by Admin Kebidanan | Jan 27, 2026 | Artikel
Created by Fatimatasari, M.Keb., Bd
Di era digital saat ini, Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Gemini, dan platform sejenis telah menjadi bagian dari keseharian dalam proses belajar. AI menawarkan kemudahan dalam mengakses informasi, mulai dari menjawab pertanyaan, meringkas materi, hingga membantu menemukan referensi untuk penulisan akademik. Namun demikian, keberadaan AI perlu disikapi secara bijak agar benar-benar mendukung proses belajar yang bermakna.
Penggunaan AI tanpa sikap kritis dapat memengaruhi kedalaman pemahaman dalam proses belajar. Sebaliknya, jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperluas wawasan dan memperkaya proses belajar kita.
Berikut ini adalah panduan agar AI dapat digunakan sebagai alat bantu belajar yang kritis, efektif, dan bertanggung jawab.
- Memahami Jawaban AI secara Menyeluruh
Setiap jawaban yang diberikan AI perlu dipahami secara menyeluruh. Ketika muncul istilah atau konsep yang belum jelas, diperlukan upaya untuk menelusuri dan mempelajarinya lebih lanjut. Menerima informasi tanpa pemahaman yang memadai berisiko menimbulkan kesalahpahaman dan memperkuat ketidakpahaman yang telah ada.
Mengajukan pertanyaan lanjutan seperti apa, mengapa, dan bagaimana dapat membantu kita memperoleh pemahaman yang lebih kuat. Dengan pendekatan ini, AI berfungsi sebagai pemantik diskusi dan refleksi, bukan sekadar penyedia jawaban instan.
2. Mengembangkan Sikap Kritis terhadap Jawaban AI
Jawaban AI perlu selalu kita cermati dari segi konteks dan substansinya. Hal ini karena AI menghasilkan respons berdasarkan pola data, bukan pemahaman konseptual maupun penilaian kebenaran ilmiah. Oleh karena itu, penggunaan AI membutuhkan pemahaman dasar dan pengetahuan awal yang memadai agar kesalahan atau ketidaktepatan informasi dapat segera dikenali.
Sikap kritis tumbuh melalui kebiasaan membaca, memahami, dan merefleksikan informasi. Proses belajar berlangsung secara berkelanjutan, dimulai dari membaca dan memahami, kemudian mengkritisi, mencari jawaban, serta memperdalam pengetahuan secara berulang. Melalui proses ini, kemampuan berpikir kritis dan minat untuk terus belajar dapat berkembang secara seimbang.
3. Meminta dan Memverifikasi Sumber Referensi
Dalam menggunakan AI, penting bagi kita untuk membiasakan diri meminta sumber referensi yang jelas sebagai dasar penelusuran informasi. Langkah selanjutnya adalah memverifikasi apakah referensi tersebut benar-benar ada, relevan, dan sesuai dengan konteks pembahasan.
Sumber resmi seperti jurnal peer-reviewed, buku ajar, dokumen kebijakan, atau rekomendasi institusional perlu menjadi rujukan utama. Dengan cara ini, informasi yang digunakan memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
4. Menyusun Kesimpulan dengan Pemahaman Sendiri
Setelah memahami dan memverifikasi informasi yang diperoleh, langkah penting selanjutnya adalah menyusun kesimpulan dengan bahasa dan pemahaman sendiri. Proses ini membantu memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dipahami, bukan sekadar diterima.
Menuliskan kembali inti informasi dengan bahasa sendiri juga berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir analitis, meningkatkan retensi ingatan dan keterampilan menulis akademik.
Penutup
Kehadiran AI memberikan peluang besar dalam mendukung proses belajar di perguruan tinggi. Dibandingkan generasi sebelumnya, kita kini memiliki akses informasi yang lebih luas, cepat, dan mudah. Jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang memperkaya pemahaman dan memperluas perspektif.
Sebaliknya, penggunaan AI yang tidak disertai refleksi dan verifikasi berpotensi memengaruhi kualitas proses belajar. Oleh karena itu, sikap kritis, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam menggunakan AI menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar memberikan manfaat optimal.
Sejalan dengan prinsip tersebut, Program Studi S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menempatkan proses belajar sebagai fondasi utama pendidikan. Pembelajaran dirancang untuk mendorong pemahaman yang mendalam, berpikir kritis, dan refleksi ilmiah, bukan sekadar pencapaian hasil secara instan.
AI merupakan alat bantu belajar yang memiliki potensi besar, dan kebermanfaatannya sangat ditentukan oleh cara kita menggunakannya dalam proses pembelajaran.
Referensi
Pikhart, M., & Al-Obaydi, L. H. (2025). Reporting the potential risk of using AI in higher education: Subjective perspectives of educators. Computers in Human Behavior Reports, 18, Article 100693. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2025.100693
Orhani, Senad & Hoti Kolukaj, Mimoza. (2025). The Risks and Potential of AI in Education. Contemporary Research Analysis Journal. 2. 448-459. https://doi.org/10.55677/CRAJ/08-2025-Vol02I07
Vieriu, A. M., & Petrea, G. (2025). The Impact of Artificial Intelligence (AI) on Students’ Academic Development. Education Sciences, 15(3), 343. https://doi.org/10.3390/educsci15030343
by Admin Kebidanan | Jan 22, 2026 | Artikel
Created By Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn
Halo para remaja hebat! Sebagai seorang bidan, saya tidak hanya peduli dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan emosional kalian. Masa remaja adalah masa yang penuh warna, perubahan, dan tantangan. Kalian sedang mencari jati diri, mengeksplorasi banyak hal baru, dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Di tengah semua itu, menjadi remaja yang bijak adalah kunci untuk menjalani periode ini dengan penuh makna dan minim penyesalan.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Apa itu remaja bijak? Remaja bijak adalah mereka yang mampu berpikir jernih, membuat keputusan yang tepat, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan memiliki kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kedengarannya kompleks, ya? Tapi sebenarnya tidak sulit jika kita tahu caranya.
Berikut adalah beberapa tips dari saya, sang bidan, untuk menjadi remaja yang bijak:
1. Kenali Dirimu Sendiri (Self-Awareness) Ini adalah langkah pertama dan terpenting. Apa minatmu? Apa kelebihanmu? Apa kekuranganmu? Apa yang membuatmu bahagia? Apa yang membuatmu sedih? Dengan mengenal diri sendiri, kamu akan lebih mudah menentukan arah dan tujuan hidupmu, serta tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif.
2. Pikirkan Sebelum Bertindak (Think Before You Act) Di usia remaja, seringkali emosi lebih mendominasi daripada logika. Belajarlah untuk menarik napas sejenak sebelum merespons sesuatu, terutama dalam situasi yang memancing emosi. Pikirkan konsekuensi dari setiap tindakan atau ucapanmu. Apakah itu akan menyakiti orang lain? Apakah itu akan merugikan dirimu sendiri di kemudian hari?
3. Pilih Lingkaran Pertemanan yang Positif Teman-teman sangat memengaruhi siapa dirimu. Pilihlah teman-teman yang mendukungmu untuk berkembang, yang mengajakmu pada kebaikan, dan yang bisa menjadi panutan. Jauhi pertemanan yang menjerumuskanmu pada hal-hal negatif seperti narkoba, seks bebas, atau bullying.
4. Bijak dalam Menggunakan Media Sosial Media sosial adalah pedang bermata dua. Bisa jadi sarana positif untuk belajar dan bersosialisasi, tapi juga bisa jadi sumber masalah jika tidak bijak menggunakannya. Jangan mudah percaya pada semua informasi, hindari membandingkan dirimu dengan orang lain, dan berhati-hatilah dalam memposting sesuatu. Ingat, jejak digital itu abadi!
5. Prioritaskan Pendidikan dan Belajar Hal Baru Pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depanmu. Rajinlah belajar, bertanya jika tidak mengerti, dan jangan pernah berhenti mencari ilmu. Di luar pelajaran sekolah, carilah kesempatan untuk belajar keterampilan baru, seperti bahasa asing, coding, atau bahkan memasak. Semakin banyak yang kamu tahu, semakin luas wawasanmu.
6. Jaga Kesehatan Fisik dan Mentalmu Remaja bijak tahu bahwa tubuh dan pikiran yang sehat adalah modal utama. Cukupi waktu tidur, makan makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan luangkan waktu untuk relaksasi. Jika kamu merasa stres atau cemas berlebihan, jangan ragu untuk bercerita kepada orang dewasa yang kamu percaya, seperti orang tua, guru, atau bahkan saya sebagai bidan.
7. Berani Mengatakan “Tidak” pada Hal yang Buruk Ini adalah salah satu tanda kebijaksanaan yang paling penting. Tekanan teman sebaya seringkali membuat kita sulit menolak ajakan yang tidak baik. Ingatlah bahwa kamu memiliki hak untuk menolak, dan tidak apa-apa jika harus berbeda. Keberanianmu untuk mengatakan “tidak” akan melindungi dirimu dari banyak masalah.
8. Miliki Rasa Empati dan Kepedulian Remaja bijak tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Belajarlah untuk memahami perasaan orang lain, bantu mereka yang kesulitan, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarmu. Hal ini akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih kaya hati dan dicintai banyak orang.
9. Berpikir Kritis dan Mencari Kebenaran Jangan mudah percaya pada hoaks atau informasi yang belum jelas kebenarannya. Biasakan untuk mencari tahu lebih dalam, membandingkan informasi dari berbagai sumber, dan bertanya pada ahli. Kemampuan berpikir kritis akan membantumu terhindar dari kesesatan informasi.
Masa remaja adalah fondasi untuk masa dewasamu. Dengan menjadi remaja yang bijak, kamu sedang membangun masa depan yang cerah dan penuh potensi. Jangan takut untuk berbuat salah, karena dari kesalahan kita belajar. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjadi versi terbaik dari dirimu.
Daftar Referensi Sumber Terkini (Lengkap & Jelas):
Sebagai dasar ilmiah dari artikel di atas, berikut adalah referensi yang digunakan:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024). Pedoman Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Jakarta: Kemenkes RI. (Fokus pada standar pelayanan kesehatan komprehensif untuk remaja di Puskesmas).
- WHO (World Health Organization) (2024). Adolescent Health and Development: Mental Health and Nutrition. [Online] Tersedia di: who.int. (Menjelaskan data global mengenai beban kesehatan mental pada usia 10-19 tahun).
- BKKBN (2024). Modul Generasi Berencana (GenRe) tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (Menekankan pada kesiapan fisik, mental, dan finansial sebelum berkeluarga).
- UNICEF Indonesia (2023-2024). The State of the World’s Children: On My Mind. (Laporan komprehensif mengenai kesehatan mental remaja di Indonesia pasca-transformasi digital).
- Jurnal Kesehatan Masyarakat (2024). Analisis Prevalensi Anemia dan Status Gizi pada Remaja Putri di Indonesia. (Digunakan untuk dasar edukasi nutrisi dan suplementasi Tablet Tambah Darah).
by Admin Kebidanan | Jan 15, 2026 | Artikel
Universitas Alma Ata kembali menyelenggarakan Seminar Asuhan Continuity of Care sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran mahasiswa Profesi Bidan. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi mahasiswa dalam mempresentasikan dan merefleksikan proses asuhan kebidanan yang telah mereka lakukan selama praktik klinik.
Dalam praktik Continuity of Care (CoC), mahasiswa Profesi Bidan Universitas Alma Ata memberikan asuhan kebidanan secara berkesinambungan kepada ibu dengan kasus kehamilan patologis yang ditemui langsung di lahan praktik. Asuhan dilakukan secara komprehensif melalui tahapan pengkajian menyeluruh, penetapan masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi asuhan sesuai kebutuhan klien.
Mahasiswa dituntut untuk mampu menyusun dan menerapkan intervensi kebidanan yang tepat sebagai solusi atas permasalahan yang dialami klien. Seluruh proses asuhan dilaksanakan dengan mengacu pada standar pelayanan kebidanan serta prinsip evidence-based practice, sehingga asuhan yang diberikan aman, efektif, dan berkualitas.
Seminar ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi capaian pembelajaran mahasiswa, tetapi juga wadah refleksi dalam mempersiapkan diri menjadi bidan profesional yang kompeten, berintegritas, dan mampu memberikan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan dan berorientasi pada kebutuhan klien.
Ingin menjadi Bidan yang kompeten dan berintegritas melalui pembelajaran berbasis praktik nyata? Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata siap membersamai Anda melalui pembelajaran yang komprehensif. Sebagai program studi terakreditasi, kurikulum S1 Kebidanan Universitas Alma Ata dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam terhadap asuhan kebidanan, termasuk penanganan kasus kehamilan patologis yang ditemui langsung di lahan praktik. Didukung oleh dosen-dosen yang expert di bidang kebidanan, mahasiswa dibimbing untuk menguasai teori dan praktik kebidanan berbasis evidence-based practice sehingga mampu memberikan solusi klinis yang tepat, aman, dan profesional.
Jadilah Bidan profesional yang tidak hanya terampil secara klinis, tetapi juga menjunjung nilai keilmuan, integritas, dan nilai-nilai Islami dalam setiap asuhan kebidanan.Wujudkan passion Anda bersama Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata.
by Admin Kebidanan | Jan 13, 2026 | Artikel
Created by: Bdn. Rani Ayu Hapsari, S.ST.,SKM.,MKM
Kesadaran Masyarakat terutama seorang ibu tentang pentingnya Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan secara eksklusif kian diperkuat oleh berbagai kebijakan pemerintah. Bukan sekadar nutrisi biasa, ASI kini dipandang sebagai “investasi emas” bagi pembentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Bagi bayi yang baru lahir, ASI adalah satu-satunya asupan yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan gizi secara sempurna tanpa bantuan cairan lain selama enam bulan pertama.
Kualitas Air Susu Ibu (ASI) sangat bergantung pada asupan nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu setiap harinya. Di antara berbagai zat gizi, protein menempati posisi yang utama sebagai nutrisi makro yang secara signifikan memengaruhi komposisi ASI dan pertumbuhan bayi.
Kunci ASI Berkualitas: Mengapa Asupan Protein Ibu Jadi Penentu Kecerdasan Bayi?
Di tengah upaya nasional mencetak Generasi Emas 2045, para ahli di bidang kesehatan terus menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah Salah satu komponen yang menjadi sorotan utama adalah protein, yang disebut-sebut sebagai arsitek utama dalam pembangunan sel tubuh dan otak bayi. Dibalik teksturnya yang cair, ASI menyimpan ribuan komponen bioaktif kompleks yang bekerja secara cerdas mengikuti kebutuhan bayi.
Protein dalam ASI berperan sebagai zat pembangun utama untuk membentuk jaringan otot, tulang, hingga organ vital bayi yang sedang tumbuh pesat. Tanpa asupan protein yang adekuat dari ibu, pertumbuhan fisik bayi berisiko mengalami hambatan, yang dalam jangka panjang dapat memicu kondisi stunting
Asam amino esensial yang terkandung dalam protein ASI sangat dibutuhkan untuk pembentukan jaringan saraf dan perkembangan kognitif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan asupan protein cukup melalui ASI memiliki modalitas lebih baik dalam mendukung kemampuan belajar dan kecerdasan mereka di masa depan.
ASI memiliki rasio protein yang sangat unik, yaitu sekitar 60% whey dan 40% kasein. Berbeda dengan susu formula yang didominasi kasein, protein whey dalam ASI jauh lebih mudah dicerna oleh lambung bayi yang masih sensitif. Selain itu, whey mengandung antibodi seperti imunoglobulin A (IgA) dan laktoferin yang berfungsi sebagai benteng perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus.
Rahasia ASI Melimpah: Pakar Ungkap Konsumsi Protein Ibu Jadi Kunci Utama Produksi “Cairan Emas”
Banyak ibu menyusui mulai menyadari bahwa kunci volume ASI yang melimpah bukan hanya pada kecukupan cairan, melainkan pada asupan nutrisi makro, khususnya protein. Para ahli menegaskan bahwa protein merupakan “mesin penggerak” yang secara langsung memengaruhi produktivitas kelenjar susu. Tubuh ibu memerlukan bahan baku yang cukup untuk menghasilkan produk berkualitas. Protein mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan oleh jaringan payudara untuk mensintesis ASI. Kekurangan protein pada diet ibu seringkali menjadi penyebab utama menurunnya suplai ASI meskipun frekuensi menyusui sudah ditingkatkan.
Konsumsi protein yang adekuat membantu menjaga keseimbangan hormon dalam tubuh ibu. Hormon prolaktin (hormon pemicu produksi ASI) dan oksitosin (hormon pelepas ASI) bekerja lebih optimal saat tubuh ibu berada dalam kondisi nutrisi yang stabil. Protein memberikan energi jangka panjang yang menjaga stamina ibu agar tetap prima dalam memproduksi ASI sepanjang hari. Protein memengaruhi densitas atau kekentalan ASI. ASI yang kaya akan protein dan lemak sehat cenderung membuat bayi merasa kenyang lebih lama. Hal ini menciptakan siklus menyusui yang teratur, yang secara alami menstimulasi tubuh ibu untuk terus memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayi.
“SUPERFOOD”: Sumber Protein Terbaik untuk Dongkrak Produksi ASI
Ibu menyusui yang mengonsumsi variasi protein berkualitas tinggi cenderung memiliki suplai ASI yang lebih stabil dan kaya akan nutrisi makro untuk pertumbuhan otak bayi.
- Telur sebagai salah satu camilan pelancar ASI terbaik. Selain mengandung protein lengkap, telur kaya akan kolin dan vitamin D yang berperan dalam meningkatkan hormon prolaktin. hormon utama yang merangsang produksi ASI di payudara.
- Ikan salmon dan Kembung yang merupakan rendah merkuri bukan hanya sumber protein, tapi juga penyumbang utama asam lemak Omega-3 (DHA).Dari hasil riset menunjukkan bahwa konsumsi ikan seperti salmon mendukung perkembangan retina dan kecerdasan kognitif bayi melalui ASI yang dihasilkan.
- Daging merah tanpa lemak dan dada ayam menyediakan zat besi dan zink yang krusial. Kekurangan zat besi pada ibu sering kali dikaitkan dengan rasa lelah berlebih yang dapat menghambat refleks pengeluaran ASI (let-down reflex).
- Sari kacang hijau. Kandungan protein nabatinya terbukti secara signifikan meningkatkan volume produksi ASI pada ibu pascasalin karena kemampuannya meningkatkan kadar hormon prolaktin secara alami.
- Tempe dan tahu tetap menjadi pilihan utama. Selain itu, kacang almond sering direkomendasikan sebagai “booster” karena kandungan protein dan kalsiumnya yang membantu menjaga kepadatan nutrisi dalam ASI.
Kualitas vs Kuantitas ASI: Mana yang Lebih Penting?
Kuantitas dan kualitas ASI adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya memegang peranan krusial dalam menentukan masa depan kesehatan anak. kuantitas atau volume ASI yang cukup adalah syarat mutlak untuk memastikan bayi terhidrasi dengan baik dan mendapatkan asupan kalori harian yang stabil. Volume ASI yang melimpah, yang dipicu oleh stimulasi rutin dan asupan cairan serta protein ibu yang cukup, berkolerasi langsung dengan kenaikan berat badan bayi yang ideal pada seribu hari pertama kehidupan. Kualitas komposisi ASI terutama kadar DHA, imunoglobulin, dan protein fungsional menentukan seberapa kuat sistem imun bayi menghadapi serangan virus dan bakteri. Riset menunjukkan bahwa ibu dengan pola makan gizi seimbang menghasilkan ASI dengan profil nutrisi mikro yang lebih kaya, yang secara signifikan mampu meningkatkan skor kognitif (IQ) anak di masa depan.
Air Susu Ibu (ASI) yang “berkualitas dalam jumlah yang cukup” merupakan intervensi kesehatan paling efektif untuk mencegah stunting dan obesitas sejak dini. Komposisi ASI yang dinamis yang berubah sesuai usia bayi membuktikan bahwa tubuh ibu secara cerdas memproduksi nutrisi yang paling dibutuhkan pada waktu yang tepat. Memberikan ASI bukan sekadar memberi makan, melainkan memberikan perlindungan biologis yang tak tertandingi. Kombinasi antara volume ASI yang cukup dan komposisi nutrisi yang padat adalah fondasi utama bagi terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh.
Referensi
- Lien Meilya Muriasti Prastiyani, Nuryanto, Journal Of Nutrition Collage (2019), https://doi.org/10.14710/jnc.v8i4.25838
- Canel oner sayar, Sabiha zeynep,Europan Journal Clinical Of Nutrition (2025), https://www.nature.com/articles/s41430-025-01588-z#citeas
- Ray Wagiu Basrowi, Febriansyah Darus, Tonny Sundjaya, Runi Arumndari, Amerta Nutrition (2025) https://doi.org/10.20473/amnt.v9i4.2025.735-746
- Febi Marissa, Rostika Flora, Mohammad Zulkarnain,(2023) Journal Of Health Science https://doi.org/10.51712/mitraraflesia.v15i2.283
- Linda Ratna Wati, Djanggan Sargowo,Tatit Nurseta, Lilik Zuhriyah, Nutrients (2023) https://doi.org/10.3390/nu15112584
- Desi Dwi Anissa, Ratna Kumala Dewi, Jurnal Tadris IPA Indonesia (2021) https://doi.org/10.21154/jtii.v1i3.393
- Su yeong kim, Dae young yi, Clinical And Experimental Pediatrics (2020), https://doi.org/10.3345/cep.2020.00059
by Admin Kebidanan | Jan 8, 2026 | Artikel
Created by: Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb
Di balik aktivitas sekolah, interaksi media sosial, dan keseharian yang tampak normal, banyak remaja ternyata sedang menghadapi masalah kesehatan mental secara diam-diam. Kondisi ini dikenal sebagai silent struggle, yaitu keadaan ketika remaja mengalami stres, kecemasan, dan depresi namun tidak terdeteksi atau tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai kondisi yang paling umum. Gangguan ini sering muncul pada masa remaja awal dan dapat berlanjut hingga dewasa apabila tidak ditangani secara tepat (World Health Organization, 2025).
Data Penelitian Menunjukkan Angka yang Mengkhawatirkan
Sejumlah penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada remaja merupakan fenomena nyata dan meluas. Penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi, Moeliono, dan Kendhawati (2022) terhadap 647 remaja usia 14–18 tahun di Bandung menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42) menemukan bahwa:
- 58,7% remaja mengalami kecemasan,
- 34,7% mengalami stres, dan
- 32,15% menunjukkan gejala depresi.
Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki, mengindikasikan adanya kerentanan berbasis gender dalam kesehatan mental remaja.
Temuan serupa juga terlihat secara global. Sebuah meta-analisis oleh Racine et al. (2021) yang melibatkan lebih dari 80.000 anak dan remaja di berbagai negara melaporkan bahwa 25,2% remaja mengalami gejala depresi dan 20,5% mengalami kecemasan selama pandemi COVID-19. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sebelum pandemi, menandakan dampak besar perubahan sosial terhadap kesehatan mental remaja.
Sementara itu, meta-analisis besar lainnya yang mencakup lebih dari 1,3 juta anak dan remaja menunjukkan bahwa 31% mengalami gejala depresi dan kecemasan, serta 42% mengalami gangguan tidur (Pan et al., 2022). Gangguan tidur ini diketahui berkaitan erat dengan stres psikologis dan penurunan kesehatan mental secara keseluruhan.
Tekanan Akademik dan Media Sosial Jadi Faktor Dominan
Para peneliti menyoroti bahwa tekanan akademik, tuntutan prestasi, dan ekspektasi keluarga menjadi pemicu utama stres pada remaja. Selain itu, penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan juga berkontribusi terhadap meningkatnya kecemasan dan depresi.
Penelitian terbaru oleh Dai dan Ouyang (2025) terhadap lebih dari 50.000 anak dan remaja di Amerika Serikatmenemukan bahwa remaja dengan screen time ≥4 jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan (adjusted OR 1,45) dan depresi (adjusted OR 1,65). Penggunaan gawai yang berlebihan sering kali berdampak pada kurangnya aktivitas fisik, gangguan tidur, dan meningkatnya perasaan kesepian.
Selain itu, studi di Asia juga menunjukkan hasil yang konsisten. Penelitian terhadap 22.380 remaja di Tiongkokmelaporkan bahwa 25,6% mengalami depresi dan 26,9% mengalami kecemasan, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada remaja perempuan (Li et al., 2021).
Dampak Nyata bagi Kehidupan Remaja
Masalah stres, kecemasan, dan depresi tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis remaja, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Remaja dengan gangguan mental berisiko mengalami penurunan prestasi akademik, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, menarik diri dari pergaulan sosial, serta penurunan kualitas hidup.
Penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi (alexithymia) memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi, sehingga cenderung memendam masalah tanpa mencari bantuan (Zakiyyah et al., 2025).
Pentingnya Deteksi Dini dan Dukungan Lingkungan
Para ahli menekankan bahwa deteksi dini kesehatan mental remaja sangat penting, terutama melalui lingkungan sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan. Skrining kesehatan mental, edukasi psikologis, serta penyediaan ruang aman bagi remaja untuk berbagi cerita dapat membantu mencegah dampak jangka panjang.
WHO juga menegaskan bahwa dukungan emosional dari orang tua, guru, dan teman sebaya, disertai promosi gaya hidup sehat seperti tidur cukup, aktivitas fisik, dan pengelolaan waktu penggunaan gawai, merupakan langkah kunci dalam menjaga kesehatan mental remaja.
Masalah yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan
Fenomena silent struggle menegaskan bahwa kesehatan mental remaja bukan sekadar masalah individu, melainkan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Dengan meningkatnya kesadaran, intervensi berbasis sekolah dan komunitas, serta kebijakan kesehatan yang berpihak pada remaja, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dengan kondisi mental yang lebih sehat dan sejahtera.
Referensi
- Pertiwi, S. T., Moeliono, M. F., & Kendhawati, L. (2022). Depresi, kecemasan, dan stres remaja selama pandemi COVID-19. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 6(2). https://doi.org/10.36722/sh.v6i2.497
- Racine, N., McArthur, B. A., Cooke, J. E., Eirich, R., Zhu, J., & Madigan, S. (2021). Global prevalence of depressive and anxiety symptoms in children and adolescents during COVID-19: A meta-analysis. JAMA Pediatrics, 175(11), 1142–1150.
- Pan, K. Y., Kok, A. A. L., Eikelenboom, M., et al. (2022). Prevalence of mental health symptoms in children and adolescents during the COVID-19 pandemic: A meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 31–42.
- Li, X., Zhang, S., & Xue, S. (2021). Prevalence of and risk factors for depressive and anxiety symptoms in Chinese adolescents in the post-COVID-19 era. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 15, 80.
- Dai, Y., & Ouyang, N. (2025). Excessive screen time and mental health problems among children and adolescents. arXiv preprint.
- World Health Organization. (2025). Mental health of adolescents. WHO.
by Admin Kebidanan | Dec 30, 2025 | Artikel
Dalam sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak, bidan memegang peran yang sangat strategis. Bidan hadir sejak fase kehamilan, persalinan, nifas, hingga kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga. Namun, masih sering muncul anggapan bahwa satu jenjang pendidikan bidan lebih “unggul” dibanding yang lain. Padahal, D3 Kebidanan dan S1 Kebidanan–Profesi Bidan sama-sama penting, dengan keunggulan dan peran yang saling melengkapi.
Perbedaan jenjang pendidikan bukan untuk dibandingkan secara hierarkis, melainkan untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan dari hulu hingga hilir. Mari kita Simak penjelasan berikut:
D3 Kebidanan: Kuat di Pelayanan Klinis dan Lapangan
Program Diploma Tiga (D3) Kebidanan dirancang untuk mencetak bidan yang terampil secara praktik dan siap bekerja di layanan kesehatan dasar dalam waktu yang lebih singkat.
Keunggulan D3 Kebidanan:
- Fokus pada keterampilan klinis: Mahasiswa D3 dibekali kemampuan praktik kebidanan yang intensif, terutama dalam pelayanan kebidanan dasar, meliputi pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir normal.
- Siap terjun langsung ke lapangan: Lulusan D3 banyak berperan di puskesmas, klinik, dan fasilitas pelayanan primer, terutama di daerah yang membutuhkan tenaga bidan terampil.
- Responsif terhadap kebutuhan layanan dasar: D3 menjadi tulang punggung pelayanan kebidanan sehari-hari yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
D3 Kebidanan sangat penting untuk memastikan akses layanan kebidanan tetap tersedia, merata, dan berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya.
S1 Kebidanan–Profesi Bidan: Penguat Peran Edukasi, Kepemimpinan, dan Promosi Kesehatan
Sementara itu, S1 Kebidanan yang dilanjutkan dengan Profesi Bidan memiliki fokus yang lebih luas, tidak hanya pada keterampilan klinis, tetapi juga pada pengambilan keputusan berbasis ilmu, kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat meskipun membutuhkan waktu studi lebih lama.
Keunggulan S1 Kebidanan–Profesi Bidan:
- Kemampuan berpikir kritis dan berbasis evidence: Lulusan dibekali kemampuan menganalisis masalah kesehatan ibu dan anak secara komprehensif.
- Kuat dalam promosi dan edukasi kesehatan: Sangat berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, kesehatan mental ibu, dan perencanaan keluarga.
- Peran kepemimpinan dan manajerial: S1 Kebidanan–Profesi Bidan dipersiapkan menjadi pimpinan Praktik Mandiri Bidan (PMB), pengelola pelayanan, penggerak tim, pendidik, konselor, dan agen perubahan di masyarakat.
- Landasan untuk pengembangan karier: Membuka peluang lebih luas dalam dunia akademik, penelitian, kebijakan kesehatan, dan pengembangan layanan.
S1 Kebidanan–Profesi Bidan berperan penting dalam meningkatkan kualitas layanan, bukan hanya kuantitas, serta menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks.
Tidak Sama tapi Satu Kesatuan dan Berperan Saling Menguatkan
D3 dan S1 Kebidanan–Profesi Bidan tidak berdiri saling menggantikan, melainkan saling melengkapi:
- D3 memastikan pelayanan kebidanan berjalan efektif di lini terdepan.
- S1 Kebidanan–Profesi Bidan memastikan pelayanan tersebut berkembang secara ilmiah, edukatif, dan berkelanjutan.
Keduanya dibutuhkan agar sistem kesehatan ibu dan anak dapat berjalan secara berkesinambungan, bermutu, dan terintegrasi dalam mendukung kebijakan nasional.
Menjadi Bidan: Pilihan Profesi, Pilihan Pengabdian.
Apapun jalur pendidikan yang dipilih, menjadi bidan pada hakikatnya adalah memilih profesi dengan tanggung jawab besar. Seorang bidan hadir menjaga kehidupan sejak awal, mendampingi perempuan dalam setiap fase penting, sekaligus berkontribusi dalam membangun generasi masa depan.
Bagi yang ingin berkontribusi lebih luas dalam edukasi, promosi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat, melanjutkan pendidikan ke S1 Kebidanan dan Profesi Bidan menjadi langkah strategis.
Bagi yang ingin fokus pada pelayanan langsung dan praktik kebidanan, D3 Kebidanan dapat menjadi fondasi yang sangat berharga.
Karena pada akhirnya, setiap Bidan di jenjang apa pun memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan Perempuan, ibu, bayi, dan masa depan bangsa Indonesia.
Universitas Alma Ata memahami bahwa tantangan kesehatan saat ini membutuhkan Bidan yang terampil secara klinis serta didukung pendekatan berbasis bukti ilmiah dalam promosi kesehatan dan pemberdayaan Masyarakat.
Baik memulai dari D3 Kebidanan, atau S1 Kebidanan–Profesi Bidan, keduanya adalah pilihan bermakna untuk masa depan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Mari menjadi bagian dari bidan profesional yang berilmu, berempati, dan berdampak luas bersama Universitas Alma Ata.
REFERENSI
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan. Available at: https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&opi=89978449&url=https://peraturan.bpk.go.id/Download/94989/UU%2520Nomor%25204%2520Tahun%25202019.pdf&ved=2ahUKEwjh1OeG1uaRAxXnUGcHHRAMDsAQFnoECBoQAQ&usg=AOvVaw1KPpyV9TPKFKjcNpjY5vs6
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020. Available at: https://repositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id/294/2/Buku%20digital%20Standar%20Profesi%20Bidan.pdf