Kamu sudah rajin pakai skincare, minum air putih cukup, tapi wajah rasanya tetap terlihat pucat, kusam, dan enggak glowing? Belum lagi kalau lagi upacara bendera atau bangun tidur tiba-tiba, kepala rasanya kliyengan dan pandangan berkunang-kunang.
Hati-hati, Girls! Masalahnya mungkin bukan di kulit luar, tapi ada di dalam darah kamu.
Kondisi ini sering disebut “kurang darah”, atau istilah medisnya adalah Anemia. Dan tahukah kamu, Remaja putri di Indonesia adalah kelompok yang paling rentan terkena kondisi ini? Yuk, kita cari tahu kenapa ini bisa terjadi!
Kenapa Anemia Bikin Wajah Kusam & Otak Lemot?
Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau Hemoglobin (Hb). Ibaratnya, Hb sebagai “kurir” yang bertugas mengantar paket berupa Oksigen ke seluruh tubuh, mulai dari kulit hingga otak.
- Efek ke Kecantikan: Jika “kurir” (Hb) jumlahnya sedikit, suplai oksigen ke jaringan kulit berkurang. Akibatnya, kulit terlihat pucat (pallor), kusam, dan tidak bercahaya. Jadi, inner glow itu sebenarnya berasal dari aliran darah yang kaya oksigen!
- Efek ke Akademik: Otak sangat butuh oksigen untuk bekerja. Jika suplainya kurang, kamu bakal susah konsentrasi, cepat ngantuk di kelas, dan sering pusing.
Fakta Mengejutkan di Indonesia
Ini bukan masalah sepele. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI, sekitar 32% remaja putri di Indonesia mengalami anemia (Kemenkes RI, 2018).
Kenapa remaja putri?
- Menstruasi: Kita kehilangan darah setiap bulan.
- Diet yang Salah: Ingin langsing tapi malah memangkas asupan zat besi (daging merah, hati, bayam).
- Growth Spurt: Tubuh remaja butuh nutrisi ekstra untuk tumbuh.
Gejala khasnya dikenal dengan 5L: Lemah, Letih, Lesu, Lunglai, dan Lalai (susah fokus).
Gimana Cara Melawan Anemia? Gampang Kok!
Kabar baiknya, Anemia ini 100% bisa dicegah dan diobati tanpa biaya mahal. Kamu hanya perlu mengubah gaya hidup kamu:
- Perbanyak “Makanan yang mengandung tinggi zat besi “, missal: sayur bayam, hati ayam, daging merah, dan kacang-kacangan. Makanan ini kaya akan Zat Besi yang merupakan bahan baku utama pembuatan Hemoglobin.
- Combo Sakti: Zat Besi + Vitamin C: Ini rahasia yang jarang orang tahu! Saat makan makanan kaya zat besi, barengi dengan minum jus jeruk atau air lemon. Vitamin C dalam buah jeruk/ lemon dapat membantu tubuh menyerap zat besi berkali-kali lipat lebih cepat.
- Hati-hati dengan “Es Teh” Favoritmu: Kebiasaan minum teh setelah makan ternyata SALAH BESAR. Teh dan kopi mengandung Tanin dan Kafein mengharap penyerapan zat besi dari makanan.
- Rutin Minum Tablet Tambah Darah (TTD): Bagi remaja putri, sebaiknya rutin mengkonsumsi 1 tablet TTD setiap minggu. Ini investasi kesehatan termurah buat masa depanmu!
Apa Hubungannya Anemia dengan Jurusan Kebidanan?
Mungkin kamu bertanya, “kalau cuma anemia, tinggal minum obat. Apa hubungannya dengan Kebidanan?”
Disinilah peran strategis seorang Bidan yang sering tidak diketahui orang. Di jurusan Kebidanan, anemia pada remaja putri adalah topik serius karena berdampak panjang. Remaja berisiko menjadi ibu hamil yang anemia di masa depan. Ibu hamil yang anemia berisiko melahirkan bayi Stunting (gagal tumbuh).
Sebagai mahasiswa Kebidanan, kamu adalah “Guardians of the Future“. Kamu akan belajar:
- Nutrisi dan gizi reproduksi yang tepat untuk remaja (bukan sekadar diet viral).
- Cara mendeteksi tanda-tanda anemia sejak dini secara klinis.
- Mengelola program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah-sekolah.
Jadi, Bidan bukan hanya menolong persalinan, tapi memutus rantai masalah kesehatan bangsa sejak dari masa remaja!
Kesimpulan: Jadilah Pelopor Remaja Sehat dan Glowing!
Tertarik mempelajari ilmu kesehatan yang bisa bikin kamu dan orang-orang di sekitarmu lebih sehat, cantik, cerdas dan bebas anemia? Lanjutkan jenjang pendidikanmu di Prodi D3 Kebidanan Terbaik di Jogja. Disini, kamu tidak hanya diajarkan teori, tapi dibentuk menjadi tenaga kesehatan profesional yang peduli, kompeten, dan siap kerja.
Daftar Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
- World Health Organization (WHO). (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anemia and assessment of severity. Geneva: World Health Organization.
- Varney, H., Kriebs, J. M., & Gegor, C. L. (2015). Varney’s Midwifery (5th ed.). Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning.
- Briawan, D. (2014). Masalah Gizi pada Remaja Wanita: Anemia Defisiensi Besi. Jakarta: EGC