by Admin Kebidanan | May 28, 2026 | Artikel
Momen Idul Adha identik dengan berbagai hidangan berbahan dasar daging kurban seperti sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Namun, bagi ibu hamil, terutama yang memiliki kondisi obesitas dan hipertensi, konsumsi daging kurban sering menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait keamanan bagi kesehatan ibu maupun janin. Meski demikian, daging kurban sebenarnya tetap dapat dikonsumsi oleh ibu hamil selama diolah dengan tepat dan tidak berlebihan. Daging merah seperti sapi dan kambing justru mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan selama kehamilan, mulai dari protein, zat besi, vitamin B12, hingga zinc yang berperan dalam mendukung pertumbuhan janin dan menjaga kesehatan ibu.
Menurut Dosen S1 Kebidanan Alma Ata, Ratih Devi Alfiana, S.ST., M.Keb, konsumsi daging kurban bagi ibu hamil tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. “Daging merah mengandung zat besi dan protein yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Namun, bagi ibu hamil dengan obesitas atau hipertensi, pemilihan jenis daging, cara pengolahan, dan porsinya harus lebih diperhatikan agar tidak memicu komplikasi selama kehamilan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa ibu hamil dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti diabetes gestasional dan preeklampsia. Sementara itu, hipertensi dalam kehamilan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius bagi ibu dan janin apabila tidak terkontrol dengan baik. Karena itu, pengolahan daging kurban menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Daging sebaiknya dimasak hingga matang sempurna untuk menghindari risiko infeksi bakteri maupun parasit seperti Toxoplasma gondii, Salmonella, dan Listeria yang berbahaya bagi janin.
Selain itu, ibu hamil juga dianjurkan menghindari konsumsi bagian daging yang gosong akibat pembakaran karena mengandung senyawa yang kurang baik bagi kesehatan dalam jangka panjang. Bagi ibu hamil dengan obesitas, pemilihan daging tanpa lemak atau lean meat sangat dianjurkan. Konsumsi jeroan, tetelan, maupun makanan tinggi lemak sebaiknya dibatasi. Porsi makan juga perlu dikontrol dengan memperbanyak sayur dan sumber serat agar asupan kalori tetap seimbang.
Sementara pada ibu hamil dengan hipertensi, perhatian utama perlu diberikan pada kandungan garam dan santan dalam masakan. Penggunaan garam, kecap, penyedap rasa, serta bumbu instan sebaiknya dibatasi untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. “Banyak hidangan Idul Adha menggunakan santan dan garam dalam jumlah tinggi. Padahal, pada ibu hamil dengan hipertensi, konsumsi makanan tinggi natrium dapat memicu peningkatan tekanan darah. Karena itu, alternatif seperti sup bening atau olahan panggang rendah minyak lebih dianjurkan,” jelasnya.
Ibu Ratih, juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan, termasuk bidan, dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait pola makan sehat selama kehamilan, terutama saat momen hari raya.
Menurutnya, edukasi mengenai pemilihan makanan yang sehat perlu terus dilakukan agar ibu hamil tetap dapat menikmati momen kebersamaan keluarga tanpa mengabaikan kondisi kesehatannya.
“Kehamilan bukan berarti ibu tidak boleh menikmati makanan favorit saat Idul Adha. Yang terpenting adalah memilih bahan makanan yang sehat, mengolahnya dengan benar, serta mengontrol porsinya agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga,” tutupnya.
Referensi
- [1] The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Nutrition During Pregnancy.
- [2] World Health Organization (WHO). Guideline: Nutritional interventions during pregnancy. Geneva: World Health Organization.
- [3] Centers for Disease Control and Prevention, & Food and Drug Administration. (2024). Food safety for pregnant women and their unborn babies. U.S. Department of Health and Human Services.
- [4] Kementrian Kesehatan, R. (2023). Pedoman Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Menyusui. Jakarta: Kemenkes RI.
[5] The American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). Gestational hypertension and preeclampsia. ACOG Practice Bulletin, Number 222. Obstetrics & Gynecology, 135(6), e237-e260.
by Admin Kebidanan | May 22, 2026 | Artikel
Mahasiswa Profesi Bidan Alma Ata melaksanakan kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) 2 di Padukuhan Payaman Utara dan Dronco, Kalurahan Girirejo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengabdian dan pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan, khususnya pada bidang kesehatan ibu dan anak.
Kegiatan MMD 2 dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari perwakilan kalurahan, dukuh (Bpk Mindarto (Dukuh Payaman Utara) dan Bpk Bowo Priyanto (Dukuh Dronco)), dosen pembimbing (Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb, Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes dan Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb), Perwakilan dari Puskesmas Imogiri 1(Bidan Ari Wahyu Utami, A.Md.Keb., Bidan Etik Susmiyatun Widayati, A.Md.Keb., serta nutrisionis Ibu Ismiranti, A.Md.Gizi), hingga seluruh mahasiswa.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memaparkan hasil Survei Mawas Diri (SMD) yang sebelumnya telah dilakukan di masyarakat sebagai dasar penyusunan program kesehatan yang akan dilaksanakan dalam dua minggu ke depan. Melalui hasil SMD, mahasiswa menemukan beberapa permasalahan kesehatan yang masih perlu mendapatkan perhatian bersama, terutama terkait kesehatan ibu dan anak, pola hidup sehat keluarga, serta pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak di masyarakat.
Dosen pembimbing lapangan menjelaskan bahwa kegiatan MMD merupakan sarana untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam mengenali permasalahan kesehatan di lingkungannya sekaligus menyusun solusi bersama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk menyusun program kesehatan yang tepat sasaran. Tidak hanya fokus pada pelayanan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat agar lebih sadar terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak,” ujarnya.
Dalam forum musyawarah tersebut, mahasiswa bersama masyarakat menyusun beberapa rencana kegiatan kesehatan yang akan dilaksanakan selama dua minggu mendatang. Program tersebut meliputi edukasi kesehatan ibu hamil, pendampingan tumbuh kembang anak, penyuluhan gizi keluarga, hingga edukasi pola hidup bersih dan sehat.
Perwakilan dari Puskesmas Imogiri 1 juga memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program yang telah direncanakan. Kolaborasi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, pemerintah kalurahan, dan masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan masalah kesehatan sejak dini.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak kalurahan dan tokoh masyarakat. Dukuh setempat menyampaikan harapannya agar program yang telah direncanakan dapat memberikan manfaat nyata bagi warga dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan keluarga.
Mahasiswa Profesi Bidan Alma Ata menilai kegiatan MMD 2 menjadi pengalaman penting dalam memahami kondisi kesehatan masyarakat secara langsung. Selain meningkatkan keterampilan komunikasi dan kerja sama lintas sektor, kegiatan ini juga menjadi bentuk implementasi peran bidan sebagai edukator, fasilitator, dan pendamping kesehatan masyarakat.
Melalui kegiatan MMD 2 ini, diharapkan tercipta sinergi antara tenaga kesehatan, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendukung terciptanya lingkungan yang sehat serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di wilayah Kalurahan Girirejo, Imogiri, Bantul.
by Admin Kebidanan | May 19, 2026 | Artikel
Obesitas pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling serius di abad ke-21. Masalah ini bersifat global dan terus memengaruhi banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di lingkungan perkotaan. Prevalensinya meningkat dengan laju yang mengkhawatirkan. Secara global pada tahun 2024, jumlah anak yang kelebihan berat badan di bawah usia 5 tahun diperkirakan mencapai lebih dari 35 juta. Hampir setengah dari semua anak yang kelebihan berat badan di bawah usia 5 tahun tinggal di Asia dan seperempatnya tinggal di Afrika. Anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas cenderung tetap obesitas hingga dewasa dan lebih mungkin mengembangkan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular pada usia yang lebih muda. Kelebihan berat badan dan obesitas, serta penyakit terkaitnya, sebagian besar dapat dicegah. Oleh karena itu, pencegahan obesitas pada anak perlu menjadi prioritas utama.
Apa itu overweigth dan obesitas ?
Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas didefinisikan sebagai “penumpukan lemak abnormal atau berlebihan yang menimbulkan risiko bagi kesehatan”. Ukuran yang paling umum digunakan untuk mengukur kelebihan berat badan dan obesitas adalah rasio berat badan terhadap tinggi badan pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Indeks Massa Tubuh (BMI) adalah indeks sederhana untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada anak usia sekolah, remaja, dan orang dewasa. Indeks ini didefinisikan sebagai berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2).
Mengapa mengetahui overweigth dan obesitas pada anak-anak penting?
Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga semakin banyak ditemukan di kawasan perkotaan negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di Asia. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak yang mengalami overweight dan obesitas berisiko tinggi tetap mengalami obesitas hingga dewasa dan lebih rentan terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia muda.
Apa penyebab overweigth dan obesitas pada anak-anak?
Menurut Dosen S1 Kebidanan Alma Ata, Arantika Meidya Pratiwi, M.Kes., yang memiliki fokus kajian pada anak prasekolah, obesitas pada anak merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius sejak dini.
“Banyak orang tua menganggap anak gemuk adalah tanda anak sehat, padahal jika berlebihan justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang. Masa prasekolah merupakan periode penting untuk membentuk pola makan dan aktivitas fisik yang sehat,” ungkapnya.
Menurutnya, obesitas pada anak terjadi akibat ketidakseimbangan antara kalori yang masuk dan energi yang dikeluarkan tubuh. Pola konsumsi makanan tinggi gula, tinggi lemak, minim serat, serta rendahnya aktivitas fisik menjadi faktor utama meningkatnya kasus obesitas anak saat ini.
Selain itu, perkembangan teknologi juga turut memengaruhi gaya hidup anak. Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan bermain aktif di luar rumah.
Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah obesitas pada anak?
Arantika menambahkan bahwa pencegahan obesitas pada anak memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk tenaga kesehatan, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, bidan memiliki peran penting dalam edukasi kesehatan keluarga sejak dini.
“Peran bidan tidak hanya mendampingi ibu saat kehamilan dan persalinan, tetapi juga berperan dalam pemantauan tumbuh kembang anak, memberikan edukasi gizi seimbang, mendukung pemberian ASI eksklusif, serta mengedukasi orang tua mengenai pentingnya aktivitas fisik dan pola hidup sehat pada anak,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa edukasi kepada orang tua sangat penting, terutama pada keluarga dengan anak usia prasekolah. Menurutnya, kebiasaan makan sehat perlu dibentuk sejak dini agar anak tidak mengalami masalah kesehatan di kemudian hari.
WHO sendiri merekomendasikan beberapa langkah pencegahan obesitas pada anak, di antaranya membatasi ukuran porsi makan, meningkatkan konsumsi buah dan sayur, mengurangi asupan gula dan lemak jenuh, serta memastikan anak melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari.
Dengan meningkatnya angka obesitas anak secara global, Arantika berharap masyarakat semakin sadar bahwa pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga dan dilakukan sedini mungkin.
“Anak yang sehat bukan hanya dilihat dari berat badannya, tetapi juga dari pola hidup, tumbuh kembang, dan kualitas kesehatannya secara menyeluruh. Karena itu, pendampingan orang tua dan tenaga kesehatan, termasuk bidan, sangat dibutuhkan,” tutupnya.
Referensi:
- WHO. 2025. Noncommunicable diseases: Childhood overweight and obesity.
- GBD 2021 Risk Factor Collaborators. “Global Burden of 88 Risk Factors in 204 Countries and Territories, 1990–2021: a systematic analysis for the Global Burden of Disease study 2021”. Lancet. 2024; 403:2162-2203.
by Admin Kebidanan | May 14, 2026 | Artikel
written by: Adenia Dwi Ristanti
Kesehatan perempuan menjadi salah satu indikator penting dalam kualitas pembangunan kesehatan suatu negara. Namun hingga saat ini, angka kematian ibu dan bayi masih menjadi tantangan di berbagai belahan dunia. Kurangnya akses pelayanan kesehatan, keterbatasan tenaga kesehatan, dan rendahnya edukasi kesehatan reproduksi menjadi faktor yang memperburuk kondisi tersebut. Di tengah tantangan itu, gerakan One Million More Midwives hadir sebagai seruan global untuk menambah satu juta bidan demi memperkuat pelayanan kesehatan perempuan dan anak.
Bidan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan perempuan. Tidak hanya membantu proses persalinan, bidan juga berperan dalam pemeriksaan kehamilan, edukasi kesehatan reproduksi, pelayanan keluarga berencana, hingga deteksi dini komplikasi kehamilan. Kehadiran bidan yang kompeten dapat membantu perempuan menjalani masa kehamilan dan persalinan dengan lebih aman dan sehat.
Menurut World Health Organization, sebagian besar kematian ibu dan bayi sebenarnya dapat dicegah melalui pelayanan kesehatan yang berkualitas. Namun, masih banyak wilayah terutama daerah terpencil yang mengalami kekurangan tenaga bidan. Kondisi ini menyebabkan banyak perempuan tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal selama kehamilan maupun persalinan.
Gerakan One Million More Midwives menjadi langkah penting dalam menjawab kebutuhan tenaga kesehatan global. Penambahan jumlah bidan bukan hanya tentang meningkatkan pelayanan persalinan, tetapi juga investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat. Semakin baik pelayanan kebidanan, semakin besar peluang ibu dan bayi untuk hidup sehat dan berkualitas.
Di era modern, tantangan kesehatan perempuan semakin kompleks. Selain risiko kehamilan, perempuan juga menghadapi masalah kesehatan mental, anemia, penyakit tidak menular, hingga kekerasan berbasis gender. Oleh karena itu, bidan masa kini dituntut memiliki kompetensi yang lebih luas agar mampu memberikan pelayanan yang holistik dan berpusat pada kebutuhan perempuan sepanjang siklus kehidupannya.
Bidan juga menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat, terutama di wilayah dengan akses kesehatan terbatas. Dedikasi bidan dalam mendampingi perempuan sejak masa kehamilan hingga nifas menunjukkan bahwa profesi ini memiliki peran besar dalam menjaga kualitas kehidupan masyarakat. Dukungan terhadap pendidikan, kesejahteraan, dan perlindungan tenaga bidan menjadi hal yang sangat penting untuk masa depan pelayanan kesehatan.
Pada akhirnya, One Million More Midwives bukan sekadar slogan, tetapi sebuah harapan besar bagi masa depan kesehatan perempuan dunia. Kehadiran lebih banyak bidan berarti lebih banyak ibu dan bayi yang dapat diselamatkan, lebih banyak perempuan yang mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, dan lebih banyak generasi sehat yang akan lahir di masa depan.
Referensi
- World Health Organization. State of the World’s Midwifery Report.
- United Nations Population Fund. The State of the World’s Midwifery 2021.
- International Confederation of Midwives. Global Midwifery Advocacy and Workforce Report.
by Admin Kebidanan | May 12, 2026 | Artikel
Kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD 1) menjadi agenda pembukaan sekaligus penyerahan mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata dalam pelaksanaan Stase Community Midwifery Practice yang dilaksanakan di Kalurahan Girirejo. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam rangkaian praktik kebidanan komunitas yang akan berlangsung selama empat minggu, mulai tanggal 11 Mei hingga 6 Juni 2026, sebagai bentuk implementasi pembelajaran profesi bidan berbasis komunitas dan pengabdian kepada masyarakat.
Acara MMD 1 berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari unsur pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga civitas akademika. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Jurusan Kebidanan Dr. Siti Nurunniyah, S.ST., M.Kes menyampaikan sambutan sekaligus pesan kepada mahasiswa agar mampu menjalankan praktik profesi dengan menjunjung tinggi etika, komunikasi yang baik, serta kepekaan terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa stase komunitas menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk belajar langsung bersama masyarakat serta mengembangkan keterampilan promotif, preventif, dan kolaboratif dalam pelayanan kebidanan.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Desa Jaka Purnama yang mewakili pemerintah kalurahan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa profesi bidan di wilayah Girirejo dan berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam peningkatan kesadaran dan pelayanan kesehatan ibu, anak, serta keluarga. Selain itu, hadir pula Bidan dari Puskesmas Imogiri 1 yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program komunitas dan kolaborasi lintas sektor selama kegiatan berlangsung.
Selama pelaksanaan Stase Community Midwifery Practice, mahasiswa akan menjalankan berbagai program kebidanan komunitas yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah, meliputi edukasi kesehatan, pendampingan ibu hamil, pelayanan kesehatan reproduksi, promosi gizi keluarga, pemberdayaan kader kesehatan, serta kegiatan preventif dan promotif lainnya. Mahasiswa juga diharapkan mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif bersama perangkat desa, tenaga kesehatan, kader, maupun tokoh masyarakat setempat.
Melalui kegiatan MMD 1 ini diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara institusi pendidikan, pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa profesi bidan sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen Universitas Alma Ata dalam menghasilkan lulusan bidan profesional yang adaptif, berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
by Admin Kebidanan | May 5, 2026 | Artikel
written by Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes
Menyusui sering kali digambarkan sebagai momen magis yang penuh kehangatan dan memperkuat bonding ibu dan bayi. Namun, realitanya tidak selalu demikian bagi semua orang. Bagi sebagian ibu, momen menjelang ASI menetes justru diiringi oleh gelombang kesedihan, kegelisahan, atau bahkan kemarahan yang datang tiba-tiba. Hal ini bukantanda kurangnya kasih sayang kepada bayi, bukan tanda ibu yang buruk, dan bukan sebuah kegagalan. Fenomena ini dikenal dengan sebutan D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex).
Apa Itu D-MER?
Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER) adalah kondisi neurobiologis seorang ibu menyusui mengalami penurunan suasana hati atau emosi negatif yang intens, mendadak, dan tidak beralasan, tepat sebelum ASI menetes (fase let-down reflex). Kondisi ini bisa muncul sesaat sebelum bayi mulai mengisap, sebelum ibu memerah ASI menggunakan pompa, atau bahkan ketika payudara tiba-tiba terasa penuh dan ASI merembes dengan sendirinya. Hal yang paling membedakan D-MER dengan kondisi psikologis lainnya adalah durasinya. Perasaan tidak menyenangkan ini hanya berlangsung sangat singkat, biasanya kurang dari 5 menit (bahkan sering kali hanya berkisar 30 detik hingga 2 menit), lalu menghilang tanpa jejak seiring mengalirnya ASI.
Mengapa Ini Terjadi?
D-MER pada dasarnya bukanlah gangguan psikologis, melainkan murni respons anomali fisiologis dan hormonal. Hal ini terjadi tarik ulur hormon prolaktin dan dopamine. Mari kita kenali mekanisme kinerja hormon bekerja di dalam otak saat proses laktasi terjadi.
- Kebutuhan Prolaktin: Saat puting dirangsang oleh isapan bayi atau hisapan pompa, otak (kelenjar pituitari) harus segera memproduksi dan melepaskan hormon prolaktin secara cepat untuk memproduksi ASI.
- Peran Dopamin: Di dalam tubuh, dopamin (neurotransmiter yang sering dikaitkan dengan perasaan senang dan rileks) bertindak sebagai penekan atau penghambat pelepasan prolaktin. Agar kadar prolaktin bisa melonjak naik untuk menghasilkan ASI, kadar dopamin di dalam otak harus turun secara serentak.
- Anomali pada D-MER: Pada ibu menyusui tanpa D-MER, penurunan dopamin ini terjadi dengan halus sehingga tidak memengaruhi suasana hati secara drastis. Namun pada ibu yang mengalami D-MER, penurunan dopamin ini terjadi terlalu tajam atau tidak proporsional. Akibatnya, sistem saraf merespons defisit dopamin sesaat yang ekstrem tersebut dengan memicu emosi negatif atau disforia. Begitu prolaktin stabil, dopamin kembali normal dan perasaan sedih pun lenyap seakan tak pernah terjadi.
Gejala D-MER: Spektrum Emosi yang Dirasakan
Spektrum emosi yang dirasakan akibat D-MER bervariasi pada setiap ibu, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Beberapa sensasi spesifik yang sering dilaporkan meliputi:
- Perasaan sedih yang mendalam (seperti ingin menangis tiba-tiba).
- Gelisah, cemas, khawatir, atau panik tanpa alasan yang jelas.
- Perasaan hampa atau seperti ada yang “jatuh” di ulu hati (hollow or sinking feeling in the stomach).
- Marah, jengkel, atau frustrasi.
- Rasa rindu rumah (homesickness) yang tidak rasional, meskipun sedang berada di rumah sendiri.
- Keinginan sesaat yang tak tertahankan untuk menarik bayi atau pompa ASI dari payudara.
Penting untuk Dicatat: D-MER Berbeda dengan Postpartum Depression (PPD) D-MER sering kali salah didiagnosis sebagai depresi pascapersalinan atau baby blues. Padahal, PPD memengaruhi suasana hati ibu sepanjang hari secara menetap dan berlangsung setidaknya selama dua minggu. Sebaliknya, D-MER hanya terikat pada saat refleks keluarnya ASI terjadi dan langsung menghilang setelahnya. Di luar momen menyusui atau memompa, suasana hati ibu dengan D-MER umumnya normal.
Strategi Manajemen Atasi D-MER
Prevalensi D-MER memengaruhi sekitar 5-15% ibu menyusui. Kabar baiknya, kondisi ini cenderung akan mereda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan penyesuaian hormon (biasanya setelah bayi berusia beberapa bulan). Namun, ada beberapa strategi yang terbukti efektif untuk membantu ibu menghadapi kondisi ini setiap harinya:
- Teknik Distraksi (Pengalihan Perhatian)
Karena gejala D-MER datang dan pergi dengan sangat cepat, mengalihkan perhatian otak pada detik-detik let-downterjadi terbukti sangat membantu. Ibu dapat mencoba:
- Minum air es yang sangat dingin sesaat sebelum mulai menyusui.
- Mengunyah camilan bertekstur, mengisap permen, atau mendengarkan musik yang upbeat.
- Menonton video lucu atau mengobrol ringan.
- Melakukan latihan pernapasan dalam (deep breathing) atau meditasi terpandu singkat.
- Modifikasi Gaya Hidup
Gaya hidup sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk D-MER. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalkan D-MER antara lain:
- Hindari dehidrasi dengan perbanyak asupan cairan.
- Kelola stres dan kelelahan, kurang tidur berdampak besar pada sensitivitas tubuh terhadap hormon dan stabilitas dopamin.
- Kurangi asupan kafein, pada sebagian kasus, asupan kafein yang tinggi dapat memicu kegelisahan tambahan saat let-down reflek terjadi.
- Konsultasi Medis Profesional
Bagi sebagian kecil ibu, D-MER dirasakan sangat parah hingga menimbulkan keengganan untuk menyusui. Pada kasus berat seperti ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti Konselor Laktasi Bersertifikat (IBCLC) atau dokter kebidanan/psikiater. Tenaga medis dapat mengevaluasi perawatan secara komprehensif, mulai dari terapi pendukung hingga tindakan medis jika diindikasikan.
Kesimpulan: Menyusui dengan kondisi D-MER ibarat dipaksa menaiki rollercoaster emosional beberapa kali dalam sehari. Jika Ibu atau seseorang yang Anda kenal mengalaminya, validasi dan terimalah perasaan tersebut. Berikan dukungan penuh dan ingatlah kembali bahwa fluktuasi hormonlah yang memicunya, bukan kurangnya rasa cinta seorang ibu kepada anaknya.
Referensi
- Heise, A. M., & Wiessinger, D. (2011). Dysphoric milk ejection reflex: A case report. International Breastfeeding Journal, 6(1), 6.
- Ureño, J., et al. (2019). Dysphoric Milk Ejection Reflex: A Case Series. Breastfeeding Medicine, 14(10), 762-764.
- Ahmed, M., Mahmud, A., Mughal, S., & Shah, H.H. (2024). Dysphoric milk ejection reflex – call for future trials. Archives of Gynecology and Obstetrics, 310(1), 627-630.
- Kacir, E., et al. (2024). Dysphoric milk ejection reflex: prevalence and associations with self-reported mental health history. Women’s Health.
- Australian Breastfeeding Association (ABA). (2025). Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER). (Panduan Klinis Dukungan Laktasi Maternal).