S1 Profesi Bidan Alma Ata — “Kenapa haid saya datangnya tidak tentu?” Pertanyaan tersebut cukup sering muncul pada masa remaja. Siklus menstruasi yang belum teratur memang dapat terjadi pada beberapa tahun pertama setelah menstruasi pertama karena tubuh masih beradaptasi dengan perubahan hormonal. Namun, apabila pola menstruasi terus-menerus tidak teratur, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari pubertas.
Dosen S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata, Dr. Erna Yovi Kurniawati, M.Tr.Keb., menjelaskan bahwa perubahan pola menstruasi pada remaja perlu diperhatikan, terutama apabila berlangsung terus-menerus dan disertai tanda lain.
“Pada masa remaja, siklus menstruasi memang belum selalu teratur. Namun, remaja perlu mengenali pola menstruasinya sendiri. Bila ketidakteraturan berlangsung terus atau disertai gejala lain, sebaiknya dilakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan,” jelas Dr. Erna.
Salah satu kondisi yang saat ini semakin banyak diperbincangkan adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), istilah baru yang diperkenalkan pada 2026 untuk menggantikan nama yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Konsensus global yang dipublikasikan dalam The Lancet menjelaskan bahwa perubahan istilah ini dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi secara lebih menyeluruh, karena gangguan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan aspek hormonal, metabolik, dan reproduksi.
Bukan Sekadar Masalah Menstruasi
Menurut Dr. Erna, pemahaman mengenai PMOS penting dikenalkan sejak remaja karena sejumlah tanda dapat mulai terlihat pada masa tersebut. Meski demikian, haid tidak teratur saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang remaja mengalami PMOS.
Hal ini penting karena perubahan hormonal yang terjadi selama pubertas juga dapat menyebabkan siklus menstruasi yang belum stabil, jerawat, serta perubahan fisik lainnya.
Rekomendasi internasional untuk remaja menekankan bahwa penilaian harus dilakukan secara hati-hati. Pada remaja, diagnosis PCOS—yang kini disebut PMOS dalam nomenklatur baru—memerlukan perhatian terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi sesuai usia sejak menarke serta tanda kelebihan androgen, setelah kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa disingkirkan. Remaja yang baru menunjukkan salah satu karakteristik dapat dikategorikan sebagai “berisiko” dan memerlukan pemantauan, bukan langsung didiagnosis.
“Karena gejala pubertas dan tanda-tanda PMOS dapat terlihat mirip, kita tidak boleh terburu-buru memberikan label atau diagnosis. Remaja perlu mendapatkan pemeriksaan dan pendampingan yang tepat,” terang Dr. Erna.
Kapan Remaja Perlu Mulai Waspada?
Remaja dapat mulai memperhatikan pola menstruasinya, terutama apabila mengalami kondisi seperti:
- menstruasi sangat jarang atau sering terlambat;
- tidak mengalami menstruasi selama beberapa bulan;
- siklus menstruasi terus-menerus tidak teratur;
- disertai jerawat yang berat atau menetap;
- pertumbuhan rambut berlebihan pada area tertentu;
- perubahan berat badan yang cukup signifikan; atau
- tanda-tanda yang berkaitan dengan gangguan metabolik.
Pedoman internasional menyebutkan bahwa definisi siklus menstruasi tidak teratur pada remaja perlu mempertimbangkan berapa lama sejak menstruasi pertama (menarke). Misalnya, pada tahun pertama setelah menarke, ketidakteraturan masih dapat merupakan bagian dari proses pubertas. Namun, semakin lama setelah menarke, pola menstruasi yang sangat jarang atau adanya jeda menstruasi yang panjang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Kesehatan Reproduksi dan Metabolisme Saling Berkaitan
PMOS tidak hanya berkaitan dengan sistem reproduksi. Kondisi ini juga memiliki hubungan dengan aspek metabolik sehingga kesehatan remaja perlu dilihat secara menyeluruh.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis mengenai PCOS pada remaja menunjukkan adanya hubungan antara PCOS dan sindrom metabolik. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemantauan kesehatan metabolik juga penting pada remaja dengan kondisi atau tanda yang mengarah pada PCOS/PMOS.
Karena itu, menjaga pola hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang baik, serta menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Tidak Perlu Takut, tetapi Jangan Diabaikan
Dr. Erna menekankan bahwa menstruasi yang tidak teratur tidak otomatis berarti seorang remaja mengalami PMOS. Kekhawatiran yang berlebihan justru dapat membuat remaja merasa takut terhadap perubahan tubuhnya sendiri.
Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mulai mencatat siklus menstruasi. Catat tanggal hari pertama menstruasi, lama menstruasi, jarak antarhaid, serta perubahan lain yang dirasakan. Catatan tersebut dapat membantu remaja mengenali pola tubuhnya sekaligus memudahkan tenaga kesehatan ketika melakukan penilaian.
Apabila pola menstruasi terus tidak teratur atau muncul tanda lain yang mengkhawatirkan, remaja sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
“Yang terpenting adalah remaja tidak perlu malu membicarakan menstruasi. Mengenali siklus menstruasi bukan berarti mencari-cari penyakit, tetapi merupakan salah satu cara untuk memahami tubuh dan menjaga kesehatan sejak dini,” ujar Dr. Erna.
Kenali Siklusnya, Pahami Tubuhnya
Masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan kesehatan reproduksi. Dengan memahami perubahan tubuh dan mengenali pola menstruasi, remaja dapat lebih peka terhadap kondisi yang memerlukan perhatian tanpa harus merasa takut atau memberikan diagnosis sendiri.
Kenali siklusnya. Pahami tubuhnya. Jangan malu bertanya.
Mengenal PMOS sejak remaja bukan berarti mencari penyakit, melainkan memberikan kesempatan untuk mengenali tanda-tanda yang perlu diperhatikan serta menjaga kesehatan reproduksi dan metabolik sejak dini.
Referensi Teede, H. J., et al. (2026). Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global consensus process. The Lancet, 407(10545), 2329–2339. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(26)00717-8. Peña, A. S., et al. (2025). International evidence-based recommendations for polycystic ovary syndrome in adolescents. BMC Medicine, 23, 151. https://doi.org/10.1186/s12916-025-03901-w. Fu, L., Xie, N., Qu, F., Zhou, J., & Wang, F. (2023). The association between polycystic ovary syndrome and metabolic syndrome in adolescents: A systematic review and meta-analysis. Reproductive Sciences, 30, 28–40. https://doi.org/10.1007/s43032-022-00864-8.
Written by Admin S1 Profesi Bidan