Merangkai Kehangatan dalam Kebersamaan: Farewell Party Jurusan Kebidanan Universitas Alma Ata

Merangkai Kehangatan dalam Kebersamaan: Farewell Party Jurusan Kebidanan Universitas Alma Ata

Penuis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM.

Yogyakarta, 14 Agustus 2026 — Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai kegiatan Farewell Party Jurusan Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata yang diselenggarakan di De Tropen pada Jumat, 14 Agustus 2026. Mengusung tema “Floral”, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari Program Studi D3 Kebidanan, S1 Kebidanan, dan Profesi Bidan bersama para dosen dalam suasana santai, akrab, dan penuh keceriaan.

Kegiatan farewell party diselenggarakan sebagai momentum kebersamaan menjelang para mahasiswa menyelesaikan masa studi dan memasuki tahap wisuda. Lebih dari sekadar acara perpisahan, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara mahasiswa lintas program studi serta antara mahasiswa dan dosen di lingkungan Jurusan Kebidanan. Nuansa floral yang menjadi tema utama turut memberikan warna tersendiri dalam acara. Para peserta hadir dengan berbagai sentuhan busana dan aksesori bernuansa bunga yang menciptakan suasana ceria, hangat, dan penuh warna. Semangat kebersamaan semakin terasa melalui berbagai rangkaian kegiatan yang dikemas secara santai dan interaktif.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah games bersama yang menghadirkan gelak tawa sekaligus membangun interaksi dan keakraban antara mahasiswa dan dosen. Selain itu, peserta juga mengikuti tukar kado antar peserta. Kegiatan tersebut menjadi momen sederhana namun bermakna untuk berbagi kebahagiaan dan kenangan sebelum para mahasiswa meninggalkan kehidupan perkuliahan. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya penampilan dari masing-masing program studi, yang menunjukkan kreativitas dan kekompakan mahasiswa D3 Kebidanan, S1 Kebidanan, maupun Profesi Bidan. Setiap penampilan menjadi representasi semangat, kebersamaan, dan karakter masing-masing program studi.

Momen yang paling menyentuh hadir melalui “Pesan Cinta dari Ketua Program Studi”. Para ketua program studi menyampaikan pesan, doa, motivasi, dan harapan kepada mahasiswa yang akan segera menyelesaikan pendidikan. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan mahasiswa di Jurusan Kebidanan bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang proses bertumbuh, membangun persahabatan, dan menjadi bagian dari keluarga besar kebidanan. Kemeriahan semakin lengkap dengan pembagian berbagai doorprize bagi peserta. Kejutan-kejutan kecil tersebut menambah antusiasme dan keceriaan sepanjang acara, sekaligus menciptakan banyak momen yang dapat dikenang bersama.

Farewell Party Jurusan Kebidanan tahun 2026 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan menjelang perpisahan. Acara ini menjadi simbol bahwa meskipun para mahasiswa nantinya akan melangkah menuju fase kehidupan dan profesi masing-masing, ikatan kebersamaan yang telah terbentuk selama berada di lingkungan Universitas Alma Ata akan tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka. Farewell bukan akhir dari kebersamaan, tetapi awal dari perjalanan baru. Semoga setiap langkah para lulusan menjadi bunga yang terus tumbuh, mekar, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, profesi, dan bangsa.

Tren “Cortisol Detox” di Media Sosial, Apakah Benar Bisa Mengatasi Stres?

Tren “Cortisol Detox” di Media Sosial, Apakah Benar Bisa Mengatasi Stres?

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan istilah cortisol detox. Banyak konten mengklaim bahwa minuman tertentu, suplemen, atau rutinitas pagi dapat “membuang racun kortisol” sehingga tubuh menjadi lebih rileks, berat badan turun, wajah tampak lebih segar, hingga hormon kembali seimbang.

Namun, benarkah tubuh memerlukan “detoks” kortisol?

Jawabannya adalah tidak.

Apa Itu Kortisol?

Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Hormon ini sering disebut sebagai hormon stres karena kadarnya meningkat saat tubuh menghadapi tekanan, baik fisik maupun emosional.

Namun, kortisol bukanlah hormon yang “jahat”. Justru hormon ini memiliki banyak fungsi penting, seperti:

  1. Mengatur tekanan darah.
  2. Membantu mengontrol kadar gula darah.
  3. Mendukung sistem kekebalan tubuh.
  4. Membantu tubuh tetap waspada saat menghadapi situasi tertentu.

Masalah muncul ketika kadar kortisol terus-menerus tinggi akibat stres kronis, kurang tidur, atau pola hidup yang tidak sehat.

Benarkah Ada “Cortisol Detox”?

Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan atau dapat melakukan “detoks kortisol” melalui minuman, jus, atau suplemen tertentu.

Tubuh memiliki sistem alami untuk mengatur kadar hormon, termasuk kortisol. Jadi, istilah cortisol detox lebih merupakan istilah populer di media sosial daripada istilah medis.

Apa Dampaknya Jika Kortisol Terlalu Tinggi?

Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat berdampak pada kesehatan, seperti:

  1. Sulit tidur.
  2. Mudah lelah.
  3. Sulit berkonsentrasi.
  4. Berat badan meningkat, terutama di area perut.
  5. Siklus menstruasi menjadi tidak teratur.
  6. Penurunan kualitas ovulasi dan kesuburan pada perempuan.

Karena itu, menjaga kadar kortisol tetap seimbang penting untuk kesehatan tubuh, termasuk kesehatan reproduksi.

Cara Menurunkan Kortisol yang Didukung Penelitian

Alih-alih mengikuti tren “detoks”, para ahli menyarankan langkah-langkah sederhana yang terbukti lebih efektif, yaitu:

  1. Tidur cukup 7–9 jam setiap malam.
  2. Berolahraga secara rutin dengan intensitas sedang.
  3. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  4. Melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi atau latihan pernapasan.
  5. Menjaga hubungan sosial yang positif.
  6. Mengelola stres dengan cara yang sehat, misalnya melalui hobi atau konseling bila diperlukan.

Jangan Mudah Percaya Klaim Viral

Banyak produk di media sosial mengklaim dapat menurunkan kortisol secara instan. Padahal, hingga kini belum ada makanan atau minuman yang terbukti mampu “membersihkan” kortisol dari tubuh.

Jika stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan hanya mengandalkan produk yang sedang viral. Berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cortisol detox bukanlah istilah medis. Yang dibutuhkan tubuh bukanlah “detoks”, melainkan gaya hidup sehat yang membantu menjaga keseimbangan hormon secara alami.

Daripada menghabiskan uang untuk produk dengan klaim yang belum terbukti, mulailah dari kebiasaan sederhana seperti tidur cukup, makan bergizi, aktif bergerak, dan mengelola stres. Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menjaga kadar kortisol tetap normal, tetapi juga mendukung kesehatan reproduksi dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. Epel, E. S., et al. (2024). Stress, cortisol, and health: An update on biological mechanisms and clinical implications. The Lancet, 403(10442), 2105–2118.
  2. Russell, G., Lightman, S. (2023). The human stress response: Physiology and pathophysiology of cortisol. Nature Reviews Endocrinology, 19(11), 673–688.
  3. Endocrine Society. (2024). Hormone Health Network: Cortisol and Adrenal Gland Health.
  4. American Psychological Association. (2024). Stress effects on the body.
  5. McEwen, B. S., & Akil, H. (2022). Revisiting the stress concept: Implications for health and disease. Neuron, 110(1), 12–27.
Sleepmaxxing Lagi Viral, Ternyata Tidur Cukup Berpengaruh pada Kesehatan Hormonal Perempuan

Sleepmaxxing Lagi Viral, Ternyata Tidur Cukup Berpengaruh pada Kesehatan Hormonal Perempuan

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Belakangan ini, istilah sleepmaxxing ramai dibahas di media sosial. Tren ini mengajak seseorang untuk mengoptimalkan kualitas tidur melalui berbagai cara, mulai dari menjaga jadwal tidur, mengurangi paparan cahaya biru sebelum tidur, hingga menciptakan lingkungan kamar yang nyaman.

Meski sebagian tips yang beredar hanya mengikuti tren, satu hal yang didukung oleh penelitian adalah bahwa tidur yang cukup memang berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon, termasuk hormon reproduksi pada perempuan.

Apa Hubungan Tidur dengan Hormon?

Saat tidur, tubuh tidak hanya beristirahat, tetapi juga memperbaiki berbagai fungsi penting, termasuk mengatur produksi hormon. Kurang tidur dapat mengganggu kerja hormon yang mengontrol siklus menstruasi, ovulasi, metabolisme, hingga respons tubuh terhadap stres.

Akibatnya, perempuan yang sering begadang atau memiliki kualitas tidur yang buruk lebih berisiko mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, mudah lelah, perubahan suasana hati, bahkan penurunan kesuburan apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang.

Benarkah Kurang Tidur Bisa Mengganggu Siklus Menstruasi?

Ya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa durasi dan kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan gangguan siklus menstruasi pada remaja maupun perempuan usia produktif.

Kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol (hormon stres). Jika kadar kortisol terus tinggi, keseimbangan hormon reproduksi seperti estrogen, progesteron, serta hormon yang mengatur ovulasi dapat ikut terganggu. Inilah yang menyebabkan sebagian perempuan mengalami menstruasi terlambat atau siklus menjadi tidak teratur.

Sleepmaxxing Boleh, Asalkan Tidak Berlebihan

Banyak konten sleepmaxxing menyarankan penggunaan suplemen, mouth tape, atau berbagai alat bantu tidur. Padahal, belum semua metode tersebut memiliki bukti ilmiah yang kuat.

Cara terbaik untuk meningkatkan kualitas tidur justru dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti:

  1. Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari.
  2. Menghindari penggunaan gawai 30–60 menit sebelum tidur.
  3. Membatasi konsumsi kopi atau minuman berkafein pada malam hari.
  4. Berolahraga secara rutin, tetapi tidak terlalu dekat dengan waktu tidur.
  5. Menciptakan kamar yang nyaman, gelap, dan tenang.

Berapa Lama Waktu Tidur yang Ideal?

Bagi remaja dan orang dewasa, durasi tidur yang dianjurkan adalah sekitar 7–9 jam setiap malam. Bukan hanya lamanya, kualitas tidur juga penting. Tidur yang sering terbangun atau tidak nyenyak dapat mengurangi manfaat yang diperoleh tubuh.

Tren sleepmaxxing mengingatkan kita bahwa tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat. Tidur yang cukup dapat membantu menjaga keseimbangan hormon, mendukung keteraturan siklus menstruasi, meningkatkan konsentrasi, serta menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Daripada mengikuti berbagai trik tidur yang belum terbukti manfaatnya, mulailah dengan memperbaiki kebiasaan tidur setiap hari. Langkah sederhana ini dapat memberikan manfaat besar, termasuk bagi kesehatan reproduksi perempuan.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. Wang, X., et al. (2023). Association between sleep quality and menstrual health among women: A systematic review and meta-analysis. Sleep Medicine Reviews, 69, 101776.
  2. Al Kindi, R., et al. (2024). Sleep disturbance and female reproductive health: Current evidence and future perspectives. Frontiers in Endocrinology, 15, 1369128.
  3. National Sleep Foundation. (2024). Sleep Duration Recommendations for Adults and Young Adults.
  4. Khosravi, M., et al. (2023). Sleep, circadian rhythm, and reproductive hormones in women: An updated review. Journal of Clinical Medicine, 12(18), 5904.
  5. World Health Organization. (2023). Adolescent health: Healthy lifestyle recommendations.
Rokok Elektrik (Vape) Bukan Sekadar Tren, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Reproduksi

Rokok Elektrik (Vape) Bukan Sekadar Tren, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Reproduksi

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Rokok elektrik atau vape semakin populer, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Banyak yang menganggap vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran. Namun, anggapan tersebut belum sepenuhnya benar.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa cairan vape tetap mengandung zat yang dapat memengaruhi kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi.

Bagaimana Vape Memengaruhi Kesehatan Reproduksi?

Cairan vape umumnya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, serta berbagai bahan perasa. Saat dipanaskan, beberapa zat tersebut dapat menghasilkan senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan stres oksidatif dan peradangan dalam tubuh.

Pada perempuan, paparan nikotin dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi sehingga berpotensi memengaruhi siklus menstruasi, kualitas sel telur, dan kesuburan. Sementara pada laki-laki, penggunaan vape dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma, baik dari jumlah, pergerakan, maupun bentuknya.

Dampaknya bagi Kehamilan

Risiko vape menjadi lebih besar ketika digunakan selama kehamilan. Nikotin dapat melewati plasenta dan mencapai janin sehingga meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga kelahiran prematur.

Karena itu, organisasi kesehatan di berbagai negara tidak merekomendasikan penggunaan vape selama kehamilan maupun saat merencanakan kehamilan.

Apakah Vape Tanpa Nikotin Aman?

Tidak selalu.

Beberapa produk yang diklaim bebas nikotin tetap mengandung bahan kimia lain yang dapat mengiritasi saluran napas dan memicu stres oksidatif. Selain itu, tidak semua produk memiliki kandungan yang sesuai dengan labelnya, sehingga konsumen sulit mengetahui zat apa saja yang sebenarnya dihirup.

Remaja Perlu Waspada

Masa remaja merupakan periode penting bagi perkembangan organ reproduksi. Paparan nikotin pada usia ini dapat memengaruhi perkembangan otak, meningkatkan risiko kecanduan, dan berdampak pada kesehatan reproduksi di masa depan.

Oleh karena itu, menghindari vape sejak dini merupakan langkah terbaik untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Vape bukan sekadar gaya hidup atau tren. Meskipun sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok, bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaannya tetap memiliki risiko bagi kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi.

Menjaga organ reproduksi tidak hanya dilakukan dengan pola makan sehat dan olahraga, tetapi juga dengan menghindari paparan zat adiktif seperti nikotin. Bagi remaja maupun pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, berhenti menggunakan vape merupakan investasi penting untuk kesehatan reproduksi di masa depan.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. World Health Organization. (2024). Electronic cigarettes: Protecting children and young people from e-cigarette use. Menegaskan bahwa rokok elektronik tidak aman dan dapat berdampak pada kesehatan reproduksi serta perkembangan janin.
  2. American Society for Reproductive Medicine. (2023). Tobacco or marijuana use and infertility: A committee opinion. Fertility and Sterility, 120(5), 1027–1044.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Health Effects of Vaping. Menjelaskan bahwa nikotin pada vape dapat membahayakan perkembangan otak remaja dan kehamilan.
  4. Kaiser, U. B., et al. (2023). Nicotine and female reproductive health: Current evidence and future directions. Reproductive Toxicology, 118, 108–116.
  5. Bhatta, D. N., & Glantz, S. A. (2022). Association of e-cigarette use with respiratory disease and reproductive health outcomes: A review. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology, 34(6), 365–372.
Matcha vs Kopi, Mana yang Lebih Aman untuk Perempuan Saat Menstruasi?

Matcha vs Kopi, Mana yang Lebih Aman untuk Perempuan Saat Menstruasi?

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Matcha dan kopi sama-sama menjadi minuman favorit, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Namun, saat sedang menstruasi, banyak perempuan bertanya-tanya lebih baik minum matcha atau kopi? Apakah salah satunya dapat memperparah nyeri haid?

Jawabannya, keduanya sebenarnya aman dikonsumsi dalam jumlah wajar. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Kandungan Kafein, Apa Bedanya?

Secangkir kopi umumnya mengandung sekitar 80–100 mg kafein, sedangkan secangkir matcha mengandung sekitar 20–70 mg, tergantung jenis dan cara penyajiannya. Artinya, matcha biasanya memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan kopi.

Selain kafein, matcha mengandung L-theanine, yaitu asam amino yang dapat memberikan efek relaksasi dan membantu meningkatkan fokus tanpa menyebabkan lonjakan energi yang berlebihan.

Pengaruh terhadap Menstruasi

Pada sebagian perempuan, konsumsi kafein dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan:

  1. Nyeri haid terasa lebih intens.
  2. Payudara lebih sensitif.
  3. Sulit tidur, sehingga tubuh lebih mudah lelah selama menstruasi.
  4. Meningkatkan rasa cemas atau mudah gelisah.

Namun, hingga saat ini bukti ilmiah belum menunjukkan bahwa minum kopi secara langsung menyebabkan menstruasi menjadi tidak teratur.

Jadi, Lebih Baik Matcha atau Kopi?

Jika Anda sedang mengalami nyeri haid, sulit tidur, atau mudah cemas saat menstruasi, matcha dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman karena kandungan kafeinnya umumnya lebih rendah dan adanya L-theanine yang memberikan efek menenangkan.

Sebaliknya, bila Anda tetap ingin menikmati kopi, batasi konsumsinya dan hindari minum saat perut kosong agar tidak memicu rasa tidak nyaman pada lambung.

Tips Minum Minuman Berkafein Saat Menstruasi

  1. Batasi total konsumsi kafein maksimal 400 mg per hari untuk orang dewasa sehat.
  2. Perbanyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi.
  3. Konsumsi makanan kaya zat besi, terutama bila perdarahan menstruasi cukup banyak.
  4. Hindari minuman dengan tambahan gula berlebihan.
  5. Utamakan tidur yang cukup dan aktivitas fisik ringan untuk membantu mengurangi keluhan menstruasi.

Tidak ada larangan minum kopi maupun matcha saat menstruasi. Yang terpenting adalah mengonsumsinya secara bijak dan memperhatikan respons tubuh masing-masing. Bila setelah minum kopi Anda merasa nyeri haid semakin berat, jantung berdebar, atau sulit tidur, cobalah mengurangi porsinya atau menggantinya dengan matcha maupun minuman lain yang lebih rendah kafein.

Setiap perempuan memiliki respons yang berbeda terhadap kafein. Dengarkan sinyal tubuh Anda dan pilih kebiasaan yang membuat tubuh tetap nyaman selama menstruasi.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. Chen, L., et al. (2023). Coffee, caffeine, and risk of dysmenorrhea: A systematic review and meta-analysis. Frontiers in Nutrition, 10, 1229222.
  2. European Food Safety Authority (EFSA). (2015). Scientific Opinion on the Safety of Caffeine. EFSA Journal, 13(5), 4102.
  3. Li, Q., et al. (2022). Health benefits of green tea and its bioactive compounds: A review. Food Science and Human Wellness, 11(6), 1347–1364.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2024). Nutrition During Menstruation and Women’s Health.
  5. World Health Organization. (2023). Healthy Diet Fact Sheet.
Siklus Haid Berantakan? Jangan Langsung Panik, Kenali Kapan Normal dan Kapan Harus Periksa

Siklus Haid Berantakan? Jangan Langsung Panik, Kenali Kapan Normal dan Kapan Harus Periksa

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Di media sosial, banyak remaja membagikan pengalaman menstruasi yang datang terlambat, tidak teratur, bahkan tidak haid selama beberapa bulan. Tidak sedikit pula yang langsung mengaitkannya dengan kehamilan atau menganggap kondisi tersebut pasti disebabkan oleh Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Padahal, tidak semua gangguan siklus menstruasi merupakan tanda penyakit.

Menstruasi merupakan salah satu indikator penting kesehatan reproduksi perempuan. Siklus yang berubah sesekali masih dapat dianggap normal, terutama pada masa remaja ketika sistem hormon reproduksi masih mengalami proses pematangan. Namun, apabila gangguan berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain, kondisi tersebut memerlukan perhatian lebih lanjut.

Apa yang Dimaksud Siklus Menstruasi Normal?

Siklus menstruasi dihitung mulai dari hari pertama haid hingga hari pertama haid berikutnya. Pada perempuan dewasa, siklus normal berkisar antara 21–35 hari, sedangkan pada remaja variasinya dapat lebih panjang karena sistem hormonal belum sepenuhnya stabil. Lama perdarahan biasanya berlangsung 2–7 hari dengan jumlah darah yang tidak berlebihan.

Sesekali mengalami keterlambatan menstruasi beberapa hari bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan apabila tidak disertai gejala lain.

Mengapa Menstruasi Bisa Terlambat?

Banyak faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon sehingga siklus menstruasi berubah, antara lain:

  1. Stres akibat tugas sekolah, kuliah, atau pekerjaan.
  2. Kurang tidur atau sering begadang.
  3. Penurunan atau kenaikan berat badan yang drastis.
  4. Pola makan yang tidak seimbang.
  5. Aktivitas fisik yang terlalu berat.
  6. Penggunaan kontrasepsi hormonal.
  7. Gangguan hormon seperti PCOS atau gangguan tiroid.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa status gizi, kualitas tidur, dan pola hidup memiliki hubungan yang signifikan dengan keteraturan siklus menstruasi pada remaja.

Benarkah Semua Haid Tidak Teratur Berarti PCOS?

Inilah salah satu mitos yang banyak beredar di media sosial.

PCOS memang merupakan salah satu penyebab menstruasi tidak teratur, tetapi diagnosisnya tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan telat haid.

Pada remaja, diagnosis PCOS memerlukan evaluasi menyeluruh oleh tenaga kesehatan karena banyak perubahan hormonal normal yang menyerupai gejala PCOS. Selain gangguan siklus menstruasi, dokter juga akan menilai adanya tanda kelebihan hormon androgen, seperti:

  1. Pertumbuhan rambut berlebihan pada wajah atau dada,
  2. Jerawat berat yang sulit diatasi,
  3. Peningkatan berat badan,
  4. Hasil pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.

Pedoman terbaru juga menekankan bahwa diagnosis PCOS pada remaja harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi overdiagnosis.

Gaya Hidup Berperan Besar

Banyak orang menganggap menstruasi hanya dipengaruhi hormon. Faktanya, hormon sangat dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari.

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga keteraturan siklus menstruasi antara lain:

  1. tidur 7–9 jam setiap malam,
  2. mengonsumsi makanan bergizi seimbang,
  3. membatasi konsumsi minuman tinggi gula,
  4. berolahraga secara teratur sekitar 150 menit setiap minggu,
  5. mengelola stres melalui aktivitas positif,
  6. menjaga berat badan tetap ideal.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang baik dan status gizi normal berkaitan dengan siklus menstruasi yang lebih teratur pada remaja putri.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Segera berkonsultasi dengan bidan atau dokter apabila mengalami kondisi berikut:

  1. Tidak haid selama lebih dari 90 hari tanpa kehamilan,
  2. Menstruasi selalu datang kurang dari 21 hari atau lebih dari 45 hari pada remaja,
  3. Perdarahan sangat banyak hingga harus mengganti pembalut setiap 1–2 jam,
  4. Nyeri haid sangat hebat hingga mengganggu aktivitas,
  5. muncul pertumbuhan rambut berlebihan, jerawat berat, atau kenaikan berat badan yang cepat disertai gangguan menstruasi.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab gangguan dan mencegah komplikasi di masa depan.

Jangan Mudah Percaya Informasi Viral

Media sosial memang memudahkan kita memperoleh informasi kesehatan. Namun, tidak semua konten berasal dari sumber ilmiah yang dapat dipercaya. Mengikuti tren diagnosis mandiri tanpa pemeriksaan justru dapat menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.

Jika mengalami gangguan menstruasi yang berlangsung berulang, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penjelasan dan penanganan yang tepat.

Menstruasi bukan sekadar datang setiap bulan, tetapi juga merupakan cerminan kesehatan reproduksi. Dengan menjaga pola hidup sehat dan memahami tanda-tanda yang perlu diwaspadai, remaja dapat lebih peduli terhadap kesehatan dirinya sejak dini.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. Aningsih, S., Amalia, S., Safitri, Y. R., & Rahayu, W. (2025). Analysis of Factors Affecting the Menstrual Cycle Among Adolescent Girls: A Scoping Review. Journal Educational of Nursing, 8(2).
  2. Murthi, A. K., Wratsangka, R., Sisca, & Kurniawan, Y. (2025). Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) in Adolescent Girls in Indonesia: A New Burden in Women’s Reproductive Health. Jurnal Biomedika dan Kesehatan, 8(3), 245–249.
  3. Wardani, Y. S., Nisa, T. S., & Hidayanti, L. (2026). Nutritional Status, Sleep Duration and the Menstrual Cycle Among Adolescent Girls. Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA), 8(1), 264–276.
  4. Putri, S. M., Yulianti, R., & Suryani, D. (2024). The Relationship between Consumption Pattern and Nutritional Status with Female Adolescent Menstrual Cycles. Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia, 13(1).
  5. Zuchelo, L. T. S., et al. (2024). Menstrual Pattern in Polycystic Ovary Syndrome and Hypothalamic-Pituitary-Ovarian Axis Immaturity in Adolescents: A Systematic Review and Meta-analysis. Gynecological Endocrinology, 40(1).
  6. Dumont, T., Peeva, M., & El Masri, M. (2026). Diagnosis and Treatment of PCOS in Adolescents: A Summary of Guidelines and Systematic Reviews for Practitioners. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 105