S1 & Profesi Bidan Alma Ata, Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas. Pada masa ini, kita mulai mengenali nilai yang diyakini, membangun kemandirian dalam mengambil keputusan, sekaligus belajar membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosial. Karena itu, kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri tanpa kehilangan hubungan dengan orang lain menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial remaja.
Apa Itu Social Freedom?
Dalam artikel ini, social freedom digunakan untuk menggambarkan kemampuan kita untuk tetap menjadi diri sendiri dalam kehidupan sosial, tanpa selalu merasa harus mendapatkan persetujuan atau penerimaan dari orang lain.
Kebebasan ini dapat terlihat ketika kita mampu memiliki pendapat sendiri, menyampaikan ketidaksetujuan, menetapkan batasan, mengatakan tidak ketika diperlukan, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai serta pertimbangan yang kita yakini.
Namun, social freedom bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain atau bersikap tidak peduli terhadap lingkungan. Kita tetap dapat memiliki hubungan yang dekat, mendengarkan pendapat orang lain, menerima masukan, dan bekerja sama, tanpa kehilangan kebebasan untuk menentukan sikap sendiri.
Gagasan ini memiliki keterkaitan dengan Self-Determination Theory, khususnya kebutuhan akan autonomy dan relatedness. Kita membutuhkan ruang untuk menentukan pilihan dan mengarahkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama tetap membutuhkan hubungan yang bermakna dengan orang lain. Dengan demikian, kebebasan dan keterhubungan sosial bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Apa Bedanya dengan Social Isolation?
Social freedom berbeda dengan social isolation. Social isolation mengacu pada kondisi ketika kita memiliki keterbatasan dalam hubungan atau interaksi sosial yang bermakna. Sementara itu, memiliki social freedom berarti kita tetap dapat memiliki hubungan sosial tanpa merasa harus kehilangan diri sendiri demi mempertahankan hubungan tersebut.
Karena itu, menikmati waktu sendiri juga tidak otomatis berarti mengalami social isolation. Kita dapat merasa nyaman melakukan aktivitas sendiri sekaligus tetap memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, atau komunitas.
Perbedaannya dapat dilihat dari dua hal: kebebasan dan keterhubungan. Social freedom berarti kita mampu menentukan diri sendiri sekaligus tetap membangun hubungan yang sehat. Sebaliknya, keterbatasan hubungan sosial yang bermakna dapat mengarah pada isolasi, sedangkan ketergantungan yang berlebihan pada penerimaan orang lain dapat membuat kita kesulitan mempertahankan pendapat dan batasan sendiri.
Mengapa Social Freedom Penting untuk Remaja?
Pada masa remaja, teman sebaya memiliki peran penting dalam kehidupan sosial. Keinginan untuk diterima dapat membuat sebagian remaja lebih sulit mempertahankan pilihan atau batasan ketika menghadapi tekanan kelompok. Dalam situasi seperti ini, kemandirian sosial menjadi penting agar kita dapat menghargai teman tanpa harus selalu mengikuti keputusan mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemandirian sosial dapat dilatih melalui kemampuan menyampaikan pendapat yang berbeda, mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai pribadi, menetapkan batasan dalam hubungan, dan mengambil keputusan secara sadar.
Kemampuan tersebut bukan berarti menolak pengaruh orang lain. Justru, menjadi mandiri secara sosial berarti mampu mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat orang lain sebelum menentukan pilihan sendiri.
Pada saat yang sama, hubungan sosial yang sehat tetap penting. Kualitas hubungan pertemanan pada masa remaja berkaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis dan sosial. Karena itu, tujuan social freedom bukan membuat kita semakin jauh dari orang lain, tetapi membantu kita membangun hubungan tanpa kehilangan kemandirian.
Apa Implikasi Social Freedom untuk Karier Masa Depan?
Kemampuan untuk tidak terlalu bergantung pada persetujuan sosial dapat menjadi bekal penting ketika kita memasuki pendidikan tinggi, dunia kerja, organisasi, dan kehidupan bermasyarakat. Dalam berbagai situasi tersebut, kita tidak selalu dapat mengambil keputusan berdasarkan kedekatan pribadi atau keinginan untuk menyenangkan orang lain.
Ketika menjadi mahasiswa maupun seorang profesional, kita perlu mampu membedakan antara menghargai seseorang dan selalu mengikuti seseorang. Dalam mengambil keputusan, kita perlu mempertimbangkan data, prinsip, tanggung jawab, aturan, serta kepentingan bersama.
Namun, kebebasan dalam mengambil keputusan bukan berarti kita mengabaikan hubungan. Mendengarkan orang lain, menerima kritik, mempertimbangkan dampak keputusan terhadap orang lain, menunjukkan empati, dan bekerja sama merupakan bagian dari kematangan profesional.
Yang perlu dihindari bukanlah pengaruh hubungan sosial itu sendiri, melainkan kondisi ketika kebutuhan untuk diterima membuat kita mengabaikan pertimbangan yang seharusnya.
Dengan demikian, social freedom dapat menjadi salah satu bekal untuk menghadapi lingkungan yang semakin kompleks: mampu mempertahankan prinsip, tetapi tetap terbuka terhadap masukan dan mampu bekerja bersama orang lain.
Bagaimana Menjaga Social Freedom Tanpa Menghambat Koneksi yang Berharga?
Kuncinya bukan memilih antara bebas atau memiliki hubungan sosial, tetapi belajar menjalankan keduanya secara seimbang.
Kita dapat membangun social freedom dengan berani menyampaikan pendapat, menetapkan batasan, mengatakan tidak ketika diperlukan, dan membuat keputusan berdasarkan nilai serta pertimbangan yang matang. Pada saat yang sama, hubungan yang sehat perlu tetap dirawat dengan mendengarkan, menghargai perbedaan, meminta bantuan ketika diperlukan, bekerja sama, dan menjaga pertemanan yang memberikan dukungan positif.
Pada akhirnya, social freedom bukanlah kebebasan dari hubungan sosial, tetapi kebebasan untuk tetap menjadi diri sendiri di dalam hubungan sosial. Kita tidak perlu menjauh dari orang lain untuk menjadi mandiri, dan tidak perlu kehilangan diri sendiri untuk diterima. Bebas dalam menentukan diri, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan tetap terhubung dengan orang-orang yang berarti.
Mari tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berani berpikir, percaya diri dalam mengambil keputusan, dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat. Bersama S1 & Profesi Bidan Alma Ata, kembangkan potensi diri, perluas kolaborasi, dan wujudkan masa depan yang bermakna tanpa kehilangan jati diri.
Informasi selengkapnya melalui PMB Universitas Alma Ata.
written by Fatimatasari, M.Keb., Bd
Referensi
Alsarrani, A., Hunter, R. F., Dunne, L., & Garcia, L. (2022). Association between friendship quality and subjective wellbeing among adolescents: A systematic review. BMC Public Health, 22, 2420. https://doi.org/10.1186/s12889-022-14776-4
Ciranka, S., & van den Bos, W. (2020). Social influence in adolescent decision-making: A formal framework. Frontiers in Psychology, 11, 598347. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.598347
Loades, M. E., Chatburn, E., Higson-Sweeney, N., Reynolds, S., Shafran, R., Brigden, A., Linney, C., McManus, M. N., Borwick, C., & Crawley, E. (2020). Rapid systematic review: The impact of social isolation and loneliness on the mental health of children and adolescents in the context of COVID-19. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 59(11), 1218–1239.e3. https://doi.org/10.1016/j.jaac.2020.05.009
Mitic, M., Woodcock, K. A., Amering, M., Krammer, I., Stiehl, K. A. M., Zehetmayer, S., & Schrank, B. (2021). Toward an integrated model of supportive peer relationships in early adolescence: A systematic review and exploratory meta-analysis. Frontiers in Psychology, 12, 589403. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.589403
Nalipay, M. J. N., King, R. B., & Cai, Y. (2020). Autonomy is equally important across East and West: Testing the cross-cultural universality of self-determination theory. Journal of Adolescence, 78, 67–72. https://doi.org/10.1016/j.adolescence.2019.12.009
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860. https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101860