by Admin Kebidanan | Mar 9, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Apa Itu Campak?
Campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Penyakit ini sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga risiko penularan sangat tinggi, terutama pada anak yang belum diimunisasi.
Lonjakan Kasus Campak di Indonesia Tahun 2025
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak dan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium, dengan 69 kematian. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan kasus suspek lebih dari 100%.
Beberapa wilayah di Indonesia bahkan melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Peningkatan ini dikaitkan dengan cakupan imunisasi yang belum merata serta adanya anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap. Data ini menjadi pengingat bahwa campak bukan penyakit ringan dan masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak di Indonesia.
Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai
Gejala penyakit campak biasanya muncul 7–14 hari setelah penderita terpapar virus. Gejala penyakit campak meliputi:
- Demam tinggi
- Batuk, pilek, dan mata merah berair
- Bintik putih di dalam mulut (bintik Koplik)
- Ruam merah yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh
Anak yang mengalami gejala tersebut perlu segera diperiksa ke fasilitas kesehatan.
Komplikasi yang Bisa Terjadi
Campak dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada balita dan anak dengan daya tahan tubuh lemah, seperti:
- Pneumonia
- Diare berat dan dehidrasi
- Infeksi telinga
- Ensefalitis (radang otak)
- Kematian pada kasus berat
Jadwal Vaksinasi Campak (MMR)
Meskipun dapat menyebabkan kematian, sebetulnya penularan penyakit campak dapat dicegah melalui imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella). Imunisasi ini diberikan 2x, yaitu pada saat anak berusia 12-15 bulan, selanjutnya diberikan kembali pada usia 4-6 tahun. Pemberian imunisasi secara lengkap dapat memberikan perlindungan hingga 97% terhadap campak.
Di Indonesia, imunisasi campak masuk dalam program imunisasi nasional sesuai jadwal dari Kementerian Kesehatan. Oleh karenanya masyarakat dapat memperoleh imunisasi ini secara gratis di tempat pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas.
Kesimpulan
Campak adalah penyakit menular yang dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian pada anak. Penularan penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi. Lonjakan penyakit campak di Indonesia pada tahun 2025 menjadi peringatan penting bahwa imunisasi tidak boleh diabaikan. Pastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Temukan artikel menarik lainnya terkait kesehatan ibu dan anak di Website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan Terbaik di Jogja dan Terakreditasi UGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Surveilans Campak Nasional 2025.
- World Health Organization. Measles Fact Sheet (2023).
- Centers for Disease Control and Prevention. Measles (Rubeola) (2024).
- Patel MK, et al. Progress Toward Regional Measles Elimination. MMWR (2019).
- Moss WJ. Measles. The Lancet (2017).
by Admin Kebidanan | Mar 6, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Dahulu, penyakit campak sering dianggap sebagai “ritual kelulusan” bagi anak-anak sesuatu yang pasti dilewati dan dianggap tidak berbahaya. Namun, data terbaru di Indonesia menunjukkan realitas yang memilukan. Kita tidak sedang menghadapi penyakit ringan, melainkan sebuah ancaman serius yang kembali mewabah akibat runtuhnya benteng pertahanan kita: Imunisasi.
Tragedi yang Bisa Dicegah: Mengapa Anak-Anak Menjadi Korban?
Laporan terbaru menunjukkan lonjakan kasus campak di berbagai provinsi di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Yang paling menyesakkan dada adalah fakta bahwa mayoritas pasien yang dirawat, bahkan yang hingga kehilangan nyawa, adalah anak-anak yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi Campak-Rubella (MR).
Campak bukan sekadar ruam merah. Virus ini menyebabkan immune amnesia, yang menghapus memori sistem kekebalan tubuh anak terhadap penyakit lain. Artinya, setelah terkena campak, anak menjadi sangat rentan terkena infeksi paru-paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis) yang mematikan.
Gerakan Antivaksin yang Mematikan
Mewabahnya kembali campak di Indonesia bukan sekadar masalah akses medis, melainkan hasil dari perang narasi. Munculnya gerakan antivaksin yang masif di media sosial telah menyebarkan benih ketakutan yang tidak berdasar di hati para orang tua.
Hoaks tentang kandungan vaksin atau efek samping yang dilebih-lebihkan telah menciptakan kelompok masyarakat yang ragu-ragu (vaccine hesitancy). Dampaknya nyata dan berdarah: cakupan imunisasi menurun drastis, “kekebalan kelompok” runtuh, dan virus campak pun menemukan jalannya untuk menyerang anak-anak yang tidak berdosa. Setiap nyawa anak yang melayang akibat wabah ini adalah pengingat bahwa misinformasi di layar ponsel kita bisa membunuh di dunia nyata.
Tak Hanya Anak-Anak: Risiko pada Orang Dewasa & Ibu Hamil
Jangan salah, campak juga mengincar orang dewasa yang belum memiliki kekebalan. Gejala pada orang dewasa seringkali jauh lebih berat, dengan risiko komplikasi hati (hepatitis) dan gagal napas.
Namun, perhatian terbesar dalam dunia kebidanan adalah risiko pada Ibu Hamil. Jika seorang ibu hamil tertular campak:
- Risiko Keguguran: Infeksi virus yang menyebabkan demam sangat tinggi dapat memicu kontraksi dini atau keguguran.
- Persalinan Prematur: Tubuh yang berjuang melawan virus campak seringkali terpaksa melahirkan bayi sebelum waktunya, yang berisiko pada keselamatan bayi (BBLR).
- Keselamatan Ibu: Ibu hamil memiliki sistem imun yang lebih sensitif, sehingga komplikasi paru-paru akibat campak bisa menjadi sangat fatal bagi sang ibu.
Di tengah carut-marutnya informasi, Bidan berdiri sebagai sosok yang paling dipercaya oleh para ibu. Peran bidan kini bertransformasi menjadi pejuang literasi kesehatan:
- Bidan berperan memastikan setiap wanita usia subur memiliki status imunisasi yang baik sebelum merencanakan kehamilan, guna mencegah risiko infeksi selama masa mengandung.
- Bidan adalah orang pertama yang memegang buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Melalui tangan bidan, edukasi tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap diberikan secara humanis untuk menangkal doktrin antivaksin yang beredar di lingkungan warga.
Kasus campak yang merenggut nyawa anak-anak Indonesia adalah tragedi nasional yang seharusnya tidak terjadi di abad ke-21. Kita tidak boleh kalah oleh narasi tanpa dasar yang hanya membawa duka.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami melatih para calon bidan untuk memiliki keberanian intelektual menghadapi tantangan gerakan antivaksin. Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan salah satu yang terbaik di Jogja, kami berkomitmen mencetak bidan yang cerdas, empatik, dan siap berdiri di garis terdepan untuk menyelamatkan setiap nyawa ibu dan anak Indonesia dari ancaman wabah yang bisa dicegah.
Mari kita kembali ke jalur medis yang benar. Imunisasi adalah bukti cinta paling nyata untuk melindungi buah hati kita.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. (2024). Laporan Situasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Indonesia.
- Mina, M. J., et al. (2019). Measles virus infection diminishes preexisting antibodies that offer protection from other pathogens. Science. (Studi tentang dampak campak terhadap sistem imun jangka panjang).
- Larson, H. J., et al. (2022). The State of Vaccine Confidence in South East Asia. The Lancet. (Membahas pengaruh misinformasi terhadap cakupan imunisasi).
- World Health Organization (WHO). (2024). Measles and Pregnancy: Risk Factors and Prevention Strategies.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2023). Rekomendasi Imunisasi Kejar di Tengah Wabah Campak.
by Admin Kebidanan | Mar 4, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Kesehatan mental remaja bukan sekadar masalah “mood” atau fase pertumbuhan. Data terbaru menunjukkan bahwa gangguan mental seperti ansietas (kecemasan) dan depresi pada remaja telah meningkat secara signifikan dalam dekade terakhir. Berdasarkan studi The Lancet Psychiatry (2025), faktor penyebabnya kini lebih terfragmentasi antara biologi, teknologi, dan lingkungan sosial.
1. Faktor Neurobiologis dan Hormonal
Pada masa remaja, terjadi ketidakseimbangan kecepatan perkembangan antara dua area otak:
- Sistem Limbik: Bagian yang memproses emosi dan imbalan (reward), yang berkembang sangat cepat.
- Korteks Prefrontal: Bagian yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan, yang baru matang sepenuhnya pada usia 20-an. Ketimpangan ini menyebabkan remaja cenderung impulsif dan memiliki reaktivitas emosional yang tinggi terhadap stres.
2. Pengaruh Digital dan Media Sosial (Penemuan Terbaru)
Penelitian dalam Nature Mental Health (2025) menyoroti fenomena “Social Media Induced Dysmorphia”.
- Algoritma Adiktif: Paparan terus-menerus pada konten yang memicu perbandingan sosial secara otomatis meningkatkan kadar kortisol (hormon stres).
- Cyberbullying: Risiko depresi meningkat tiga kali lipat pada remaja yang mengalami perundungan siber dibandingkan perundungan fisik tradisional.
3. Faktor Lingkungan dan Epigenetik
Kesehatan mental juga dipengaruhi oleh interaksi antara gen dan lingkungan (epigenetic):
- Trauma Masa Kecil (ACEs): Pengalaman traumatis seperti perceraian orang tua atau kekerasan di rumah tangga mengubah cara otak merespons stres secara permanen.
- Kurang Tidur Kronis: kurang tidur akibat penggunaan gawai di malam hari secara langsung mengganggu regulasi emosi.
Jenis Masalah Mental yang Dominan pada Remaja
- Gangguan Kecemasan (Anxiety): Ketakutan berlebihan akan masa depan atau penilaian orang lain.
- Depresi Mayor: Perasaan sedih yang persisten dan kehilangan minat pada aktivitas harian.
- Self-Harm (Melukai Diri): Sering kali digunakan sebagai mekanisme koping yang maladaptif untuk mengalihkan rasa sakit emosional menjadi rasa sakit fisik.
Dukungan keluarga adalah faktor pelindung terkuat. Orang tua disarankan untuk membangun komunikasi yang validatif (mendengarkan tanpa menghakimi) dan memastikan remaja memiliki rutinitas tidur yang sehat. untuk mengetahui kesehatan lainnya, maka temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
- Prof Patrick D McGorry, MD PhD, dkk. 2024.The Lancet Psychiatry Commission on youth mental health.The Lancet Psychiatry. https://www.thelancet.com/journals/lanpsy/article/PIIS2215-0366(24)00163-9/abstract
- Elizabeth A. McNeilly, dkk. 2024. Neural correlates of depression-related smartphone language use in adolescents. Nature Mental Health. https://www.nature.com/articles/s44277-024-00009-6
- Valeria Bacaro, Katarina Miletic, Elisabetta Crocett, 2023. A meta-analysis of longitudinal studies on the interplay between sleep, mental health, and positive well-being in adolescents. Elsevier. Int J Clin Health Psychol. 2023 Dec 2;24(1):100424. doi: 10.1016/j.ijchp.2023.100424.
- Dilnoza Xudoyorova, dkk. 2026. Epigenetic Markers of Early Life Stress and Emotional Regulation in the Development of Stress-Related Psychopathology. GMR the Original. Vo.25 No.1 (2026). https://geneticsmr.com/index.php/gmr/article/view/339
by Admin Kebidanan | Mar 2, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau Congenital Heart Disease (CHD) merupakan kelainan struktur jantung yang terjadi sejak bayi masih dalam kandungan. Menurut data terbaru dari studi Global Burden of Disease (2025), PJB tetap menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak-anak secara global, mencakup hampir sepertiga dari seluruh kematian akibat kelainan bawaan.
Mengapa PJB Terjadi?
Secara umum, PJB terjadi akibat kegagalan perkembangan jantung pada fase awal janin (biasanya dalam 8 minggu pertama kehamilan). Meskipun penyebab pastinya seringkali sulit dipastikan, penelitian terbaru mengelompokkannya ke dalam tiga pilar utama:
1. Faktor Genetik dan Kromosom
Genetik memainkan peran fundamental. Sekitar 10-15% kasus PJB dikaitkan dengan kelainan kromosom.
- Sindrom Down (Trisomi 21): Memiliki risiko hingga 50% menderita PJB (seperti defek septum atrioventrikular).
- Mutasi Gen Tunggal: Penelitian di Journal of American College of Cardiology menunjukkan adanya mutasi spesifik pada gen yang mengatur pembentukan katup dan dinding jantung.
2. Faktor Lingkungan dan Maternal (Kesehatan Ibu)
Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan sangat mempengaruhi pembentukan organ jantung janin:
- Diabetes Melitus: Ibu dengan diabetes yang tidak terkontrol sebelum atau selama awal kehamilan memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan PJB.
- Infeksi TORCH: Terutama virus Rubella. Jika ibu terinfeksi di trimester pertama, risiko kelainan katup dan arteri paru sangat meningkat.
- Paparan Zat Kimia: Penggunaan obat-obatan tertentu (seperti asam retinoat untuk jerawat atau litium) serta paparan asap rokok dan alkohol.
3. Penemuan Terbaru: Metabolisme Choline dan Folat
Studi terbaru yang diterbitkan di Preprints.org (Februari 2026) mengungkapkan bahwa rendahnya konsentrasi Choline pada orang tua (baik ibu maupun ayah) berkaitan dengan tingkat keparahan PJB pada bayi. Selain itu, gangguan pada siklus folat/metionin juga dikonfirmasi sebagai faktor risiko signifikan dalam pembentukan struktur jantung yang tidak sempurna.
Jenis PJB yang Sering Ditemukan
Secara klinis, PJB dibagi menjadi dua kelompok besar:
- Sianotik (Bayi Biru): Terjadi percampuran darah bersih dan kotor, seperti pada Tetralogy of Fallot (TOF) atau Transposisi Arteri Besar (TGA).
- Asianotik (Tidak Biru): Biasanya berupa lubang pada sekat jantung, seperti Ventricular Septal Defect (VSD) atau Atrial Septal Defect (ASD).
Kesimpulan dan Langkah Pencegahan
Pencegahan dapat dimulai sejak masa perencanaan kehamilan. Para ahli menyarankan calon ibu untuk:
- Melakukan vaksinasi Rubella sebelum hamil.
- Mengkonsumsi asam folat dan menjaga asupan nutrisi (termasuk kolin).
- Melakukan skrining rutin (Ekokardiografi janin) jika terdapat riwayat keluarga dengan PJB
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
Berikut adalah daftar literatur yang digunakan sebagai acuan artikel ini:
- Jiaoli Xi , dkk, 2025. Global, regional, and national epidemiology of congenital heart disease in children from 1990 to 2021. Frontiers in Cardiovascular Medicine (2025) https://www.frontiersin.org/journals/cardiovascular-medicine/articles/10.3389/fcvm.2025.1522644/full
- P Syamasundar Rao, 2024. Recent Advances in the Diagnosis and Management of Congenital Heart Disease. Children. 2024 Jan 11;11(1):84. doi: 10.3390/children11010084. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10814956/ .
- Rima Obeid, dkk. 2026. Lowered Maternal and Paternal Plasma Concentrations of Choline are Associated with the Severity of Congenital Heart Defects in the Offspring”.Preprints.org/MDPI.https://www.preprints.org/manuscript/202602.1784
- Jae Sung Son. 2025. Nationwide Trends in Congenital Heart Disease Surgery. Congenital Heart Disease Journal. https://www.techscience.com/schd/v20n4/63766.
by Admin Kebidanan | Feb 27, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Berbuka puasa dengan gorengan sudah menjadi tradisi yang sulit dipisahkan di Indonesia. Sensasi gurih dan renyah memang terasa sangat nikmat setelah seharian menahan lapar. Namun, dibalik kenikmatan tersebut, ada ancaman serius yang mengintai kesehatan jantung Anda.
Berikut adalah tinjauan medis mengenai dampak gorengan saat berbuka dan bagaimana cara menyiasatinya berdasarkan riset terbaru.
Saat berpuasa, tubuh mengalami fase istirahat metabolik. Mengonsumsi gorengan dalam keadaan perut kosong memberikan kejutan negatif bagi sistem kardiovaskular karena beberapa alasan utama:
1. Lemak Trans dan Peradangan Pembuluh Darah
Gorengan, terutama yang dijual di pinggir jalan, sering kali dimasak dengan minyak yang digunakan berulang kali (minyak jelantah). Proses ini meningkatkan kadar Lemak Trans secara drastis. Lemak trans dikenal sebagai musuh utama jantung karena meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL).
2. Lonjakan Stres Oksidatif
Berbuka dengan makanan tinggi lemak jenuh memicu lonjakan radikal bebas di dalam darah. Hal ini menyebabkan disfungsi endotel (lapisan dalam pembuluh darah), yang merupakan langkah awal terjadinya aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah jantung.
3. Beban Kerja Jantung Meningkat
Makanan berminyak memerlukan energi besar untuk dicerna. Hal ini memaksa jantung memompa darah lebih kuat ke saluran pencernaan secara mendadak, yang bagi penderita gangguan jantung, bisa memicu rasa sesak atau ketidaknyamanan dada.
Strategi Berbuka yang Lebih Aman (Heart-Friendly)
Jika Anda belum bisa sepenuhnya meninggalkan gorengan, berikut adalah langkah mitigasi yang disarankan oleh para ahli nutrisi:
- Aturan “Satu Saja”: Batasi konsumsi maksimal satu buah gorengan dan imbangi dengan buah tinggi serat seperti kurma atau pepaya untuk mengikat lemak.
- Ganti Metode Memasak: Gunakan minyak yang lebih stabil seperti minyak zaitun (khusus suhu rendah) atau minyak kelapa sawit baru (sekali pakai).
- Hidrasi Dulu: Minumlah air putih atau air kelapa sebelum menyentuh gorengan untuk memberikan rasa kenyang lebih awal dan mengencerkan darah.
Menjaga jantung adalah investasi jangka panjang. Berbuka dengan yang manis memang disarankan, tapi pastikan “manisnya” berasal dari sumber alami, bukan dari lemak jenuh yang membahayakan nadi. Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
- Pie Qin, dkk, 2021. Fried-food consumption and risk of cardiovascular disease and all-cause mortality: a meta-analysis of observational studies. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33468573/
- The American Journal of Clinical Nutrition, 2025. Postprandial Lipidemia and Endothelial Function during Ramadan Fasting: The Impact of Saturated Fat Intake.
- Zahra Dadaei, dkk, 2023. Dietary inflammatory index in relation to severe coronary artery disease in Iranian adults. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10570611/
- Musaab Ahmed, dkk. 2025. The Impact of Ramadan Fasting on Endothelial Function, Cardiovascular Risk Factors, and Cardiovascular Disease. J Clin Med. 2025 Sep 2;14(17):6191. doi: 10.3390/jcm14176191. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12429300/