih tabir surya berspektrum luas yang melindungi dari UVA dan UVB, dengan SPF minimal 30. Oleskan sesuai petunjuk produk sebelum beraktivitas di luar ruangan dan gunakan kembali secara berkala, terutama setelah berkeringat banyak, berenang, atau mengeringkan kulit dengan handuk.

Kedua, manfaatkan tempat teduh. Jika memungkinkan, kurangi paparan langsung ketika sinar matahari sedang kuat. Perhatikan indeks UV untuk mengetahui kapan perlindungan tambahan diperlukan.

Ketiga, gunakan pakaian pelindung. Topi bertepi lebar, pakaian yang menutupi kulit, dan kacamata dengan perlindungan UV dapat membantu mengurangi paparan.

Keempat, kenali kebutuhan kulit sendiri. Kulit setiap orang berbeda. Jika mengalami iritasi setelah menggunakan produk tertentu, hentikan pemakaian dan konsultasikan kepada tenaga kesehatan bila keluhan berlanjut.

Jangan Mudah Tergoda Tren Perawatan Kulit

Media sosial sering menampilkan rutinitas perawatan kulit yang panjang dengan banyak produk. Padahal, semakin banyak produk yang digunakan tidak selalu berarti kulit semakin sehat.

Remaja sebaiknya memprioritaskan perawatan dasar, yaitu membersihkan kulit dengan lembut, menggunakan pelembab bila diperlukan, dan melindungi kulit dari sinar matahari. Hindari mencoba produk dengan kandungan tidak jelas atau mengikuti tren perawatan ekstrem tanpa memahami resikonya.

Kulit berjerawat, pori-pori yang terlihat, atau warna kulit yang tidak sepenuhnya merata bukan alasan untuk merasa rendah diri. Jika jerawat terasa nyeri, meninggalkan bekas, atau mengganggu kepercayaan diri, mintalah saran dari tenaga kesehatan yang kompeten.

Kulit Sehat Bukan Berarti Harus Putih

Salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa kulit sehat harus putih atau bebas dari semua noda. Warna kulit alami setiap orang berbeda dan tidak menentukan nilai diri seseorang.

Tujuan perawatan kulit adalah menjaga fungsi kulit, mengurangi risiko kerusakan, dan menangani masalah yang memang memerlukan perhatian. Hindari produk pemutih yang tidak jelas kandungannya atau menjanjikan hasil instan.

Rawat kulit untuk kesehatan, bukan untuk memenuhi standar kecantikan orang lain. Jadilah remaja yang percaya diri dengan kulitnya dan cerdas dalam memilih perawatan.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. (2022). Ultraviolet Radiation. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ultraviolet-radiation
  2. World Health Organization. (2024). Radiation: Protecting against Skin Cancer. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/radiation-protecting-against-skin-cancer
Senyum Percaya Diri Dimulai dari Gigi Sehat: Jangan Tunggu Sakit!

Senyum Percaya Diri Dimulai dari Gigi Sehat: Jangan Tunggu Sakit!

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

Pernah merasa kurang percaya diri saat tersenyum karena gigi terlihat kuning, bau mulut, atau ada gigi yang berlubang? Masalah gigi dan mulut sering dianggap sepele oleh remaja. Padahal, kesehatan mulut bukan hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga kenyamanan makan, berbicara, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain.

Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, camilan tinggi gula, serta menyikat gigi dengan cara yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko masalah gigi. Kabar baiknya, sebagian besar masalah kesehatan mulut dapat dicegah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Mengapa Gigi Remaja Perlu Mendapat Perhatian?

Gigi berlubang atau karies terjadi ketika bakteri pada plak gigi mengubah gula menjadi asam yang merusak permukaan gigi. Jika berlangsung terus-menerus, kerusakan dapat semakin dalam dan menimbulkan rasa sakit.

Selain karies, remaja juga dapat mengalami radang gusi yang ditandai dengan gusi merah, bengkak, atau mudah berdarah. Bau mulut pun dapat muncul akibat kebersihan mulut yang kurang terjaga atau masalah kesehatan tertentu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit gigi dan mulut merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat, padahal sebagian besar dapat dicegah. Kebiasaan menjaga kebersihan mulut dan membatasi konsumsi gula berperan penting dalam pencegahan.

Lima Kebiasaan untuk Menjaga Senyum Tetap Sehat

1. Sikat gigi dua kali sehari.

Sikat gigi pada pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Gunakan pasta gigi berfluorida dan sikat seluruh permukaan gigi dengan teknik yang benar.

2. Kurangi frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis.

Minuman kemasan, permen, biskuit manis, dan minuman kekinian sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan. Pilih air putih sebagai minuman utama sehari-hari.

3. Jangan mengabaikan kebersihan sela gigi.

Sisa makanan dapat tertinggal di antara gigi. Bersihkan sela gigi dengan benang gigi atau alat yang sesuai, jika memungkinkan, untuk membantu mengangkat plak di area yang sulit dijangkau sikat gigi.

4. Jangan menggunakan gigi untuk membuka benda.

Kebiasaan menggigit kemasan, membuka tutup botol, atau mengunyah benda keras dapat merusak gigi.

5. Periksakan gigi secara berkala.

Jangan menunggu sampai gigi sakit untuk mengunjungi dokter gigi. Pemeriksaan membantu mendeteksi masalah sejak dini dan menentukan perawatan yang diperlukan.

Apakah Gigi Putih Selalu Berarti Sehat?

Tidak selalu. Warna alami gigi setiap orang berbeda. Gigi yang sehat tidak harus putih seperti yang terlihat pada iklan atau media sosial.

Hindari penggunaan bahan pemutih yang tidak jelas keamanannya, termasuk bahan abrasif atau campuran rumahan yang dapat merusak lapisan gigi. Jika ingin melakukan perawatan kosmetik, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter gigi.

Ingat, tujuan utama perawatan gigi adalah menjaga kesehatan, bukan mengejar standar penampilan tertentu.

Senyum Sehat, Percaya Diri Meningkat

Senyum yang sehat dimulai dari kebiasaan sederhana. Tidak perlu menunggu memiliki produk perawatan mahal untuk mulai peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut.

Jadikan menyikat gigi sebagai rutinitas, bijak memilih makanan, dan jangan malu memeriksakan kesehatan gigi ketika diperlukan.

Gigi sehat bukan hanya membuat senyum lebih nyaman, tetapi juga membantu kita makan, berbicara, dan beraktivitas dengan lebih baik. Rawat senyummu mulai hari ini!

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. (2025). Oral Health. https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/oral-health
  2. World Health Organization. (2025). Sugars and Dental Caries. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sugars-and-dental-caries

Bukan Cuma Begadang! Mengapa Tidur Berkualitas Penting untuk Masa Depan Remaja?

Bukan Cuma Begadang! Mengapa Tidur Berkualitas Penting untuk Masa Depan Remaja?

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

“Sebentar lagi tidur, masih satu episode lagi!” Kalimat ini mungkin sering terdengar di kalangan remaja. Niatnya hanya menonton sebentar, tetapi tanpa terasa waktu sudah larut malam. Belum lagi tugas sekolah, bermain gim, mengobrol dengan teman, atau kebiasaan memeriksa ponsel sebelum tidur.

Akibatnya, pagi hari terasa berat. Bangun tidur masih mengantuk, sulit berkonsentrasi saat pelajaran, dan tubuh terasa lemas sepanjang hari.

Bagi sebagian remaja, begadang bahkan dianggap sebagai hal biasa. Padahal, tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Saat tidur, tubuh menjalankan berbagai proses penting yang mendukung pertumbuhan, pemulihan, daya ingat, dan kesiapan belajar.

Tidur yang cukup bukan tanda malas. Justru, tidur berkualitas merupakan salah satu modal penting untuk menjadi remaja yang sehat dan produktif.

Berapa Jam Tidur yang Dibutuhkan Remaja?

Menurut American Academy of Sleep Medicine, remaja usia 13–18 tahun dianjurkan tidur selama 8–10 jam setiap malam secara teratur. Kebutuhan ini penting untuk mendukung kesehatan fisik, perhatian, perilaku, kemampuan belajar, dan pengaturan emosi.

Sayangnya, banyak hal dapat mengganggu waktu tidur remaja. Jadwal sekolah yang padat, tugas yang menumpuk, aktivitas ekstrakurikuler, kebiasaan begadang, dan penggunaan perangkat elektronik hingga larut malam dapat membuat waktu istirahat berkurang.

Kurang tidur tidak selalu langsung menimbulkan masalah yang terasa berat. Namun, jika menjadi kebiasaan, seseorang dapat lebih mudah mengantuk, sulit fokus, mengalami perubahan suasana hati, dan kurang optimal dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Apa yang Terjadi Jika Kita Sering Kurang Tidur?

Tidur memiliki peran penting dalam proses belajar. Ketika tidur cukup, otak dapat memproses dan memperkuat informasi yang diperoleh sepanjang hari. Sebaliknya, kurang tidur dapat mengganggu perhatian dan kemampuan mengingat materi pelajaran.

Selain itu, kurang tidur berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk meningkatnya risiko obesitas, gangguan kesehatan mental, dan cedera. Karena itu, menjaga waktu tidur merupakan bagian dari pola hidup sehat, bukan sekadar cara menghilangkan rasa kantuk.

Remaja juga perlu memahami bahwa minuman berkafein bukan pengganti tidur. Kopi atau minuman berenergi mungkin membuat seseorang merasa lebih terjaga untuk sementara, tetapi tidak menggantikan manfaat tidur yang cukup. Konsumsi kafein, terutama pada sore atau malam hari, juga dapat mengganggu waktu tidur.

Lima Cara Membentuk Kebiasaan Tidur yang Lebih Baik

Kabar baiknya, kualitas tidur dapat diperbaiki melalui perubahan kebiasaan sederhana.

  1. Buat jadwal tidur yang teratur.

Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan. Sesuaikan jadwal dengan waktu sekolah dan kebutuhan tidurmu.

  1. Letakkan ponsel sebelum tidur.

Beri jeda dari aktivitas digital menjelang waktu istirahat. Aktifkan mode senyap atau letakkan ponsel agak jauh dari tempat tidur agar tidak tergoda terus memeriksa notifikasi.

  1. Ciptakan suasana kamar yang nyaman.

Usahakan kamar cukup gelap, tenang, dan nyaman. Hindari menggunakan tempat tidur sebagai lokasi utama untuk bermain gim atau mengerjakan semua tugas.

  1. Atur kegiatan sejak sore hari.

Buat daftar tugas dan tentukan prioritas agar pekerjaan sekolah tidak menumpuk hingga larut malam. Belajar dengan jadwal yang teratur dapat membantu mengurangi kebiasaan begadang.

  1. Perhatikan kebiasaan makan dan minum.

Hindari minuman berkafein menjelang waktu tidur. Jika lapar, pilih makanan ringan secukupnya dan hindari kebiasaan makan berlebihan tepat sebelum berbaring.

Jika sudah berusaha memperbaiki kebiasaan tidur tetapi tetap mengalami kesulitan tidur yang menetap, kantuk berlebihan pada siang hari, atau gangguan aktivitas, mintalah bantuan orang tua dan berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan.

Jangan Bangga karena Begadang

Sebagian remaja mungkin merasa bangga karena mampu belajar hingga dini hari. Namun, waktu belajar yang panjang tidak selalu berarti hasil belajar lebih baik jika tubuh kekurangan istirahat.

Belajar dengan teratur, tidur cukup, makan bergizi, dan melakukan aktivitas fisik merupakan kombinasi yang lebih baik untuk mendukung prestasi. Tidak perlu mengorbankan kesehatan hanya untuk membuktikan bahwa kita sibuk atau produktif.

Mulailah mengubah kebiasaan malam ini. Selesaikan tugas lebih awal, kurangi waktu layar, dan berikan tubuh kesempatan untuk beristirahat.

Remaja hebat bukan yang paling lama terjaga pada malam hari, melainkan yang mampu mengatur waktu, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan diri untuk hari esok.

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. American Academy of Sleep Medicine. (2016). Teen Sleep Duration Health Advisory. https://aasm.org/advocacy/position-statements/teen-sleep-duration-health-advisory/
  2. Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Sleep and Health. https://www.cdc.gov/healthy-schools/sleep/index.html
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Sleep: Youth Risk Behavior Surveillance System. https://www.cdc.gov/yrbs/youth-health-in-focus/sleep.html
Jangan Anggap Sepele! Anemia Bisa Menghambat Prestasi Remaja

Jangan Anggap Sepele! Anemia Bisa Menghambat Prestasi Remaja

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

Sering merasa lelah meskipun tidak melakukan banyak aktivitas? Sulit berkonsentrasi saat belajar? Mudah pusing atau merasa tubuh kurang bertenaga? Jangan langsung menganggap semua keluhan tersebut sebagai akibat kurang tidur atau terlalu banyak tugas.

Salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan adalah anemia. Kondisi ini terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah nilai normal sehingga kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh berkurang.

Anemia dapat dialami siapa saja, termasuk remaja putra dan putri. Namun, remaja putri yang sudah menstruasi memiliki risiko lebih tinggi, terutama jika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi melalui makanan.

Mengapa Remaja Putri Rentan Mengalami Anemia?

Masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang membutuhkan asupan zat gizi memadai. Zat besi diperlukan tubuh untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen.

Pada remaja putri, menstruasi menyebabkan kehilangan darah secara berkala. Jika asupan zat besi tidak mencukupi, risiko kekurangan zat besi dan anemia dapat meningkat.

Pola makan yang kurang beragam, kebiasaan melewatkan makan, pembatasan makanan secara berlebihan, serta perdarahan menstruasi yang banyak juga dapat berkontribusi. Meski kekurangan zat besi merupakan penyebab umum anemia, tidak semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Karena itu, keluhan yang menetap perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Kenali Tanda-Tandanya

Anemia dapat menimbulkan beberapa keluhan, seperti:

  1. Tubuh mudah lelah dan terasa lemah.
  2. Pusing atau sakit kepala.
  3. Sulit berkonsentrasi.
  4. Tampak pucat.
  5. Mudah terengah-engah saat beraktivitas.
  6. Jantung terasa berdebar pada kondisi tertentu.

Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami anemia. Kepastian diagnosis memerlukan penilaian tenaga kesehatan dan, bila diperlukan, pemeriksaan darah.

Jika kamu sering merasa lelah tanpa sebab yang jelas, mengalami pusing berulang, atau menstruasi sangat banyak, jangan hanya mengandalkan suplemen atau saran dari teman. Konsultasikan kondisi tersebut ke puskesmas, klinik, atau fasilitas pelayanan kesehatan.

Apa Hubungannya dengan Prestasi Belajar?

Tubuh membutuhkan oksigen untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk aktivitas otak dan otot. Ketika anemia terjadi, seseorang dapat merasa lemah, kurang bugar, dan mengalami kesulitan berkonsentrasi.

Akibatnya, kegiatan belajar, olahraga, dan aktivitas sehari-hari dapat terasa lebih berat. Bagi remaja yang sedang mempersiapkan masa depan, menjaga status gizi dan mencegah anemia merupakan bagian penting dari upaya mendukung kesehatan dan produktivitas.

Kesehatan remaja putri juga perlu dipersiapkan sejak dini karena kondisi gizi sebelum kehamilan dapat memengaruhi kesehatan ibu dan bayi kelak. Menjaga kesehatan sekarang bukan berarti harus terburu-buru memikirkan pernikahan atau kehamilan, melainkan bentuk kepedulian terhadap masa depan diri sendiri.

Cegah Anemia Mulai dari Kebiasaan Sederhana

Pencegahan anemia dapat dimulai melalui pola makan yang beragam dan bergizi seimbang. Pilih makanan sumber zat besi, seperti daging, ikan, ayam, telur, serta kacang-kacangan dan sayuran hijau. Padukan dengan buah atau sayuran sumber vitamin C, misalnya jeruk, jambu biji, atau tomat, untuk membantu penyerapan zat besi dari makanan.

Remaja putri juga dianjurkan mengonsumsi satu tablet tambah darah (TTD) setiap minggu sebagai program pencegahan anemia sesuai anjuran Kementerian Kesehatan. Ikuti petunjuk tenaga kesehatan atau program UKS di sekolah. TTD bukan pengganti pola makan bergizi, dan remaja yang memiliki gejala anemia tetap perlu menjalani pemeriksaan serta mendapatkan penanganan yang sesuai.

Agar lebih mudah, buat pengingat mingguan untuk konsumsi TTD, catat jadwalnya, dan ikuti edukasi kesehatan di sekolah. TTD umumnya dianjurkan diminum dengan air putih; hindari meminumnya bersamaan dengan teh atau kopi karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

Jangan Menunggu Sampai Tubuh Kehilangan Tenaga

Menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika tubuh sudah sakit. Mengenali kebutuhan gizi, memperhatikan perubahan kondisi tubuh, dan memanfaatkan layanan kesehatan merupakan langkah penting untuk mencegah masalah yang lebih berat.

Remaja putri berhak tumbuh sehat, belajar dengan optimal, aktif berkegiatan, dan mengejar cita-cita tanpa mengabaikan kebutuhan tubuhnya.

Ingat, sehat bukan sekadar terlihat bugar. Kenali anemia, penuhi kebutuhan zat gizi, konsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran, dan periksakan diri jika mengalami keluhan. Remaja sehat hari ini adalah generasi berkualitas di masa depan!

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Anemia pada Remaja Putri: Tantangan Pencegahan Melalui Konsumsi Tablet Tambah Darah. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/anemia-pada-remaja-putri-tantangan-pencegahan-melalui-konsumsi-tablet-tambah-darah/
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Anemia pada Remaja Putri dengan Tablet Tambah Darah. https://ayosehat.kemkes.go.id/cegah-anemia-pada-remaja-putri-dengan-tablet-tambah-darah
  3. World Health Organization. (2025). Anaemia. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ANAEMIA
Remaja Zaman Mager: Saatnya Bergerak, Bukan Hanya Rebahan!

Remaja Zaman Mager: Saatnya Bergerak, Bukan Hanya Rebahan!

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes

Pulang sekolah, langsung rebahan. Waktu luang dihabiskan untuk bermain gim, menonton video, atau scrolling media sosial. Saat akhir pekan tiba, memilih tidur lebih lama daripada berolahraga. Apakah kebiasaan ini terasa familier?

Di tengah kehidupan yang semakin praktis, banyak aktivitas dapat dilakukan tanpa perlu banyak bergerak. Belajar bisa melalui laptop, berkomunikasi melalui ponsel, bahkan memesan makanan cukup dengan beberapa sentuhan layar. Teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jika membuat kita semakin jarang bergerak, ada kebiasaan yang perlu diperbaiki.

Mager atau malas gerak bukan sekadar persoalan kebiasaan. Jika berlangsung terus-menerus, kurang aktivitas fisik dapat mempengaruhi kebugaran dan kesehatan dalam jangka panjang.

Mengapa Remaja Perlu Banyak Bergerak?

Masa remaja merupakan periode penting untuk pertumbuhan tulang, perkembangan otot, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat. Aktivitas fisik membantu meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru, memperkuat tulang dan otot, serta mendukung kesehatan mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per hari sepanjang minggu. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan sekaligus dan dapat berupa olahraga, berjalan kaki, bersepeda, menari, bermain, atau kegiatan fisik lainnya.

Kurang bergerak juga dapat membuat tubuh lebih mudah lelah saat beraktivitas. Jika disertai pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan gangguan kesehatan metabolik.

Namun, bukan berarti remaja yang tidak rutin berolahraga pasti sakit. Yang terpenting adalah mulai meningkatkan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan.

Bergerak Tidak Harus Mahal

Sebagian remaja menganggap olahraga harus dilakukan di pusat kebugaran, menggunakan perlengkapan khusus, atau mengikuti tren olahraga tertentu. Padahal, banyak kegiatan sederhana yang dapat dilakukan tanpa mengeluarkan biaya besar.

Cobalah berjalan kaki menuju tempat yang dekat jika aman, membantu pekerjaan rumah, bermain bulu tangkis bersama teman, bersepeda, menari mengikuti musik, atau mengikuti kegiatan olahraga di sekolah.

Jika banyak menghabiskan waktu untuk belajar sambil duduk, sempatkan berdiri, meregangkan tubuh, atau berjalan sebentar di sela aktivitas. Kurangi waktu layar yang tidak diperlukan, terutama ketika sebenarnya tubuh membutuhkan istirahat atau gerakan.

Pilih aktivitas yang menyenangkan agar lebih mudah dilakukan secara rutin. Tidak semua orang harus menyukai olahraga yang sama. Ada yang menikmati sepak bola, ada yang suka berenang, dan ada pula yang lebih senang berjalan santai bersama keluarga.

Tantangan Tujuh Hari Melawan Mager

Kamu dapat memulai perubahan melalui tantangan sederhana berikut:

  1. Hari 1: Berjalan kaki atau melakukan aktivitas fisik selama 10–15 menit.
  2. Hari 2: Membantu pekerjaan rumah yang membuat tubuh aktif.
  3. Hari 3: Mengajak teman berolahraga bersama.
  4. Hari 4: Mengurangi waktu duduk terlalu lama dengan jeda gerak.
  5. Hari 5: Mencoba aktivitas baru, seperti menari atau bersepeda.
  6. Hari 6: Menghabiskan waktu bersama keluarga dengan kegiatan aktif.
  7. Hari 7: Mengevaluasi kebiasaan dan menyusun target aktivitas untuk minggu berikutnya.

Durasi tersebut merupakan langkah awal, bukan pengganti rekomendasi aktivitas fisik untuk remaja. Tingkatkan aktivitas secara bertahap hingga mencapai anjuran yang sesuai usia dan kemampuan.

Jadikan Bergerak sebagai Gaya Hidup

Remaja yang aktif bukan berarti harus selalu berolahraga berat. Bergerak adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat dilakukan dengan cara sederhana dan menyenangkan.

Mulailah dari sekarang. Letakkan ponsel sejenak, bangkit dari tempat duduk, dan berikan kesempatan kepada tubuh untuk bergerak.

Jangan sampai teknologi membuat kita semakin pasif. Jadilah generasi yang aktif, bugar, produktif, dan siap meraih masa depan!

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128
  2. World Health Organization. Physical Activity. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity
Menjadi Remaja Sehat, Berkualitas, dan Salehah: Cantik Akhlaknya, Kuat Mentalnya, Hebat Masa Depannya

Menjadi Remaja Sehat, Berkualitas, dan Salehah: Cantik Akhlaknya, Kuat Mentalnya, Hebat Masa Depannya

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes

Masa remaja adalah masa yang penuh warna. Ada banyak hal baru yang ingin dicoba, impian yang ingin diraih, pertemanan yang ingin dijaga, serta perubahan fisik dan emosi yang terkadang membingungkan. Di tengah kesibukan sekolah, pergaulan, dan dunia digital, remaja memiliki kesempatan besar untuk membangun diri menjadi pribadi yang sehat, berkualitas, dan salehah.

Menjadi remaja hebat bukan hanya tentang memiliki nilai akademik yang tinggi, penampilan menarik, atau banyak pengikut di media sosial. Remaja yang hebat adalah mereka yang mampu menjaga kesehatan, mengembangkan potensi, menghargai diri sendiri, berperilaku baik, dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan.

1. Sehat Itu Lebih dari Sekadar Tidak Sakit

Remaja yang sehat tidak hanya terbebas dari penyakit, tetapi juga memiliki kondisi mental dan sosial yang baik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting untuk membentuk kebiasaan yang memengaruhi kesehatan hingga dewasa. https://www.who.int/health-topics/adolescent-health

Karena itu, mulailah membangun kebiasaan sehat dari hal-hal sederhana: mengonsumsi makanan bergizi seimbang, minum air putih yang cukup, berolahraga secara teratur, tidur cukup, serta menjaga kebersihan diri. Bagi remaja putri, penting juga untuk memahami kesehatan menstruasi, mengenali tanda-tanda anemia, dan mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Jangan mudah tergoda oleh tren diet ekstrem atau standar kecantikan di media sosial. Setiap orang memiliki bentuk tubuh dan proses pertumbuhan yang berbeda. Tubuh yang sehat bukan berarti harus memiliki bentuk tertentu, melainkan tubuh yang dirawat dengan baik dan mampu mendukung aktivitas sehari-hari.

2. Kuat Mental, Berani Menghargai Diri Sendiri

Remaja sering menghadapi tekanan, mulai dari tuntutan prestasi, konflik pertemanan, perubahan emosi, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Ingatlah, kamu tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi berharga. Setiap orang mempunyai kelebihan, kekurangan, dan waktu berkembang yang berbeda. Belajarlah menerima diri sendiri, mengenali emosi, berani mengatakan tidak terhadap ajakan yang merugikan, serta meminta bantuan ketika menghadapi masalah yang terasa berat.

Menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu bahagia. Menangis, merasa kecewa, atau mengalami kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Yang penting adalah belajar menghadapi perasaan tersebut dengan cara yang sehat. Jika kesedihan, kecemasan, atau tekanan berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas, jangan ragu bercerita kepada orang tua, guru BK, konselor, atau tenaga kesehatan.

3. Cerdas Memilih Pergaulan di Era Digital

Teknologi memberikan banyak manfaat bagi remaja, mulai dari belajar hingga mengembangkan kreativitas. Namun, dunia digital juga menyimpan risiko, seperti perundungan siber, penyebaran informasi palsu, penipuan, dan konten yang tidak sesuai usia.

Remaja berkualitas perlu memiliki kemampuan untuk memilih informasi dan lingkungan pergaulan. Bertemanlah dengan orang-orang yang mendukung pertumbuhan positif, menghargai batasan pribadi, dan mengajak melakukan kegiatan bermanfaat. Jangan merasa harus mengikuti semua tren hanya agar diterima oleh kelompok pertemanan.

Jagalah privasi, hindari membagikan foto atau informasi pribadi secara sembarangan, dan jangan meneruskan konten yang mempermalukan orang lain. Ingat, jejak digital dapat bertahan lama. Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: apakah konten ini bermanfaat, aman, dan tidak merugikan siapa pun?

Dalam pergaulan sehari-hari, termasuk hubungan dengan lawan jenis, penting untuk saling menghormati, menjaga batasan diri, memahami kesehatan reproduksi, dan berani menolak tekanan yang bertentangan dengan nilai serta keselamatan diri. Menjaga diri bukan tanda tidak percaya kepada orang lain, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.

4. Menjadi Salehah: Memadukan Iman, Ilmu, dan Akhlak

Menjadi remaja salehah bukan sekadar terlihat baik di hadapan orang lain. Kesalehan tercermin dalam hubungan dengan Allah SWT, sikap kepada sesama, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Membiasakan salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, berdoa, berkata jujur, menghormati orang tua dan guru, serta membantu sesama merupakan langkah sederhana untuk membangun karakter Islami. Sikap menjaga kebersihan, menepati janji, tidak merundung teman, dan tidak menyebarkan keburukan orang lain juga merupakan bagian dari akhlak mulia.

Nilai agama seharusnya menjadi bekal untuk membuat keputusan yang baik, bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Remaja salehah tetap perlu belajar ilmu pengetahuan, berpikir kritis, menjaga kesehatan, dan berani mencari pertolongan ketika mengalami masalah.

Menjaga kesehatan tubuh dan pikiran juga merupakan bentuk tanggung jawab. Dengan tubuh yang sehat, hati yang terjaga, dan ilmu yang terus bertambah, remaja dapat menjalani aktivitas serta berkontribusi lebih baik bagi keluarga dan masyarakat.

5. Berkualitas Berarti Terus Bertumbuh dan Berprestasi

Kualitas seorang remaja tidak ditentukan hanya oleh nilai rapor atau penghargaan yang dimiliki. Remaja berkualitas adalah pribadi yang mau belajar, disiplin, bertanggung jawab, kreatif, dan mampu bekerja sama.

Temukan potensi yang kamu miliki. Bisa jadi kamu unggul dalam bidang akademik, olahraga, seni, organisasi, teknologi, atau kegiatan sosial. Kembangkan kemampuan tersebut secara bertahap. Jangan takut mencoba hal baru dan jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti.

Gunakan waktu untuk kegiatan yang mendukung masa depan. Kurangi kebiasaan menunda pekerjaan, atur waktu belajar dan beristirahat, serta sisihkan waktu untuk keluarga dan ibadah. Kamu tidak harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Jadilah pribadi yang terus memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

6. Mulai dari Langkah Kecil Hari Ini

Menjadi remaja sehat, berkualitas, dan solehah tidak terjadi dalam satu malam. Perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Mulailah dengan membuat komitmen sederhana: menjaga pola makan, aktif bergerak, tidur cukup, membatasi penggunaan gawai, menjaga kebersihan diri, beribadah dengan lebih disiplin, memilih pergaulan yang sehat, dan berani meminta bantuan ketika membutuhkannya.

Keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam mendukung remaja agar tumbuh dengan sehat dan percaya diri. Informasi yang benar, lingkungan yang aman, serta dukungan yang tidak menghakimi akan membantu remaja mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Penutup: Jadilah Remaja yang Membanggakan

Masa remaja adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan. Jangan habiskan waktu hanya untuk mengejar pengakuan orang lain, tetapi gunakanlah untuk mengenali potensi, menjaga kesehatan, memperkuat iman, menambah ilmu, dan membangun akhlak.

Jadilah remaja yang sehat tubuhnya, kuat mentalnya, luas ilmunya, baik akhlaknya, dan dekat dengan Allah SWT. Tidak perlu menunggu dewasa untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Mulailah dari diri sendiri, dari kebiasaan kecil, dan dari hari ini.

Sebab, generasi masa depan yang berkualitas tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kesehatan, karakter yang kuat, dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi pegangan dalam kehidupan.

Sehat dirinya, cerdas pikirannya, mulia akhlaknya, salehah pribadinya, dan bermanfaat bagi sesama.

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Remaja. Ayo Sehat. https://ayosehat.kemkes.go.id/kategori-usia/remaja
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Bayi Sehat Lahir dari Ibu Sehat sejak Remaja. https://kemkes.go.id/id/bayi-sehat-lahir-dari-ibu-sehat-sejak-remaja
  3. World Health Organization. Adolescent Health. https://www.who.int/health-topics/adolescent-health
  4. World Health Organization. (2025). Mental Health of Adolescents. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health