Oleh Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes
Setiap tanggal 1–7 Agustus, dunia memperingati Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya Air Susu Ibu (ASI). Namun, hingga saat ini masih banyak anggapan bahwa menyusui hanya sebatas memberikan makanan kepada bayi agar tumbuh sehat. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat ASI jauh melampaui pemenuhan kebutuhan gizi. Menyusui merupakan investasi jangka panjang yang berperan penting dalam membentuk kesehatan, kecerdasan, serta kualitas hidup anak hingga dewasa.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata, Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes., yang mengajak masyarakat memaknai kembali pentingnya menyusui sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Menurutnya, keberhasilan menyusui bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan kerja, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.
“Menyusui bukan sekadar proses memberikan nutrisi kepada bayi. Di balik setiap tetes ASI terdapat perlindungan imunologis, dukungan bagi perkembangan otak, serta ikatan emosional yang menjadi fondasi tumbuh kembang anak. Karena itu, keberhasilan menyusui merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya perjuangan seorang ibu,” jelas Prasetya.
Tema Pekan Menyusui Sedunia tahun ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan pemberian ASI, dimulai dari ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan ASI hingga usia dua tahun atau lebih, disertai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang sesuai kebutuhan. Pendekatan tersebut telah direkomendasikan oleh berbagai organisasi kesehatan dunia karena terbukti memberikan manfaat besar bagi kesehatan ibu maupun anak.
Menurut Prasetya, enam bulan pertama kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa mendatang. Pada masa ini, ASI mampu memenuhi seluruh kebutuhan cairan dan zat gizi bayi tanpa memerlukan tambahan air putih, susu formula, maupun makanan lainnya.
“ASI merupakan satu-satunya makanan yang dirancang secara alami sesuai kebutuhan bayi. Komposisinya terus menyesuaikan dengan usia dan kondisi bayi sehingga tidak ada produk lain yang mampu menggantikan fungsinya secara sempurna,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prasetya menjelaskan bahwa keistimewaan ASI tidak hanya terletak pada kandungan gizinya, tetapi juga pada berbagai komponen bioaktif yang berperan dalam membentuk sistem kekebalan tubuh bayi. ASI mengandung Human Milk Oligosaccharides (HMOs), imunoglobulin terutama IgA, laktoferin, serta berbagai sel imun hidup yang membantu mematangkan saluran pencernaan bayi sekaligus melindunginya dari infeksi bakteri maupun virus. Oleh karena itu, bayi yang memperoleh ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah mengalami berbagai penyakit infeksi dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI secara optimal.
Selain memperkuat sistem imun, ASI juga memiliki peran penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan, termasuk stunting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif berkontribusi terhadap penurunan risiko kegagalan pertumbuhan pada anak. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting sesungguhnya telah dimulai sejak hari-hari pertama kehidupan melalui keberhasilan proses menyusui.
Tidak hanya itu, manfaat ASI juga sangat erat kaitannya dengan perkembangan otak. Kandungan Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) yang terdapat dalam ASI berperan sebagai komponen penting dalam pembentukan jaringan saraf dan koneksi antarsel otak. Proses tersebut menjadi dasar berkembangnya kemampuan belajar, daya ingat, serta fungsi kognitif anak pada masa selanjutnya.
“Ketika ibu memberikan ASI eksklusif, sesungguhnya ibu sedang memberikan investasi terbaik bagi masa depan anak. Bukan hanya memenuhi kebutuhan nutrisi hari ini, tetapi juga mendukung perkembangan otak, sistem imun, dan kualitas kesehatan anak hingga bertahun-tahun ke depan,” tambah Prasetya.
Berdasarkan berbagai bukti ilmiah tersebut, Prasetya mengajak masyarakat untuk melihat menyusui sebagai investasi kesehatan sepanjang hayat. Dukungan kepada ibu menyusui sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga enam bulan pertama kehidupan bayi menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Referensi & Sumber Pustaka
- American Academy of Pediatrics (AAP). (2022). Policy Statement: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057988. https://doi.org/10.1542/peds.2022-057988
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar dan Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
- Meek, J. Y., Noble, L., & Section on Breastfeeding. (2022). Technical Report: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057989.
- Pérez-Escamilla, R., Tomori, C., Hernández-Cordero, S., et al. (2023). Breastfeeding 1: Breastfeeding: crucially important, but still inadequately supported. The Lancet, 401(10375), 472-485. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01932-8
- Rollins, N., Piwoz, E., Baker, P., et al. (2023). Breastfeeding 2: Marketing of commercial milk formula: a system to capture parents, communities, science, and policy. The Lancet, 401(10375), 486-502. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01933-X
- UNICEF & World Health Organization. (2023). Global Breastfeeding Scorecard 2023: Protecting Breastfeeding through National Action. Geneva: World Health Organization and UNICEF.
- Victora, C. G., Bahl, R., Barros, A. J., et al. (2021). Breastfeeding in the 21st century: epidemiology, mechanisms, and lifelong effect. The Lancet, 387(10017), 475-490.
- Walters, D. D., Phan, L. T. H., & Mathisen, R. (2023). The cost of not breastfeeding: Global results from the Cost of Not Breastfeeding Tool. Health Policy and Planning, 38(4), 450-462. https://doi.org/10.1093/heapol/czad012