Penulis: Dosen Program Studi D3 Kebidanan
Ibu Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
Masa remaja merupakan periode penting dalam kehidupan. Pada masa ini terjadi berbagai perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional yang akan mempengaruhi kesehatan seseorang di masa dewasa. Karena itu, menjaga kesehatan remaja bukan hanya penting untuk kondisi saat ini, tetapi juga merupakan investasi untuk membentuk generasi Indonesia yang sehat dan produktif.
Indonesia memiliki jumlah remaja yang besar. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan dalam pembangunan kesehatan. Saat ini, masalah kesehatan remaja semakin beragam, mulai dari kesehatan mental, kesehatan reproduksi, anemia, penggunaan rokok dan rokok elektronik, pola hidup tidak sehat, hingga risiko penyakit tidak menular.
Kesehatan Mental Remaja
Kesehatan mental menjadi salah satu isu penting pada kelompok remaja. Tekanan akademik, masalah keluarga, pertemanan, perundungan, pencarian identitas diri, serta penggunaan media sosial dapat mempengaruhi kondisi psikologis remaja.
Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi depresi paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 15–24 tahun, yaitu 2%. Namun, hanya sebagian kecil anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kebutuhan dan pemanfaatan layanan kesehatan mental.
Remaja membutuhkan lingkungan yang aman untuk bercerita dan mendapatkan dukungan. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, serta tenaga kesehatan perlu membantu remaja mengenali emosi, mengelola stres, membangun hubungan yang sehat, dan mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis.
Kesehatan Reproduksi Remaja
Masa remaja merupakan tahap penting dalam perkembangan sistem reproduksi. Remaja perlu memperoleh informasi yang benar mengenai pubertas, menstruasi, kebersihan diri, kesehatan reproduksi, hubungan yang sehat, infeksi menular seksual, dan pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan.
Pendidikan kesehatan reproduksi yang tepat bukan berarti mendorong perilaku seksual berisiko. Sebaliknya, informasi yang benar membantu remaja memahami tubuhnya, mengenali risiko, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025 juga memperkuat upaya kesehatan reproduksi anak usia sekolah dan remaja melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif.
Kesehatan reproduksi perlu dipandang sebagai bagian dari kesehatan sepanjang siklus kehidupan. Kesehatan remaja putri saat ini akan berkaitan dengan kesehatan perempuan ketika memasuki masa reproduksi dan menjadi calon ibu di kemudian hari.
Anemia pada Remaja Putri
Anemia merupakan salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian pada remaja putri. Menstruasi menyebabkan kebutuhan zat besi meningkat sehingga remaja putri memiliki risiko mengalami kekurangan zat besi.
SKI 2023 menunjukkan bahwa 54,8% remaja putri belum pernah mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD). Selain itu, lebih dari separuh remaja putri yang tidak mengkonsumsi TTD menyatakan belum mengetahui manfaatnya.
Anemia dapat menyebabkan mudah lelah, lemah, kurang konsentrasi, dan menurunkan produktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi kesehatan remaja putri juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan ketika memasuki masa kehamilan.
Pencegahan anemia perlu dilakukan melalui konsumsi makanan bergizi, terutama sumber zat besi, serta konsumsi TTD sesuai anjuran. Edukasi mengenai manfaat TTD juga perlu diperkuat agar remaja memahami bahwa pencegahan anemia merupakan bagian dari investasi kesehatan mereka.
Rokok dan Rokok Elektronik
Penggunaan rokok dan rokok elektronik atau vape juga menjadi perhatian dalam kesehatan remaja. Produk nikotin dapat menimbulkan ketergantungan dan berisiko terhadap kesehatan.
WHO melaporkan bahwa penggunaan rokok pada pelajar usia 13–17 tahun di Indonesia meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penggunaan rokok elektronik juga ditemukan pada kelompok usia tersebut.
Pencegahan perlu dilakukan sejak sebelum remaja mulai mencoba. Remaja perlu memiliki kemampuan untuk menolak tekanan teman sebaya, memahami risiko nikotin, serta mampu mengenali berbagai strategi pemasaran produk rokok dan rokok elektronik.
Keluarga dan sekolah mempunyai peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung remaja untuk tidak merokok.
Gaya Hidup di Era Digital
Perkembangan teknologi memberikan banyak manfaat bagi remaja. Internet dan media sosial dapat menjadi sumber informasi, sarana belajar, dan media komunikasi. Namun, penggunaan teknologi secara berlebihan juga dapat berdampak pada pola tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, dan kesehatan mental.
Remaja perlu memiliki literasi kesehatan dan literasi digital. Tidak semua informasi kesehatan di media sosial dapat dipercaya. Informasi mengenai diet, obat, suplemen, kesehatan reproduksi, maupun kesehatan mental perlu diperiksa melalui sumber yang terpercaya.
Gaya hidup sehat juga perlu dibangun sejak remaja melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang baik, tidak merokok, serta menjaga kesehatan mental.
Kebiasaan tersebut penting karena berbagai faktor risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung dapat mulai terbentuk sejak usia muda.
Membangun Remaja Sehat Membutuhkan Kolaborasi
Kesehatan remaja tidak dapat menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan saja. Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat harus bekerja sama.
Keluarga perlu menjadi tempat yang aman bagi remaja untuk bertanya dan bercerita. Sekolah dapat memberikan pendidikan kesehatan serta menciptakan lingkungan yang aman dari perundungan dan kekerasan. Sementara itu, fasilitas kesehatan perlu menyediakan pelayanan yang mudah diakses, ramah, menjaga privasi, dan sesuai dengan kebutuhan remaja.
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi, konseling, skrining, dan pelayanan kesehatan bagi remaja.
Peran Bidan dalam Kesehatan Remaja
Dalam bidang kesehatan perempuan, bidan memiliki peran strategis dalam mendukung kesehatan remaja. Pelayanan kebidanan tidak hanya dimulai ketika seorang perempuan hamil, tetapi dapat dimulai sejak masa remaja melalui promosi kesehatan dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi.
Bidan dapat berperan dalam memberikan edukasi mengenai pubertas dan menstruasi sehat, pencegahan anemia, kesehatan reproduksi, pola hidup sehat, konseling, serta persiapan kesehatan sebelum memasuki masa reproduksi.Pendekatan kepada remaja perlu dilakukan secara ramah, komunikatif, tidak menghakimi, menjaga privasi, dan sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Anemia pada Remaja Putri: Tantangan Pencegahan melalui Konsumsi Tablet Tambah Darah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Bayi Sehat Lahir dari Ibu Sehat sejak Remaja. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- UNICEF Indonesia. (2025). Profil Kesehatan Remaja Indonesia 2024. Jakarta: UNICEF Indonesia.
- World Health Organization. (2024). Transforming Adolescent Health: WHO’s Comprehensive Report on Global Progress and Gaps. Geneva: World Health Organization.
- World Health Organization. (2026). WHO Calls for Bold Moves to Protect the Next Generation from Tobacco and Nicotine. Jakarta: WHO Indonesia.