Momen Idul Adha identik dengan berbagai hidangan berbahan dasar daging kurban seperti sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Namun, bagi ibu hamil, terutama yang memiliki kondisi obesitas dan hipertensi, konsumsi daging kurban sering menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait keamanan bagi kesehatan ibu maupun janin. Meski demikian, daging kurban sebenarnya tetap dapat dikonsumsi oleh ibu hamil selama diolah dengan tepat dan tidak berlebihan. Daging merah seperti sapi dan kambing justru mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan selama kehamilan, mulai dari protein, zat besi, vitamin B12, hingga zinc yang berperan dalam mendukung pertumbuhan janin dan menjaga kesehatan ibu.
Menurut Dosen S1 Kebidanan Alma Ata, Ratih Devi Alfiana, S.ST., M.Keb, konsumsi daging kurban bagi ibu hamil tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. “Daging merah mengandung zat besi dan protein yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Namun, bagi ibu hamil dengan obesitas atau hipertensi, pemilihan jenis daging, cara pengolahan, dan porsinya harus lebih diperhatikan agar tidak memicu komplikasi selama kehamilan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa ibu hamil dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti diabetes gestasional dan preeklampsia. Sementara itu, hipertensi dalam kehamilan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius bagi ibu dan janin apabila tidak terkontrol dengan baik. Karena itu, pengolahan daging kurban menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Daging sebaiknya dimasak hingga matang sempurna untuk menghindari risiko infeksi bakteri maupun parasit seperti Toxoplasma gondii, Salmonella, dan Listeria yang berbahaya bagi janin.
Selain itu, ibu hamil juga dianjurkan menghindari konsumsi bagian daging yang gosong akibat pembakaran karena mengandung senyawa yang kurang baik bagi kesehatan dalam jangka panjang. Bagi ibu hamil dengan obesitas, pemilihan daging tanpa lemak atau lean meat sangat dianjurkan. Konsumsi jeroan, tetelan, maupun makanan tinggi lemak sebaiknya dibatasi. Porsi makan juga perlu dikontrol dengan memperbanyak sayur dan sumber serat agar asupan kalori tetap seimbang.
Sementara pada ibu hamil dengan hipertensi, perhatian utama perlu diberikan pada kandungan garam dan santan dalam masakan. Penggunaan garam, kecap, penyedap rasa, serta bumbu instan sebaiknya dibatasi untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. “Banyak hidangan Idul Adha menggunakan santan dan garam dalam jumlah tinggi. Padahal, pada ibu hamil dengan hipertensi, konsumsi makanan tinggi natrium dapat memicu peningkatan tekanan darah. Karena itu, alternatif seperti sup bening atau olahan panggang rendah minyak lebih dianjurkan,” jelasnya.
Ibu Ratih, juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan, termasuk bidan, dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait pola makan sehat selama kehamilan, terutama saat momen hari raya.
Menurutnya, edukasi mengenai pemilihan makanan yang sehat perlu terus dilakukan agar ibu hamil tetap dapat menikmati momen kebersamaan keluarga tanpa mengabaikan kondisi kesehatannya.
“Kehamilan bukan berarti ibu tidak boleh menikmati makanan favorit saat Idul Adha. Yang terpenting adalah memilih bahan makanan yang sehat, mengolahnya dengan benar, serta mengontrol porsinya agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga,” tutupnya.
Referensi
- [1] The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Nutrition During Pregnancy.
- [2] World Health Organization (WHO). Guideline: Nutritional interventions during pregnancy. Geneva: World Health Organization.
- [3] Centers for Disease Control and Prevention, & Food and Drug Administration. (2024). Food safety for pregnant women and their unborn babies. U.S. Department of Health and Human Services.
- [4] Kementrian Kesehatan, R. (2023). Pedoman Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Menyusui. Jakarta: Kemenkes RI.
[5] The American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). Gestational hypertension and preeclampsia. ACOG Practice Bulletin, Number 222. Obstetrics & Gynecology, 135(6), e237-e260.