Created By Isti Chana Z, S.ST., M.Keb

Setiap bulan, jutaan perempuan di seluruh dunia mengalami sensasi tidak nyaman yang sering dianggap “lumrah”: nyeri haid atau dismenore. Padahal, nyeri yang mengganggu aktivitas ini tidak seharusnya dianggap biasa saja. Data terbaru menunjukkan bahwa 60-90% perempuan usia reproduksi mengalami dismenore, dengan 10-15% di antaranya mengalami nyeri yang sangat berat hingga mengganggu produktivitas harian.

Jenis Dismenore:

  1. Dismenore Primer
    • Terjadi tanpa kelainan organ panggul
    • Biasanya mulai 6-12 bulan setelah menarche (haid pertama)
    • Nyeri berlangsung 1-3 hari pertama siklus
    • Disebabkan peningkatan prostaglandin yang memicu kontraksi uterus berlebihan
  2. Dismenore Sekunder
    • Disebabkan kelainan organ reproduksi
    • Biasanya muncul setelah usia 25 tahun
    • Nyeri bisa berlangsung lebih lama dan semakin memberat
    • Penyebab umum: endometriosis, adenomiosis, fibroid, PID

Gejala yang Perlu Diwaspadai

  1. Gejala Utama: Nyeri kram di perut bagian bawahNyeri menjalar ke punggung bawah dan pahaKram seperti kontraksi yang datang bergelombang
  2. Gejala Penyerta: Mual dan muntahDiare atau konstipasiSakit kepala atau migrainKelelahan ekstremPerubahan mood (mudah marah, sedih)

Tanda Bahaya (Red Flags):

  • Nyeri sangat berat sejak haid pertama
  • Nyeri tidak membaik dengan obat biasa
  • Disertai demam atau keputihan abnormal
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Gangguan kesuburan

Pendekatan Penanganan Berbasis Bukti

1. Terapi Non-Farmakologis (Tingkat Pertama)

Terapi Panas (Heat Therapy):

  • Kompres hangat 39-40°C selama 30-60 menit
  • Efektif mengurangi nyeri 30-50%

Aktivitas Fisik Teratur:

  • Aerobik sedang: 30 menit, 3-4x/minggu
  • Yoga dan stretching: Pose child’s pose, cat-cow

Diet dan Nutrisi:

  • Tingkatkan: Omega-3 (ikan), magnesium (kacang), vitamin B1
  • Kurangi: Garam, gula, kafein, alkohol
  • Suplementasi: Magnesium 300-400 mg/hari, vitamin B6 50-100 mg/hari

Teknik Relaksasi:

  • Pernapasan diafragma
  • Mindfulness meditation
  • Akupresur titik SP6 (Sanyinjiao)

2. Terapi Farmakologis : dengan menggunakan obat-obatan pengurang rasa nyeri/analgetic dapat menggunakan, Ibuprofen 400 mg setiap 6-8 jam, atau parasetamol, ataupun asam mefenamat – jangan lupa perhatikan kontraindikasi dalam mengkonsumsi obat ini. 

Terapi Hormonal:

  • Kontrasepsi hormonal: Pil KB, patch, implan
  • Efektivitas: Mengurangi nyeri 70-80% setelah 3 siklus
  • Mekanisme: Menekan ovulasi dan pertumbuhan endometrium

Psikoterapi Kognitif-Perilaku:

  • Mengubah persepsi terhadap nyeri
  • Teknik coping yang adaptif

Pencegahan dan Manajemen Jangka Panjang

Strategi Pencegahan:

  1. Catat Siklus: Gunakan aplikasi pelacak haid
  2. Persiapan Menjelang Haid: Hindari stres berlebihan
  3. Pola Hidup Seimbang: Tidur cukup, manajemen stres

Kapan Harus ke Tenaga Kesehatan?

  • Nyeri mengganggu aktivitas harian ≥3 hari/bulan
  • Tidak respons dengan obat bebas
  • Disertai gejala lain yang mengkhawatirkan
  • Riwayat keluarga endometriosis

Mitos vs Fakta Seputar Dismenore

❌ Mitos: “Nyeri haid itu normal, harus ditahan”
✅ Fakta: Nyeri berat perlu evaluasi medis

❌ Mitos: “Minum air es memperberat nyeri”
✅ Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung

❌ Mitos: “Haid sakit berarti sulit hamil nanti”
✅ Fakta: Dismenore primer tidak mempengaruhi kesuburan

Dismenore bukan takdir yang harus diterima begitu saja. Dengan pemahaman yang benar, pendekatan komprehensif, dan dukungan yang adequate, setiap perempuan berhak menjalani siklus haid dengan nyaman dan bermartabat. Ingatlah: mendengarkan tubuh dan mencari bantuan profesional adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.


Daftar Pustaka 

  1. Iacovides, S., Avidon, I., & Baker, F. C. (2022). What we know about primary dysmenorrhea today: A critical review. Human Reproduction Update, 28(6), 763-791.
  2. Chen, C. X., Draucker, C. B., & Carpenter, J. S. (2021). Integrative approaches for managing dysmenorrhea: A systematic review. Journal of Women’s Health, 30(3), 325-339.
  3. World Health Organization. (2023). Primary dysmenorrhea: Guidelines for management. WHO Reproductive Health Library.
  4. Osayande, A. S., & Mehulic, S. (2023). Diagnosis and management of dysmenorrhea in adolescents. American Family Physician, 107(2), 145-152.
  5. Armour, M., Ee, C. C., Naidoo, D., et al. (2023). Acupuncture for primary dysmenorrhea: An updated systematic review and meta-analysis. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 130(7), 723-734.
  6. Indonesian Society of Obstetrics and Gynecology (POGI). (2022). Pedoman Nasional Penanganan Dismenore. Jakarta: POGI Publications.
  7. Lee, H., Choi, T. Y., Kim, J. I., et al. (2024). Herbal medicine for primary dysmenorrhea: A systematic review and meta-analysis. Complementary Therapies in Medicine, 79, 102998.
  8. National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Heavy menstrual bleeding: Assessment and management. NICE Guideline NG88.
  9. Santos, M. L., & Baracat, E. C. (2022). Non-pharmacological treatments for primary dysmenorrhea: Evidence-based recommendations. Revista Brasileira de Ginecologia e Obstetrícia, 44(3), 283-291.
  10. Global Burden of Disease Collaborative Network. (2024). *Global burden of dysmenorrhea: 1990-2023.* Lancet, 403(10427), 871-897.