Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb.
Di media sosial, standar kecantikan seringkali menuntut remaja putri untuk memiliki tubuh yang kurus dengan cepat. Tren intermittent fasting yang kebablasan, diet ketat tanpa karbohidrat, hingga olahraga berlebihan kini diadopsi secara massal oleh remaja.
Namun, ada harga mahal yang harus dibayar dari diet culture ini. Banyak remaja putri yang tidak menyadari bahwa tubuh mereka sedang mengalami Anovulatory Cycle (Siklus Anovulasi), sebuah kondisi di mana seorang remaja tetap mengalami menstruasi setiap bulan, tetapi indung telurnya (ovarium) sebenarnya tidak melepaskan sel telur.
Bagaimana fenomena “haid semu” ini bisa terjadi, dan mengapa ini menjadi ancaman senyap bagi masa depan reproduksi mereka?
Tubuh wanita memiliki sistem alarm yang sangat sensitif terhadap asupan energi. Ketika seorang remaja melakukan diet ekstrim dan kekurangan kalori secara drastis, otak (khususnya bagian hipotalamus) akan mendeteksi bahwa tubuh sedang berada dalam kondisi bahaya.
Sebagai mekanisme pertahanan hidup, otak akan mematikan fungsi yang dianggap tidak penting demi menghemat energi. Fungsi pertama yang dikorbankan adalah sistem reproduksi.
Otak akan berhenti mengirimkan sinyal kepada ovarium untuk mematangkan sel telur. Akibatnya:
- Tidak ada sel telur yang dilepaskan (tanpa ovulasi).
- Tubuh kekurangan hormon Progesteron (hormon yang diproduksi setelah ovulasi).
- Dinding rahim tetap meluruh dan berdarah karena ketidakseimbangan estrogen, sehingga remaja merasa mereka tetap “haid biasa”, padahal itu hanyalah estrogen breakthrough bleeding (perdarahan semu).
Tanda-Tanda Remaja Mengalami Siklus Anovulasi
Karena tetap mengeluarkan darah, kondisi ini jarang disadari. Namun, beberapa gejala ini bisa menjadi petunjuk:
- Darah Haid yang Sangat Sedikit atau Justru Terlalu Banyak: Haid hanya berlangsung 1-2 hari berupa flek, atau sebaliknya, haid yang sangat panjang dan tidak menentu.
- Siklus yang Berantakan: Jarak antar haid menjadi terlalu maju (kurang dari 21 hari) atau terlalu mundur (lebih dari 35 hari).
- Gejala Fisik Tambahan: Rambut mudah rontok, kulit sangat kering, dan sering merasa kedinginan (tanda metabolisme melambat akibat diet ekstrem).
Jika kondisi anovulasi ini dibiarkan bertahun-tahun selama masa remaja, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa, mulai dari risiko penipisan tulang (osteoporosis dini) hingga kesulitan mendapatkan keturunan di masa depan (infertilitas).
Fakta bahwa siklus anovulasi ini jarang disadari membuktikan masih minimnya edukasi kesehatan reproduksi yang menyasar akar masalah remaja. Di sinilah peran krusial seorang Bidan. Bidan modern bukan lagi sekadar penolong persalinan di rumah sakit, melainkan agen promotif-preventif yang masuk ke sekolah-sekolah dan komunitas untuk menyelamatkan kesehatan reproduksi remaja.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa kami dibekali secara mendalam. Kami melatih calon bidan untuk peka terhadap fenomena sosial seperti diet culture dan mampu memberikan konseling yang humanis kepada remaja putri tentang cara menjaga berat badan ideal tanpa mengorbankan kesehatan hormon mereka.
Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan merupakan salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya mahir dalam tindakan klinis, tetapi juga unggul sebagai komunikator dan penggerak literasi kesehatan perempuan.
Remaja putri perlu diajarkan bahwa tubuh yang sehat dan subur jauh lebih berharga daripada angka di timbangan. Merawat sistem reproduksi sejak remaja adalah investasi terbaik untuk masa depan.
Tertarik untuk menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang mampu mengedukasi dan melindungi hak sehat perempuan Indonesia? Mari bergabung bersama D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kampus Unggul, kuliah singkat 3 tahun, langsung siap mengabdi dan berkarier di dunia kerja modern!
Referensi:
- Vigil, P., et al. (2017). Ovulation, a sign of health: the importance of anovulatory cycles in adolescents. Linacre Quarterly, 84(4), 342-355.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Menstruation in Girls and Adolescents: Using the Menstrual Cycle as a Vital Sign.
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Gangguan Menstruasi pada Remaja.