Penulis: Prodi D3 Kebidanan

Dunia kesehatan anak saat ini sedang menghadapi pergeseran epidemiologis yang mengkhawatirkan. Diabetes, penyakit yang dulunya dianggap identik dengan orang dewasa atau lansia, kini semakin agresif menyerang kelompok usia anak-anak dan remaja.

Data terbaru dari jurnal-jurnal internasional terkemuka di tahun 2024 dan 2025 menunjukkan bahwa kita tidak lagi sekadar menghadapi “peningkatan”, melainkan sebuah “lonjakan” yang membutuhkan perhatian serius dari orang tua, tenaga medis, dan pembuat kebijakan.

1. Statistik Global: Angka yang Mengguncang

Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam Frontiers in Endocrinology (2025) menganalisis beban diabetes global pada anak dan remaja dari tahun 1990 hingga 2021. Temuan utamanya sangat mengejutkan:

  1. Kenaikan Insiden: Insiden diabetes pada kelompok usia ini meningkat sekitar 94% secara global dalam tiga dekade terakhir.
  2. Proyeksi Suram: Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi, beban kesehatan di masa depan akan sangat besar, mengingat anak-anak ini akan hidup dengan diabetes lebih lama dibandingkan pasien yang terdiagnosis saat dewasa.

2. Diabetes Tipe 2: Bukan Lagi Penyakit Orang Tua

Perubahan paling drastis terlihat pada Diabetes Tipe 2. Dahulu, tipe ini sangat jarang ditemukan pada anak-anak. Namun, penelitian terbaru menyoroti korelasi kuat antara gaya hidup modern dan lonjakan kasus ini.

  1. Faktor Gaya Hidup: The Lancet Diabetes & Endocrinology dan tinjauan dari Canadian Diabetes and Endocrinology Today (2025) menyoroti bahwa obesitas pada masa kanak-kanak adalah pendorong utama. Peningkatan konsumsi makanan ultra-proses, minuman manis, dan gaya hidup sedentari (kurang gerak) menciptakan “badai sempurna” bagi resistensi insulin pada tubuh anak yang sedang berkembang.
  2. Disparitas Sosial: Studi juga menemukan bahwa anak-anak dari latar belakang sosio-ekonomi rendah atau kelompok etnis minoritas memiliki risiko yang tidak proporsional lebih tinggi, sering kali karena terbatasnya akses ke makanan sehat dan ruang bermain yang aman.

4. Diabetes Tipe 1: Peningkatan yang Stabil namun Misterius

Sementara Tipe 2 melonjak karena gaya hidup, Diabetes Tipe 1 (autoimun) juga menunjukkan peningkatan insiden yang stabil sekitar 3-4% per tahun secara global.

Sebuah studi di JAMA (2024) mengindikasikan bahwa pada anak-anak yang sudah memiliki risiko genetik atau antibodi awal (presimptomatik), infeksi virus (termasuk COVID-19) dapat mempercepat transisi menuju diabetes klinis.

Implikasi dan Langkah ke Depan

Peningkatan ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah peringatan dini bagi masa depan kesehatan masyarakat. Anak dengan diabetes menghadapi risiko komplikasi jangka panjang yang lebih dini, seperti penyakit ginjal, kerusakan saraf, dan masalah kardiovaskular.

Rekomendasi Ahli (Berdasarkan ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024):

  1. Skrining Dini: Pentingnya memantau gula darah dan HbA1c, terutama pada anak dengan kelebihan berat badan.
  2. Edukasi Keluarga: Penanganan diabetes pada anak memerlukan keterlibatan seluruh keluarga dalam mengubah pola makan dan aktivitas fisik.
  3. Teknologi: Pemanfaatan Continuous Glucose Monitoring (CGM) kini semakin direkomendasikan untuk membantu kontrol gula darah yang lebih baik dan mengurangi stres pada anak.

Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi

D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul

Referensi

1.     Yu Hu, et.al 2025. Analysis of the global burden of diabetes and attributable risk factor in children and adolescents across 204 countries and regions from 1990 to 2021. Frontiers in Endocrinology. https://www.frontiersin.org/journals/endocrinology/articles/10.3389/fendo.2025.1587055/full

2.     Tatiana McIntyre. 2023. Disrupted Pediatric Diabetes Trends in the Second Year of the COVID-19 Pandemic. Journal of the Endocrine Society. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37457848/

  1. ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024: Panduan standar perawatan diabetes anak internasional terbaru.