Kesehatan perempuan merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan masyarakat. Seiring bertambahnya usia, perempuan akan mengalami berbagai perubahan fisiologis yang dipengaruhi oleh perubahan hormonal. Salah satu fase yang sering kali kurang dipahami adalah masa premenopause, yaitu periode transisi sebelum seorang perempuan memasuki menopause. Pada fase ini, berbagai perubahan fisik maupun psikologis dapat terjadi dan memengaruhi kualitas hidup apabila tidak disertai dengan pemahaman serta pengelolaan yang tepat.
Premenopause umumnya mulai dialami oleh perempuan pada usia 40 tahun ke atas. Masa ini ditandai dengan perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron yang berlangsung secara bertahap. Akibatnya, siklus menstruasi dapat menjadi tidak teratur, baik dari segi frekuensi, durasi, maupun jumlah darah yang keluar. Sebagian perempuan mengalami menstruasi yang lebih banyak dan berlangsung lebih lama dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia defisiensi besi akibat kehilangan darah yang berlebihan selama menstruasi.
Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan pada perempuan usia reproduktif maupun menjelang menopause. Ketika kadar zat besi dalam tubuh menurun, produksi hemoglobin menjadi tidak optimal sehingga kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh ikut berkurang. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti mudah lelah, pusing, sakit kepala, berdebar, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya produktivitas dalam aktivitas sehari-hari. Pada beberapa perempuan, anemia pascamenstruasi juga dapat memicu migrain atau nyeri pada area sekitar mata akibat berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh.
Selain perubahan fisik, masa premenopause juga sering disertai perubahan emosional dan psikologis. Fluktuasi hormon dapat menyebabkan perubahan suasana hati, mudah tersinggung, gangguan tidur, kecemasan, hingga penurunan konsentrasi. Tidak jarang perempuan merasa khawatir ketika mengalami berbagai perubahan tersebut karena menganggapnya sebagai tanda penyakit tertentu. Padahal, sebagian besar perubahan tersebut merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh terhadap perubahan hormonal yang terjadi secara alami.
Upaya menjaga kesehatan selama masa premenopause perlu dilakukan melalui penerapan gaya hidup sehat. Konsumsi makanan yang kaya zat besi seperti daging merah, hati, ikan, dan sayuran hijau dapat membantu menjaga cadangan zat besi dalam tubuh. Penyerapan zat besi juga dapat ditingkatkan dengan mengonsumsi sumber vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, dan berbagai buah segar lainnya. Sebaliknya, konsumsi teh, kopi, atau susu sebaiknya tidak dilakukan bersamaan dengan makanan sumber zat besi karena dapat menghambat proses penyerapannya.
Selain menjaga asupan gizi, aktivitas fisik secara rutin juga berperan penting dalam membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan hormonal. Olahraga ringan hingga sedang dapat membantu menjaga kesehatan tulang, mengendalikan berat badan, meningkatkan kualitas tidur, serta mengurangi stres yang sering muncul selama masa premenopause. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting dalam membantu perempuan menjalani masa transisi ini dengan lebih nyaman dan percaya diri.
Peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai premenopause dan anemia defisiensi besi menjadi salah satu langkah penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan perempuan yang dilakukan oleh mahasiswi Profesi Bidan Alma Ata. Pemahaman yang baik akan membantu perempuan mengenali perubahan yang terjadi pada tubuhnya, melakukan deteksi dini terhadap masalah kesehatan yang mungkin muncul, serta mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan secara optimal. Sebagai salah satu implementasi kegiatan Community Midwifery Practice (CMP), dosen Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Keb bersama mahasiswa Veronica Maya Ananda turut berperan dalam kegiatan edukasi kesehatan di masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi antara institusi pendidikan dan masyarakat dalam meningkatkan literasi kesehatan perempuan, khususnya terkait premenopause, anemia defisiensi besi, serta pentingnya menjaga kesehatan selama masa transisi hormonal.
Dengan meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan perempuan pada masa transisi hormonal, diharapkan perempuan dapat menjalani masa premenopause dengan lebih sehat, produktif, dan berkualitas. Selain itu, kesehatan perempuan yang terjaga juga akan memberikan dampak positif terhadap kesehatan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.
Referensi:
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2024). The Menopause Years.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur.
North American Menopause Society (NAMS). (2023). The Menopause Guidebook.
World Health Organization (WHO). (2024). Anaemia.
Berek, J. S. (2020). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.).