by Admin Kebidanan | Feb 2, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Masa remaja merupakan fase transisi krusial yang dikenal sebagai the second window of opportunity atau jendela kesempatan kedua setelah periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Bagi remaja perempuan, fase ini bukan sekadar tentang pertumbuhan fisik, melainkan fondasi utama bagi kesehatan reproduksi, ketahanan mental, dan kualitas generasi penerus bangsa.
Nutrisi dan Fondasi Fisik: Memutus Rantai Stunting
Salah satu tantangan kesehatan terbesar bagi remaja perempuan di Indonesia adalah anemia defisiensi besi. Data nasional menunjukkan angka anemia pada remaja putri masih cukup tinggi, yang berdampak pada penurunan konsentrasi belajar dan kebugaran.
Dalam jangka panjang, remaja putri yang anemia berisiko tinggi menjadi ibu hamil yang anemia, yang merupakan salah satu penyebab utama kelahiran bayi stunting. Oleh karena itu, intervensi hulu seperti pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin menjadi sangat vital untuk memastikan remaja putri tumbuh optimal tanpa hambatan kesehatan kronis.
Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM)
Informasi mengenai manajemen kebersihan menstruasi sering kali masih dianggap tabu, padahal sangat penting untuk mencegah infeksi saluran kemih dan reproduksi. Remaja perempuan perlu mendapatkan edukasi mengenai cara penggantian pembalut secara rutin (setiap 4–6 jam), penggunaan air bersih, serta pemahaman bahwa menstruasi adalah proses biologis normal, bukan sesuatu yang memalukan atau membuat mereka “kotor”.
Resiliensi Mental dan Keamanan di Era Digital
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental remaja perempuan memerlukan perhatian khusus. Di era digital, remaja perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan (anxiety) akibat tekanan standar kecantikan (body image) di media sosial.
Lebih jauh lagi, literasi digital menjadi aspek perlindungan diri yang penting. Remaja perempuan harus dibekali pengetahuan untuk mengenali dan menghindari Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), seperti pelecehan di dunia maya atau penyebaran konten pribadi tanpa izin. Membangun resiliensi mental berarti memberikan mereka keberanian untuk menetapkan batasan (boundaries) dan mencari bantuan jika merasa tidak aman di ruang digital.
Peran Strategis Posyandu Remaja
Meskipun sering identik dengan pemeriksaan fisik, Posyandu Remaja berperan sebagai “Safe Space” atau ruang aman bagi remaja perempuan untuk mendapatkan informasi akurat. Di sini, mereka tidak hanya dipantau kesehatannya, tetapi juga diberdayakan melalui pendidik sebaya (peer counselor). Dengan membekali remaja perempuan literasi kesehatan yang utuh dan kecakapan digital, kita sedang menyiapkan calon ibu yang cerdas, sehat secara fisik, dan tangguh secara mental untuk menuju Indonesia Emas 2045.
Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.
Sumber Pustaka :
1. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (2020). Panduan Mengenali dan Mencegah Kekerasan Berbasis Gender Online. Jakarta: KemenPPPA.
2. UNICEF Indonesia. (2021). Profil Manajemen Kebersihan Menstruasi di Indonesia. Jakarta: UNICEF.
3. Azzahra, S., & Kurniasari, R. (2022). “Pentingnya Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri untuk Pencegahan Stunting”. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(3).
4. Putri, A. W., dkk. (2020). “Kesehatan Mental Remaja di Era Digital: Tantangan dan Solusi”. Jurnal Penelitian Psikologi, 11(2).
5. Hulu, V. T., dkk. (2022). “Kaitan Citra Tubuh (Body Image) dengan Rasa Percaya Diri pada Remaja Perempuan”. Jurnal Psikologi Kesehatan, 5(1).
6. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
7. World Health Organization (WHO). (2021). Adolescent Health: Facing the Future. Geneva: WHO Press.
by Admin Kebidanan | Jan 30, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Banyak penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang terbiasa hidup dengan “rasa terbakar” di dada dan hanya mengandalkan obat antasida warung saat kambuh. Namun, data medis menunjukkan bahwa membiarkan esofagus (kerongkongan) terpapar asam lambung secara kronis, bertahun-tahun dapat memicu kerusakan jaringan yang permanen dan berbahaya.
1. Esofagitis Erosif: Luka Kronis
Ini adalah komplikasi tahap awal yang paling umum. Asam lambung yang bersifat korosif (pH 1-2) mengikis lapisan mukosa kerongkongan.
- Dampak: Terjadi peradangan, pembengkakan, dan luka terbuka (ulkus).
- Gejala: Nyeri saat menelan (odynophagia) dan risiko perdarahan yang bisa menyebabkan anemia atau muntah darah. Penyembuhan total esofagitis erosif seringkali memerlukan terapi obat penekan asam (PPI) selama minimal 8 minggu.
2. Striktur Esofagus (Penyempitan Saluran)
Tubuh berusaha menyembuhkan luka akibat asam dengan membentuk jaringan parut (scar tissue). Sayangnya, proses penyembuhan ini bisa menjadi masalah baru.
- Mekanisme: Jaringan parut bersifat kaku dan tidak elastis. Jika menumpuk, jaringan ini akan mempersempit diameter kerongkongan.
- Gejala Klinis: Disfagia atau kesulitan menelan. Pasien sering merasa makanan “tersangkut” di dada, yang bisa memicu penurunan berat badan drastis karena takut makan.
3. Barrett’s Esophagus: Transformasi Sel Prakanker
Ini adalah komplikasi yang paling diwaspadai oleh dokter spesialis gastroenterologi.
- Mutasi Sel (Metaplasia): Sebagai mekanisme pertahanan diri, sel-sel pelapis kerongkongan (skuamosa) berubah bentuk menyerupai sel-sel usus (kolumnar) yang lebih tahan asam. Perubahan ini disebut Barrett’s Esophagus.
- Risiko: Meskipun sel ini lebih “tahan banting”, mereka tidak stabil secara genetik. Jurnal Gastroenterology menyebutkan bahwa pasien dengan Barrett’s memiliki risiko 30-40 kali lipat lebih tinggi terkena kanker esofagus dibandingkan populasi umum.
4. Adenokarsinoma Esofagus (Kanker Kerongkongan)
Ini adalah ujung tombak dari komplikasi GERD yang paling fatal.
- Tren Global: adenokarsinoma esofagus adalah salah satu jenis kanker dengan pertumbuhan tercepat di negara maju, berkorelasi lurus dengan peningkatan angka obesitas dan GERD kronis.
- Deteksi: Kanker ini sering kali tidak bergejala di tahap awal, itulah sebabnya pemantauan rutin (surveilans) pada pasien GERD kronis sangat vital.
5. Komplikasi Ekstra-Esofageal (Di Luar Saluran Cerna)
Asam lambung tidak hanya merusak kerongkongan, tetapi bisa naik lebih tinggi (laringofaringeal) atau teraspirasi ke paru-paru (mikro-aspirasi).
- Paru-paru: GERD yang tidak terkontrol dapat memicu atau memperparah asma, menyebabkan bronkitis kronis, hingga fibrosis paru idiopatik (jaringan parut di paru-paru) akibat iritasi asam yang terhirup sedikit demi sedikit saat tidur.
- Gigi dan Mulut: Asam yang mencapai rongga mulut dapat mengikis enamel gigi bagian dalam, menyebabkan gigi sensitif dan keropos yang parah.
Kesimpulan
GERD bukanlah penyakit yang boleh dianggap “normal”. Perjalanan penyakit ini bersifat progresif: dimulai dari peradangan (esofagitis), penyempitan (striktur), perubahan sel (Barrett’s), hingga keganasan (kanker).
Kabar baiknya, komplikasi ini sangat bisa dicegah. Pengobatan dini, perubahan gaya hidup yang konsisten, dan pemantauan endoskopi berkala bagi pasien berisiko tinggi adalah kunci untuk memutus mata rantai kerusakan ini.
Artikel kesehatan yang menarik lainya tentang Gerd bisa diakses di website Prodi
D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul
Referensi
- Katz, P. O., et al. 2022. ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease. The American Journal of Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34807007/
- Rakhmetova, V, et,al. 2024. New Mechanisms of Barrett’s Esophagus Development. Journal of Clinical Medicine of Kazakhstan. https://www.clinmedkaz.org/article/new-mechanisms-of-barretts-esophagus-development-14680
- WHO. 2026. The global landscape of esophageal squamous cell carcinoma and esophageal adenocarcinoma incidence and mortality in 2020 and projections to 2040: new estimates from GLOBOCAN 2020. https://www.iarc.who.int/news-events/the-global-landscape-of-esophageal-squamous-cell-carcinoma-and-esophageal-adenocarcinoma-incidence-and-mortality-in-2020-and-projections-to-2040-new-estimates-from-globocan-2020/
by Admin Kebidanan | Jan 28, 2026 | Artikel D3
“Terkadang, obat terbaik untuk hati yang lelah bukanlah resep dokter, melainkan telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi.”
Siapa yang tidak terpesona dengan kembalinya Kim Seon-ho di drama terbarunya, Can This Love Be Translated?. Dipasangkan dengan Go Youn-jung, drama ini tidak hanya menyuguhkan visual yang memanjakan mata, tetapi juga premis cerita yang unik tentang seorang penerjemah multibahasa dan seorang bintang top.
Namun, di balik bumbu romansa dan komedinya, drama ini menyentil isu yang sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama bagi generasi muda: Kesehatan Mental dan Komunikasi.
Seringkali kita merasa berbicara dengan bahasa yang sama (Bahasa Indonesia), tapi kenapa rasanya lawan bicara kita tidak paham apa yang kita rasakan?
1. Fenomena “Lost in Translation” pada Emosi
Dalam drama, tokoh Joo Ho-jin (Kim Seon-ho) bekerja menerjemahkan bahasa asing. Tapi di dunia nyata, tugas terberat kita sebenarnya adalah menerjemahkan isi kepala dan perasaan agar dimengerti orang lain.
Banyak masalah kesehatan mental, mulai dari burnout, kecemasan (anxiety), hingga depresi, berawal dari emosi yang gagal diterjemahkan. Kita sering bilang “Aku nggak apa-apa” (I’m fine), padahal hati berteriak “Tolong dengarkan aku”. Ketidakmampuan lingkungan untuk memahami kode ini sering membuat seseorang merasa terisolasi.
2. Pentingnya Validasi: Lebih dari Sekadar Kata-kata
Pelajaran mahal dari drakor ini adalah tentang Validasi. Kesehatan mental yang terjaga dimulai dari perasaan “diterima”.
Ketika seseorang curhat tentang lelahnya kuliah, beratnya pekerjaan, atau pusingnya masalah percintaan, mereka seringkali tidak butuh solusi. Mereka butuh penerjemah yang bisa berkata: “Wajar kok kamu merasa begitu,” atau “Aku ngerti kenapa kamu marah.”
Validasi adalah P3K (Pertolongan Pertama) pada kecelakaan mental. Tanpa validasi, “luka” kecil di hati bisa menjadi infeksi yang berbahaya bagi jiwa.
3. Apa Kaitannya dengan Dunia Kesehatan?
Meskipun drama ini tentang industri hiburan, filosofi “penerjemah” ini sangat relevan dengan dunia kesehatan, termasuk kebidanan.
Tahukah kamu? Tenaga kesehatan modern tidak lagi hanya diajarkan menyuntik atau memberi obat. Di jurusan kesehatan yang berkualitas, mahasiswa diajarkan seni Komunikasi Terapeutik.
Seorang Bidan, misalnya, sejatinya adalah “Penerjemah Kehidupan”.
- Menerjemahkan rasa sakit ibu menjadi semangat.
- Menerjemahkan tangisan bayi menjadi tanda kehidupan.
- Menerjemahkan kecemasan remaja menjadi rasa aman.
Kemampuan mendengarkan dan memahami emosi orang lain (empati tingkat tinggi) adalah skill mahal yang dibutuhkan di semua lini pekerjaan masa depan, bukan hanya di rumah sakit.
Belajar dari Can This Love Be Translated?, mari kita mulai lebih peka. Tanyakan kabar temanmu dengan sungguh-sungguh. Dengarkan tanpa memotong. Di Universitas Alma Ata, khususnya Prodi D3 Kebidanan, kami percaya bahwa healing terbaik dimulai dari hearing (mendengarkan) yang baik. Ingin punya skill komunikasi sekeren Kim Seon-ho tapi versi tenaga kesehatan? Yuk, kepoin prodi kami yang sudah Terakreditasi Unggul dan menjadi salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja.
Referensi:
- Goleman, D. (2021). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books
- Adler, R. B., & Proctor, II, R. F. (2019). Looking Out, Looking In. Cengage Learning.
- Lee, S., et al. (2023). The Impact of Korean Dramas on Mental Health Awareness among Youth. Journal of Cultural and Psychological Studies.
- Linehan, M. M. (2018). Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder. Guilford Press.
- World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health: Strengthening Our Response
- Kementerian Kesehatan RI. (2022). Kurikulum Berbasis Kompetensi Tenaga Kesehatan: Komunikasi Terapeutik
by Admin Kebidanan | Jan 26, 2026 | Artikel D3
Penulis: Prodi D3 Kebidanan
Dunia kesehatan anak saat ini sedang menghadapi pergeseran epidemiologis yang mengkhawatirkan. Diabetes, penyakit yang dulunya dianggap identik dengan orang dewasa atau lansia, kini semakin agresif menyerang kelompok usia anak-anak dan remaja.
Data terbaru dari jurnal-jurnal internasional terkemuka di tahun 2024 dan 2025 menunjukkan bahwa kita tidak lagi sekadar menghadapi “peningkatan”, melainkan sebuah “lonjakan” yang membutuhkan perhatian serius dari orang tua, tenaga medis, dan pembuat kebijakan.
1. Statistik Global: Angka yang Mengguncang
Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam Frontiers in Endocrinology (2025) menganalisis beban diabetes global pada anak dan remaja dari tahun 1990 hingga 2021. Temuan utamanya sangat mengejutkan:
- Kenaikan Insiden: Insiden diabetes pada kelompok usia ini meningkat sekitar 94% secara global dalam tiga dekade terakhir.
- Proyeksi Suram: Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi, beban kesehatan di masa depan akan sangat besar, mengingat anak-anak ini akan hidup dengan diabetes lebih lama dibandingkan pasien yang terdiagnosis saat dewasa.
2. Diabetes Tipe 2: Bukan Lagi Penyakit Orang Tua
Perubahan paling drastis terlihat pada Diabetes Tipe 2. Dahulu, tipe ini sangat jarang ditemukan pada anak-anak. Namun, penelitian terbaru menyoroti korelasi kuat antara gaya hidup modern dan lonjakan kasus ini.
- Faktor Gaya Hidup: The Lancet Diabetes & Endocrinology dan tinjauan dari Canadian Diabetes and Endocrinology Today (2025) menyoroti bahwa obesitas pada masa kanak-kanak adalah pendorong utama. Peningkatan konsumsi makanan ultra-proses, minuman manis, dan gaya hidup sedentari (kurang gerak) menciptakan “badai sempurna” bagi resistensi insulin pada tubuh anak yang sedang berkembang.
- Disparitas Sosial: Studi juga menemukan bahwa anak-anak dari latar belakang sosio-ekonomi rendah atau kelompok etnis minoritas memiliki risiko yang tidak proporsional lebih tinggi, sering kali karena terbatasnya akses ke makanan sehat dan ruang bermain yang aman.
4. Diabetes Tipe 1: Peningkatan yang Stabil namun Misterius
Sementara Tipe 2 melonjak karena gaya hidup, Diabetes Tipe 1 (autoimun) juga menunjukkan peningkatan insiden yang stabil sekitar 3-4% per tahun secara global.
Sebuah studi di JAMA (2024) mengindikasikan bahwa pada anak-anak yang sudah memiliki risiko genetik atau antibodi awal (presimptomatik), infeksi virus (termasuk COVID-19) dapat mempercepat transisi menuju diabetes klinis.
Implikasi dan Langkah ke Depan
Peningkatan ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah peringatan dini bagi masa depan kesehatan masyarakat. Anak dengan diabetes menghadapi risiko komplikasi jangka panjang yang lebih dini, seperti penyakit ginjal, kerusakan saraf, dan masalah kardiovaskular.
Rekomendasi Ahli (Berdasarkan ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024):
- Skrining Dini: Pentingnya memantau gula darah dan HbA1c, terutama pada anak dengan kelebihan berat badan.
- Edukasi Keluarga: Penanganan diabetes pada anak memerlukan keterlibatan seluruh keluarga dalam mengubah pola makan dan aktivitas fisik.
- Teknologi: Pemanfaatan Continuous Glucose Monitoring (CGM) kini semakin direkomendasikan untuk membantu kontrol gula darah yang lebih baik dan mengurangi stres pada anak.
Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi
D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul
Referensi
1. Yu Hu, et.al 2025. Analysis of the global burden of diabetes and attributable risk factor in children and adolescents across 204 countries and regions from 1990 to 2021. Frontiers in Endocrinology. https://www.frontiersin.org/journals/endocrinology/articles/10.3389/fendo.2025.1587055/full
2. Tatiana McIntyre. 2023. Disrupted Pediatric Diabetes Trends in the Second Year of the COVID-19 Pandemic. Journal of the Endocrine Society. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37457848/
- ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024: Panduan standar perawatan diabetes anak internasional terbaru.
by Admin Kebidanan | Jan 23, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Darah Tinggi Saat Hamil: Alarm Bahaya yang Sering Terabaikan
Kehamilan sering kali dianggap sebagai masa yang penuh kebahagiaan. Namun, seringkali ibu hamil mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang dikirimkan tubuh. Pernahkah Anda merasa pusing yang tak kunjung hilang atau tengkuk terasa berat saat hamil? Hati-hati, jangan buru-buru menganggapnya hanya karena “bawaan bayi” atau kelelahan biasa. Bisa jadi, itu adalah “alarm” dari tubuh yang menandakan tekanan darah sedang naik.
Di dunia kesehatan, kondisi ini disebut Hipertensi dalam Kehamilan. Ini bukan masalah sepele. Masalah ini masih menjadi salah satu penyebab utama mengapa persalinan menjadi berisiko tinggi bagi ibu dan janin.
Kapan Disebut Bahaya?
Sederhananya, jika ibu hamil diperiksa tensinya dan angkanya menunjukkan 140/90 mmHg atau lebih, lampu kuning sudah menyala. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada ibu yang sebelum hamil tidak pernah punya riwayat darah tinggi.
Jika dibiarkan, darah tinggi ini bisa berkembang menjadi Preeklamsia. Bayangkan pembuluh darah ibu seperti selang air yang terjepit. Karena “terjepit” (menyempit) akibat tekanan tinggi, aliran darah yang membawa makanan dan oksigen untuk bayi di dalam perut menjadi terhambat.
Akibatnya? Bayi bisa lahir dengan berat badan rendah karena kurang nutrisi, atau dalam kasus yang berat, ibu bisa mengalami kejang (eklamsia) yang mengancam nyawa.
Kenali Tanda Bahayanya
Berikut tanda bahaya yang harus dikenali oleh ibu hamil:
- Sakit Kepala Hebat: Terasa sangat nyut-nyutan dan tidak hilang meski sudah istirahat.
- Pandangan Kabur: Mata terasa berkunang-kunang atau melihat bintik-bintik cahaya.
- Nyeri Ulu Hati: Sakit tajam di bagian atas perut.
- Bengkak Tidak Wajar: Bengkak pada wajah dan tangan (bukan hanya kaki) yang terjadi secara tiba-tiba.
Apa yang Harus Dilakukan?
Kabar baiknya, kondisi ini bisa dikelola. Kuncinya ada pada pemeriksaan rutin. Jangan malas untuk datang ke Posyandu, Puskesmas, Bidan Praktik Mandiri, atau Dokter Kandungan minimal 6 kali selama masa kehamilan.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami membentuk bidan yang tidak hanya terampil dalam asuhan klinis, tetapi juga menjadi sahabat terpercaya yang siap mendampingi ibu melewati setiap fase kehamilan dengan aman. Kami percaya bahwa ibu yang sehat akan melahirkan generasi penerus yang hebat.
Tertarik untuk mengambil peran nyata dalam menjaga keselamatan ibu dan buah hati? Mari wujudkan kepedulian Anda menjadi profesi mulia bersama Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Program Studi D3 Kebidanan Terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Jakarta: Kemenkes RI.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2020). Gestational Hypertension and Preeclampsia. Practice Bulletin No. 222.
- Kementerian Kesehatan RI. (2021). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2020. Jakarta: Kemenkes RI.
- World Health Organization (WHO). (2019). Hypertension in pregnancy: Diagnosis and Management. Geneva: WHO Press.
- Prawirohardjo, S. (2016). Ilmu Kebidanan Edisi Keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
by Admin Kebidanan | Jan 21, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Selama ini, istilah “Posyandu” selalu identik dengan bayi dan balita. Namun, tahukah Anda bahwa masa remaja merupakan window of opportunity kedua setelah masa seribu hari pertama kehidupan? Prodi DIII Kebidanan UAA menyoroti pentingnya Posyandu Remaja (Posrem) sebagai garda terdepan dalam memantau kesehatan generasi Z dan Alpha.
Apa Itu Posyandu Remaja?
Posyandu Remaja adalah kegiatan berbasis kesehatan masyarakat yang dikhususkan untuk remaja usia 10–19 tahun. Berbeda dengan klinis formal, Posrem mengedepankan pendekatan sebaya, di mana remaja diajak aktif menjadi kader untuk membantu teman-temannya sendiri.
Manfaat Utama Posyandu Remaja
Kehadiran Posyandu Remaja memberikan dampak yang signifikan, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
1. Pemantauan Pertumbuhan dan Deteksi Dini Anemia
Banyak remaja perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami anemia. Di Posyandu, dilakukan pengecekan kadar Hemoglobin (Hb) dan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Hal ini krusial untuk mencegah stunting di masa depan ketika mereka menjadi ibu.
2. Konseling Kesehatan Mental dan Gaya Hidup
Posyandu menyediakan ruang aman bagi remaja untuk mencurahkan kegelisahan mereka, mulai dari masalah tekanan belajar hingga perundungan (bullying). Konseling dilakukan dengan bahasa yang ringan dan mudah diterima.
3. Edukasi Kesehatan Reproduksi
Remaja diberikan informasi yang akurat mengenai perubahan tubuh dan kesehatan reproduksi untuk menghindari perilaku berisiko, seperti pernikahan dini atau seks bebas, yang sering kali dipicu oleh informasi hoaks dari internet.
Alur Pelayanan Posyandu Remaja
Posyandu Remaja biasanya menggunakan sistem 5 Meja yang terorganisir untuk memastikan setiap aspek kesehatan terpantau:
- Meja 1 : Pendaftaran (Pendataan identitas remaja)
- Meja 2 : Penimbangan dan Ukur (Mengukur BB, TB, Tekanan Darah, dan Lingkar Lengan Atas (LILA))
- Meja 3 : Pencatatan (Mendokumentasikan hasil pengukuran di Buku Pemantauan Kesehatan Remaja)
- Meja 4 : Pelayanan Kesehatan (Pemberian vitamin, TTD, atau pemeriksaan medis dasar)
- Meja 5 : KIE (Edukasi) (Sosialisasi atau penyuluhan kelompok mengenai isu kesehatan terkini)
Kesehatan bukan hanya tentang tidak adanya penyakit, tetapi tentang keseimbangan fisik, mental, dan sosial. Posyandu Remaja adalah tempat di mana keseimbangan itu mulai dibentuk. Remaja yang sehat secara fisik dan cerdas secara emosional adalah kunci keberhasilan pembangunan nasional.
Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.
Sumber Pustaka :
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Posyandu Remaja. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Pedoman Standar Layanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Jakarta: Direktorat Kesehatan Keluarga.