Masa remaja merupakan fase krusial yang diwarnai oleh berbagai perubahan fisik, emosional, serta sosial. Di era digital dan modernisasi yang penuh tekanan ini, remaja rentan mengalami kecemasan, stres, hingga krisis kepercayaan diri. Merespons tantangan tersebut, tim Dosen dan Mahasiswa dari Program Studi D3 Kebidanan menyelenggarakan kegiatan edukasi bertajuk “Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi atau Ketahanan Mental dan Kepercayaan Diri Anak Remaja” di SMK Giri Handayani, Wonosari, Gunungkidul.
Kegiatan ini merupakan bagian dari wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), yang berfokus pada penguatan kesehatan remaja secara holistik tidak hanya fisik dan reproduksi, tetapi juga mental dan psikologis.
Mengapa Resiliensi dan Kepercayaan Diri Penting bagi Remaja?
Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari kesulitan, adaptif terhadap tekanan, serta belajar dari kegagalan. Dalam pemaparannya, tim riset dan edukasi Prodi D3 Kebidanan menekankan bahwa rumah dan keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana ketahanan mental anak dibentuk.
“Kesehatan jiwa remaja berhubungan erat dengan kesehatan reproduksi dan tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. Remaja yang memiliki resiliensi tinggi cenderung mampu mengambil keputusan secara bijak, terhindar dari perilaku berisiko, serta lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar perwakilan tim Pengabdi Prodi D3 Kebidanan.
Pilar Utama Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Mental Remaja
Melalui sesi sosialisasi yang interaktif di SMK Giri Handayani, dipaparkan beberapa pilar utama yang perlu diterapkan oleh orang tua dan pendidik:
Komunikasi Empatis dan Membangun Ruang Aman (Safe Space)
Orang tua diimbau untuk menjadi pendengar yang aktif tanpa terburu-buru menghakimi. Ketika anak merasa didengar, tingkat kecemasan mereka akan menurun dan kepercayaan diri akan tumbuh.
Pola Asuh Demokratis (Authoritative Parenting)
Memberikan batasan yang jelas namun tetap diimbangi dengan hangatnya kasih sayang. Pola asuh ini terbukti efektif dalam melatih remaja untuk mandiri dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
Mengubah Kegagalan Menjadi Proses Belajar
Resiliensi tidak lahir dari kehidupan tanpa masalah, melainkan dari pengalaman mengatasi masalah. Orang tua perlu mendampingi anak saat menemui kegagalan, mengajarkan evaluasi diri, dan memvalidasi perasaan anak.
Memberikan Apresiasi pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Memuji usaha (effort) yang telah dilakukan remaja akan membangun growth mindset daripada sekadar memuji hasil akhir, sehingga anak tidak mudah putus asa jika menemui hambatan.
Sinergi Civitas Akademika dan Sekolah
Pihak SMK Giri Handayani menyambut hangat dan mengapresiasi inisiatif dari Program Studi D3 Kebidanan ini. Sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan orang tua murid diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendukung (support system) yang sehat bagi para siswa SMK Giri Handayani, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam keterampilan kejuruan (hard skills), tetapi juga tangguh secara mental (soft skills).
Melalui kegiatan edukasi ini, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata membuktikan komitmennya dalam memperluas cakupan asuhan kebidanan komunitas (community midwifery) yang mencakup kesehatan remaja secara menyeluruh demi mencetak generasi penerus bangsa yang sehat, percaya diri, dan berdaya saing.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
American Psychological Association (APA). (2020). Resilience in Times of Stress: Building Resilience in Children and Teens. APA Guidelines.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Standar Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas. Jakarta: Kemenkes RI.
Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. (2020). Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Tim Pengabdian Masyarakat Prodi D3 Kebidanan. (2026). Laporan Kegiatan Pengabdian Masyarakat: Peran Orangtua dalam Membangun Resiliensi Remaja di SMK Giri Handayani.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di era modern yang penuh tantangan digital dan sosial, kekhawatiran terbesar orang tua sering kali runtuh pada satu kata: bullying (perundungan). Banyak orang tua berpikir bahwa cara terbaik agar anak tidak diganggu adalah dengan memasukkan mereka ke kelas bela diri agar bisa memukul balik. Namun, sains psikologi menunjukkan hal yang berbeda.
Senjata paling ampuh untuk melindungi anak dari radar pelaku perundungan bukanlah kekuatan fisik untuk menyerang, melainkan ketegasan (assertiveness). Melatih anak menjadi asertif bukan agresif maupun pasif adalah investasi mental terbaik untuk membangun jaring pengaman bagi diri mereka sendiri.
1. Mengapa Pelaku Bullying Menghindari Anak yang Asertif?
Pelaku perundungan (bullies) pada dasarnya adalah oportunis. Mereka mencari target yang memberikan reaksi yang mereka inginkan: ketakutan, tangisan, kepasrahan, atau kemarahan yang meledak-ledak tanpa kendali.
Ketika seorang anak merespons gangguan dengan sikap asertif (tegas, tenang, dan terkendali), pelaku perundungan kehilangan kendali kekuasaannya. Anak yang asertif memancarkan sinyal bahwa mereka bukanlah target yang mudah diintimidasi.
2. Langkah Praktis Melatih Ketegasan (Assertiveness) pada Anak
Ketegasan bukan bakat bawaan lahir, melainkan keterampilan yang bisa dilatih di rumah melalui metode berikut:
A. Latih “Bahasa Tubuh yang Tangguh” (Confident Body Language)
Sebelum kata-kata keluar dari mulut, tubuh anak sudah mengirimkan pesan. Latih anak Anda di rumah untuk menerapkan Power Posing:
Kontak Mata: Ajarkan anak untuk menatap langsung mata orang yang mengganggunya. Menunduk adalah sinyal kepasrahan.
Postur Tegak: Berdiri dengan bahu tegap dan kedua kaki kokoh di tanah.
Ekspresi Wajah Netral: Melatih anak untuk tidak menunjukkan wajah menangis atau ketakutan, melainkan wajah yang tenang dan datar.
B. Formula “Katakan dengan Tegas” (The Assertive Script)
Anak-anak sering kali membeku (freeze) saat diganggu karena tidak tahu harus bicara apa. Berikan mereka kalimat template yang pendek, jelas, dan menggunakan nada suara yang lantang (bukan berteriak):
“Hentikan. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu.”
“Stop. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ajarkan anak untuk langsung berjalan pergi menuju keramaian atau area yang dekat dengan guru. Jangan bertahan di tempat untuk melayani perdebatan.
C. Ajarkan Perbedaan Asertif vs Agresif vs Pasif
Anak-anak perlu memahami batasan perilaku mereka sendiri agar tidak bias:
Pasif: Membiarkan orang lain menginjak-injak haknya (Menangis, diam saja saat dihina).
Agresif: Menyerang balik dengan kekerasan atau makian (Memukul, balas mengejek).
Asertif: Mempertahankan hak diri sendiri dengan cara yang sopan, tegas, dan menghargai diri sendiri serta orang lain.
3. Strategi Penguat di Lingkungan Sosial
Selain ketahanan individu, orang tua harus membekali anak dengan taktik lingkungan yang cerdas:
Strategi
Aplikasi Nyata
Buddy System (Sistem Teman)
Dorong anak untuk selalu berjalan bersama minimal satu atau dua teman dekat saat berada di area sepi sekolah (toilet, lorong, atau belakang kantin). Pelaku bullying jarang menyerang anak yang berada dalam kelompok.
Menghapus Stigma “Tukang Ngadu”
Tanamkan dogma di rumah bahwa melaporkan kekerasan atau intimidasi kepada otoritas (guru/orang tua) bukanlah tindakan pengecut, melainkan hak asasi untuk menjaga keamanan diri.
Kesimpulan
Membesarkan anak yang tangguh tidak berarti menciptakan anak yang ditakuti karena kebrutalannya. Anak yang tangguh adalah anak yang tahu harga dirinya, mampu menetapkan batasan yang jelas bagi orang lain, dan berani bersuara ketika batasan itu dilanggar. Dengan melatih ketegasan sejak dini di rumah, Anda sedang memberikan perisai tak kasat mata yang akan melindungi anak dimanapun mereka berada.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
UNICEF (2024). The Power of Peer Connectedness and Assertiveness in School Bullying Prevention. New York: UNICEF Guidance Series.
World Health Organization (WHO). (2025). School-based Violence Prevention: A Global Framework for Action. Jenewa: WHO Guidelines..
American Psychological Association (APA). (2023). Bullying Prevention for Parents: Empowering Assertive Children. APA PsychNET.
International Journal of Behavioral Development. (2025). Longitudinal Study on Assertiveness Training and Victimization Rates among Young Adolescents, 49(2), 115-128.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kehadiran ruang digital telah mengubah cara anak-anak kita belajar, bermain, dan bersosialisasi. Namun, dibalik kemudahan teknologi, terdapat ancaman laten yang mengintai kesehatan mental mereka: Cyber Bullying (Perundungan Siber).
Berbeda dengan perundungan konvensional yang berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi, cyberbullying tidak mengenal batas waktu dan ruang. Ejekan, intimidasi, penyebaran rumor, hingga pengucilan digital dapat masuk langsung ke dalam kamar anak melalui layar gawai mereka, selama 24 jam sehari. Dampak psikologisnya pun masif, mulai dari kecemasan akut, penurunan performa akademik, hingga risiko depresi berat.
Sebagai orang tua dan pendidik, kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan anak dari internet. Langkah terbaik adalah memberikan mereka “baju zirah” digital. Berikut adalah strategi konkret untuk membentengi anak dari sisi gelap dunia digital.
1. Membangun Literasi Digital dan Etika Siber (Netiquette)
Banyak anak terjebak menjadi korban—atau bahkan tanpa sadar menjadi pelaku—karena tidak memahami batasan di dunia maya.
Prinsip Jejak Digital: Ajarkan anak bahwa apapun yang diunggah di internet (foto, komentar, video) akan meninggalkan jejak permanen yang sulit dihapus (digital footprint).
Pikir Sebelum Mengklik (T.H.I.N.K): Latih anak untuk mengevaluasi apa yang akan mereka ketik atau bagikan dengan prinsip: Apakah itu Benar (True), Membantu (Helpful), Menginspirasi (Inspiring), Diperlukan (Necessary), dan Baik (Kind)? Jika tidak, minta mereka untuk urung membagikannya.
2. Membekali Anak dengan Keterampilan Taktis Digital
Anak-anak harus tahu apa yang harus dilakukan secara teknis ketika mereka mulai melihat atau mengalami tanda-tanda intimidasi siber.
Jangan Membalas (Don’t Retaliate): Pelaku cyberbullying sangat mengharapkan reaksi marah atau sedih dari korbannya. Membalas makian hanya akan memperpanjang konflik.
Blokir dan Laporkan (Block & Report): Manfaatkan fitur keamanan di platform media sosial. Ajarkan anak cara memblokir akun yang mengganggu dan melaporkannya (report) ke sistem moderasi platform (seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp).
Simpan Bukti Digital (Screenshots): Ini adalah langkah krusial. Ajarkan anak untuk segera mengambil tangkapan layar (screenshot) dari pesan teks, komentar, atau unggahan yang bersifat merundung sebelum dihapus oleh pelaku, sebagai bukti otentik untuk pelaporan lanjutan.
3. Menerapkan Aturan Penggunaan Gawai di Rumah
Batasan fisik di dunia nyata sangat membantu menjaga kewarasan mental anak di dunia maya.
Zona Bebas Gawai (Screen-Free Zones): Buat kesepakatan bersama bahwa tidak boleh ada gawai di meja makan dan di dalam kamar tidur saat jam tidur malam. Banyak kasus cyberbullying terjadi atau memburuk pada larut malam saat pengawasan orang tua melemah.
Gunakan Aplikasi Pemantauan (Parental Control): Tanpa melanggar privasi anak secara ekstrem, orang tua dapat menggunakan aplikasi pelacak untuk menyaring konten dewasa dan membatasi durasi aktif media sosial anak.
Ringkasan Langkah Mitigasi untuk Orang Tua
1.Edukasi Fitur Keamanan:Tindakan Preventif.
Ajarkan anak cara mengunci akun menjadi privat (private account) dan menyaring komentar yang mengandung kata-kata kasar secara otomatis.
2.Buka Jalur Komunikasi:Kebiasaan Harian.
Sempatkan mengobrol tanpa gawai setiap malam. Tanyakan: “Ada cerita menarik atau yang bikin kamu nggak nyaman nggak di media sosial hari ini?”
3.Respons Cepat & Tenang:Tindakan Tanggap.
Jika anak melapor menjadi korban, tanggapi dengan tenang. Kumpulkan bukti screenshot, lakukan mediasi bersama pihak sekolah, atau bawa ke psikolog jika anak menunjukkan trauma berat.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
UNICEF (2024). Cyberbullying: What is it and how to stop it – A Digital Safety Guide.
World Health Organization (WHO). (2023). Global Status Report on Preventing Violence Against Children in the Digital Age.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP). (2025). Social Media and Teens: Clinical Update on Cyber-Harassment.
Putri, A., & Santoso, B. (2025). Dampak Perundungan Siber Terhadap Resiliensi Psikologis Remaja. Jurnal Psikologi Perkembangan Indonesia, 12(2), 145-158.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Setiap anak lahir dengan temperamen yang unik. Ada anak yang secara alami berani tampil di depan publik, namun tidak sedikit pula yang cenderung pasif, pemalu, dan menarik diri dari interaksi sosial.
Sifat pasif pada anak sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan. Namun, jika kepasifan ini berakar dari rasa rendah diri, ketakutan ekstrim akan penolakan, atau kurangnya keterampilan sosial, anak berisiko tinggi menjadi target empuk perundungan (bullying) dan mengalami gangguan kecemasan di kemudian hari.
Membangun keberanian anak bukanlah dengan cara memaksa mereka menjadi orang lain, melainkan memperkuat karakter mereka dari dalam (inside-out). Berikut adalah langkah praktis berbasis psikologi perkembangan untuk mengubah anak pasif menjadi pribadi yang berani dan percaya diri.
1. Latih Assertive Communication (Komunikasi Tegas) sejak di Rumah
Anak yang pasif seringkali kesulitan menyatakan keinginan atau menolak hal yang tidak mereka sukai karena takut memicu konflik. Orang tua perlu melatih mereka dasar-dasar komunikasi asertif.
Kontak Mata dan Bahasa Tubuh: Saat anak meminta sesuatu di rumah, biasakan mereka untuk berbicara sambil menatap mata Anda dengan bahu yang tegak. Bahasa tubuh yang tegap memancarkan sinyal percaya diri ke otak mereka sendiri dan orang di sekitarnya.
Gunakan “I-Statement”: Latih anak untuk mengekspresikan diri menggunakan struktur kalimat: “Aku merasa… ketika kamu… jadi aku minta…”
Contoh: “Aku merasa sedih ketika mainanku direbut, jadi aku minta tolong kembalikan.” Ini melatih anak mempertahankan haknya tanpa perlu menjadi agresif.
2. Berikan “Pujian Berbasis Proses” (Growth Mindset Praise)
Banyak orang tua keliru memberikan pujian yang berfokus pada hasil atau label permanen, seperti “Kamu pintar sekali” atau “Kamu anak hebat”. Pujian jenis ini justru membuat anak pasif takut mencoba hal baru karena takut kehilangan label “pintar” tersebut jika mereka gagal.
Ubah Pola Pujian: Berfokuslah pada usaha, strategi, dan ketahanan mereka.
1) Salah: “Wah, kamu berani banget langsung menang lomba!”
2) Benar: “Ibu bangga sekali melihat kamu tadi berani maju ke depan kelas meskipun tanganmu sempat gemetar. Itu namanya keberanian nyata!”
3. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan Kecil
Anak menjadi pasif dan dependen jika semua aspek hidupnya disetir oleh orang tua (helicopter parenting). Rasa percaya diri tumbuh ketika anak merasa memiliki kendali atas dirinya (sense of agency).
Berikan Pilihan Terbatas: Mulai dari hal kecil sehari-hari. “Hari ini kamu mau pakai baju yang biru atau hijau?” atau “Untuk bekal sekolah besok, kamu lebih suka dibawakan buah apel atau pisang?”
Dampaknya: Ketika anak dibiasakan memilih dan pilihannya dihargai, mereka belajar mempercayai penilaian mereka sendiri. Ini adalah modal utama agar mereka berani bersuara di lingkungan luar.
4. Salurkan pada Komunitas Positif di Luar Sekolah
Sekolah formal terkadang memiliki dinamika sosial yang terlalu intimidatif bagi anak pasif. Membuka “lembaran baru” di lingkungan lain dapat memicu rasa percaya diri yang tidak terduga.
Klub Minat dan Bakat: Daftarkan anak pada kegiatan kelompok kecil yang sesuai minatnya—baik itu klub sains, kelas menggambar, atau seni bela diri.
Mengapa Ini Efektif? Di lingkungan baru yang tidak memiliki label masa lalu tentang dirinya, anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi sisi berani mereka. Selain itu, menguasai suatu keterampilan baru secara otomatis mendongkrak harga diri (self-esteem) anak.
Strategi Transformasi Karakter Anak
1.Validasi dan Beri Ruang Berpendapat:Fase 1: Di Rumah.
Hargai emosi anak, dengarkan pendapat mereka saat diskusi keluarga, dan hindari melabeli mereka sebagai “anak penakut” atau “pemalu”.
2.Simulasi Skenario Sosial:Fase 2: Interpersonal.
Lakukan bermain peran (role-play) di rumah. Simulasikan cara berkenalan dengan teman baru atau cara menegur teman yang usil secara tegas.
3.Pelepasan Mandiri Bertahap:Fase 3: Lingkungan Luar.
Biarkan anak melakukan transaksi sendiri (misalnya membayar di kasir atau memesan makanan sendiri) untuk memupuk kemandirian fisik dan mental.
Kesimpulan: Percaya Diri adalah Otot Otak
Mengubah anak pasif menjadi berani bukanlah proses instan yang terjadi dalam semalam. Keberanian dan rasa percaya diri layaknya otot otak; ia perlu dilatih, diberikan beban tantangan yang pas secara bertahap, dan didukung oleh nutrisi emosional yang tepat dari orang tua. Ketika anak tahu bahwa rumah mereka adalah tempat teraman untuk pulang, mereka akan memiliki keberanian penuh untuk menaklukkan dunia luar.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO) (2024) – Guidelines on Promotive and Preventive Mental Health Interventions for Adolescents and Children:
UNICEF (2025) – The Power of Positive Parenting: Building Resilience and Confidence in Children
Dweck, C. S. (2023). Mindset: Changing the Way You Think to Fulfill Your Potential (Edisi Pembaruan Jurnal Psikologi):
International Journal of Behavioral Development (2024) – The Role of Assertiveness Training in Reducing Bullying Vulnerability among Passive Children
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kasus perundungan (bullying) di kalangan anak-anak kini bukan lagi sekadar masalah ejekan di halaman sekolah. Di era digital, polanya meluas menjadi cyberbullying yang beroperasi 24 jam sehari tanpa henti. Dampaknya pun sangat nyata bagi kesehatan fisik dan mental anak, mulai dari penurunan performa akademis, gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga risiko menyakiti diri sendiri.
Mencegah anak agar tidak terjebak menjadi pelaku maupun korban perundungan tidak bisa dilakukan secara instan ketika masalah sudah terjadi. Fondasi terkuat harus dibangun sejak dini dari dalam diri anak melalui penguatan karakter khusus yang adaptif dengan tantangan “Zaman Now“.
3 Bekal Karakter Utama untuk Membentengi Anak
Berdasarkan studi psikologi perkembangan, anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional dan ketahanan diri yang baik cenderung terhindar dari lingkaran perundungan. Berikut adalah tiga karakter esensial yang wajib ditanamkan orang tua di rumah:
1. Karakter Asertif (Berani dan Tegas, Bukan Kasar)
Banyak orang tua keliru mengajarkan anak untuk “membalas pukulan dengan pukulan” agar tidak diremehkan. Cara terbaik sebenarnya adalah melatih perilaku asertif.
Anak yang asertif mampu mengekspresikan ketidaksukaannya tanpa rasa takut, namun tetap menghormati orang lain.
Aksi nyata: Latih anak untuk melakukan kontak mata, berdiri tegak, dan menggunakan intonasi suara yang datar namun lantang saat berkata, “Stop, aku tidak suka kamu bicara seperti itu.” Pelaku bullying biasanya langsung mengurungkan niatnya saat melihat calon korban memancarkan aura percaya diri.
2. Empati Kognitif dan Afektif
Empati adalah penawar racun dari karakter pelaku bullying. Anak zaman sekarang terpapar banyak konten digital yang mendepersonalisasi manusia, membuat mereka rentan kehilangan kepekaan sosial.
Anak yang dibiasakan berempati di rumah akan mampu merasakan penderitaan orang lain, sehingga mereka tidak akan mau menjadi pelaku.
Di sisi lain, jika mereka melihat temannya dirundung, karakter ini mendorong mereka menjadi upstander (pembela), bukan sekadar penonton yang diam.
3. Ketahanan Mental (Resilience) dan Harga Diri (Self-Esteem) yang Sehat
Anak-anak dengan harga diri yang rapuh seringkali mencari validasi dengan cara menindas orang lain (agar merasa berkuasa) atau justru menjadi sangat rapuh saat menerima ejekan kecil.
Orang tua harus membangun harga diri anak berdasarkan usaha mereka (growth mindset), bukan sekadar pujian kosong atau pencapaian akademis belaka.
Anak yang tahu bahwa dirinya berharga dan dicintai di rumah tidak akan mudah goyah mentalnya meskipun mendapat lingkungan yang kurang suportif di luar.
Strategi Praktis Orang Tua di Rumah
Langkah
Implementasi Nyata
Komunikasi “Meja Makan”
Sediakan waktu 15 menit sehari tanpa gawai untuk mengobrol secara mendalam. Tanyakan emosi anak, bukan cuma tugas sekolahnya.
Literasi Digital Terbuka
Ajarkan anak bahwa jempol mereka di media sosial memiliki konsekuensi nyata. Beri batasan bahwa apa yang tidak layak diucapkan langsung, juga tidak layak diketik di kolom komentar.
Role-Play (Simulasi)
Lakukan simulasi drama kecil di rumah. Contohkan situasi jika ada teman yang mengejek, lalu latih bagaimana anak harus merespons secara tenang dan taktis.
Kesimpulan: Karakter adalah Perisai Terbaik
Menjaga anak di zaman sekarang tidak bisa lagi dengan cara mengurung mereka di dalam rumah. Perisai terbaik yang bisa kita berikan adalah karakter yang kokoh. Ketika anak memiliki sikap asertif, empati yang tinggi, dan harga diri yang sehat, mereka tidak hanya selamat dari bahaya bullying, tetapi juga tumbuh menjadi agen perubahan positif bagi generasi mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi atau jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2020). Inspirational Guidelines on School Health and Prevention of Peer Violence. Geneva: WHO.
UNICEF. (2023). The State of the World’s Children: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
Olweus, D., & Limber, S. P. (2019). Bullying in School: Evaluation and Dissemination of the Olweus Bullying Prevention Program. American Journal of Orthopsychiatry, 89(2), 203–212.
Journal of Adolescent Health. (2022). The Power of Upstanders: How Empathy Training Modifies Peer Dynamics in Bullying Situations. Vol. 71, Issue 4, 412-419.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
YOGYAKARTA – Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan tenaga kesehatan terdepan di Indonesia. Melalui pengumuman hasil Uji Kompetensi Nasional (Ukomnas) Kebidanan periode terbaru, mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Alma Ata berhasil meraih tingkat kelulusan yang sangat membanggakan.
Capaian impresif ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata dari kapasitas, kompetensi, dan kesiapan para lulusan Alma Ata dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak di era modern.
Standar Mutu Unggul dan Reputasi Berkelas
Pencapaian luar biasa dalam Ukomnas ini merupakan cerminan dari ekosistem akademik yang kokoh di Universitas Alma Ata. Sebagai perguruan tinggi swasta yang secara konsisten masuk dalam jajaran kampus papan atas nasional, UAA berkomitmen menyelenggarakan pendidikan kebidanan yang berstandar tinggi.
Beberapa keunggulan utama yang menjadikan Prodi D3 Kebidanan UAA unggul secara nasional meliputi:
Kurikulum Berbasis Kompetensi & Kebijakan Global: Kurikulum dirancang adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan terkini, memadukan keterampilan klinis (hard skills) dan sikap profesional (soft skills).
Fasilitas Laboratorium Kebidanan Terpadu: Mahasiswa berlatih menggunakan instrumen dan simulator medis modern yang mendekati kondisi nyata di lapangan, sehingga tingkat kesiapan praktikum mereka sangat matang.
Staf Pengajar Berkualifikasi Tinggi: Dididik oleh dosen-dosen berpengalaman, pakar di bidang kesehatan reproduksi, serta aktif dalam riset dan pengabdian masyarakat.
Penguatan Nilai Keislaman dan Etika Profesi: Selain unggul secara intelektual, bidan lulusan Alma Ata dibekali dengan karakter empati, ketelitian, dan nilai-nilai moral yang kuat dalam melayani masyarakat.
Bidan Masa Depan yang Siap Mengabdi
Lulus Ukomnas secara nasional merupakan syarat mutlak (exit exam) untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) Bidan. Keberhasilan lulusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata menembus kelulusan ini membuktikan bahwa lulusan UAA memiliki daya saing tinggi dan siap langsung diterjunkan ke berbagai sarana pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit, puskesmas, Praktik Mandiri Bidan (PMB), maupun lembaga kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.
“Keberhasilan ini mempertegas reputasi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata sebagai pencetak tenaga bidan yang profesional, handal, dan berdaya saing global.”
Dengan pencapaian ini, Universitas Alma Ata semakin memperkokoh perannya sebagai benteng pencetak tenaga kesehatan unggulan yang siap mengabdi demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Standar Kompetensi Bidan Indonesia. Jakarta: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020.
Komite Nasional Uji Kompetensi Mahasiswa Bidang Kesehatan (UKOMNAS).Pedoman Pelaksanaan Uji Kompetensi Mahasiswa Kebidanan. Kemendikbud Ristek RI.