Mau Kuliah? Jangan Cuma Siapkan Nilai, Siapkan Diri Jadi Mahasiswa 

Mau Kuliah? Jangan Cuma Siapkan Nilai, Siapkan Diri Jadi Mahasiswa 

Bagi siswa SMA tingkat akhir, mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi umumnya identik dengan belajar lebih giat, mengejar nilai yang baik, dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai jalur seleksi masuk perguruan tinggi. Berhasil diterima di perguruan tinggi yang diinginkan tentu menjadi pencapaian yang membanggakan.

Namun, ada satu hal yang menurut Dosen Prodi  S1 & Profesi Bidan Alma Ata Fatimatasari, M.Keb., Bd., juga perlu dipersiapkan sejak masih duduk di bangku SMA, yaitu kesiapan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Menurutnya, menjadi mahasiswa bukan sekadar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kehidupan mahasiswa memiliki ritme yang berbeda dengan kehidupan siswa, terutama dalam hal kebebasan dan tanggung jawab mengatur kehidupan sehari-hari.

“Persiapan untuk menghadapi ujian dan seleksi masuk perguruan tinggi tentu penting. Tetapi, jangan sampai kita lupa bahwa setelah berhasil diterima, ada kehidupan baru yang juga harus dijalani. Karena itu, sejak SMA siswa perlu mulai mempersiapkan diri bukan hanya untuk masuk perguruan tinggi, tetapi juga untuk menjadi mahasiswa,” jelas Fatimatasari.

Ia menjelaskan bahwa salah satu perubahan yang cukup besar ketika seseorang menjadi mahasiswa adalah semakin besarnya tanggung jawab terhadap pengelolaan waktu. Jika di sekolah sebagian besar kegiatan sudah memiliki jadwal yang relatif terstruktur, kehidupan mahasiswa memberikan ruang yang jauh lebih besar bagi mahasiswa untuk menentukan bagaimana waktunya digunakan.

Jadwal perkuliahan mungkin hanya berlangsung beberapa jam dalam sehari. Di luar itu, mahasiswa memiliki waktu yang dapat digunakan untuk belajar mandiri, mengerjakan tugas, berorganisasi, bersosialisasi, beristirahat, maupun melakukan berbagai kegiatan lainnya.

Menurut Fatimatasari, kondisi tersebut merupakan kesempatan sekaligus tantangan.

“Ketika menjadi mahasiswa, kita mendapatkan kebebasan yang lebih besar. Tetapi kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab. Ketika tidak ada orang lain yang mengatur seluruh waktu kita, maka kita sendiri yang harus mampu mengaturnya,” ujarnya.

Tantangan tersebut dapat menjadi lebih besar bagi mahasiswa yang meninggalkan daerah asal dan tinggal jauh dari orang tua. Bagi sebagian siswa yang sebelumnya hidup dalam lingkungan yang relatif familiar, kehidupan di kota baru dapat menghadirkan begitu banyak pengalaman yang menarik.

Lingkungan baru memungkinkan mahasiswa bertemu dengan lebih banyak orang, mencoba berbagai aktivitas, menikmati beragam hiburan, serta mengenal gaya hidup yang mungkin sebelumnya tidak pernah ditemui. Berbagai pilihan tersebut pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk. Mahasiswa tetap membutuhkan kehidupan sosial, waktu untuk beristirahat, serta kesempatan untuk mengeksplorasi dirinya.

Namun, menurut Fatimatasari, yang perlu dipelajari adalah kemampuan menentukan batas dan prioritas.

“Menikmati kehidupan sebagai mahasiswa tentu boleh. Bersosialisasi, mencoba hal baru, melakukan aktivitas yang menyenangkan, semuanya merupakan bagian dari proses tumbuh. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai hal-hal tersebut mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk tujuan utama kita datang ke perguruan tinggi,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa sebagian mahasiswa dapat terlena dengan berbagai pilihan yang tersedia di lingkungan barunya. Ada yang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hiburan hingga mengabaikan tugas akademik. Ada pula yang merasa harus mengikuti gaya hidup lingkungan pertemanannya agar dapat diterima, sehingga pengeluaran menjadi semakin besar dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, berbagai tawaran bisnis dan peluang mendapatkan penghasilan juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa. Menurut Fatimatasari, mencoba berwirausaha bukanlah sesuatu yang salah. Namun, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menilai apakah suatu aktivitas benar-benar memberikan manfaat atau justru membuat mereka kehilangan fokus terhadap pendidikan.

“Bukan berarti mahasiswa tidak boleh healing, bersosialisasi, mengikuti tren, berorganisasi, atau mencoba bisnis. Semua itu bisa menjadi pengalaman yang baik. Tetapi kita perlu tahu batasnya. Jangan sampai sesuatu yang awalnya hanya untuk bersenang-senang atau mencoba pengalaman baru justru membuat kuliah terbengkalai atau menimbulkan masalah yang lebih besar,” jelasnya.

Karena itu, Fatimatasari menilai ada beberapa bekal yang sebaiknya mulai disiapkan siswa sebelum memasuki kehidupan perguruan tinggi.

Memiliki tujuan sebagai kompas

Menurut Fatimatasari, hal pertama yang perlu dimiliki calon mahasiswa adalah tujuan yang jelas.

Kuliah sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara untuk mendapatkan gelar, tetapi sebagai proses untuk memperoleh ilmu, keterampilan, pengalaman, dan karakter yang akan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan setelah lulus.

“Niatkan kuliah untuk mencari ilmu dan mendapatkan bekal sebanyak-banyaknya agar kelak kita menjadi profesional yang mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Ketika tujuan itu jelas, kita memiliki kompas untuk menentukan pilihan,” tuturnya.

Tujuan tersebut dapat membantu mahasiswa ketika dihadapkan pada berbagai pilihan. Tidak semua hal yang menarik harus diikuti dan tidak semua kesempatan harus diambil.

Menurutnya, mahasiswa dapat belajar bertanya kepada diri sendiri sebelum mengambil keputusan: apakah aktivitas tersebut mendukung tujuan yang sedang diperjuangkan atau justru menjauhkan diri dari tujuan tersebut.

Belajar menggunakan kebebasan dengan bijaksana

Bekal berikutnya adalah kemampuan mengelola kebebasan.

Fatimatasari menjelaskan bahwa kedewasaan bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati kehidupan. Justru, mahasiswa perlu memiliki kesempatan untuk bersosialisasi, mencoba berbagai pengalaman, dan mengenali dirinya sendiri.

Namun, kemampuan membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik perlu terus diasah.

“Kebebasan akan menjadi sesuatu yang baik ketika kita sudah mampu bertanggung jawab terhadap pilihan kita sendiri. Karena itu, kedewasaan perlu dilatih sejak sekarang. Belajar mengatur waktu, mengatur uang, mempertimbangkan konsekuensi, dan berani mengatakan tidak merupakan bagian dari latihan tersebut,” katanya.

Ia menilai kemampuan tersebut penting terutama bagi mahasiswa yang akan tinggal jauh dari orang tua. Ketika pengawasan dari keluarga tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Tetap terhubung dengan orang tua dan orang-orang terdekat

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga hubungan dengan orang tua dan orang-orang terdekat.

Menurut Fatimatasari, menjadi mandiri tidak berarti harus menjalani semuanya seorang diri. Justru, kemampuan untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang dapat memberikan dukungan merupakan bagian dari kemandirian yang sehat.

“Ketika tinggal jauh dari orang tua, jangan merasa bahwa karena sudah menjadi mahasiswa berarti semuanya harus diselesaikan sendiri. Tetaplah berkomunikasi dengan orang tua. Ceritakan kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika membutuhkan bantuan. Jaga juga hubungan dengan teman-teman dan orang-orang yang selama ini benar-benar mengenal kita,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan tersebut dapat menjadi sumber dukungan ketika mahasiswa menghadapi kesulitan. Karena itu, jangan sampai kesibukan membangun kehidupan baru membuat seseorang justru menjauh dari orang-orang yang selama ini menjadi tempat untuk kembali.

Memilih lingkungan perguruan tinggi dengan baik

Selain mempersiapkan diri, calon mahasiswa juga perlu mempertimbangkan lingkungan tempat mereka akan belajar.

Fatimatasari mengingatkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk memperoleh nilai dan ijazah. Selama beberapa tahun, mahasiswa akan menghabiskan banyak waktu bersama dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa lainnya. Lingkungan tersebut akan menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya.

Karena itu, menurutnya, calon mahasiswa perlu melihat lebih jauh ketika memilih perguruan tinggi.

“Jangan hanya melihat perguruan tinggi dari nilai, fasilitas, atau seberapa terkenal namanya. Perhatikan juga lingkungannya. Apakah lingkungan tersebut benar-benar mendukung mahasiswa untuk berkembang? Apakah dosen dan civitas akademikanya serius membantu mahasiswa menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki bekal yang baik untuk kehidupan setelah lulus?” jelasnya.

Menurut Fatimatasari, perguruan tinggi yang baik bukan hanya membantu mahasiswa memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi juga memberikan lingkungan yang mendorong mahasiswa membangun karakter, mengembangkan kemampuan, dan memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Mahasiswa perlu berada di lingkungan yang memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu mereka menjadi pribadi dan profesional yang mumpuni. Lingkungan pendidikan seharusnya tidak membuat mahasiswa kehilangan arah, tetapi justru membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi dirinya,” ungkapnya.

Fatimatasari berharap siswa SMA yang sedang mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi tidak hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya diterima di kampus yang diinginkan.

Menurutnya, keberhasilan masuk perguruan tinggi hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.

“Jangan hanya siapkan diri untuk lolos masuk perguruan tinggi. Siapkan juga diri untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Karena setelah diterima, akan ada banyak kebebasan, pilihan, dan tantangan yang harus kita hadapi sendiri,” tuturnya.

Sebagai Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Fatimatasari melihat pentingnya menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mendukung mahasiswa untuk berkembang sebagai pribadi dan calon profesional.

Hal tersebut menjadi bagian dari upaya Prodi  S1 & Profesi Bidan Alma Ata dalam membangun lingkungan belajar yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas akademika untuk saling mendukung dalam proses pendidikan.

Karena itu, bagi adik-adik SMA yang sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan kebidanan, Prodi S1 & Profesi Bidan Alma Ata dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Di lingkungan Alma Ata, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai ilmu kebidanan, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kemandirian, karakter, kemampuan bekerja sama, dan kesiapan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya datang untuk kuliah dan mendapatkan nilai. Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ilmu, karakter, kemandirian, dan kemampuan untuk memberikan manfaat ketika nanti kembali ke masyarakat,” pungkas Fatimatasari.

Jika saat ini kamu sedang mencari tempat untuk melanjutkan pendidikan kebidanan, mari siapkan langkahmu bersama S1 & Profesi Bidan Alma Ata. Jadikan masa kuliah bukan sekadar perjalanan untuk mendapatkan gelar, tetapi kesempatan untuk membangun ilmu, karakter, pengalaman, dan kesiapan menjadi bidan profesional.

Mari bertumbuh menjadi bidan yang kompeten, berkarakter, berakhlak Qur’ani, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Informasi pendaftaran melalui PMB Universitas Alma Ata.

Social Freedom: Bebas Menjadi Diri Sendiri, Tetap Terhubung dengan Orang Lain

Social Freedom: Bebas Menjadi Diri Sendiri, Tetap Terhubung dengan Orang Lain

 S1 & Profesi Bidan Alma Ata, Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas. Pada masa ini, kita mulai mengenali nilai yang diyakini, membangun kemandirian dalam mengambil keputusan, sekaligus belajar membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosial. Karena itu, kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri tanpa kehilangan hubungan dengan orang lain menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial remaja.

Apa Itu Social Freedom?

Dalam artikel ini, social freedom digunakan untuk menggambarkan kemampuan kita untuk tetap menjadi diri sendiri dalam kehidupan sosial, tanpa selalu merasa harus mendapatkan persetujuan atau penerimaan dari orang lain.

Kebebasan ini dapat terlihat ketika kita mampu memiliki pendapat sendiri, menyampaikan ketidaksetujuan, menetapkan batasan, mengatakan tidak ketika diperlukan, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai serta pertimbangan yang kita yakini.

Namun, social freedom bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain atau bersikap tidak peduli terhadap lingkungan. Kita tetap dapat memiliki hubungan yang dekat, mendengarkan pendapat orang lain, menerima masukan, dan bekerja sama, tanpa kehilangan kebebasan untuk menentukan sikap sendiri.

Gagasan ini memiliki keterkaitan dengan Self-Determination Theory, khususnya kebutuhan akan autonomy dan relatedness. Kita membutuhkan ruang untuk menentukan pilihan dan mengarahkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama tetap membutuhkan hubungan yang bermakna dengan orang lain. Dengan demikian, kebebasan dan keterhubungan sosial bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Apa Bedanya dengan Social Isolation?

Social freedom berbeda dengan social isolation. Social isolation mengacu pada kondisi ketika kita memiliki keterbatasan dalam hubungan atau interaksi sosial yang bermakna. Sementara itu, memiliki social freedom berarti kita tetap dapat memiliki hubungan sosial tanpa merasa harus kehilangan diri sendiri demi mempertahankan hubungan tersebut.

Karena itu, menikmati waktu sendiri juga tidak otomatis berarti mengalami social isolation. Kita dapat merasa nyaman melakukan aktivitas sendiri sekaligus tetap memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, atau komunitas.

Perbedaannya dapat dilihat dari dua hal: kebebasan dan keterhubungan. Social freedom berarti kita mampu menentukan diri sendiri sekaligus tetap membangun hubungan yang sehat. Sebaliknya, keterbatasan hubungan sosial yang bermakna dapat mengarah pada isolasi, sedangkan ketergantungan yang berlebihan pada penerimaan orang lain dapat membuat kita kesulitan mempertahankan pendapat dan batasan sendiri.

Mengapa Social Freedom Penting untuk Remaja?

Pada masa remaja, teman sebaya memiliki peran penting dalam kehidupan sosial. Keinginan untuk diterima dapat membuat sebagian remaja lebih sulit mempertahankan pilihan atau batasan ketika menghadapi tekanan kelompok. Dalam situasi seperti ini, kemandirian sosial menjadi penting agar kita dapat menghargai teman tanpa harus selalu mengikuti keputusan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemandirian sosial dapat dilatih melalui kemampuan menyampaikan pendapat yang berbeda, mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai pribadi, menetapkan batasan dalam hubungan, dan mengambil keputusan secara sadar.

Kemampuan tersebut bukan berarti menolak pengaruh orang lain. Justru, menjadi mandiri secara sosial berarti mampu mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat orang lain sebelum menentukan pilihan sendiri.

Pada saat yang sama, hubungan sosial yang sehat tetap penting. Kualitas hubungan pertemanan pada masa remaja berkaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis dan sosial. Karena itu, tujuan social freedom bukan membuat kita semakin jauh dari orang lain, tetapi membantu kita membangun hubungan tanpa kehilangan kemandirian.

Apa Implikasi Social Freedom untuk Karier Masa Depan?

Kemampuan untuk tidak terlalu bergantung pada persetujuan sosial dapat menjadi bekal penting ketika kita memasuki pendidikan tinggi, dunia kerja, organisasi, dan kehidupan bermasyarakat. Dalam berbagai situasi tersebut, kita tidak selalu dapat mengambil keputusan berdasarkan kedekatan pribadi atau keinginan untuk menyenangkan orang lain.

Ketika menjadi mahasiswa maupun seorang profesional, kita perlu mampu membedakan antara menghargai seseorang dan selalu mengikuti seseorang. Dalam mengambil keputusan, kita perlu mempertimbangkan data, prinsip, tanggung jawab, aturan, serta kepentingan bersama.

Namun, kebebasan dalam mengambil keputusan bukan berarti kita mengabaikan hubungan. Mendengarkan orang lain, menerima kritik, mempertimbangkan dampak keputusan terhadap orang lain, menunjukkan empati, dan bekerja sama merupakan bagian dari kematangan profesional.

Yang perlu dihindari bukanlah pengaruh hubungan sosial itu sendiri, melainkan kondisi ketika kebutuhan untuk diterima membuat kita mengabaikan pertimbangan yang seharusnya.

Dengan demikian, social freedom dapat menjadi salah satu bekal untuk menghadapi lingkungan yang semakin kompleks: mampu mempertahankan prinsip, tetapi tetap terbuka terhadap masukan dan mampu bekerja bersama orang lain.

Bagaimana Menjaga Social Freedom Tanpa Menghambat Koneksi yang Berharga?

Kuncinya bukan memilih antara bebas atau memiliki hubungan sosial, tetapi belajar menjalankan keduanya secara seimbang.

Kita dapat membangun social freedom dengan berani menyampaikan pendapat, menetapkan batasan, mengatakan tidak ketika diperlukan, dan membuat keputusan berdasarkan nilai serta pertimbangan yang matang. Pada saat yang sama, hubungan yang sehat perlu tetap dirawat dengan mendengarkan, menghargai perbedaan, meminta bantuan ketika diperlukan, bekerja sama, dan menjaga pertemanan yang memberikan dukungan positif.

Pada akhirnya, social freedom bukanlah kebebasan dari hubungan sosial, tetapi kebebasan untuk tetap menjadi diri sendiri di dalam hubungan sosial. Kita tidak perlu menjauh dari orang lain untuk menjadi mandiri, dan tidak perlu kehilangan diri sendiri untuk diterima. Bebas dalam menentukan diri, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan tetap terhubung dengan orang-orang yang berarti.

Mari tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berani berpikir, percaya diri dalam mengambil keputusan, dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat. Bersama S1 & Profesi Bidan Alma Ata, kembangkan potensi diri, perluas kolaborasi, dan wujudkan masa depan yang bermakna tanpa kehilangan jati diri.

Informasi selengkapnya melalui PMB Universitas Alma Ata.

written by Fatimatasari, M.Keb., Bd

Referensi

Alsarrani, A., Hunter, R. F., Dunne, L., & Garcia, L. (2022). Association between friendship quality and subjective wellbeing among adolescents: A systematic review. BMC Public Health, 22, 2420. https://doi.org/10.1186/s12889-022-14776-4

Ciranka, S., & van den Bos, W. (2020). Social influence in adolescent decision-making: A formal framework. Frontiers in Psychology, 11, 598347. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.598347

Loades, M. E., Chatburn, E., Higson-Sweeney, N., Reynolds, S., Shafran, R., Brigden, A., Linney, C., McManus, M. N., Borwick, C., & Crawley, E. (2020). Rapid systematic review: The impact of social isolation and loneliness on the mental health of children and adolescents in the context of COVID-19. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 59(11), 1218–1239.e3. https://doi.org/10.1016/j.jaac.2020.05.009

Mitic, M., Woodcock, K. A., Amering, M., Krammer, I., Stiehl, K. A. M., Zehetmayer, S., & Schrank, B. (2021). Toward an integrated model of supportive peer relationships in early adolescence: A systematic review and exploratory meta-analysis. Frontiers in Psychology, 12, 589403. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.589403

Nalipay, M. J. N., King, R. B., & Cai, Y. (2020). Autonomy is equally important across East and West: Testing the cross-cultural universality of self-determination theory. Journal of Adolescence, 78, 67–72. https://doi.org/10.1016/j.adolescence.2019.12.009

Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860. https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101860

Haid Berantakan Saat Remaja: Bisa Jadi Tubuh Sedang Memberi Sinyal

Haid Berantakan Saat Remaja: Bisa Jadi Tubuh Sedang Memberi Sinyal

S1 Profesi Bidan Alma Ata — “Kenapa haid saya datangnya tidak tentu?” Pertanyaan tersebut cukup sering muncul pada masa remaja. Siklus menstruasi yang belum teratur memang dapat terjadi pada beberapa tahun pertama setelah menstruasi pertama karena tubuh masih beradaptasi dengan perubahan hormonal. Namun, apabila pola menstruasi terus-menerus tidak teratur, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari pubertas.

Dosen S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata, Dr. Erna Yovi Kurniawati, M.Tr.Keb., menjelaskan bahwa perubahan pola menstruasi pada remaja perlu diperhatikan, terutama apabila berlangsung terus-menerus dan disertai tanda lain.

“Pada masa remaja, siklus menstruasi memang belum selalu teratur. Namun, remaja perlu mengenali pola menstruasinya sendiri. Bila ketidakteraturan berlangsung terus atau disertai gejala lain, sebaiknya dilakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan,” jelas Dr. Erna.

Salah satu kondisi yang saat ini semakin banyak diperbincangkan adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), istilah baru yang diperkenalkan pada 2026 untuk menggantikan nama yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Konsensus global yang dipublikasikan dalam The Lancet menjelaskan bahwa perubahan istilah ini dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi secara lebih menyeluruh, karena gangguan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan aspek hormonal, metabolik, dan reproduksi.

Bukan Sekadar Masalah Menstruasi

Menurut Dr. Erna, pemahaman mengenai PMOS penting dikenalkan sejak remaja karena sejumlah tanda dapat mulai terlihat pada masa tersebut. Meski demikian, haid tidak teratur saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang remaja mengalami PMOS.

Hal ini penting karena perubahan hormonal yang terjadi selama pubertas juga dapat menyebabkan siklus menstruasi yang belum stabil, jerawat, serta perubahan fisik lainnya.

Rekomendasi internasional untuk remaja menekankan bahwa penilaian harus dilakukan secara hati-hati. Pada remaja, diagnosis PCOS—yang kini disebut PMOS dalam nomenklatur baru—memerlukan perhatian terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi sesuai usia sejak menarke serta tanda kelebihan androgen, setelah kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa disingkirkan. Remaja yang baru menunjukkan salah satu karakteristik dapat dikategorikan sebagai “berisiko” dan memerlukan pemantauan, bukan langsung didiagnosis.

“Karena gejala pubertas dan tanda-tanda PMOS dapat terlihat mirip, kita tidak boleh terburu-buru memberikan label atau diagnosis. Remaja perlu mendapatkan pemeriksaan dan pendampingan yang tepat,” terang Dr. Erna.

Kapan Remaja Perlu Mulai Waspada?

Remaja dapat mulai memperhatikan pola menstruasinya, terutama apabila mengalami kondisi seperti:

  • menstruasi sangat jarang atau sering terlambat;
  • tidak mengalami menstruasi selama beberapa bulan;
  • siklus menstruasi terus-menerus tidak teratur;
  • disertai jerawat yang berat atau menetap;
  • pertumbuhan rambut berlebihan pada area tertentu;
  • perubahan berat badan yang cukup signifikan; atau
  • tanda-tanda yang berkaitan dengan gangguan metabolik.

Pedoman internasional menyebutkan bahwa definisi siklus menstruasi tidak teratur pada remaja perlu mempertimbangkan berapa lama sejak menstruasi pertama (menarke). Misalnya, pada tahun pertama setelah menarke, ketidakteraturan masih dapat merupakan bagian dari proses pubertas. Namun, semakin lama setelah menarke, pola menstruasi yang sangat jarang atau adanya jeda menstruasi yang panjang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.

Kesehatan Reproduksi dan Metabolisme Saling Berkaitan

PMOS tidak hanya berkaitan dengan sistem reproduksi. Kondisi ini juga memiliki hubungan dengan aspek metabolik sehingga kesehatan remaja perlu dilihat secara menyeluruh.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis mengenai PCOS pada remaja menunjukkan adanya hubungan antara PCOS dan sindrom metabolik. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemantauan kesehatan metabolik juga penting pada remaja dengan kondisi atau tanda yang mengarah pada PCOS/PMOS.

Karena itu, menjaga pola hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang baik, serta menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Tidak Perlu Takut, tetapi Jangan Diabaikan

Dr. Erna menekankan bahwa menstruasi yang tidak teratur tidak otomatis berarti seorang remaja mengalami PMOS. Kekhawatiran yang berlebihan justru dapat membuat remaja merasa takut terhadap perubahan tubuhnya sendiri.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mulai mencatat siklus menstruasi. Catat tanggal hari pertama menstruasi, lama menstruasi, jarak antarhaid, serta perubahan lain yang dirasakan. Catatan tersebut dapat membantu remaja mengenali pola tubuhnya sekaligus memudahkan tenaga kesehatan ketika melakukan penilaian.

Apabila pola menstruasi terus tidak teratur atau muncul tanda lain yang mengkhawatirkan, remaja sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.

“Yang terpenting adalah remaja tidak perlu malu membicarakan menstruasi. Mengenali siklus menstruasi bukan berarti mencari-cari penyakit, tetapi merupakan salah satu cara untuk memahami tubuh dan menjaga kesehatan sejak dini,” ujar Dr. Erna.

Kenali Siklusnya, Pahami Tubuhnya

Masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan kesehatan reproduksi. Dengan memahami perubahan tubuh dan mengenali pola menstruasi, remaja dapat lebih peka terhadap kondisi yang memerlukan perhatian tanpa harus merasa takut atau memberikan diagnosis sendiri.

Kenali siklusnya. Pahami tubuhnya. Jangan malu bertanya.

Mengenal PMOS sejak remaja bukan berarti mencari penyakit, melainkan memberikan kesempatan untuk mengenali tanda-tanda yang perlu diperhatikan serta menjaga kesehatan reproduksi dan metabolik sejak dini.

Referensi

  1. Teede, H. J., et al. (2026). Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global consensus process. The Lancet, 407(10545), 2329–2339. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(26)00717-8.

  2. Peña, A. S., et al. (2025). International evidence-based recommendations for polycystic ovary syndrome in adolescents. BMC Medicine, 23, 151. https://doi.org/10.1186/s12916-025-03901-w.

  3. Fu, L., Xie, N., Qu, F., Zhou, J., & Wang, F. (2023). The association between polycystic ovary syndrome and metabolic syndrome in adolescents: A systematic review and meta-analysis. Reproductive Sciences, 30, 28–40. https://doi.org/10.1007/s43032-022-00864-8.

Written by Admin S1 Profesi Bidan

Capek Kuliah atau Burnout? Kenali Bedanya Sebelum Terlambat

Capek Kuliah atau Burnout? Kenali Bedanya Sebelum Terlambat

S1 Profesi Bidan Alma Ata — Menjadi mahasiswa merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju masa depan. Namun, di balik berbagai pengalaman akademik dan organisasi, mahasiswa juga dapat menghadapi beragam tekanan, mulai dari tugas yang menumpuk, jadwal kuliah dan praktikum yang padat, kegiatan organisasi, penyusunan skripsi, hingga tuntutan untuk memperoleh hasil akademik yang baik.

Merasa lelah setelah menjalani berbagai aktivitas tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, ketika rasa lelah berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi motivasi, konsentrasi, maupun kemampuan menjalani aktivitas perkuliahan, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian.

Dosen S1 Kebidanan Universitas Alma Ata, Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb, menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memahami perbedaan antara kelelahan biasa dan burnout agar dapat lebih peka terhadap kondisi dirinya.

Capek Biasa atau Burnout?

Kelelahan umumnya muncul setelah seseorang melakukan banyak aktivitas. Kondisi tersebut biasanya dapat membaik setelah mendapatkan tidur yang cukup, beristirahat, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Berbeda dengan kelelahan biasa, burnout ditandai dengan kelelahan yang lebih menetap, disertai munculnya sikap semakin tidak peduli atau sinis terhadap aktivitas yang dijalani serta perasaan bahwa kemampuan diri semakin menurun.

“Tidak semua rasa lelah berarti burnout. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kelelahan berlangsung terus-menerus, tidak membaik meskipun sudah beristirahat, dan mulai mengganggu aktivitas maupun motivasi kita,” jelas Bdn. Adenia.

Kajian sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 dan melibatkan lebih dari 26.000 mahasiswa menunjukkan bahwa burnout merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian pada populasi mahasiswa.

Burnout Tidak Selalu Terlihat dari Luar

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah burnout tidak selalu tampak secara jelas. Seorang mahasiswa dapat tetap mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, bahkan aktif dalam organisasi, tetapi secara internal sedang mengalami kelelahan mental yang cukup berat.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain kesulitan tidur, sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan motivasi, sering merasa kewalahan, serta mulai menarik diri dari lingkungan sosial.

World Health Organization (WHO) juga menjelaskan bahwa stres yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Dampaknya dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga masalah tidur.

“Mahasiswa sering kali merasa harus tetap kuat dan produktif meskipun sebenarnya sedang kewalahan. Padahal, mengenali kondisi diri dan memberikan waktu untuk beristirahat merupakan bagian dari menjaga kesehatan,” tambah Bdn. Adenia.

Jangan Menunggu Sampai Benar-Benar Tidak Sanggup

Ketika mulai merasakan tanda-tanda kelelahan yang menetap, mahasiswa tidak perlu menunggu hingga kondisinya semakin berat. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti mengatur kembali jadwal kegiatan, memastikan waktu tidur dan istirahat yang cukup, makan secara teratur, melakukan aktivitas fisik, serta berbicara dengan orang yang dipercaya.

Mengurangi beban aktivitas untuk sementara juga bukan berarti malas atau gagal. Sebaliknya, kemampuan untuk mengenali batas diri merupakan bagian dari keterampilan menjaga kesehatan dan kesejahteraan diri.

Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa strategi pengelolaan stres, aktivitas fisik, mindfulness, serta pendekatan mind-body dapat membantu mendukung kesehatan mental mahasiswa.

Kesehatan Diri Juga Bagian dari Perjalanan Kuliah

Menjalani pendidikan tinggi bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan memperoleh nilai yang baik. Proses menjadi mahasiswa juga merupakan perjalanan untuk belajar mengenali kemampuan, kebutuhan, serta batas diri.

“Tidak semua hari harus produktif dan tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Ketika mahasiswa mulai merasa kewalahan, kehilangan motivasi, atau mengalami kelelahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan,” ujar Bdn. Adenia.

Mahasiswa dapat berdiskusi dengan dosen wali, konselor kampus, psikolog, tenaga kesehatan, maupun orang yang dipercaya apabila membutuhkan dukungan.

Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan. Justru, kemampuan untuk mengenali kondisi diri, meminta bantuan ketika diperlukan, dan mengambil langkah untuk menjaga kesehatan merupakan bagian penting dari proses belajar dan bertumbuh sebagai mahasiswa.

Kuliah memang penting, tetapi kesehatan diri juga merupakan bagian dari perjalanan menuju masa depan.

Written by Admin S1 Profesi Bidan

Screen Time Remaja: Sehat di Tengah Dunia yang Serba Digital

Screen Time Remaja: Sehat di Tengah Dunia yang Serba Digital

By Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb

Ponsel sudah menjadi bagian dari keseharian remaja. Bangun tidur, yang dicari sering kali ponsel. Menunggu pelajaran dimulai, buka media sosial. Pulang sekolah, menonton video atau bermain gim. Bahkan menjelang tidur, masih ada saja yang menggulir layar sampai larut malam.

Teknologi tentu bukan sesuatu yang buruk. Justru banyak hal positif yang bisa didapat remaja dari teknologi. Belajar menjadi lebih mudah, informasi bisa ditemukan dalam hitungan detik, komunikasi dengan teman semakin praktis, dan berbagai keterampilan baru juga bisa dipelajari melalui internet.

Namun, penggunaan gawai yang terlalu lama tanpa diimbangi dengan aktivitas lain bisa mulai berdampak pada kesehatan. Mata terasa lelah, tubuh jarang bergerak, sulit berkonsentrasi, tidur semakin larut, bahkan suasana hati bisa ikut berubah.

Jadi, persoalannya sebenarnya bukan hanya “berapa lama kamu menggunakan HP?”, tetapi juga “untuk apa, kapan, dan bagaimana kamu menggunakannya?”

Bukan Sekadar Masalah Waktu Layar

Screen time adalah waktu yang kita habiskan untuk menggunakan perangkat dengan layar, seperti smartphone, tablet, laptop, televisi, dan perangkat digital lainnya.

Bagi remaja, screen time tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Menggunakan laptop untuk mengerjakan tugas tentu berbeda dengan menghabiskan berjam-jam menonton video tanpa jeda. Menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan teman juga berbeda dengan terus-menerus melihat konten yang membuat kita membandingkan diri dengan orang lain.

Karena itu, penggunaan teknologi sebaiknya tidak hanya dilihat dari jumlah waktunya. Kita juga perlu melihat apa yang dilakukan, kapan digunakan, dan apa dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.

Coba perhatikan kebiasaan sendiri. Apakah penggunaan HP membuat waktu tidur berkurang? Apakah jadi malas bergerak? Apakah belajar menjadi sulit fokus? Atau justru lebih sering mengabaikan tugas karena terlalu asyik dengan media sosial?

Kalau mulai terjadi hal-hal seperti itu, mungkin sudah waktunya kebiasaan menggunakan gawai dievaluasi.

Scroll Terus, Kok Tubuh Ikut Lelah?

Pernah berniat membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu?

Hal seperti ini sangat mudah terjadi. Video pendek, notifikasi, komentar, pesan, dan rekomendasi konten membuat kita terus penasaran dengan apa yang muncul berikutnya. Akhirnya, waktu yang awalnya hanya sebentar berubah menjadi berjam-jam.

Masalahnya, saat terlalu lama menggunakan gawai, tubuh cenderung berada dalam posisi yang sama dan kurang bergerak. Duduk terlalu lama juga bisa membuat waktu untuk aktivitas fisik semakin sedikit.

Padahal, remaja tetap membutuhkan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran, kesehatan tulang dan otot, serta kesehatan jantung.

Aktivitas fisik tidak selalu harus berupa olahraga berat. Jalan kaki, bersepeda, bermain bersama teman, membantu pekerjaan rumah, naik turun tangga, atau sekadar lebih sering berdiri dan bergerak juga termasuk bagian dari gaya hidup aktif.

Jadi, bukan berarti harus meninggalkan HP sepenuhnya. Yang penting, jangan sampai waktu di depan layar mengambil seluruh waktu untuk bergerak.

Mata Lelah? Beri Waktu untuk Istirahat

Belajar menggunakan laptop, mengerjakan tugas melalui smartphone, atau menonton video pembelajaran sudah menjadi bagian dari kehidupan pelajar saat ini. Karena itu, menghindari layar sepenuhnya tentu bukan pilihan yang realistis.

Yang bisa dilakukan adalah memberikan jeda pada mata dan tubuh.

Terlalu lama menatap layar dapat membuat mata terasa kering, perih, lelah, atau mengalami pandangan kabur sementara. Kondisi ini bisa semakin terasa ketika kita terlalu fokus pada layar dan lupa beristirahat.

Salah satu kebiasaan sederhana yang bisa dicoba adalah aturan 20-20-20. Setiap 20 menit, alihkan pandangan selama sekitar 20 detik ke benda yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter.

Selain itu, pastikan jarak layar tidak terlalu dekat dengan mata, pencahayaan ruangan cukup, dan kecerahan layar terasa nyaman.

Sederhana, tetapi kebiasaan kecil seperti ini bisa membantu penggunaan layar menjadi lebih nyaman.

Scroll Malam Hari, Tidur Jadi Kapan?

“Sebentar lagi tidur.”

Kalimat itu mungkin sering terdengar sebelum akhirnya kita masih scrolling selama satu jam berikutnya.

Awalnya hanya ingin membalas pesan. Setelah itu melihat satu video, lanjut video berikutnya, membuka media sosial, membaca komentar, lalu tiba-tiba waktu sudah menunjukkan tengah malam.

Padahal, tidur bukan sesuatu yang bisa terus dikurangi tanpa dampak.

Remaja membutuhkan tidur yang cukup untuk mendukung pertumbuhan, konsentrasi, daya ingat, suasana hati, dan kesehatan secara keseluruhan. Ketika kurang tidur, tubuh bisa terasa lebih lelah, mengantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi, dan suasana hati menjadi lebih mudah berubah.

Penggunaan smartphone menjelang tidur juga membuat kita semakin sulit berhenti karena otak masih terus menerima berbagai rangsangan dari konten yang dilihat.

Tidak perlu membuat aturan yang terlalu ekstrem. Bisa dimulai dengan meletakkan smartphone beberapa saat sebelum tidur dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih tenang, seperti membaca, berbincang dengan keluarga, atau sekadar bersiap tidur tanpa layar.

Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja

Dampak penggunaan layar tidak hanya berkaitan dengan mata dan tubuh. Cara kita menggunakan media sosial juga bisa memengaruhi kondisi psikologis.

Di media sosial, kita bisa melihat teman yang terlihat selalu bahagia, punya banyak teman, mendapatkan nilai bagus, sering bepergian, memiliki penampilan menarik, atau menjalani kehidupan yang tampak sempurna.

Tapi, apakah kehidupan seseorang benar-benar sesempurna yang terlihat di layar?

Tentu tidak.

Media sosial hanya menunjukkan sebagian dari kehidupan seseorang. Kita biasanya melihat momen yang memang ingin dibagikan, bukan seluruh cerita di baliknya.

Masalah bisa muncul ketika kita terlalu sering membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang kita lihat di media sosial. Lama-kelamaan, kita bisa merasa kurang baik, kurang menarik, kurang berhasil, atau tertinggal dari orang lain.

Perasaan tersebut dapat membuat seseorang menjadi insecure, cemas, atau kehilangan kepercayaan diri.

Karena itu, penting untuk mengingat satu hal: media sosial adalah tempat orang memilih apa yang ingin mereka tampilkan, bukan gambaran lengkap tentang kehidupan mereka.

Kalau setelah menggunakan media sosial kita justru semakin sering merasa tidak cukup baik, mungkin bukan diri kita yang harus terus berubah. Bisa jadi, kebiasaan menggunakan media sosial yang perlu diperbaiki.

Bukan Harus Berhenti, tetapi Belajar Mengendalikan

Teknologi bukan musuh remaja.

Smartphone bisa menjadi alat belajar, sumber informasi, sarana komunikasi, tempat mencari inspirasi, bahkan menjadi media untuk mengembangkan kreativitas dan berbagai keterampilan.

Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi mulai mengatur hidup kita.

Mengurangi screen time bukan berarti harus berhenti menggunakan smartphone atau media sosial. Tujuannya adalah belajar menggunakan teknologi dengan lebih sadar dan seimbang.

Coba sesekali tanyakan kepada diri sendiri:

“Aku membuka HP karena memang membutuhkannya, atau karena sudah terbiasa?”

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu kita menyadari apakah kita benar-benar membutuhkan gawai atau hanya sekadar mengikuti kebiasaan.

Mulai dari Kebiasaan Kecil

Tidak perlu langsung mengubah semuanya dalam satu hari. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan.

1. Buat waktu tanpa gawai

Cobalah untuk tidak menggunakan smartphone saat makan. Luangkan waktu untuk berbicara dengan keluarga atau teman tanpa terganggu notifikasi. Bisa juga menentukan waktu tertentu dalam sehari sebagai waktu bebas layar.

2. Berikan jeda pada mata dan tubuh

Jangan menatap layar terus-menerus. Terapkan aturan 20-20-20 dan biasakan berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan setelah duduk cukup lama.

3. Kurangi penggunaan HP sebelum tidur

Hindari scrolling sampai larut malam. Letakkan smartphone sedikit lebih jauh dari tempat tidur dan gunakan waktu sebelum tidur untuk aktivitas yang lebih tenang.

4. Gunakan media sosial dengan lebih sadar

Pilih akun yang memberikan informasi positif dan bermanfaat. Jika ada konten yang terus membuat kita membandingkan diri atau merasa tidak percaya diri, tidak ada salahnya untuk unfollow, mute, atau mengurangi paparan terhadap konten tersebut.

5. Seimbangkan kehidupan digital dan kehidupan nyata

Luangkan waktu untuk berolahraga, bertemu teman secara langsung, melakukan hobi tanpa layar, berkegiatan bersama keluarga, mengikuti kegiatan sekolah, organisasi, atau aktivitas di lingkungan sekitar.

6. Kenali tanda ketika penggunaan HP mulai berlebihan

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Tidur semakin larut karena bermain HP.
  • Sulit berkonsentrasi saat belajar.
  • Merasa gelisah ketika jauh dari smartphone.
  • Aktivitas fisik semakin berkurang.
  • Tugas atau tanggung jawab mulai terabaikan.
  • Lebih sering merasa cemas, insecure, atau tidak percaya diri setelah menggunakan media sosial.

Jika beberapa hal tersebut mulai terjadi, tidak berarti kita harus langsung berhenti menggunakan teknologi. Namun, hal itu bisa menjadi tanda bahwa kebiasaan digital perlu diperhatikan dan diatur kembali.

Jadikan Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengendali

Remaja saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kemampuan menggunakan teknologi tentu penting. Namun, kemampuan digital juga perlu berjalan bersama dengan kemampuan menjaga kesehatan diri.

Tidak ada salahnya bermain gim, menonton video, menggunakan media sosial, atau mengikuti tren di internet. Yang penting, aktivitas digital tidak sampai mengambil waktu untuk tidur, belajar, bergerak, bersosialisasi, dan merawat diri.

Pada akhirnya, hidup sehat di era digital bukan berarti harus meninggalkan teknologi.

Hidup sehat berarti mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas waktu, tubuh, pikiran, dan kehidupan nyata.

Jadi, sebelum melakukan scroll berikutnya, coba berhenti sebentar dan tanyakan:

“Aku benar-benar membutuhkan ini, atau hanya sedang terbiasa?”

Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan tambahan waktu untuk scrolling, tetapi sedikit waktu untuk beristirahat, bergerak, berbicara, dan hadir di dunia nyata.

Peran Bidan dalam Edukasi Kesehatan Remaja

Memahami kesehatan sejak remaja merupakan langkah penting untuk membangun generasi yang lebih sehat dan sadar terhadap dirinya.

Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata hadir untuk mempersiapkan calon bidan yang tidak hanya kompeten dalam memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga mampu menjadi edukator dan agen perubahan bagi remaja, perempuan, keluarga, dan masyarakat.

Melalui pembelajaran berbasis bukti (evidence-based midwifery), mahasiswa dibekali kemampuan untuk memahami berbagai permasalahan kesehatan secara ilmiah dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Dengan begitu, calon bidan tidak hanya hadir ketika seseorang membutuhkan pelayanan kesehatan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam mencegah masalah kesehatan, memberikan edukasi, dan membantu masyarakat membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Referensi

  1. World Health Organization. Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization; 2020.
  2. World Health Organization. Global Accelerated Action for the Health of Adolescents (AA-HA!): Guidance to Support Country Implementation. Geneva: WHO.
  3. World Health Organization. Adolescent Mental Health. Geneva: World Health Organization.
  4. American Academy of Pediatrics. Media and Young Minds. Pediatrics. 2016;138(5):e20162591.
  5. Stiglic N, Viner RM. Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: a systematic review of reviews. BMJ Open. 2019;9:e023191.
  6. Hale L, Guan S. Screen time and sleep among school-aged children and adolescents: a systematic literature review. Sleep Medicine Reviews. 2015;21:50–58.
  7. Twenge JM, Campbell WK. Associations between screen time and lower psychological well-being among children and adolescents. Preventive Medicine Reports. 2018;12:271–283.
  8. Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. The Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228.
  9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2024.
  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pembinaan Kebugaran Jasmani Peserta Didik melalui Upaya Kesehatan Sekolah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Hidup Sehat adalah Pilihan

Hidup Sehat adalah Pilihan

Oleh Fatimatasari, M.Keb., Bd

Hidup sehat sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit dilakukan. Ada yang merasa tidak memiliki cukup waktu, ada yang menganggap biayanya terlalu mahal, dan ada pula yang berpikir bahwa hidup sehat hanya dapat dilakukan jika memiliki fasilitas yang memadai. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan yang dilakukan secara konsisten daripada oleh mahal atau tidaknya pilihan yang diambil.

Bagi remaja akhir dan dewasa awal, tantangan terbesar bukan hanya kesibukan sekolah dan kuliah, tetapi juga bagaimana mengelola kebiasaan sehari-hari. Jadwal belajar yang padat, tugas, kegiatan organisasi, hingga aktivitas di media sosial dapat membuat waktu makan, aktivitas fisik, dan tidur menjadi kurang teratur. Kondisi tersebut sering kali mendorong pilihan yang lebih praktis, seperti melewatkan sarapan, memilih makanan siap saji, mengurangi aktivitas fisik, atau tidur larut malam.

Padahal, kebiasaan yang terbentuk pada masa remaja dan dewasa awal cenderung berlanjut hingga usia dewasa. Oleh karena itu, periode ini merupakan waktu yang penting untuk membangun gaya hidup sehat.

Kabar baiknya, hidup sehat tidak selalu membutuhkan perubahan besar ataupun biaya tambahan. Dalam banyak situasi, hidup sehat dimulai dari pilihan-pilihan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih makanan yang lebih bergizi, meluangkan waktu untuk bergerak, dan menjaga waktu tidur merupakan contoh kebiasaan yang dapat dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya yang lebih besar.

Memilih Makanan yang Lebih Bergizi

Pola makan sehat tidak selalu identik dengan makanan yang mahal. Telur, tempe, tahu, ikan lokal, sayuran, dan buah musiman merupakan contoh bahan pangan bergizi yang relatif terjangkau dan mudah ditemukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mengeluarkan biaya yang hampir sama, tetapi memperoleh kualitas gizi yang sangat berbeda. Misalnya, harga satu gelas minuman berpemanis sering kali setara dengan beberapa butir telur. Sebungkus camilan atau keripik dapat memiliki harga yang tidak jauh berbeda dengan satu papan tempe atau beberapa potong tahu. Demikian pula, satu porsi makanan cepat saji atau makanan tinggi tepung belum tentu lebih murah dibandingkan seporsi nasi dengan lauk sederhana seperti telur, tempe, atau tahu yang dilengkapi sayur.

Perbedaannya bukan hanya pada rasa kenyang, tetapi juga pada kandungan gizinya. Minuman berpemanis umumnya mengandung gula tambahan yang tinggi, sedangkan camilan seperti keripik didominasi oleh lemak, garam, dan kalori yang terbukti meningkatkan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya jika dikonsumsi secara berlebih. Sebaliknya, telur, tempe, tahu, dan ikan memberikan protein berkualitas, sementara sayur dan buah melengkapi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral yang membantu tubuh belajar, berpikir, dan beraktivitas secara optimal, sekaligus memberikan rasa kenyang yang lebih lama.

Memilih untuk Tetap Bergerak

Kesibukan sering menjadi alasan untuk tidak berolahraga. Sebagian orang juga menganggap olahraga yang efektif harus dilakukan di pusat kebugaran dengan berbagai peralatan modern. Padahal, manfaat utama aktivitas fisik diperoleh dari tubuh yang bergerak secara teratur, bukan dari mahalnya tempat atau fasilitas olahraga.

WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit setiap minggu, atau sekitar 30 menit sehari selama lima hari. Aktivitas tersebut dapat berupa berjalan kaki, bersepeda, menaiki tangga, jogging ringan, senam, atau latihan kekuatan menggunakan berat badan sendiri di rumah.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik sederhana yang dilakukan secara rutin tetap memberikan manfaat yang besar, seperti meningkatkan kebugaran jantung dan paru, membantu menjaga berat badan, menurunkan risiko diabetes dan penyakit jantung, memperbaiki kualitas tidur, serta membantu mengurangi stres dan kecemasan. Dengan kata lain, berjalan kaki selama 30 menit setiap hari tetap memberikan manfaat kesehatan yang nyata meskipun tidak pernah berolahraga di pusat kebugaran. Yang terpenting bukanlah seberapa mahal tempat berolahraga, tetapi seberapa konsisten tubuh diajak bergerak.

Memilih Waktu Istirahat yang Cukup

Tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika tugas sekolah atau kuliah mulai menumpuk. Selain itu, penggunaan media sosial juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya waktu istirahat pada remaja dan mahasiswa. Tidak sedikit yang berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi tanpa disadari menghabiskan waktu hingga berjam-jam sebelum tidur.

Padahal, orang dewasa dianjurkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga konsentrasi, daya ingat, suasana hati, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan metabolik. Sebaliknya, kurang tidur dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit kardiovaskular.

Mengurangi penggunaan gawai dan media sosial sebelum tidur merupakan langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Selain memberikan waktu istirahat yang cukup, kebiasaan ini juga membantu tubuh dan otak pulih sehingga siap belajar dan beraktivitas keesokan harinya.

Mulai dari Pilihan Sederhana

Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada siswa yang harus membantu orang tua setelah pulang sekolah, mahasiswa yang aktif berorganisasi, atau yang harus bekerja sambil kuliah. Karena itu, hidup sehat bukan berarti melakukan semua anjuran secara sempurna.

Yang lebih penting adalah memilih perubahan yang realistis dan dapat dilakukan secara konsisten. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Hidup sehat dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari sebagai berikut:

1. Pilih makanan dan minuman yang lebih bergizi.

  • Perbanyak konsumsi sayur, buah, serta sumber protein seperti telur, tempe, tahu, dan ikan.
  • Kurangi konsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta camilan ultra-proses yang rendah nilai gizi.
  • Pilih air putih sebagai minuman utama dan batasi konsumsi minuman berpemanis.

2. Pilih untuk tetap aktif bergerak setiap hari.

  • Luangkan sekitar 30 menit untuk berjalan kaki, bersepeda, senam, atau aktivitas fisik lainnya.
  • Kurangi waktu duduk yang terlalu lama dengan berdiri atau berjalan singkat setiap 30–60 menit.

3. Pilih waktu tidur yang cukup dan berkualitas.

  • Usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam.
  • Batasi penggunaan gawai dan media sosial menjelang waktu tidur agar kualitas istirahat lebih baik.

4. Pilih mengelola waktu dengan lebih bijak.

  • Kesibukan sekolah dan kuliah memang tidak dapat dihindari, tetapi menyisihkan waktu untuk makan, bergerak, dan beristirahat merupakan bagian dari menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan produktivitas belajar.

5. Pilih perubahan yang realistis dan konsisten.

  • Tidak perlu menunggu semua kondisi menjadi ideal.
  • Mulailah dari satu kebiasaan sehat yang paling mudah dilakukan, kemudian tingkatkan secara bertahap hingga menjadi bagian dari gaya hidup.

Hidup sehat tidak selalu membutuhkan biaya yang besar. Dalam banyak situasi, pilihan yang lebih sehat justru dapat dilakukan dengan biaya yang relatif sama, bahkan lebih hemat, dibandingkan pilihan yang kurang sehat. Yang membedakan sering kali bukan kemampuan finansial, melainkan kebiasaan yang dipilih dan dilakukan secara konsisten setiap hari.

Membangun gaya hidup sehat membutuhkan pengetahuan yang benar dan kemampuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata siap menjadi tempat bertumbuh bagi calon bidan yang profesional. Melalui pembelajaran yang berbasis bukti (evidence-based midwifery), mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat serta berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan perempuan, ibu, bayi, anak, remaja, dan keluarga.

Referensi

  1. Bull FC, Al-Ansari SS, Biddle S, et al. World Health Organization 2020 Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. British Journal of Sports Medicine. 2020;54(24):1451–1462. doi:10.1136/bjsports-2020-102955.
  2. World Health Organization. Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO; 2020.
  3. World Health Organization. Healthy Diet. Geneva: World Health Organization. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Sleep. Available at: https://www.cdc.gov/sleep/about/index.html
  5. Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. The Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228. doi:10.1016/S2352-4642(18)30022-1.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2024.
  8. World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: WHO; 2015.
  9. World Health Organization. Global Action Plan for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases 2013–2030. Geneva: WHO.