Penulis: Fatimah, S.SiT., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Alergi merupakan salah satu masalah kesehatan kronis yang paling sering dialami oleh anak-anak di seluruh dunia. Data terbaru menunjukkan tren peningkatan kasus alergi pada populasi anak, baik itu alergi makanan maupun alergi lingkungan.

Memahami jenis alergi yang paling umum dapat membantu orang tua dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan yang tepat. Berikut adalah rangkuman jenis alergi yang paling sering menyerang anak berdasarkan literatur medis terkini.

1. Alergi Makanan (Food Allergy)

Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh anak bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu dalam makanan. Sekitar 4-8% anak-anak memiliki setidaknya satu jenis alergi makanan.

Pemicu Paling Umum:

Menurut data terbaru, “The Big 9” (9 bahan makanan utama) penyebab mayoritas reaksi alergi adalah:

  1. Susu Sapi: Merupakan alergi makanan pada bayi dan anak kecil. Gejala sering muncul pada tahun pertama kehidupan. Berita baiknya, banyak anak yang akan “tumbuh” (sembuh) dari alergi ini saat usia sekolah.
  2. Telur: Terutama pada bagian putih telur, meski kuning telur juga bisa memicu reaksi.
  3. Kacang Tanah (Peanut): Berbeda dengan susu, alergi kacang tanah cenderung menetap seumur hidup dan berisiko tinggi menyebabkan reaksi anafilaksis (reaksi alergi berat).
  4. Makanan Laut (Seafood): Termasuk ikan (seperti tuna, salmon) dan kerang-kerangan (udang, kepiting, lobster).
  5. Gandum & Kedelai: Sering ditemukan pada makanan olahan.

Catatan Penting 2025: Sejak 2023-2024, Wijen (Sesame) telah resmi masuk dalam daftar alergen utama global yang wajib dicantumkan pada label makanan di banyak negara karena peningkatan kasus yang signifikan

2. Dermatitis Atopik (Eksim)

Dermatitis atopik adalah kondisi peradangan kulit kronis yang sering menjadi tanda awal dari “Allergic March” (perjalanan penyakit alergi dari kulit ke pernapasan).

  1. Prevalensi: Dialami oleh sekitar 10-20% anak di seluruh dunia.
  2. Ciri Khas: Kulit kering, gatal hebat, kemerahan, dan bersisik. Pada bayi, sering muncul di pipi dan kulit kepala. Pada anak yang lebih besar, sering muncul di lipatan siku dan lutut.
  3. Pemicu: Udara kering, sabun berbahan keras, kain wol, atau stres. Pada sebagian kasus, eksim berkaitan erat dengan alergi makanan.

3. Rhinitis Alergi (Alergi Pernapasan)

Sering disebut sebagai hay fever, kondisi ini mempengaruhi saluran pernapasan atas.

  1. Pemicu Utama:

1)    Tungau Debu Rumah: Pemicu paling umum di negara tropis seperti Indonesia karena kelembaban tinggi.

2)    Serbuk Sari (Pollen): Sering terjadi musiman (jika tinggal di negara 4 musim) atau sepanjang tahun.

3)    Bulu Hewan Peliharaan: Reaksi terhadap protein pada kulit mati (dander), air liur, atau urin hewan (kucing/anjing).

  1. Gejala: Bersin berulang (terutama pagi hari), hidung meler atau tersumbat, mata gatal dan berair, serta allergic shiners (lingkaran gelap di bawah mata)

4. Asma Alergi

Banyak kasus asma pada anak dipicu oleh alergi. Jika anak memiliki riwayat eksim atau rhinitis alergi, risiko terkena asma akan meningkat.

  • Gejala: Batuk (terutama malam hari atau saat beraktivitas), napas berbunyi (mengi), dan sesak napas.

Tanda Bahaya: Anafilaksis

Orang tua wajib mewaspadai Anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang mengancam nyawa. Gejalanya meliputi:

  1. Sesak nafas mendadak.
  2. Bengkak pada bibir, lidah, atau tenggorokan.
  3. Penurunan kesadaran (pingsan).
  4. Ruam merah di seluruh tubuh.
  5. Muntah terus-menerus.
  6. Tindakan: Segera bawa ke IGD terdekat jika gejala ini muncul.

Referensi

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2024). Proceeding Book: 9th Indonesian Pediatric and Clinical Immunology Meeting. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
  2. Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA). (April 2025). Allergy Facts and Figures: 2025.
  3. American Academy of Pediatrics (AAP). (2024). Clinical Report: Management of Food Allergy in the School Setting. Pediatrics Journal.
  4. Global Initiative for Asthma (GINA). (2024). Global Strategy for Asthma Management and Prevention: Updated 2024.