Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Dahulu, hipertensi (tekanan darah tinggi) dianggap sebagai penyakit “orang tua”. Namun, paradigma ini telah bergeser secara drastis dalam dekade terakhir. Kita kini menghadapi krisis kesehatan pediatrik global di mana remaja semakin banyak didiagnosis mengalami hipertensi esensial, kondisi yang secara historis jarang ditemukan pada kelompok usia ini. Pendorong utamanya tidak lain adalah epidemi obesitas yang terus melonjak.

Artikel ini menelusuri data terbaru, mekanisme biologis, dan faktor risiko modern yang menghubungkan obesitas dengan hipertensi pada remaja.

1. Fakta dan Angka: Sebuah Krisis Global

Data terbaru melukiskan gambaran yang mengkhawatirkan. Menurut World Health Organization (WHO) dalam laporannya yang diperbarui pada pertengahan 2024, obesitas pada remaja telah meningkat empat kali lipat sejak tahun 1990. Pada tahun 2022 saja, tercatat lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan (overweight), dengan 160 juta di antaranya hidup dengan obesitas.

Sebuah meta-analisis masif yang diterbitkan di JAMA Pediatrics (Juni 2024) menyoroti bahwa prevalensi global obesitas pada anak dan remaja kini mencapai angka 8,5%, dengan lonjakan 1,5 kali lipat yang diamati pada periode 2012–2023 dibandingkan dekade sebelumnya. Peningkatan massa tubuh ini berbanding lurus dengan peningkatan tekanan darah.

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa remaja dengan obesitas memiliki risiko 3 hingga 5 kali lebih tinggi untuk terkena hipertensi dibandingkan rekan mereka yang memiliki berat badan normal.

2. Mekanisme: Bagaimana Lemak Memicu Tekanan Darah?

Mengapa kelebihan lemak tubuh menyebabkan tekanan darah naik? Riset terbaru dari jurnal Hypertension dan Nutrients (2024/2025) menjelaskan bahwa ini bukan sekadar beban fisik tubuh yang lebih berat, melainkan serangkaian reaksi biologis yang kompleks:

  1. Aktivasi Sistem Saraf Simpatis (SNS): Jaringan lemak (adiposa), terutama lemak perut (viseral), memproduksi hormon leptin. Pada remaja obesitas, kadar leptin yang tinggi secara kronis merangsang sistem saraf simpatis, yang memicu jantung memompa lebih cepat dan pembuluh darah menyempit.
  2. Peradangan Kronis: Obesitas kini dipahami sebagai kondisi inflamasi tingkat rendah. Sel lemak melepaskan sitokin pro-inflamasi (seperti TNF-alpha dan IL-6) yang merusak lapisan dinding pembuluh darah (endotel), membuatnya kaku dan sulit melebar.
  3. Resistensi Insulin: Studi dalam jurnal Nutrients (2025) menemukan adanya “efek sinergis” yang kuat antara obesitas dan resistensi insulin. Insulin yang tinggi dalam darah memicu ginjal untuk menahan natrium (garam), yang pada gilirannya meningkatkan volume darah dan tekanan darah.

3. Peran Ultra-Processed Food (UPF)

Salah satu temuan paling signifikan di tahun 2024 adalah hubungan langsung antara konsumsi Ultra-Processed Food (makanan ultra-proses seperti keripik, mi instan, minuman manis kemasan) dengan hipertensi.

Studi yang dipublikasikan oleh American Heart Association (AHA) dalam jurnal Hypertension (Desember 2024) menemukan hubungan linear positif: semakin tinggi konsumsi UPF, semakin tinggi risiko insiden hipertensi. Remaja yang berada di kuartil tertinggi konsumsi UPF memiliki peluang 23% lebih besar untuk mengalami hipertensi. Hal ini disebabkan oleh kandungan natrium tersembunyi, kurangnya serat, dan zat aditif yang mengganggu metabolisme.

4. Definisi Baru dan Dampak Jangka Panjang

Penting untuk dicatat bahwa pedoman medis telah berubah untuk menangkap masalah ini lebih awal. Pedoman global dan American Academy of Pediatrics (AAP) kini menyederhanakan definisi hipertensi untuk remaja (≥13 tahun) agar selaras dengan panduan dewasa, yaitu: ≥130/80 mmHg.

Jika tidak ditangani, dampaknya fatal. Penelitian dalam Journal of Hypertension (2025) memperingatkan bahwa remaja dengan kombinasi obesitas dan hipertensi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda awal kerusakan organ, seperti penebalan otot jantung (Left Ventricular Hypertrophy) dan penurunan fungsi filtrasi ginjal, bahkan sebelum mereka mencapai usia 20 tahun.

Langkah Pencegahan dan Kesimpulan

Kenaikan kasus ini adalah panggilan darurat bagi orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan. Kuncinya bukan hanya pada “diet ketat”, melainkan perubahan gaya hidup struktural:

  1. Reduksi UPF: Mengganti camilan kemasan dengan whole foods (buah, kacang-kacangan).
  2. Aktivitas Fisik: Minimal 60 menit aktivitas moderat-ke-berat setiap hari.
  3. Tidur Cukup: Kurang tidur terbukti meningkatkan resistensi insulin dan keinginan makan junk food.

Hipertensi pada remaja adalah “bom waktu” kardiometabolik. Namun, tidak seperti faktor genetik, obesitas dan pola makan adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.

Referensi

  1. JAMA Pediatrics (2024). Global Prevalence of Overweight and Obesity in Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-Analysis.
  2. Hypertension (AHA Journals, Dec 2024). Ultra-Processed Food Consumption and Hypertension Risk in the REGARDS Cohort Study.
  3. World Health Organization (2024). Obesity and Overweight Fact Sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/obesity-and-overweight
  4. Nutrients (MDPI, 2025). Interactive and Joint Effects of Obesity and Insulin Resistance on Hypertension in Adolescents. https://www.mdpi.com/2072-6643/17/17/2783
  5. PMC / Dovepress (2024/2025). Hypertension, Obesity, and Target Organ Injury in Children: An Emerging Health Care Crisis. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40014185/