Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
“Saya masih muda dan merasa sehat. Mengapa harus diperiksa?”
Pertanyaan tersebut mungkin sering muncul di kalangan remaja. Pemeriksaan kesehatan biasanya dianggap hanya diperlukan ketika seseorang sedang sakit. Padahal, banyak masalah kesehatan dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas.
Tahun 2026 menjadi momentum penting dengan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah. Program ini bertujuan mendeteksi masalah kesehatan sejak dini sekaligus mendorong masyarakat untuk beralih dari pola menunggu sakit menjadi mencegah dan menemukan masalah kesehatan sedini mungkin.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa hingga Agustus 2026, CKG telah menjangkau jutaan siswa dan menemukan berbagai masalah kesehatan, antara lain gangguan kesehatan gigi, anemia pada remaja putri, obesitas, serta masalah kesehatan lainnya.
Sehat Bukan Sekadar Tidak Merasa Sakit
Remaja dapat tetap bersekolah, bermain, dan beraktivitas seperti biasa meskipun memiliki masalah kesehatan tertentu. Karena itu, merasa sehat belum tentu berarti seluruh kondisi tubuh benar-benar baik.
Pemeriksaan kesehatan dapat membantu menemukan berbagai masalah seperti anemia, gangguan gizi, obesitas, tekanan darah yang tidak normal, gangguan penglihatan, masalah gigi dan mulut, maupun masalah kesehatan mental.
Mengapa Remaja Putri Perlu Lebih Peduli?
Remaja putri memiliki beberapa kebutuhan kesehatan yang khas. Salah satunya berkaitan dengan menstruasi.
Menstruasi menyebabkan kehilangan darah secara rutin sehingga kebutuhan zat besi perlu diperhatikan. Apabila asupan zat besi tidak mencukupi, remaja putri berisiko mengalami anemia.
Anemia dapat menyebabkan mudah lelah, lemas, pusing, mengantuk, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya kemampuan melakukan aktivitas. Namun, keluhan tersebut sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, jika keluhan berlangsung terus-menerus, pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Pencegahan anemia dapat dilakukan melalui pola makan bergizi seimbang dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran. Pemeriksaan kesehatan juga membantu mengetahui apakah upaya pencegahan yang dilakukan sudah cukup.
Kesehatan Tidak Hanya Tentang Berat Badan
Remaja sering menghubungkan kesehatan dengan berat badan atau bentuk tubuh. Padahal, kesehatan jauh lebih luas.
Remaja membutuhkan gizi yang cukup, aktivitas fisik, tidur yang baik, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan reproduksi, serta kesehatan mental.
Masalah gizi pada anak dan remaja juga semakin kompleks. Di satu sisi masih ditemukan anemia dan kekurangan zat gizi, sedangkan di sisi lain terdapat masalah gizi lebih dan obesitas.
Karena itu, sehat bukan berarti harus kurus.
Tubuh yang sehat adalah tubuh yang mendapatkan nutrisi cukup, mampu beraktivitas, berkembang sesuai usia, dan didukung oleh kondisi mental yang baik.
Remaja tidak perlu melakukan diet ekstrim hanya untuk mendapatkan bentuk tubuh tertentu. Pola makan yang terlalu ketat justru dapat menyebabkan kekurangan zat gizi yang dibutuhkan tubuh pada masa pertumbuhan.
Jangan Lupakan Kesehatan Mental
Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan remaja.
Tekanan belajar, masalah pertemanan, hubungan keluarga, perubahan tubuh, rasa tidak percaya diri, hingga berbagai persoalan di lingkungan digital dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan seharusnya tidak hanya berfokus pada kondisi fisik. Remaja juga membutuhkan kesempatan untuk membicarakan kondisi emosional dan psikologisnya.
Ketika merasa sedih, cemas, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, atau mengalami masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari, remaja sebaiknya tidak memendamnya sendirian.
Berbicara dengan orang tua, guru, konselor, bidan, tenaga kesehatan, atau orang yang dipercaya merupakan langkah yang baik.
Pemeriksaan Bukan Sesuatu yang Menakutkan
Sebagian remaja mungkin merasa takut ketika akan menjalani pemeriksaan kesehatan. Takut mengetahui hasilnya, takut dimarahi, atau takut harus menjalani pengobatan.
Padahal, mengetahui kondisi kesehatan lebih awal justru memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan.
Jika ditemukan anemia, misalnya, remaja dapat segera memperbaiki pola makan dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Jika ditemukan masalah gigi, perawatan dapat dilakukan sebelum menjadi lebih berat. Jika terdapat masalah psikologis, dukungan dapat diberikan lebih awal.
Program CKG dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun budaya kesehatan di sekolah. Namun, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada kegiatan skrining. Hasil pemeriksaan perlu ditindaklanjuti sehingga siswa yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh pelayanan yang sesuai.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa CKG bukan sekadar pemeriksaan, tetapi menjadi awal untuk memastikan masalah kesehatan yang ditemukan mendapatkan tindak lanjut.
Jangan Menunggu Sakit untuk Peduli
Paradigma kesehatan perlu berubah.
Jangan menunggu tubuh sangat lemas untuk memperhatikan anemia. Jangan menunggu gigi sakit untuk memeriksakan kesehatan gigi. Jangan menunggu masalah menjadi berat untuk berbicara mengenai kesehatan mental.
Dan jangan menunggu dewasa untuk mulai menjaga kesehatan.
Remaja merupakan kelompok penting dalam pembangunan masa depan Indonesia. Kebiasaan sehat yang dibangun sejak sekarang dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki usia dewasa.
Bagi remaja putri, menjaga kesehatan sejak dini juga merupakan investasi untuk kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan di masa mendatang.
Remaja Sehat, Masa Depan Lebih Kuat
Kesehatan remaja bukan hanya tentang bebas dari penyakit. Kesehatan mencakup kondisi fisik, mental, sosial, gizi, dan kesehatan reproduksi.
Karena itu, merasa sehat bukan alasan untuk tidak peduli terhadap kesehatan.
Kenali tubuhmu. Perhatikan perubahan yang terjadi. Jaga pola makan. Aktif bergerak. Tidur cukup. Jaga kesehatan mental. Jangan abaikan keluhan menstruasi. Dan manfaatkan kesempatan pemeriksaan kesehatan yang tersedia.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Setahun Cek Kesehatan Gratis Anak: Pemerintah Targetkan Seluruh Temuan Penyakit Ditindaklanjuti Tuntas. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Temukan Masalah Gigi hingga Obesitas pada Siswa, Kemenkes Jadikan CKG Pintu Masuk Wujudkan Generasi Unggul. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. (2024). Adolescent Health. Geneva: WHO.
- UNICEF Indonesia. (2026). Investasi pada Remaja Perempuan: Penggerak Strategis Menuju Visi Indonesia Emas 2045. Jakarta: UNICEF Indonesia.