SLEMAN – Dalam upaya mencetak generasi emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga sehat secara fisik dan mental, Program Studi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat dan edukasi di SMA Negeri 1 Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 17 Desember 2025 ini mengangkat tema krusial mengenai “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Berbeda dengan sosialisasi pada umumnya, kegiatan ini menargetkan para guru sebagai garda terdepan pendidikan di sekolah.
Hadir sebagai narasumber utama, Fatimah, S.SiT., M.Kes, didampingi oleh dosen anggota Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb, serta melibatkan partisipasi aktif mahasiswa D3 Kebidanan UAA. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk transfer ilmu, tetapi juga sebagai momentum mempererat tali silaturahmi dan meresmikan peran SMA N 1 Ngaglik sebagai mitra strategis Prodi D3 Kebidanan FKIK UAA.
Diskusi Hangat Seputar Dinamika Remaja Gen Z
Sesi pemaparan materi berlangsung sangat interaktif. Para guru SMA N 1 Ngaglik menunjukkan antusiasme yang tinggi. Diskusi tidak hanya berfokus pada teori “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, tetapi berkembang menjadi dialog solutif mengenai tantangan nyata yang dihadapi para pendidik di era digital.
Banyak guru yang aktif bertanya mengenai kebiasaan-kebiasaan remaja (Gen Z) saat ini yang seringkali berdampak pada kesehatan reproduksi dan mental mereka. Isu-isu seperti pola tidur, gizi remaja, hingga manajemen stres menjadi topik hangat yang dibedah bersama para pakar kebidanan UAA.
Menariknya, sesi tanya jawab juga menyentuh aspek kesehatan para guru itu sendiri. Menyadari bahwa untuk mendidik siswa yang hebat diperlukan guru yang prima, para peserta juga berkonsultasi mengenai cara menjaga kesehatan di tengah padatnya aktivitas mengajar.
Ibu Fatimah, S.SiT., M.Kes, dalam penyampaiannya menekankan pentingnya peran guru sebagai role model. “Kesehatan remaja di sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang suportif. Guru yang memahami kesehatan fisik dan psikis remaja akan lebih mudah mengarahkan siswa untuk mengadopsi kebiasaan-kebiasaan hebat tersebut,” ujarnya.
Komitmen Kemitraan Berkelanjutan
Kehadiran tim dosen dan mahasiswa D3 Kebidanan UAA ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Sebagai mitra, SMA N 1 Ngaglik dan Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata Yogyakarta berkomitmen untuk terus bersinergi dalam program-program edukasi kesehatan di masa mendatang.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberdayakan masyarakat sekolah demi terciptanya generasi penerus bangsa yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing global.
Penulis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Melihat anak tampak lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya seringkali menimbulkan kecemasan bagi orang tua. Sebelum terjebak dalam kekhawatiran berlebihan, penting untuk memahami bahwa terdapat dua penyebab umum yang relatif normal terkait tinggi badan anak, yaitu Familial Short Stature (Pendek karena Faktor Genetik) dan Constitutional Growth Delay (Late Bloomer).
Mengenal Familial Short Stature: Warisan dari Orang Tua
Familial Short Stature (FSS) adalah kondisi dimana anak memiliki tubuh pendek karena diturunkan secara genetik dari orang tuanya. Ini adalah variasi normal, bukan suatu penyakit. Anak dengan FSS dilahirkan dengan “blueprint” genetik untuk bertubuh pendek.
Ciri-Cirinya:
· Orang tua yang juga pendek: Salah satu atau kedua orang tua memiliki tinggi badan di bawah rata-rata.
· Pola pertumbuhan yang konsisten: Tinggi badan anak selalu mengikuti kurva pertumbuhan yang sama (misalnya, konsisten di persentil ke-5 atau 10) sejak kecil.
· Kecepatan tumbuh normal: Laju pertumbuhannya stabil, sekitar 4-6 cm per tahun setelah usia 4 tahun.
· Usia tulang normal: Hasil rontgen tulang pergelangan tangan (usia tulang) menunjukkan angka yang sesuai dengan usia kronologisnya.
· Perkembangan pubertas normal: Anak memasuki masa pubertas pada waktu yang biasa.
Prognosis: Anak akan tumbuh menjadi dewasa dengan tinggi badan yang pendek, namun sesuai dengan potensi genetiknya yang diwarisi dari orang tua. Prediksi tinggi badan akhirnya dapat diestimasi berdasarkan rata-rata tinggi orang tua.
Mengenal Constitutional Growth Delay: Si “Pemetik Manis” di Akhir Waktu
Anak dengan Constitutional Growth Delay (CGD) atau sering disebut “Late Bloomer” mengalami keterlambatan dalam “jam biologis” pertumbuhannya. Mereka seperti mesin yang menyala lebih lambat, tetapi akan tetap mencapai kecepatan penuh di kemudian hari.
Ciri-Cirinya:
· Riwayat keluarga “late bloomer”: Seringkali ada pola serupa dalam keluarga, seperti ayah atau ibu yang baru mengalami lonjakan tumbuh (growth spurt) di sekolah menengah atas.
· Laju pertumbuhan yang melambat di masa kecil: Anak mungkin berada di persentil yang lebih rendah, tetapi kecepatan pertumbuhannya tetap stabil.
· Usia tulang yang tertinggal: Ini adalah tanda kunci. Usia tulang anak lebih muda (bisa tertinggal 1-2 tahun) dari usia sebenarnya. Ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki lebih banyak waktu untuk tumbuh.
· Pubertas yang terlambat: Anak (terutama laki-laki) mungkin belum menunjukkan tanda-tanda pubertas ketika teman-temannya sudah mengalaminya.
Prognosis: Sangat baik. Meski terlihat lebih pendek dan lebih muda di usia SD dan SMP, anak akan mengalami lonjakan pertumbuhan yang signifikan di akhir masa remaja (sekitar usia 16-18 tahun untuk laki-laki) dan akhirnya mencapai tinggi badan dewasa yang normal sesuai dengan potensi genetik keluarganya.
Meski sama-sama menyebabkan tubuh pendek, kedua kondisi ini memiliki perbedaan mendasar:
Ciri-Ciri
Familial Short Stature (Gen)
Constitutional Growth Delay (Late Bloomer)
Pola Keluarga
Orang tua pendek
Orang tua atau keluarga mengalami pubertas terlambat
Grafik Pertumbuhan
Konsisten di garis persentil bawah
Perlahan mengikuti kurva, mungkin turun lalu naik
Usia Tulang
Sesuai dengan usia sebenarnya
Lebih muda dari usia sebenarnya
Pubertas
Muncul pada waktu normal
Terlambat
Tinggi Badan Akhir
Pendek, sesuai orang tua
Normal, sesuai potensi genetik setelah “mengejar”
Kapan Harus Waspada dan Konsultasi ke Dokter?
Tidak semua tubuh pendek adalah normal. Orang tua perlu waspada dan segera berkonsultasi dengan dokter anak (bisa ke konsultan tumbuh kembang atau endokrin) jika menemukan tanda-tanda berbahaya berikut:
1. Pertumbuhan yang sangat melambat: Kurang dari 4 cm per tahun setelah usia 4 tahun.
2. Jatuh dari kurva pertumbuhan: Tinggi badan yang sebelumnya di persentil 50, turun drastis ke persentil 10, misalnya.
3. Tinggi badan jauh di bawah potensi genetik: Berdasarkan perhitungan rata-rata tinggi orang tua.
4. Adanya gejala penyakit lain: Gangguan pencernaan (sering diare, sakit perut), mudah lelah, wajah yang tampak sangat muda, atau keterlambatan perkembangan lainnya.
5. Perbedaan yang mencolok antara tinggi dan berat badan.
Tanda-tanda ini dapat mengindikasikan masalah medis serius seperti kekurangan gizi kronis (stunting), defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan tiroid, atau penyakit kronis lainnya yang memerlukan diagnosis dan penanganan segera.
Kesimpulan
Kesimpulannya, pemahaman mendalam mengenai perbedaan Late Bloomer dan Pendek Familial sangat krusial untuk mencegah kecemasan orang tua dan memastikan intervensi yang tepat. Kemampuan analisis grafik pertumbuhan dan deteksi dini seperti ini merupakan kompetensi inti yang dipelajari di Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja. Dengan bekal ilmu tersebut, tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi yang akurat, memastikan setiap anak tumbuh optimal sesuai potensi genetiknya.
2. Cohen, P., Rogol, A. D., Deal, C. L., Saenger, P., Reiter, E. O., Ross, J. L., Chernausek, S. D., Savage, M. O., & Wit, J. M. (2008). Consensus statement on the diagnosis and treatment of children with idiopathic short stature: A summary of the Growth Hormone Research Society, the Lawson Wilkins Pediatric Endocrine Society, and the European Society for Paediatric Endocrinology Workshop. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 93(11), 4210-4217. https://doi.org/10.1210/jc.2008-0509
4. Kliegman, R. M., St. Geme, J. W., Blum, N. J., Shah, S. S., Tasker, R. C., & Wilson, K. M. (2020). Nelson textbook of pediatrics (21st ed.). Elsevier.
Penulis: Fatimah, S.SiT., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di tengah tingginya persaingan dunia kerja dan biaya pendidikan tinggi yang terus merangkak naik, memilih jurusan kuliah bukan lagi sekadar mengikuti minat. Calon mahasiswa dan orang tua kini harus berpikir strategis: “Jurusan apa yang biayanya terjangkau, cepat lulus, dan langsung dapat kerja?”
Jawabannya sering kali luput dari perhatian, namun sangat vital bagi bangsa ini: D3 Kebidanan.
Berikut adalah alasan mengapa program studi D3 Kebidanan adalah “permata tersembunyi” bagi masyarakat Indonesia yang menginginkan kepastian masa depan dengan biaya yang masuk akal.
1. Kuliah Singkat, Cepat Berpenghasilan
Salah satu keunggulan utama D3 Kebidanan adalah durasi pendidikannya. lulus dalam waktu 3 tahun (6 semester).
Apa artinya ini bagi ekonomi keluarga?
Hemat Biaya Kuliah: Anda menghemat biaya SPP dan uang gedung selama 2 tahun dibandingkan jalur profesi.
Hemat Biaya Hidup: Pengeluaran untuk kos, makan, dan transportasi berkurang drastis karena masa studi yang lebih pendek.
Start Lebih Awal: Lulusan DIII bisa mulai bekerja dan menghasilkan uang 2 tahun lebih cepat daripada rekan-rekannya yang mengambil jalur akademis panjang.
2. Pendidikan Vokasi: Ahli Praktik, Bukan Sekadar Teori
Pendidikan DIII adalah pendidikan Vokasi. Kurikulumnya didominasi oleh praktik (sekitar 60-70%) dibandingkan teori.
Artinya, sejak semester awal, mahasiswa sudah diajarkan keterampilan tangan yang nyata. Mulai dari pemeriksaan kehamilan, menolong persalinan normal, hingga perawatan bayi baru lahir. Hal ini membuat lulusan DIII Kebidanan memiliki mental “siap pakai” di dunia kerja, bukan lulusan yang bingung saat menghadapi pasien.
3. Serapan Kerja Sangat Tinggi dan Luas
Indonesia adalah negara dengan angka kelahiran yang masih cukup tinggi. Kebutuhan akan tenaga kesehatan, khususnya bidan, tidak pernah surut. Lulusan DIII Kebidanan memiliki peluang kerja yang sangat luas, antara lain:
Instansi Pemerintah: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Puskesmas di seluruh pelosok negeri.
Sektor Swasta: Rumah Sakit Swasta, Klinik Ibu dan Anak, dan Rumah Bersalin.
Bidan Desa: Ujung tombak kesehatan di desa-desa yang selalu dicari.
Home Care: Layanan perawatan ibu dan bayi di rumah yang kini semakin tren dan bergaji tinggi.
Program pemerintah dalam pengentasan stunting (gizi buruk) juga menempatkan bidan sebagai garda terdepan, sehingga permintaan formasi CPNS atau PPPK untuk bidan D3 selalu tersedia setiap tahunnya.
4. Biaya Pendidikan yang “Ramah Kantong”
Dibandingkan dengan jurusan Kesehatan lain, biaya kuliah di D3 Kebidanan jauh lebih terjangkau bagi rata-rata ekonomi keluarga Indonesia.
5. Peluang Melanjutkan Studi (Transfer Jenjang)
Banyak yang khawatir, “Apakah DIII karirnya mentok?” Jawabannya: Tidak.
Setelah lulus D3, bekerja, dan memiliki tabungan sendiri, Anda bisa melanjutkan kuliah ke jenjang D4 atau S1 Kebidanan melalui program Alih Jenjang (Ekstensi) sambil tetap bekerja. Jadi, Anda bisa membiayai kuliah lanjutan Anda sendiri tanpa meminta uang orang tua lagi. Ini adalah strategi ekonomi yang sangat cerdas dan mandiri.
Kesimpulan
Memilih DIII Kebidanan bukan berarti memilih kualitas “nomor dua”. Justru, ini adalah pilihan cerdas bagi mereka yang realistis dan visioner. Anda mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan (A.Md.Keb), keterampilan nyata, biaya terjangkau, dan tiket ekspres menuju dunia kerja.Bagi keluarga Indonesia, D3 Kebidanan terbaik di Jogja, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata adalah jembatan menuju kesejahteraan yang lebih baik melalui profesi yang mulia.
“Menjadi muslimah bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang istiqomah dalam kebaikan.”
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Menjadi Remaja Muslimah Tangguh di Era Modern
Di tengah derasnya arus informasi dan gaya hidup digital, menjadi remaja muslimah bukanlah hal yang mudah. Media sosial, tren mode, dan pergaulan sering kali membuat nilai-nilai Islam terasa tertinggal. Padahal, di era modern ini, remaja muslimah justru memiliki peran besar sebagai penjaga moral dan inspirasi kebaikan.
1. Identitas Muslimah Adalah Kehormatan
Menjadi muslimah berarti memegang identitas yang penuh kemuliaan. Hijab bukan sekadar kain penutup kepala, melainkan simbol kehormatan, keimanan, dan kepribadian yang kuat. Di tengah budaya yang sering menilai dari penampilan luar, muslimah sejati memahami bahwa nilai diri ditentukan oleh akhlak dan ketaatan, bukan oleh tren mode.
“Sesungguhnya wanita itu adalah perhiasan dunia, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”(HR. Muslim)
2. Menghadapi Tantangan Zaman dengan Ilmu dan Iman
Dunia digital memberi peluang besar — belajar, berbisnis, bahkan berdakwah dari mana saja. Namun, di balik itu, muncul tantangan baru: distraksi, perbandingan sosial, dan konten yang menjauhkan dari nilai Islam. Remaja muslimah perlu membangun keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat, agar menjadi sosok cerdas dan bijaksana dalam setiap pilihan.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
3. Gunakan Media Sosial sebagai Ladang Amal
Media sosial tidak harus menjadi sumber kebingungan atau tekanan. Dengan niat yang baik, ia bisa menjadi media dakwah yang kreatif dan positif. Remaja muslimah bisa membagikan kutipan inspiratif, kisah hijrah, atau tips islami yang bermanfaat bagi teman-temannya. Dengan begitu, teknologi tidak lagi mengendalikan, tapi menjadi alat untuk menebar kebaikan.
4. Tetap Rendah Hati dan Peduli
Kecantikan sejati tidak hanya di wajah, tapi dalam akhlak dan kepedulian terhadap sesama. Remaja muslimah yang tangguh bukan yang keras hati, melainkan yang lembut dan menebar manfaat di sekitarnya. Kebaikan kecil — membantu teman, menjaga lisan, memberi semangat — adalah bentuk nyata dari keindahan iman.
“Be the light, even when the world tries to dim you.”
“Sesungguhnya orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, integritas seorang remaja muslimah modern terletak pada keseimbangan antara iman, akhlak, dan wawasan global. Salah satu langkah konkret untuk menjadi pelopor perubahan dan menebar manfaat bagi umat adalah dengan menempuh pendidikan berkualitas di Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja. Dengan bekal ilmu yang mumpuni dari institusi terbaik, muslimah tidak hanya sekadar bertahan di arus zaman, melainkan hadir sebagai cahaya yang merawat dan menerangi peradaban
DAFTAR PUSTAKA :
Al-Qur’anul Karim, Surat Al-Mujadilah ayat 11
Al-Ghazali, Imam. (2020). Ihya Ulumuddin: Jalan Hidup Muslim Sejati. Jakarta: Republika
Azzam, A. (2022). Muslimah Hebat di Era Digital. Bandung: Syaamil Books
Yusuf, Q. (2021). Remaja dan Media Sosial dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kementerian Agama RI
Pew Research Center. (2022). The Digital Life of Muslim Youth: Balancing Faith and Technology. Washington, D.C
Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Organ kemaluan, baik pada pria maupun wanita, memainkan peran sentral tidak hanya dalam fungsi reproduksi tetapi juga dalam kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan. Seringkali dianggap sebagai topik tabu, kesehatan genital adalah komponen fundamental yang memerlukan perhatian dan perawatan yang sama seriusnya dengan organ vital lainnya seperti jantung atau otak. Mengabaikan kesehatan area ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi, mulai dari infeksi yang mengganggu, infertilitas, hingga kondisi yang mengancam jiwa seperti kanker.
Pentingnya menjaga organ kemaluan didasarkan pada empat pilar utama: kebersihan yang tepat, pencegahan penyakit menular seksual (PMS), proteksi proaktif melalui vaksinasi, dan kesadaran akan deteksi dini
1. Pilar Kebersihan: Fondasi Kesehatan Genital
Menjaga kebersihan adalah langkah paling dasar namun krusial. Praktik kebersihan yang tidak tepat, baik itu kurang bersih maupun berlebihan (seperti douching pada wanita), dapat mengganggu mikrobioma alami (keseimbangan bakteri baik) di area genital.
Pada Wanita: Kebersihan yang buruk atau praktik yang salah dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) dan Bacterial Vaginosis (BV), yang ditandai dengan keputihan abnormal dan bau tidak sedap
Pada Pria: Kebersihan yang tidak terjaga, terutama pada pria yang tidak disunat, dapat menyebabkan penumpukan smegma yang memicu peradangan (balanitis) dan infeksi.
Penelitian modern secara konsisten menunjukkan bahwa edukasi dan pengetahuan adalah kunci utama untuk praktik kebersihan yang benar. Sebuah studi kuasi-eksperimental tahun 2024 di African Journal of Reproductive Health menemukan bahwa intervensi edukasi yang terencana secara signifikan meningkatkan perilaku kebersihan genital yang benar di kalangan siswi (Simsek Kuçukkelepce et al., 2024). Ini menegaskan bahwa pengetahuan yang tepat adalah garis pertahanan pertama melawan infeksi.
2. Pilar Pencegahan: Melindungi Diri dari PMS
Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti klamidia, gonore, sifilis, dan HIV, merupakan ancaman serius bagi kesehatan kemaluan. Infeksi ini seringkali tidak menunjukkan gejala awal namun dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang, termasuk penyakit radang panggul, infertilitas, dan komplikasi kehamilan.
Data global, termasuk dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), menunjukkan beban PMS yang masih sangat tinggi. Praktik seks aman, seperti penggunaan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan, adalah metode pencegahan yang paling efektif.
Namun, kesenjangan pengetahuan tetap menjadi masalah besar. Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan di The Open Public Health Journal yang dilakukan di Jakarta, Indonesia, menyoroti adanya kekurangan dalam pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) terkait PMS di kalangan wanita usia reproduktif. (Handayani et al., 2023).
3. Pilar Proteksi: Vaksinasi HPV untuk Pencegahan Kanker
Salah satu kemajuan medis terbesar dalam kesehatan genital adalah pengembangan vaksin Human Papillomavirus (HPV). HPV adalah virus yang sangat umum ditularkan secara seksual dan merupakan penyebab utama dari hampir semua kasus kanker serviks pada wanita. Tak hanya itu, HPV juga bertanggung jawab atas sebagian besar kasus kanker anus, penis, vagina, dan vulva.
Menjaga kesehatan kemaluan saat ini juga berarti mengambil langkah proaktif untuk mencegah infeksi ini. Sebuah tinjauan (review) tahun 2024 di Progress in Health Sciences menegaskan bahwa vaksinasi HPV sangat efektif, di mana vaksin 9-valen (yang tersedia saat ini) diperkirakan dapat mencegah hingga 90% kasus kanker serviks (Woźniak-Holecka et al., 2024). Vaksinasi ini idealnya diberikan pada usia remaja, sebelum aktif secara seksual, baik untuk anak perempuan maupun laki-laki.
4. Pilar Deteksi Dini: Mengenali Tubuh Sendiri
Banyak penyakit serius pada organ kemaluan, terutama kanker, memiliki tingkat kesembuhan yang sangat tinggi jika ditemukan pada stadium awal.
Untuk Pria: Kanker testis adalah kanker paling umum pada pria muda (usia 15-35 tahun). Kunci deteksinya adalah melalui Pemeriksaan Testis Sendiri (SADARI Testis / TSE). Sebuah studi di PLOS One (2025) menyoroti “kesadaran yang buruk secara kritis” di kalangan pria dewasa, di mana mayoritas (79,4%) melaporkan belum pernah mendengar tentang TSE (Ahmed et al., 2025). Padahal, jika terdeteksi dini, tingkat kelangsungan hidup kanker testis mencapai 99%.
Untuk Wanita: Selain Pap smear rutin untuk mendeteksi kanker serviks, mengenali perubahan tidak biasa pada vulva atau vagina (benjolan, luka yang tidak sembuh, pendarahan abnormal) sangat penting untuk deteksi dini kanker ginekologi lainnya
Kesimpulan
Menjaga kesehatan organ kemaluan adalah tanggung jawab seumur hidup yang melampaui sekadar kebersihan. Ini adalah pendekatan holistik yang mencakup edukasi kebersihan yang benar, praktik seksual yang aman untuk mencegah PMS, vaksinasi proaktif seperti HPV untuk melawan kanker, dan kesadaran deteksi dini melalui pemeriksaan mandiri. Mengabaikan area ini bukan hanya berisiko menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat berdampak fatal. Sudah saatnya membuang stigma dan secara terbuka mencari informasi serta bantuan medis untuk menjaga aset vital ini — sebagaimana menjadi bagian dari edukasi dan pelayanan promotif-preventif yang kami kembangkan di Program Studi D3 Kebidanan terbaik di Jogja, Universitas Alma Ata. Kami hadir untuk membentuk bidan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam kesehatan reproduksi perempuan Indonesia.
Referensi
Ahmed, A., Al-Shamsi, S., Al-Ali, M. H., & El-Dahiyat, F. (2025). Assessment of testicular self-examination awareness and practice among adult males in Ajman, United Arab Emirates: A cross-sectional study. PLOS One, 20(x), e0326919. https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0326919
Handayani, F., Murti, B., & Sulaeman, E. S. (2023). Knowledge, Attitude, and Practice Towards Sexually Transmitted Infections Among Women of Reproductive Age in an Urban Community Health Centre in Indonesia. The Open Public Health Journal, 16, e187494452301050. https://openpublichealthjournal.com/VOLUME/16/ELOCATOR/e187494452301050/
Simsek Kuçukkelepce, D. S., Sahin, T., & Aydın Ozkan, S. A. (2024). Effects of planned education on genital hygiene behavior of adolescent females in a secondary school: A quasi-experimental study in northern Cyprus. African Journal of Reproductive Health, 28(2), 107-115. https://www.ajrh.info/index.php/ajrh/article/view/4336
Woźniak-Holecka, J., Bains, R., & Holecki, T. (2024). Current status of HPV vaccination – recommendation and introduction in European countries. Progress in Health Sciences, 14(1), 161–170. https://apcz.umk.pl/QS/article/view/53870