S1 Profesi Bidan Alma Ata — Menjadi mahasiswa merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju masa depan. Namun, di balik berbagai pengalaman akademik dan organisasi, mahasiswa juga dapat menghadapi beragam tekanan, mulai dari tugas yang menumpuk, jadwal kuliah dan praktikum yang padat, kegiatan organisasi, penyusunan skripsi, hingga tuntutan untuk memperoleh hasil akademik yang baik.

Merasa lelah setelah menjalani berbagai aktivitas tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, ketika rasa lelah berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi motivasi, konsentrasi, maupun kemampuan menjalani aktivitas perkuliahan, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian.

Dosen S1 Kebidanan Universitas Alma Ata, Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb, menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memahami perbedaan antara kelelahan biasa dan burnout agar dapat lebih peka terhadap kondisi dirinya.

Capek Biasa atau Burnout?

Kelelahan umumnya muncul setelah seseorang melakukan banyak aktivitas. Kondisi tersebut biasanya dapat membaik setelah mendapatkan tidur yang cukup, beristirahat, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Berbeda dengan kelelahan biasa, burnout ditandai dengan kelelahan yang lebih menetap, disertai munculnya sikap semakin tidak peduli atau sinis terhadap aktivitas yang dijalani serta perasaan bahwa kemampuan diri semakin menurun.

“Tidak semua rasa lelah berarti burnout. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kelelahan berlangsung terus-menerus, tidak membaik meskipun sudah beristirahat, dan mulai mengganggu aktivitas maupun motivasi kita,” jelas Bdn. Adenia.

Kajian sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 dan melibatkan lebih dari 26.000 mahasiswa menunjukkan bahwa burnout merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian pada populasi mahasiswa.

Burnout Tidak Selalu Terlihat dari Luar

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah burnout tidak selalu tampak secara jelas. Seorang mahasiswa dapat tetap mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, bahkan aktif dalam organisasi, tetapi secara internal sedang mengalami kelelahan mental yang cukup berat.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain kesulitan tidur, sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan motivasi, sering merasa kewalahan, serta mulai menarik diri dari lingkungan sosial.

World Health Organization (WHO) juga menjelaskan bahwa stres yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Dampaknya dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga masalah tidur.

“Mahasiswa sering kali merasa harus tetap kuat dan produktif meskipun sebenarnya sedang kewalahan. Padahal, mengenali kondisi diri dan memberikan waktu untuk beristirahat merupakan bagian dari menjaga kesehatan,” tambah Bdn. Adenia.

Jangan Menunggu Sampai Benar-Benar Tidak Sanggup

Ketika mulai merasakan tanda-tanda kelelahan yang menetap, mahasiswa tidak perlu menunggu hingga kondisinya semakin berat. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti mengatur kembali jadwal kegiatan, memastikan waktu tidur dan istirahat yang cukup, makan secara teratur, melakukan aktivitas fisik, serta berbicara dengan orang yang dipercaya.

Mengurangi beban aktivitas untuk sementara juga bukan berarti malas atau gagal. Sebaliknya, kemampuan untuk mengenali batas diri merupakan bagian dari keterampilan menjaga kesehatan dan kesejahteraan diri.

Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa strategi pengelolaan stres, aktivitas fisik, mindfulness, serta pendekatan mind-body dapat membantu mendukung kesehatan mental mahasiswa.

Kesehatan Diri Juga Bagian dari Perjalanan Kuliah

Menjalani pendidikan tinggi bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan memperoleh nilai yang baik. Proses menjadi mahasiswa juga merupakan perjalanan untuk belajar mengenali kemampuan, kebutuhan, serta batas diri.

“Tidak semua hari harus produktif dan tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Ketika mahasiswa mulai merasa kewalahan, kehilangan motivasi, atau mengalami kelelahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan,” ujar Bdn. Adenia.

Mahasiswa dapat berdiskusi dengan dosen wali, konselor kampus, psikolog, tenaga kesehatan, maupun orang yang dipercaya apabila membutuhkan dukungan.

Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan. Justru, kemampuan untuk mengenali kondisi diri, meminta bantuan ketika diperlukan, dan mengambil langkah untuk menjaga kesehatan merupakan bagian penting dari proses belajar dan bertumbuh sebagai mahasiswa.

Kuliah memang penting, tetapi kesehatan diri juga merupakan bagian dari perjalanan menuju masa depan.

Written by Admin S1 Profesi Bidan