Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Setelah tren healing, quiet quitting, dan underconsumption core, kini media sosial ramai membahas fenomena soft saving. Istilah ini banyak digunakan oleh Generasi Z untuk menggambarkan kebiasaan mengelola keuangan secara lebih realistis tanpa harus menekan diri demi mencapai target tabungan yang terlalu tinggi.

Berbeda dengan konsep menabung secara ekstrem, soft saving mengajarkan seseorang untuk tetap menyisihkan uang sesuai kemampuan sambil tetap memenuhi kebutuhan dasar, menikmati waktu bersama keluarga, menjaga kesehatan, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Tren ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya biaya hidup, tekanan ekonomi, dan tingginya tuntutan sosial yang dirasakan oleh banyak anak muda.

Di media sosial, tidak sedikit remaja yang mengaku merasa cemas karena harus mengikuti gaya hidup teman atau influencer. Keinginan membeli barang yang sedang viral, nongkrong di tempat populer, hingga mengikuti tren fesyen seringkali memicu perilaku konsumtif. Akibatnya, sebagian remaja mengalami stres akibat pengeluaran yang melebihi kemampuan finansial.

Para ahli kesehatan mental menjelaskan bahwa kondisi keuangan dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Kekhawatiran terhadap masalah ekonomi dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan menurunkan kualitas tidur. Oleh karena itu, kemampuan mengelola keuangan sejak usia remaja merupakan salah satu keterampilan hidup (life skills) yang penting untuk dimiliki.

Dalam perspektif kesehatan, soft saving bukan hanya tentang menabung, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan hidup. Remaja diajak untuk memahami bahwa kesehatan fisik dan mental merupakan investasi jangka panjang. Menyisihkan anggaran untuk membeli makanan bergizi, mengikuti aktivitas olahraga, atau melakukan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan merupakan bentuk investasi yang sama pentingnya dengan menabung.

Bagi remaja putri, pengelolaan keuangan juga dapat mendukung pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi. Membeli makanan bergizi untuk mencegah anemia, menyediakan kebutuhan kebersihan menstruasi, serta mengikuti kegiatan olahraga merupakan contoh pengeluaran yang memberikan manfaat bagi kesehatan di masa depan.

Remaja juga perlu membangun literasi keuangan dan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh oleh promosi maupun gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Banyak konten yang memperlihatkan kehidupan mewah atau tren belanja tanpa menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Dengan memahami cara kerja media sosial dan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima, remaja akan lebih mampu mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata karena tekanan lingkungan.

Yang tidak kalah penting, remaja hendaknya tidak menjadikan soft saving sebagai alasan untuk hidup secara berlebihan dalam berhemat hingga mengorbankan kebutuhan dasar atau kehilangan kesempatan mengembangkan diri. Menabung memang penting, tetapi menikmati pengalaman belajar, membangun pertemanan yang sehat, mengikuti kegiatan positif, dan menjaga kesehatan juga merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan di masa depan.

Pada akhirnya, tren soft saving mengajarkan bahwa menjadi sehat tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kemampuan seseorang mengelola kehidupan secara seimbang. Menabung itu penting, tetapi menjaga kesehatan adalah investasi yang nilainya jauh lebih besar. Remaja yang mampu mengelola keuangan sekaligus menjaga kesehatan akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. American Psychological Association. (2023). Stress in America™ 2023: Financial stress and well-being. American Psychological Association.
  2. Consumer Financial Protection Bureau. (2023). Financial well-being and mental health. https://www.consumerfinance.gov/
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Remaja. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  4. Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). OECD/INFE International Survey of Adult Financial Literacy. OECD Publishing.
  5. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health