Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M. Tr.,M.Keb.

Pernahkah Bunda merasa bangga karena si kecil yang masih balita sudah hafal lagu-lagu bahasa Inggris dari YouTube, namun justru diam seribu bahasa saat diajak ngobrol atau diminta menyebutkan namanya sendiri? Jika iya, waspadalah. Fenomena ini sedang marak dan dikenal di dunia kesehatan anak sebagai “Virtual Autism” atau gejala menyerupai autisme yang dipicu oleh paparan layar (screen time) yang berlebihan.

Di era digital ini, memberikan gawai kepada anak seolah menjadi “penyelamat” saat orang tua sibuk. Padahal, otak anak di masa Golden Age (0–5 tahun) membutuhkan interaksi dua arah, bukan sekadar menonton layar yang bersifat pasif.

Anak-anak yang terpapar layar lebih dari 2 jam sehari sebelum usia 2 tahun berisiko tinggi mengalami hambatan tumbuh kembang:

  1. Speech Delay (Terlambat Bicara)

Anak hanya menjadi “pendengar pasif”. Mereka tahu banyak kata, tapi tidak tahu cara menggunakannya untuk berkomunikasi dengan manusia.

  1. Hilangnya Kontak Mata

Terbiasa menatap layar yang statis membuat anak sulit fokus menatap mata lawan bicaranya (kontak mata lemah).

  1. Gangguan Sensorik

Anak menjadi kurang sensitif terhadap lingkungan sekitar karena otaknya hanya terbiasa dengan stimulasi visual dan audio yang cepat dari video.

Solusi: Kembali ke Stimulasi Alami

Bukan berarti gawai dilarang total, namun ada aturan mainnya:

  1. Zero Screen Time: Untuk anak di bawah usia 18-24 bulan, hindari layar sama sekali (kecuali video call singkat).
  2. Interaksi Dua Arah: Ganti tontonan dengan membacakan buku (read aloud) atau bermain peran. Otak anak berkembang lewat sentuhan, suara ibu, dan ekspresi wajah nyata.
  3. Ajak Bicara Apa Saja: Ceritakan apa yang sedang Bunda lakukan, misalnya saat memandikan atau menyuapi anak. Ini adalah cara alami “mengisi” kosa kata di otak mereka.

Mungkin banyak yang bertanya, “Mengapa Bidan membahas perkembangan anak?” Perlu diketahui, peran bidan sangat krusial dalam SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang). Bidan adalah tenaga kesehatan pertama yang mendampingi ibu sejak hamil hingga memantau perkembangan balita.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, mahasiswa kami dididik untuk jeli memantau setiap milestone perkembangan anak. Kami membekali mahasiswa dengan ilmu pemantauan tumbuh kembang yang mendalam, sehingga bidan lulusan UAA tidak hanya ahli menolong persalinan, tapi juga menjadi konsultan terpercaya bagi orang tua dalam mencegah speech delay pada anak.

Sebagai prodi terakreditasi UNGGUL dan merupakan salah satu yang terbaik di Jogja, kami berkomitmen mencetak bidan masa depan yang tanggap terhadap isu kesehatan anak di era digital.

Kesimpulan: 

Masa emas anak hanya datang satu kali. Jangan biarkan layar menggantikan peran orang tua dalam mendidik dan memberikan stimulasi.

Ingin menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang mampu menjaga generasi penerus bangsa? Bergabunglah bersama kami di D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kami siap membentuk Anda menjadi bidan yang profesional, kompeten, dan peka terhadap kesehatan holistik ibu dan anak.

Ikuti artikel menarik selanjutnya di Prodi D3 kebidanan yang merupakan salah satu Prodi D3 Terbaik di Jogya dengan akreditasi Unggul. Yuk intip lebih lanjut di website kita: https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/ 

Referensi:

  1. American Academy of Pediatrics (AAP). (2026). Media and Young Minds: New Recommendations for Digital Age.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak.
  3. Journal of Clinical Child Psychology. Screen Time Exposure and Its Impact on Speech Development in Toddlers.