written by Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb

Belakangan ini, kasus campak kembali menjadi perhatian serius di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Secara global, kasus campak meningkat drastis, dari sekitar 170.000 kasus pada tahun 2022 menjadi lebih dari 320.000 kasus pada tahun 2023. Kematian terutama terjadi pada anak-anak yang tidak menerima imunisasi lengkap . Penyakit yang disebabkan oleh virus paramyxovirus ini sangat menular dan terutama berbahaya bagi anak-anak yang belum divaksinasi, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Apa Itu Campak?

Campak (rubeola) adalah infeksi saluran pernapasan akut yang ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah (konjungtivitis), dan ruam kulit kemerahan. Meski sering dianggap sebagai “penyakit anak biasa”, komplikasi campak bisa sangat serius, bahkan fatal. 

Penularan: Sangat Cepat dan Mudah

Virus campak menular melalui percikan ludah (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini dapat bertahan di udara dan bertahan hidup di permukaan benda hingga 2 jam.

Yang perlu diwaspadai:

  • Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus sejak 4 hari sebelum ruam muncul hingga 4 hari setelah ruam timbul.
  • Tingkat penularannya mencapai 90% pada orang yang tidak kebal (belum pernah terkena campak atau belum divaksin) dan melakukan kontak dekat dengan penderita.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Masa inkubasi campak biasanya 7–14 hari setelah terpapar. Gejala berkembang dalam dua tahap:

Tahap 1 (Prodromal): 2–4 hari pertama

  • Demam tinggi (bisa mencapai 40°C)
  • Batuk kering yang terus-menerus
  • Pilek dan hidung tersumbat
  • Mata merah, berair, dan sensitif terhadap cahaya (fotofobia)
  • Bintik Koplik: bintik putih kecil dengan dasar kemerahan di dalam mulut (tanda khas campak)

Tahap 2 (Ruam):

  • Ruam makulopapular (bintik merah datar hingga menonjol) muncul pertama kali di wajah dan belakang telinga.
  • Dalam 3–4 hari, ruam menyebar ke seluruh tubuh (lengan, badan, paha, kaki).
  • Saat ruam mulai muncul, demam biasanya mencapai puncaknya, lalu perlahan turun setelah 2–3 hari.

Komplikasi Serius Jangan Diabaikan

Campak tidak hanya menyebabkan ruam dan demam. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi:

KelompokKomplikasi
Anak di bawah 5 tahunOtitis media (infeksi telinga), diare berat, pneumonia (penyebab kematian utama pada balita), ensefalitis (radang otak) 
Dewasa & remajaHepatitis, miokarditis (radang otot jantung), pneumonia berat
Ibu hamilKeguguran, kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah
Pasca infeksi (langka)Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE): kerusakan otak progresif yang fatal, muncul 7–10 tahun setelah infeksi campak

Penanganan: Tidak Ada Obat Khusus, Fokus pada Perawatan Suportif

Hingga saat ini, tidak ada obat antivirus untuk campak. Pengobatan bertujuan meredakan gejala dan mencegah komplikasi:

  • Istirahat total dan konsumsi cairan yang cukup (hindari dehidrasi).
  • Kompres hangat dan obat penurun panas/peredah nyeri (parasetamol atau ibuprofen) sesuai anjuran dokter.
  • Konsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Jangan berikan aspirin pada anak karena risiko sindrom Reye.
  • Pada kasus berat (pneumonia atau ensefalitis), diperlukan perawatan di rumah sakit dengan oksigen, cairan infus, dan vitamin A dosis tinggi (terbukti menurunkan risiko kematian).

Pencegahan: Vaksinasi adalah Kunci Utama

Vaksin MR (Measles-Rubella) atau MMR (Measles, Mumps, Rubella) adalah cara paling efektif mencegah campak.

a. Jadwal imunisasi (IDAI & Kemenkes RI):

  • Dosis pertama: usia 9 bulan.
    • Dosis kedua: usia 18 bulan (atau bisa diberikan pada program BIAS di usia SD kelas 1).
    • Dosis ketiga (opsional): usia 5–7 tahun jika belum mendapat dosis lengkap.

b. Selain vaksin, lakukan:

  • Isolasi penderita selama 4 hari setelah ruam muncul.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin.
  • Tidak bepergian atau bersekolah saat sakit.

Mitos dan Fakta

Mitos: “Campak itu penyakit ringan, lebih baik terkena alami biar kebal seumur hidup.”
Fakta: Kekebalan alami memang seumur hidup, tapi risikonya terlalu besar (komplikasi berat dan kematian). Vaksin memberikan kekebalan yang sama aman tanpa risiko penyakit, sebagaimana dibuktikan oleh efektivitas vaksin yang tinggi dalam berbagai penelitian .

Mitos: “Vaksin MR/MMR menyebabkan autisme.”
Fakta: Klaim ini sudah dinyatakan penipuan oleh The Lancet dan puluhan studi besar di seluruh dunia. Tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Sebaliknya, tidak memberikan vaksinasi justru membahayakan anak dari risiko kematian akibat campak .

Kapan Harus ke Dokter?

Segera bawa anak atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika:

  • Demam tidak turun setelah 3 hari atau melebihi 40°C.
  • Muncul gejala sesak napas, napas cepat, atau batuk semakin parah.
  • Anak tampak sangat lemas, tidak mau minum, atau kejang.
  • Ruam berubah menjadi lepuhan atau kebiruan (tanda infeksi berat).

Vaksinasi adalah investasi kesehatan untuk masa depan yang lebih aman !!


Daftar Pustaka

  1. Riwayat Penyakit Campak dan Kondisi Sanitasi Rumah Tangga terhadap Kasus Stunting pada Balita di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024. (2025). Universitas Sriwijaya. 
  2. Katili, A., Ibrahim, S., & Mohamad, R. (2026). Basic Immunization Status and Incidence of Measles Among Toddlers in Working Area of Limboto Public Health Center, Gorontalo Regency. Medical and Health Journal, 5(2). 
  3. Schenk, J., et al. (2021). Immunogenicity and persistence of trivalent measles, mumps, and rubella vaccines: a systematic review and meta-analysis. The Lancet Infectious Diseases, 21(2), 286-295. 
  4. Rangkuti, S. M., et al. (1980). Measles Morbidity and Mortality in the Department of Child Health, Dr. Pirngadi General Hospital, Medan, in 1973-1977. Paediatrica Indonesiana, 20(7-8), 139-144. 
  5. Gautami, W. E., & Sudaryo, M. K. Hubungan Campak Dengan Berat Badan Kurang Pada Anak Usia 24-59 Bulan Di Indonesia (Analisis Data Survei Status Gizi Indonesia 2021). Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
  6. Ismail, D. (1991). Mortality and morbidity patterns in measles cases admitted to the hospitals in Yogyakarta. Berita Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan Masyarakat (BIK)
  7. Li, S., et al. (2020). Effectiveness of M-M-R® II in outbreaks – a systematic literature review of real-world observational studies. Open Forum Infectious Diseases, 7(Suppl 1), S704-S705.