Oleh: Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan berbagai perubahan dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan kebidanan. Berbagai platform berbasis AI memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam mengakses informasi, memahami konsep yang kompleks, hingga mencari referensi ilmiah. Menurut Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb., Dosen Profesi Bidan Alma Ata, kemajuan teknologi tersebut merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan secara optimal, namun AI hendaknya diposisikan sebagai pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir mahasiswa.
Bagi mahasiswa Sarjana dan Profesi Bidan, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada pembentukan kemampuan berpikir kritis, clinical reasoning, komunikasi terapeutik, serta pengambilan keputusan yang tepat dalam memberikan asuhan kebidanan. Kompetensi tersebut memerlukan proses belajar yang mendalam dan tidak dapat dibentuk hanya melalui jawaban instan yang dihasilkan oleh teknologi. AI dapat membantu memahami materi dan memperluas wawasan, tetapi proses analisis dan penalaran klinis tetap harus dikembangkan secara mandiri.
Selain itu, mahasiswa perlu memahami bahwa informasi yang dihasilkan AI tidak selalu sepenuhnya akurat dan tetap memerlukan verifikasi melalui buku teks, pedoman praktik berbasis bukti, serta literatur ilmiah yang terpercaya. Kemampuan mengevaluasi informasi dan menerapkan evidence-based practice menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh calon bidan di era digital. Oleh karena itu, penggunaan AI harus disertai dengan literasi digital yang baik serta komitmen terhadap integritas akademik.
Menurut Lia Dian Ayuningrum, pemanfaatan AI juga perlu disesuaikan dengan tahapan pendidikan mahasiswa. Pada jenjang Sarjana Kebidanan, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu memahami konsep dasar, mencari referensi, dan meningkatkan kemampuan berpikir analitis. Sementara pada tahap Pendidikan Profesi Bidan, AI dapat menjadi sarana pendukung dalam memperkaya wawasan klinis dan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, kemampuan melakukan pengkajian, menetapkan diagnosis, mengambil keputusan klinis, serta memberikan pelayanan yang berpusat pada perempuan dan keluarga tetap membutuhkan kompetensi profesional yang dibangun melalui pengalaman belajar dan praktik langsung.
Sebagai pendidik, Lia Dian Ayuningrum berharap mahasiswa Sarjana dan Profesi Bidan mampu memanfaatkan AI secara bijaksana dan bertanggung jawab. Penguasaan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan kompetensi profesional, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi landasan praktik kebidanan. Pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan empati, komunikasi, dan kebijaksanaan yang menjadi ciri utama seorang bidan dalam memberikan pelayanan kepada ibu, bayi, dan keluarga.
“Artificial Intelligence dapat membantu mahasiswa belajar lebih efektif, tetapi kemampuan berpikir kritis, penalaran klinis, integritas, dan empati tetap harus dibangun sebagai seorang manusia. AI adalah teman belajar, bukan pengganti berpikir.”
— Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb.