Bagi siswa SMA tingkat akhir, mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi umumnya identik dengan belajar lebih giat, mengejar nilai yang baik, dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai jalur seleksi masuk perguruan tinggi. Berhasil diterima di perguruan tinggi yang diinginkan tentu menjadi pencapaian yang membanggakan.
Namun, ada satu hal yang menurut Dosen Prodi S1 & Profesi Bidan Alma Ata Fatimatasari, M.Keb., Bd., juga perlu dipersiapkan sejak masih duduk di bangku SMA, yaitu kesiapan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Menurutnya, menjadi mahasiswa bukan sekadar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kehidupan mahasiswa memiliki ritme yang berbeda dengan kehidupan siswa, terutama dalam hal kebebasan dan tanggung jawab mengatur kehidupan sehari-hari.
“Persiapan untuk menghadapi ujian dan seleksi masuk perguruan tinggi tentu penting. Tetapi, jangan sampai kita lupa bahwa setelah berhasil diterima, ada kehidupan baru yang juga harus dijalani. Karena itu, sejak SMA siswa perlu mulai mempersiapkan diri bukan hanya untuk masuk perguruan tinggi, tetapi juga untuk menjadi mahasiswa,” jelas Fatimatasari.
Ia menjelaskan bahwa salah satu perubahan yang cukup besar ketika seseorang menjadi mahasiswa adalah semakin besarnya tanggung jawab terhadap pengelolaan waktu. Jika di sekolah sebagian besar kegiatan sudah memiliki jadwal yang relatif terstruktur, kehidupan mahasiswa memberikan ruang yang jauh lebih besar bagi mahasiswa untuk menentukan bagaimana waktunya digunakan.
Jadwal perkuliahan mungkin hanya berlangsung beberapa jam dalam sehari. Di luar itu, mahasiswa memiliki waktu yang dapat digunakan untuk belajar mandiri, mengerjakan tugas, berorganisasi, bersosialisasi, beristirahat, maupun melakukan berbagai kegiatan lainnya.
Menurut Fatimatasari, kondisi tersebut merupakan kesempatan sekaligus tantangan.
“Ketika menjadi mahasiswa, kita mendapatkan kebebasan yang lebih besar. Tetapi kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab. Ketika tidak ada orang lain yang mengatur seluruh waktu kita, maka kita sendiri yang harus mampu mengaturnya,” ujarnya.
Tantangan tersebut dapat menjadi lebih besar bagi mahasiswa yang meninggalkan daerah asal dan tinggal jauh dari orang tua. Bagi sebagian siswa yang sebelumnya hidup dalam lingkungan yang relatif familiar, kehidupan di kota baru dapat menghadirkan begitu banyak pengalaman yang menarik.
Lingkungan baru memungkinkan mahasiswa bertemu dengan lebih banyak orang, mencoba berbagai aktivitas, menikmati beragam hiburan, serta mengenal gaya hidup yang mungkin sebelumnya tidak pernah ditemui. Berbagai pilihan tersebut pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk. Mahasiswa tetap membutuhkan kehidupan sosial, waktu untuk beristirahat, serta kesempatan untuk mengeksplorasi dirinya.
Namun, menurut Fatimatasari, yang perlu dipelajari adalah kemampuan menentukan batas dan prioritas.
“Menikmati kehidupan sebagai mahasiswa tentu boleh. Bersosialisasi, mencoba hal baru, melakukan aktivitas yang menyenangkan, semuanya merupakan bagian dari proses tumbuh. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai hal-hal tersebut mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk tujuan utama kita datang ke perguruan tinggi,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa sebagian mahasiswa dapat terlena dengan berbagai pilihan yang tersedia di lingkungan barunya. Ada yang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hiburan hingga mengabaikan tugas akademik. Ada pula yang merasa harus mengikuti gaya hidup lingkungan pertemanannya agar dapat diterima, sehingga pengeluaran menjadi semakin besar dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan.
Selain itu, berbagai tawaran bisnis dan peluang mendapatkan penghasilan juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa. Menurut Fatimatasari, mencoba berwirausaha bukanlah sesuatu yang salah. Namun, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menilai apakah suatu aktivitas benar-benar memberikan manfaat atau justru membuat mereka kehilangan fokus terhadap pendidikan.
“Bukan berarti mahasiswa tidak boleh healing, bersosialisasi, mengikuti tren, berorganisasi, atau mencoba bisnis. Semua itu bisa menjadi pengalaman yang baik. Tetapi kita perlu tahu batasnya. Jangan sampai sesuatu yang awalnya hanya untuk bersenang-senang atau mencoba pengalaman baru justru membuat kuliah terbengkalai atau menimbulkan masalah yang lebih besar,” jelasnya.
Karena itu, Fatimatasari menilai ada beberapa bekal yang sebaiknya mulai disiapkan siswa sebelum memasuki kehidupan perguruan tinggi.
Memiliki tujuan sebagai kompas
Menurut Fatimatasari, hal pertama yang perlu dimiliki calon mahasiswa adalah tujuan yang jelas.
Kuliah sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara untuk mendapatkan gelar, tetapi sebagai proses untuk memperoleh ilmu, keterampilan, pengalaman, dan karakter yang akan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan setelah lulus.
“Niatkan kuliah untuk mencari ilmu dan mendapatkan bekal sebanyak-banyaknya agar kelak kita menjadi profesional yang mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Ketika tujuan itu jelas, kita memiliki kompas untuk menentukan pilihan,” tuturnya.
Tujuan tersebut dapat membantu mahasiswa ketika dihadapkan pada berbagai pilihan. Tidak semua hal yang menarik harus diikuti dan tidak semua kesempatan harus diambil.
Menurutnya, mahasiswa dapat belajar bertanya kepada diri sendiri sebelum mengambil keputusan: apakah aktivitas tersebut mendukung tujuan yang sedang diperjuangkan atau justru menjauhkan diri dari tujuan tersebut.
Belajar menggunakan kebebasan dengan bijaksana
Bekal berikutnya adalah kemampuan mengelola kebebasan.
Fatimatasari menjelaskan bahwa kedewasaan bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati kehidupan. Justru, mahasiswa perlu memiliki kesempatan untuk bersosialisasi, mencoba berbagai pengalaman, dan mengenali dirinya sendiri.
Namun, kemampuan membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik perlu terus diasah.
“Kebebasan akan menjadi sesuatu yang baik ketika kita sudah mampu bertanggung jawab terhadap pilihan kita sendiri. Karena itu, kedewasaan perlu dilatih sejak sekarang. Belajar mengatur waktu, mengatur uang, mempertimbangkan konsekuensi, dan berani mengatakan tidak merupakan bagian dari latihan tersebut,” katanya.
Ia menilai kemampuan tersebut penting terutama bagi mahasiswa yang akan tinggal jauh dari orang tua. Ketika pengawasan dari keluarga tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Tetap terhubung dengan orang tua dan orang-orang terdekat
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga hubungan dengan orang tua dan orang-orang terdekat.
Menurut Fatimatasari, menjadi mandiri tidak berarti harus menjalani semuanya seorang diri. Justru, kemampuan untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang dapat memberikan dukungan merupakan bagian dari kemandirian yang sehat.
“Ketika tinggal jauh dari orang tua, jangan merasa bahwa karena sudah menjadi mahasiswa berarti semuanya harus diselesaikan sendiri. Tetaplah berkomunikasi dengan orang tua. Ceritakan kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika membutuhkan bantuan. Jaga juga hubungan dengan teman-teman dan orang-orang yang selama ini benar-benar mengenal kita,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan tersebut dapat menjadi sumber dukungan ketika mahasiswa menghadapi kesulitan. Karena itu, jangan sampai kesibukan membangun kehidupan baru membuat seseorang justru menjauh dari orang-orang yang selama ini menjadi tempat untuk kembali.
Memilih lingkungan perguruan tinggi dengan baik
Selain mempersiapkan diri, calon mahasiswa juga perlu mempertimbangkan lingkungan tempat mereka akan belajar.
Fatimatasari mengingatkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk memperoleh nilai dan ijazah. Selama beberapa tahun, mahasiswa akan menghabiskan banyak waktu bersama dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa lainnya. Lingkungan tersebut akan menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya.
Karena itu, menurutnya, calon mahasiswa perlu melihat lebih jauh ketika memilih perguruan tinggi.
“Jangan hanya melihat perguruan tinggi dari nilai, fasilitas, atau seberapa terkenal namanya. Perhatikan juga lingkungannya. Apakah lingkungan tersebut benar-benar mendukung mahasiswa untuk berkembang? Apakah dosen dan civitas akademikanya serius membantu mahasiswa menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki bekal yang baik untuk kehidupan setelah lulus?” jelasnya.
Menurut Fatimatasari, perguruan tinggi yang baik bukan hanya membantu mahasiswa memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi juga memberikan lingkungan yang mendorong mahasiswa membangun karakter, mengembangkan kemampuan, dan memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Mahasiswa perlu berada di lingkungan yang memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu mereka menjadi pribadi dan profesional yang mumpuni. Lingkungan pendidikan seharusnya tidak membuat mahasiswa kehilangan arah, tetapi justru membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi dirinya,” ungkapnya.
Fatimatasari berharap siswa SMA yang sedang mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi tidak hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya diterima di kampus yang diinginkan.
Menurutnya, keberhasilan masuk perguruan tinggi hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.
“Jangan hanya siapkan diri untuk lolos masuk perguruan tinggi. Siapkan juga diri untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Karena setelah diterima, akan ada banyak kebebasan, pilihan, dan tantangan yang harus kita hadapi sendiri,” tuturnya.
Sebagai Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Fatimatasari melihat pentingnya menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mendukung mahasiswa untuk berkembang sebagai pribadi dan calon profesional.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya Prodi S1 & Profesi Bidan Alma Ata dalam membangun lingkungan belajar yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas akademika untuk saling mendukung dalam proses pendidikan.
Karena itu, bagi adik-adik SMA yang sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan kebidanan, Prodi S1 & Profesi Bidan Alma Ata dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Di lingkungan Alma Ata, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai ilmu kebidanan, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kemandirian, karakter, kemampuan bekerja sama, dan kesiapan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya datang untuk kuliah dan mendapatkan nilai. Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ilmu, karakter, kemandirian, dan kemampuan untuk memberikan manfaat ketika nanti kembali ke masyarakat,” pungkas Fatimatasari.
Jika saat ini kamu sedang mencari tempat untuk melanjutkan pendidikan kebidanan, mari siapkan langkahmu bersama S1 & Profesi Bidan Alma Ata. Jadikan masa kuliah bukan sekadar perjalanan untuk mendapatkan gelar, tetapi kesempatan untuk membangun ilmu, karakter, pengalaman, dan kesiapan menjadi bidan profesional.
Mari bertumbuh menjadi bidan yang kompeten, berkarakter, berakhlak Qur’ani, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Informasi pendaftaran melalui PMB Universitas Alma Ata.