Obesitas pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling serius di abad ke-21. Masalah ini bersifat global dan terus memengaruhi banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di lingkungan perkotaan. Prevalensinya meningkat dengan laju yang mengkhawatirkan. Secara global pada tahun 2024, jumlah anak yang kelebihan berat badan di bawah usia 5 tahun diperkirakan mencapai lebih dari 35 juta. Hampir setengah dari semua anak yang kelebihan berat badan di bawah usia 5 tahun tinggal di Asia dan seperempatnya tinggal di Afrika. Anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas cenderung tetap obesitas hingga dewasa dan lebih mungkin mengembangkan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular pada usia yang lebih muda. Kelebihan berat badan dan obesitas, serta penyakit terkaitnya, sebagian besar dapat dicegah. Oleh karena itu, pencegahan obesitas pada anak perlu menjadi prioritas utama.
Apa itu overweigth dan obesitas ?
Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas didefinisikan sebagai “penumpukan lemak abnormal atau berlebihan yang menimbulkan risiko bagi kesehatan”. Ukuran yang paling umum digunakan untuk mengukur kelebihan berat badan dan obesitas adalah rasio berat badan terhadap tinggi badan pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Indeks Massa Tubuh (BMI) adalah indeks sederhana untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada anak usia sekolah, remaja, dan orang dewasa. Indeks ini didefinisikan sebagai berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2).
Mengapa mengetahui overweigth dan obesitas pada anak-anak penting?
Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga semakin banyak ditemukan di kawasan perkotaan negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di Asia. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak yang mengalami overweight dan obesitas berisiko tinggi tetap mengalami obesitas hingga dewasa dan lebih rentan terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia muda.
Apa penyebab overweigth dan obesitas pada anak-anak?
Menurut Dosen S1 Kebidanan Alma Ata, Arantika Meidya Pratiwi, M.Kes., yang memiliki fokus kajian pada anak prasekolah, obesitas pada anak merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius sejak dini.
“Banyak orang tua menganggap anak gemuk adalah tanda anak sehat, padahal jika berlebihan justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang. Masa prasekolah merupakan periode penting untuk membentuk pola makan dan aktivitas fisik yang sehat,” ungkapnya.
Menurutnya, obesitas pada anak terjadi akibat ketidakseimbangan antara kalori yang masuk dan energi yang dikeluarkan tubuh. Pola konsumsi makanan tinggi gula, tinggi lemak, minim serat, serta rendahnya aktivitas fisik menjadi faktor utama meningkatnya kasus obesitas anak saat ini.
Selain itu, perkembangan teknologi juga turut memengaruhi gaya hidup anak. Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan bermain aktif di luar rumah.
Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah obesitas pada anak?
Arantika menambahkan bahwa pencegahan obesitas pada anak memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk tenaga kesehatan, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, bidan memiliki peran penting dalam edukasi kesehatan keluarga sejak dini.
“Peran bidan tidak hanya mendampingi ibu saat kehamilan dan persalinan, tetapi juga berperan dalam pemantauan tumbuh kembang anak, memberikan edukasi gizi seimbang, mendukung pemberian ASI eksklusif, serta mengedukasi orang tua mengenai pentingnya aktivitas fisik dan pola hidup sehat pada anak,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa edukasi kepada orang tua sangat penting, terutama pada keluarga dengan anak usia prasekolah. Menurutnya, kebiasaan makan sehat perlu dibentuk sejak dini agar anak tidak mengalami masalah kesehatan di kemudian hari.
WHO sendiri merekomendasikan beberapa langkah pencegahan obesitas pada anak, di antaranya membatasi ukuran porsi makan, meningkatkan konsumsi buah dan sayur, mengurangi asupan gula dan lemak jenuh, serta memastikan anak melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari.
Dengan meningkatnya angka obesitas anak secara global, Arantika berharap masyarakat semakin sadar bahwa pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga dan dilakukan sedini mungkin.
“Anak yang sehat bukan hanya dilihat dari berat badannya, tetapi juga dari pola hidup, tumbuh kembang, dan kualitas kesehatannya secara menyeluruh. Karena itu, pendampingan orang tua dan tenaga kesehatan, termasuk bidan, sangat dibutuhkan,” tutupnya.
Referensi:
- WHO. 2025. Noncommunicable diseases: Childhood overweight and obesity.
- GBD 2021 Risk Factor Collaborators. “Global Burden of 88 Risk Factors in 204 Countries and Territories, 1990–2021: a systematic analysis for the Global Burden of Disease study 2021”. Lancet. 2024; 403:2162-2203.