Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan istilah cortisol detox. Banyak konten mengklaim bahwa minuman tertentu, suplemen, atau rutinitas pagi dapat “membuang racun kortisol” sehingga tubuh menjadi lebih rileks, berat badan turun, wajah tampak lebih segar, hingga hormon kembali seimbang.

Namun, benarkah tubuh memerlukan “detoks” kortisol?

Jawabannya adalah tidak.

Apa Itu Kortisol?

Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Hormon ini sering disebut sebagai hormon stres karena kadarnya meningkat saat tubuh menghadapi tekanan, baik fisik maupun emosional.

Namun, kortisol bukanlah hormon yang “jahat”. Justru hormon ini memiliki banyak fungsi penting, seperti:

  1. Mengatur tekanan darah.
  2. Membantu mengontrol kadar gula darah.
  3. Mendukung sistem kekebalan tubuh.
  4. Membantu tubuh tetap waspada saat menghadapi situasi tertentu.

Masalah muncul ketika kadar kortisol terus-menerus tinggi akibat stres kronis, kurang tidur, atau pola hidup yang tidak sehat.

Benarkah Ada “Cortisol Detox”?

Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan atau dapat melakukan “detoks kortisol” melalui minuman, jus, atau suplemen tertentu.

Tubuh memiliki sistem alami untuk mengatur kadar hormon, termasuk kortisol. Jadi, istilah cortisol detox lebih merupakan istilah populer di media sosial daripada istilah medis.

Apa Dampaknya Jika Kortisol Terlalu Tinggi?

Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat berdampak pada kesehatan, seperti:

  1. Sulit tidur.
  2. Mudah lelah.
  3. Sulit berkonsentrasi.
  4. Berat badan meningkat, terutama di area perut.
  5. Siklus menstruasi menjadi tidak teratur.
  6. Penurunan kualitas ovulasi dan kesuburan pada perempuan.

Karena itu, menjaga kadar kortisol tetap seimbang penting untuk kesehatan tubuh, termasuk kesehatan reproduksi.

Cara Menurunkan Kortisol yang Didukung Penelitian

Alih-alih mengikuti tren “detoks”, para ahli menyarankan langkah-langkah sederhana yang terbukti lebih efektif, yaitu:

  1. Tidur cukup 7–9 jam setiap malam.
  2. Berolahraga secara rutin dengan intensitas sedang.
  3. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  4. Melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi atau latihan pernapasan.
  5. Menjaga hubungan sosial yang positif.
  6. Mengelola stres dengan cara yang sehat, misalnya melalui hobi atau konseling bila diperlukan.

Jangan Mudah Percaya Klaim Viral

Banyak produk di media sosial mengklaim dapat menurunkan kortisol secara instan. Padahal, hingga kini belum ada makanan atau minuman yang terbukti mampu “membersihkan” kortisol dari tubuh.

Jika stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan hanya mengandalkan produk yang sedang viral. Berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cortisol detox bukanlah istilah medis. Yang dibutuhkan tubuh bukanlah “detoks”, melainkan gaya hidup sehat yang membantu menjaga keseimbangan hormon secara alami.

Daripada menghabiskan uang untuk produk dengan klaim yang belum terbukti, mulailah dari kebiasaan sederhana seperti tidur cukup, makan bergizi, aktif bergerak, dan mengelola stres. Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menjaga kadar kortisol tetap normal, tetapi juga mendukung kesehatan reproduksi dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. Epel, E. S., et al. (2024). Stress, cortisol, and health: An update on biological mechanisms and clinical implications. The Lancet, 403(10442), 2105–2118.
  2. Russell, G., Lightman, S. (2023). The human stress response: Physiology and pathophysiology of cortisol. Nature Reviews Endocrinology, 19(11), 673–688.
  3. Endocrine Society. (2024). Hormone Health Network: Cortisol and Adrenal Gland Health.
  4. American Psychological Association. (2024). Stress effects on the body.
  5. McEwen, B. S., & Akil, H. (2022). Revisiting the stress concept: Implications for health and disease. Neuron, 110(1), 12–27.