Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di era modern yang penuh tantangan digital dan sosial, kekhawatiran terbesar orang tua sering kali runtuh pada satu kata: bullying (perundungan). Banyak orang tua berpikir bahwa cara terbaik agar anak tidak diganggu adalah dengan memasukkan mereka ke kelas bela diri agar bisa memukul balik. Namun, sains psikologi menunjukkan hal yang berbeda.
Senjata paling ampuh untuk melindungi anak dari radar pelaku perundungan bukanlah kekuatan fisik untuk menyerang, melainkan ketegasan (assertiveness). Melatih anak menjadi asertif bukan agresif maupun pasif adalah investasi mental terbaik untuk membangun jaring pengaman bagi diri mereka sendiri.
1. Mengapa Pelaku Bullying Menghindari Anak yang Asertif?
Pelaku perundungan (bullies) pada dasarnya adalah oportunis. Mereka mencari target yang memberikan reaksi yang mereka inginkan: ketakutan, tangisan, kepasrahan, atau kemarahan yang meledak-ledak tanpa kendali.
Ketika seorang anak merespons gangguan dengan sikap asertif (tegas, tenang, dan terkendali), pelaku perundungan kehilangan kendali kekuasaannya. Anak yang asertif memancarkan sinyal bahwa mereka bukanlah target yang mudah diintimidasi.
2. Langkah Praktis Melatih Ketegasan (Assertiveness) pada Anak
Ketegasan bukan bakat bawaan lahir, melainkan keterampilan yang bisa dilatih di rumah melalui metode berikut:
A. Latih “Bahasa Tubuh yang Tangguh” (Confident Body Language)
Sebelum kata-kata keluar dari mulut, tubuh anak sudah mengirimkan pesan. Latih anak Anda di rumah untuk menerapkan Power Posing:
- Kontak Mata: Ajarkan anak untuk menatap langsung mata orang yang mengganggunya. Menunduk adalah sinyal kepasrahan.
- Postur Tegak: Berdiri dengan bahu tegap dan kedua kaki kokoh di tanah.
- Ekspresi Wajah Netral: Melatih anak untuk tidak menunjukkan wajah menangis atau ketakutan, melainkan wajah yang tenang dan datar.
B. Formula “Katakan dengan Tegas” (The Assertive Script)
Anak-anak sering kali membeku (freeze) saat diganggu karena tidak tahu harus bicara apa. Berikan mereka kalimat template yang pendek, jelas, dan menggunakan nada suara yang lantang (bukan berteriak):
“Hentikan. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu.”
“Stop. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ajarkan anak untuk langsung berjalan pergi menuju keramaian atau area yang dekat dengan guru. Jangan bertahan di tempat untuk melayani perdebatan.
C. Ajarkan Perbedaan Asertif vs Agresif vs Pasif
Anak-anak perlu memahami batasan perilaku mereka sendiri agar tidak bias:
- Pasif: Membiarkan orang lain menginjak-injak haknya (Menangis, diam saja saat dihina).
- Agresif: Menyerang balik dengan kekerasan atau makian (Memukul, balas mengejek).
- Asertif: Mempertahankan hak diri sendiri dengan cara yang sopan, tegas, dan menghargai diri sendiri serta orang lain.
3. Strategi Penguat di Lingkungan Sosial
Selain ketahanan individu, orang tua harus membekali anak dengan taktik lingkungan yang cerdas:
| Strategi | Aplikasi Nyata |
| Buddy System (Sistem Teman) | Dorong anak untuk selalu berjalan bersama minimal satu atau dua teman dekat saat berada di area sepi sekolah (toilet, lorong, atau belakang kantin). Pelaku bullying jarang menyerang anak yang berada dalam kelompok. |
| Menghapus Stigma “Tukang Ngadu” | Tanamkan dogma di rumah bahwa melaporkan kekerasan atau intimidasi kepada otoritas (guru/orang tua) bukanlah tindakan pengecut, melainkan hak asasi untuk menjaga keamanan diri. |
Kesimpulan
Membesarkan anak yang tangguh tidak berarti menciptakan anak yang ditakuti karena kebrutalannya. Anak yang tangguh adalah anak yang tahu harga dirinya, mampu menetapkan batasan yang jelas bagi orang lain, dan berani bersuara ketika batasan itu dilanggar. Dengan melatih ketegasan sejak dini di rumah, Anda sedang memberikan perisai tak kasat mata yang akan melindungi anak dimanapun mereka berada.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
- UNICEF (2024). The Power of Peer Connectedness and Assertiveness in School Bullying Prevention. New York: UNICEF Guidance Series.
- World Health Organization (WHO). (2025). School-based Violence Prevention: A Global Framework for Action. Jenewa: WHO Guidelines..
- American Psychological Association (APA). (2023). Bullying Prevention for Parents: Empowering Assertive Children. APA PsychNET.
- International Journal of Behavioral Development. (2025). Longitudinal Study on Assertiveness Training and Victimization Rates among Young Adolescents, 49(2), 115-128.