Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan

Masa remaja merupakan fase krusial yang diwarnai oleh berbagai perubahan fisik, emosional, serta sosial. Di era digital dan modernisasi yang penuh tekanan ini, remaja rentan mengalami kecemasan, stres, hingga krisis kepercayaan diri. Merespons tantangan tersebut, tim Dosen dan Mahasiswa dari Program Studi D3 Kebidanan menyelenggarakan kegiatan edukasi bertajuk “Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi atau Ketahanan Mental dan Kepercayaan Diri Anak Remaja” di SMK Giri Handayani, Wonosari, Gunungkidul.

Kegiatan ini merupakan bagian dari wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), yang berfokus pada penguatan kesehatan remaja secara holistik tidak hanya fisik dan reproduksi, tetapi juga mental dan psikologis.

Mengapa Resiliensi dan Kepercayaan Diri Penting bagi Remaja?

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari kesulitan, adaptif terhadap tekanan, serta belajar dari kegagalan. Dalam pemaparannya, tim riset dan edukasi Prodi D3 Kebidanan menekankan bahwa rumah dan keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana ketahanan mental anak dibentuk.

“Kesehatan jiwa remaja berhubungan erat dengan kesehatan reproduksi dan tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. Remaja yang memiliki resiliensi tinggi cenderung mampu mengambil keputusan secara bijak, terhindar dari perilaku berisiko, serta lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar perwakilan tim Pengabdi Prodi D3 Kebidanan.

Pilar Utama Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Mental Remaja

Melalui sesi sosialisasi yang interaktif di SMK Giri Handayani, dipaparkan beberapa pilar utama yang perlu diterapkan oleh orang tua dan pendidik:

  1. Komunikasi Empatis dan Membangun Ruang Aman (Safe Space)
  2. Orang tua diimbau untuk menjadi pendengar yang aktif tanpa terburu-buru menghakimi. Ketika anak merasa didengar, tingkat kecemasan mereka akan menurun dan kepercayaan diri akan tumbuh.
  3. Pola Asuh Demokratis (Authoritative Parenting)
  4. Memberikan batasan yang jelas namun tetap diimbangi dengan hangatnya kasih sayang. Pola asuh ini terbukti efektif dalam melatih remaja untuk mandiri dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
  5. Mengubah Kegagalan Menjadi Proses Belajar
  6. Resiliensi tidak lahir dari kehidupan tanpa masalah, melainkan dari pengalaman mengatasi masalah. Orang tua perlu mendampingi anak saat menemui kegagalan, mengajarkan evaluasi diri, dan memvalidasi perasaan anak.
  7. Memberikan Apresiasi pada Proses, Bukan Hanya Hasil
  8. Memuji usaha (effort) yang telah dilakukan remaja akan membangun growth mindset daripada sekadar memuji hasil akhir, sehingga anak tidak mudah putus asa jika menemui hambatan.

Sinergi Civitas Akademika dan Sekolah

Pihak SMK Giri Handayani menyambut hangat dan mengapresiasi inisiatif dari Program Studi D3 Kebidanan ini. Sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan orang tua murid diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendukung (support system) yang sehat bagi para siswa SMK Giri Handayani, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam keterampilan kejuruan (hard skills), tetapi juga tangguh secara mental (soft skills).

Melalui kegiatan edukasi ini, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata membuktikan komitmennya dalam memperluas cakupan asuhan kebidanan komunitas (community midwifery) yang mencakup kesehatan remaja secara menyeluruh demi mencetak generasi penerus bangsa yang sehat, percaya diri, dan berdaya saing.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/ 

Referensi 

  1. American Psychological Association (APA). (2020). Resilience in Times of Stress: Building Resilience in Children and Teens. APA Guidelines.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Standar Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. (2020). Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  4. Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  5. Tim Pengabdian Masyarakat Prodi D3 Kebidanan. (2026). Laporan Kegiatan Pengabdian Masyarakat: Peran Orangtua dalam Membangun Resiliensi Remaja di SMK Giri Handayani.