by Admin Kebidanan | Apr 27, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Di era digital saat ini, pemandangan balita yang duduk tenang menatap layar ponsel saat makan atau di tengah kemacetan mudik telah menjadi hal yang lumrah. Strategi ini sering disebut sebagai “penyelamat” bagi orang tua milenial agar anak tidak rewel. Namun, di balik ketenangan semu tersebut, terdapat risiko serius yang mengintai fase golden age si kecil, terutama pada perkembangan motorik dan kemampuan bicaranya.
Mengapa Screen Time Menjadi Masalah di Usia Dini?
Bayi dan balita belajar melalui interaksi dua arah dan eksplorasi fisik terhadap lingkungan sekitarnya. Otak mereka berkembang berdasarkan stimulasi sensorik (sentuhan, bau, suara manusia, dan gerakan). Gadget memberikan stimulasi yang bersifat pasif dan satu arah, yang secara signifikan mengurangi kesempatan anak untuk melatih fungsi tubuhnya.
- Dampak pada Kemampuan Motorik (Kasar dan Halus)
Perkembangan motorik membutuhkan gerakan aktif. Saat seorang bayi terpaku pada layar (sedentari), ia kehilangan waktu krusial untuk:
- Motorik Kasar: Merangkak, berjalan, dan memanjat yang penting untuk kekuatan otot inti dan keseimbangan.
- Motorik Halus: Gerakan layar sentuh (hanya menggeser) tidak melatih koordinasi mata dan tangan seakurat saat anak memegang mainan fisik, menyusun balok, atau makan sendiri menggunakan jarinya (pincer grasp).
- Kaitan Erat dengan Speech Delay (Keterlambatan Bicara)
Bicara adalah proses meniru dan merespons. Layar tidak bisa memberikan umpan balik sosial. Penelitian menunjukkan bahwa setiap peningkatan 30 menit paparan layar pada bayi usia 6–24 bulan berkaitan dengan peningkatan risiko keterlambatan bicara sebesar 49%. Anak belajar bahasa dari gerakan bibir dan intonasi orang tua yang nyata, bukan dari karakter digital yang bergerak cepat.
Fenomena “Gadget saat Makan” dan Mudik
Memberikan gadget saat makan (distraksi) justru mematikan sinyal kenyang dan lapar di otak anak, yang berisiko menyebabkan gangguan makan di masa depan. Begitu pula saat mudik; perjalanan panjang memang melelahkan, namun mengganti aktivitas fisik dengan layar selama berjam-jam dapat membuat otot anak kaku dan menghambat kemampuan sensoriknya.
Panduan Adaptasi bagi Orang Tua
Berdasarkan rekomendasi global (WHO & AAP), berikut adalah langkah yang bisa diambil:
- Usia 0–18 Bulan: Nol screen time (kecuali video call dengan keluarga).
- Ganti Gadget dengan Busybox: Saat perjalanan mudik, siapkan buku kain, mainan sensori, atau ajak anak mengobrol tentang pemandangan diluar jendela.
- Makan Tanpa Layar: Fokus pada tekstur makanan dan interaksi saat makan untuk melatih saraf motorik oral anak.
Kesimpulan
Masa golden age tidak bisa diulang. Meskipun teknologi adalah bagian dari masa depan, namun fondasi perkembangan fisik dan bahasa anak tetap membutuhkan sentuhan manusia dan gerak aktif. Menjauhkan layar hari ini adalah investasi untuk kemandirian motorik dan kecerdasan komunikatif anak di masa depan.
Ingin Belajar Lebih Dalam tentang Tumbuh Kembang Anak?
Menjadi ahli dalam pemantauan tumbuh kembang adalah salah satu kompetensi utama seorang bidan. Kami mendidik calon bidan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap tantangan kesehatan di era digital. Ingin menjadi Bidan profesional? Lanjutkan studimu di Prodi D3 Kebidanan, Universitas Alma Ata. Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
DAFTAR PUSTAKA
- American Academy of Pediatrics (AAP). (2024). Media and Young Minds. Pediatrics Journal.
- Cunningham, F. G., et al. (2022). Williams Obstetrics. McGraw-Hill Education.
- Madigan, S., et al. (2019). Association Between Screen Time and Children’s Performance on a Developmental Screening Test. JAMA Pediatrics.
- Saraswat, L., et al. (2023). Digital Media Exposure and Its Impact on Speech Development in Early Childhood: A Systematic Review. Journal of Child Development.
- World Health Organization (WHO). (2019). Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children under 5 Years of Age. Geneva.
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Jakarta.
by Admin Kebidanan | Apr 24, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Pernahkah Anda merasa sulit berkonsentrasi, tangan gatal ingin terus scrolling TikTok, dan merasa cemas jika tidak memegang ponsel dalam 10 menit saja? Jika iya, Anda mungkin sedang mengalami “Popcorn Brain”.
Istilah yang sedang viral di dunia kesehatan mental ini menggambarkan kondisi otak yang terbiasa dengan stimulasi cepat media sosial, sehingga “meletup-letup” sulit fokus pada kehidupan nyata. Namun, tahukah Anda bahwa tren ini bukan hanya masalah mental, tapi juga ancaman nyata bagi Kesehatan Reproduksi Perempuan?
Apa Itu Popcorn Brain?
Popcorn Brain adalah fenomena dimana sirkuit saraf otak terbiasa dengan aliran informasi instan yang memicu lonjakan Dopamin (hormon kesenangan). Akibatnya, otak kehilangan kemampuan untuk tenang. Bagi perempuan, kondisi “siaga” terus-menerus ini adalah pemicu stres kronis yang sangat berbahaya.
Kaitan Popcorn Brain dengan Siklus Menstruasi
Mungkin Anda bertanya, “Apa hubungannya kecanduan HP dengan rahim?” Jawabannya: Sangat Erat.
- Kekacauan Hormon Kortisol: Saat otak mengalami Popcorn Brain, tubuh terus memproduksi kortisol (hormon stres). Kortisol yang tinggi akan “mencuri” bahan baku hormon progesteron. Akibatnya? Siklus haid menjadi tidak teratur, darah haid terlalu sedikit/banyak, bahkan memicu gejala PMS yang jauh lebih menyakitkan.
- Gangguan Tidur & Estrogen: Paparan blue light dari ponsel saat scrolling hingga larut malam merusak produksi melatonin. Padahal, tidur berkualitas adalah kunci keseimbangan estrogen. Tanpa tidur yang cukup, risiko kista atau PCOS bisa meningkat.
- Anxiety & Kehamilan: Bagi Ibu hamil, kondisi mental yang teradiksi media sosial dapat memicu kecemasan berlebih yang berdampak pada detak jantung janin dan risiko depresi pasca-persalinan (Postpartum Blues).
Di era ini, peran lulusan D3 Kebidanan tidak lagi sebatas menolong persalinan. Bidan kini hadir sebagai konselor kesehatan holistik.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, mahasiswa dibekali kemampuan untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang berakar dari gaya hidup digital. Bidan masa kini dilatih untuk:
- Memberikan edukasi Digital Detox bagi remaja putri agar siklus haid kembali normal.
- Menjadi pendamping Ibu hamil dalam mengelola kesehatan mental di tengah banjir informasi (hoaks) kesehatan di internet.
✅ Tips Reset Otak agar Hormon Kembali Stabil
- Aturan 20-20-20: Setiap 20 menit, jauhkan mata dari layar selama 20 detik, dan lihatlah benda berjarak 20 kaki.
- Haramkan HP 1 Jam Sebelum Tidur: Biarkan hormon reproduksi bekerja memperbaiki sel tubuh saat Anda terlelap tanpa gangguan notifikasi.
- Lakukan Grounding: Jalan tanpa alas kaki di atas rumput atau meditasi ringan untuk menurunkan kadar kortisol secara instan.
Cantik Luar Dalam Mulai dari Pikiran yang Tenang
Kesehatan perempuan adalah investasi masa depan. Jangan biarkan layar ponsel merampas keseimbangan hormon dan kebahagiaan Anda.
Ingin menjadi tenaga kesehatan yang peka terhadap tren dan solusi masa kini? Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata hadir sebagai institusi terbaik di Jogja dengan akreditasi Unggul. Kami mencetak bidan-bidan tangguh yang tidak hanya ahli secara klinis, tapi juga cerdas secara emosional dan digital.
Mari bergabung bersama kami dan jadilah bagian dari generasi bidan modern!
Referensi:
- Levy, D. (2025). Popcorn Brain: The Impact of Social Media on Neural Circuitry. Neural Science Review.
- World Health Organization (WHO). Mental Health and Reproductive Health: A Linkage Report.
- Journal of Clinical Endocrinology. Stress-Induced Menstrual Dysfunction in the Digital Age.
by Admin Kebidanan | Apr 22, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Pernahkah Anda memperhatikan si kecil lebih mahir scrolling layar ponsel daripada memanjat pagar atau menangkap bola? Atau mungkin anak lebih cepat tantrum saat kuota internet habis dibandingkan saat dilarang main di luar rumah?
Hati-hati, Ayah & Bunda! Dunia saat ini sedang menghadapi tren “Nature Deficit Disorder” atau gangguan kurangnya paparan alam pada anak. Di era serba digital ini, banyak anak kehilangan koneksi dengan tanah, rumput, dan matahari, yang ternyata berdampak fatal pada motorik kasar dan kesehatan mental mereka.
Mengapa Main di Luar Lebih Penting dari Aplikasi Edukasi?
Banyak orang tua menganggap aplikasi game edukasi sudah cukup untuk melatih otak anak. Namun, sains berkata lain:
- Stimulasi Sensori yang Tak Tergantikan: Tekstur pasir, dinginnya air, dan kasar-halusnya batang pohon memberikan stimulasi saraf otak yang jauh lebih kompleks daripada permukaan layar kaca yang datar.
- Mencegah “Popcorn Brain” pada Anak: Berada di alam melatih anak untuk fokus secara mendalam (sustained attention). Sebaliknya, video berdurasi pendek (Shorts/Reels) melatih otak anak untuk cepat bosan dan sulit konsentrasi dalam jangka panjang.
- Kesehatan Tulang & Imunitas: Paparan sinar matahari pagi adalah sumber alami Vitamin D yang krusial untuk pertumbuhan tulang dan sistem kekebalan tubuh, terutama di masa peralihan cuaca.
Mungkin banyak yang mengira bidan hanya mengurus persalinan. Faktanya, peran bidan sangat besar dalam SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang) anak sejak lahir hingga usia balita.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, mahasiswa kami dibekali ilmu untuk menjadi pengawal tumbuh kembang anak. Bidan lulusan UAA dilatih untuk:
- Mendeteksi keterlambatan motorik pada anak akibat kurangnya aktivitas fisik.
- Memberikan konseling kepada ibu tentang pentingnya nutrisi dan stimulasi alami di “Golden Age” (1.000 Hari Pertama Kehidupan).
- Menjadi mitra orang tua dalam menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat secara fisik dan psikis.
Tips Healing Bareng Si Kecil (Tanpa Gadget)
Jangan bingung, Ayah & Bunda bisa memulai dengan langkah sederhana ini:
- Barefoot Walking: Ajak anak jalan tanpa alas kaki di atas rumput atau pasir pagi hari untuk melatih keseimbangan dan saraf sensorik kaki.
- Gardening Kecil-kecilan: Menanam benih di pot kecil melatih kesabaran dan motorik halus jemari anak.
- Digital Detox Family Time: Tetapkan jam bebas gawai bagi seluruh anggota keluarga untuk menciptakan komunikasi yang berkualitas.
Bekali Anak dengan Pengalaman, Bukan Sekadar Layar
Anak-anak tidak akan mengingat game apa yang mereka mainkan di HP saat mereka besar nanti, tapi mereka akan ingat hangatnya matahari dan serunya berlari di taman bersama orang tua.
Ingin menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang ahli dalam menjaga generasi masa depan sejak dalam kandungan hingga tumbuh kembangnya? Bergabunglah bersama kami di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Sebagai salah satu institusi terbaik di Jogja dengan akreditasi Unggul, kami mencetak bidan-bidan modern yang tanggap, cerdas, dan penuh kasih.
Referensi:
- Louv, R. (2025). Last Child in the Woods: Saving Our Children from Nature-Deficit Disorder. (Edisi Terbaru).
- World Health Organization (WHO). Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children under 5 Years of Age.
- IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Rekomendasi Skrining Tumbuh Kembang Anak di Era Digital.
by Admin Kebidanan | Apr 20, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Pernahkah Anda merasa hidup seperti sedang balapan? Bangun pagi terburu-buru, sarapan sambil membalas pesan WhatsApp, bekerja di bawah tekanan deadline, hingga tidur larut malam karena stres. Jika gaya hidup “serba cepat” ini dibiarkan, jangan kaget jika tiba-tiba berat badan naik drastis, jerawat bermunculan, dan siklus haid menjadi sangat berantakan.
Di media sosial, kini muncul tren “Slow Living“. Bukan berarti kita malas-malasan, tapi ini adalah gerakan sadar untuk memperlambat tempo hidup demi kesehatan mental dan yang paling mengejutkan untuk menyembuhkan gejala PCOS (Polycystic Ovary Syndrome).
PCOS kini menjadi momok bagi wanita modern. Salah satu pemicu utamanya adalah stres kronis. Saat kita hidup terlalu cepat dan penuh tekanan, tubuh terus-menerus memproduksi hormon Kortisol.
Kortisol yang tinggi memicu resistensi insulin, yang kemudian menyebabkan hormon androgen (hormon laki-laki) melonjak. Akibatnya? Sel telur sulit matang, haid tidak teratur, dan timbul gejala seperti bulu halus yang berlebihan atau rambut rontok. Di sinilah Slow Living berperan sebagai “obat alami”.
Menerapkan Slow Living dalam Kesehatan Reproduksi
Bukan sekadar estetika di Instagram, Slow Living dalam kebidanan berarti memberikan ruang bagi tubuh untuk bernapas:
- Mindful Eating (Makan dengan Sadar): Berhenti makan sambil bekerja atau menonton drakor. Fokus pada rasa makanan. Ini membantu tubuh mencerna nutrisi lebih baik dan menjaga gula darah tetap stabil kunci utama melawan PCOS.
- Low Impact Exercise: Ganti olahraga berat yang memicu stres otot dengan jalan santai, yoga, atau pilates. Olahraga intensitas rendah terbukti lebih ramah bagi hormon perempuan yang sedang tidak seimbang.
- Sleep Hygiene: Matikan ponsel 1 jam sebelum tidur. Tidur berkualitas adalah saat di mana tubuh melakukan “servis besar-besaran” pada sistem hormonal Anda.
Dunia kebidanan kini tidak hanya bicara soal persalinan di ruang bersalin. Bidan masa kini adalah Konselor Gaya Hidup Sehat.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami mendidik mahasiswa untuk memahami kaitan mendalam antara lingkungan, gaya hidup, dan fisiologi reproduksi. Bidan lulusan UAA dilatih untuk menjadi pendamping wanita dalam setiap fase kehidupannya mulai dari remaja yang berjuang dengan PCOS, hingga ibu hamil yang membutuhkan ketenangan.
Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan terbaik di Jogja, kami percaya bahwa bidan yang kompeten adalah mereka yang bisa memadukan ilmu medis mutakhir dengan pendekatan humanis yang relevan dengan tren zaman sekarang.
Kesehatan reproduksi Anda adalah cerminan dari cara Anda memperlakukan diri sendiri. Slow down, breathe, and heal. Jangan biarkan hiruk-pikuk dunia merusak keajaiban sistem hormonal Anda.
Ingin menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang memahami pentingnya keseimbangan jiwa dan raga? Mari bergabung bersama kami di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Tempat di mana sains bertemu dengan empati.
Referensi:
- Kandola, A. (2025). The Impact of Chronic Stress on Polycystic Ovary Syndrome (PCOS): A Neurological Perspective. Healthline Science.
- World Health Organization (WHO). Stress and Reproductive Health in Modern Society.
- Journal of Women’s Health. Lifestyle Intervention and Mindful Living in Managing Hormonal Imbalance.
by Admin Kebidanan | Apr 17, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Tidak semua wanita merasa tenang saat membayangkan kehamilan dan persalinan. Rasa takut memang wajar, namun pada sebagian orang, ketakutan ini bisa menjadi sangat berlebihan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah tokophobia, yaitu ketakutan ekstrim terhadap kehamilan dan proses melahirkan.
Tokophobia bisa dialami oleh siapa saja, baik wanita yang belum pernah hamil maupun yang sudah pernah melahirkan. Pada wanita yang belum pernah hamil, ketakutan ini biasanya muncul karena kurangnya informasi atau pengaruh cerita-cerita negatif tentang persalinan. Sementara itu, pada wanita yang sudah pernah melahirkan, tokophobia sering kali disebabkan oleh pengalaman buruk atau trauma saat persalinan sebelumnya.
Orang yang mengalami tokophobia biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti rasa cemas berlebihan saat memikirkan kehamilan, ketakutan terhadap rasa sakit saat melahirkan, sulit tidur, hingga menghindari pembicaraan tentang kehamilan. Bahkan, ada yang sampai menolak untuk hamil atau merasa sangat tertekan saat mengetahui dirinya sedang mengandung. Jika tidak ditangani, tokophobia dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan dengan pasangan. Ketakutan yang terus-menerus bisa memicu stres, kecemasan, bahkan depresi. Selain itu, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesiapan seseorang dalam menjalani kehamilan dan menjadi orang tua.
Namun, kabar baiknya, tokophobia dapat diatasi. Salah satu langkah penting adalah mencari informasi yang benar dan terpercaya tentang kehamilan dan persalinan. Dengan pemahaman yang baik, rasa takut biasanya akan berkurang. Selain itu, berbicara dengan tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter juga sangat membantu, karena mereka dapat memberikan penjelasan dan dukungan yang dibutuhkan. Dukungan dari pasangan dan keluarga juga memegang peranan penting. Lingkungan yang penuh pengertian dapat membuat seseorang merasa lebih tenang dan tidak sendirian dalam menghadapi ketakutannya. Jika rasa takut terasa sangat berat, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa setiap kehamilan dan persalinan adalah pengalaman yang berbeda. Dengan dukungan, informasi yang tepat, dan persiapan yang baik, rasa takut dapat dikelola sehingga calon ibu dapat menjalani masa kehamilan dengan lebih nyaman dan percaya diri.
Di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi Kebidanan Terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul mempelajari tentang pentingnya kehamilan guna meneruskan generasi bangsa.
Referensi:
- World Health Organization (WHO). Maternal mental health guidelines.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Informasi kesehatan mental pada kehamilan.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pelayanan kesehatan ibu hamil.
by Admin Kebidanan | Apr 15, 2026 | Artikel D3
Penulis: Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Masa neonatal (0–28 hari) merupakan periode kritis dalam kehidupan bayi, ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Salah satu fenomena fisiologis yang sering terjadi adalah growth spurt, yaitu periode percepatan pertumbuhan dalam waktu singkat yang disertai peningkatan kebutuhan nutrisi dan perubahan perilaku bayi. Organisasi kesehatan dunia seperti World Health Organization menegaskan bahwa dua tahun pertama kehidupan, terutama 6 bulan pertama, merupakan periode penting untuk pertumbuhan optimal, sehingga kecukupan nutrisi sangat krusial pada fase ini.
Growth spurt adalah periode percepatan pertumbuhan fisik bayi yang terjadi secara cepat dalam waktu singkat, meliputi peningkatan berat badan, panjang badan, dan perkembangan neurologis. Fenomena ini sering disertai dengan perubahan perilaku seperti peningkatan frekuensi menyusu (cluster feeding), yang merupakan respons fisiologis terhadap peningkatan kebutuhan energi bayi.
Growth spurt pada bayi baru lahir umumnya terjadi pada usia 7-10 hari, 2-3 minggu, dan 4-6 minggu. Literatur menunjukkan bahwa periode ini dapat bervariasi antar bayi, namun umumnya berlangsung beberapa hari dan berulang pada bulan-bulan awal kehidupan. Growth spurt dipengaruhi oleh beberapa mekanisme biologis, antara lain:
1. Peningkatan kebutuhan energi dan nutrisi
Pertumbuhan jaringan tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang lebih tinggi.
2. Peran hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan meningkat, terutama saat bayi tidur.
3. Perkembangan otak dan sistem saraf
ASI mengandung faktor bioaktif seperti hormon dan faktor pertumbuhan yang mendukung maturasi sistem saraf.
4. Mekanisme supply-demand ASI
Peningkatan frekuensi menyusu merangsang produksi ASI sesuai kebutuhan bayi
Beberapa tanda yang umum ditemukan pada bayi yang mengalami growth spurt antara lain:
1. Menyusu lebih sering (cluster feeding)
Bayi dapat menyusu lebih sering dari biasanya, bahkan setiap 30–60 menit.
2. Perubahan pola tidur
Bayi bisa tidur lebih lama atau lebih sering terbangun.
3. Rewel atau iritabilitas meningkat
Bayi membutuhkan lebih banyak kenyamanan.
4. Peningkatan pertumbuhan fisik
Terjadi kenaikan berat badan dan ukuran tubuh dalam waktu singkat.
Rekomendasi World Health Organization dalam mensukseskan kesehatan anak penting untuk dilakukan inisiasi menyusu dini dalam 1 jam pertama kelahiran, ASI eksklusif selama 6 bulan, dan menyusui sesuai kebutuhan (on demand). Praktik menyusui sesuai permintaan sangat penting selama growth spurt karena membantu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan mendukung pertumbuhan optimal. Sementara American Academy of Pediatrics juga menegaskan bahwa ASI eksklusif dianjurkan selama ±6 bulan, menyusui dilanjutkan hingga ≥2 tahun, dan bayi perlu diberi ASI sesuai kebutuhan tanpa pembatasan jadwal. Selain itu, ASI mengandung komponen imunologis dan faktor pertumbuhan yang penting dalam mendukung perkembangan bayi selama fase growth spurt.
Pada masa growth spurt, ibu sering mengalami kekhawatiran terkait kecukupan ASI. Namun, peningkatan frekuensi menyusu merupakan mekanisme alami untuk meningkatkan produksi ASI (supply-demand mechanism). Edukasi yang tepat sangat penting untuk mencegah kesalahan persepsi seperti “ASI tidak cukup”, yang dapat berujung pada penghentian menyusui dini. Peran Tenaga Kesehatan yaitu memberikan pemahaman bahwa kondisi ini normal, mendukung pemberian ASI on demand atau tidak membatasi frekuensi menyusu, monitoring pertumbuhan bayi, mengurangi kecemasan dan kelelahan selama fase ini.
Growth spurt pada newborn adalah fenomena fisiologis yang penting dalam proses tumbuh kembang bayi. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan kebutuhan nutrisi, perubahan perilaku, dan percepatan pertumbuhan. Meskipun growth spurt merupakan kondisi fisiologis, evaluasi medis diperlukan jika:
· Bayi tidak mengalami kenaikan berat badan
· Frekuensi BAK menurun
· Bayi tampak lemas atau tidak aktif
· Bayi menolak menyusu
Pemahaman yang baik mengenai growth spurt akan membantu orang tua dan tenaga kesehatan dalam memberikan perawatan optimal serta mencegah kesalahpahaman terkait kecukupan nutrisi bayi.
Di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi Kebidanan Terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul mempelajari tentang keunikan bayi baru lahir dan asuhannya, sehingga Calon Bidan Siap menjadi Calon Ibu yang baik dan Mantu Idaman.
Referensi
1. World Health Organization. (2023). Infant and young child feeding.
2. American Academy of Pediatrics. (2024). Breastfeeding and the use of human milk.
3. USDA WIC. (2024). Cluster feeding and growth spurts.
4. WebMD. (2024). Cluster feeding in newborns.
5. Pampers Medical Review Board. (2026). Cluster feeding: Signs and management.