Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Rokok elektrik atau vape semakin populer, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Banyak yang menganggap vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional karena tidak menghasilkan asap hasil pembakaran. Namun, anggapan tersebut belum sepenuhnya benar.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa cairan vape tetap mengandung zat yang dapat memengaruhi kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi.

Bagaimana Vape Memengaruhi Kesehatan Reproduksi?

Cairan vape umumnya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, serta berbagai bahan perasa. Saat dipanaskan, beberapa zat tersebut dapat menghasilkan senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan stres oksidatif dan peradangan dalam tubuh.

Pada perempuan, paparan nikotin dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi sehingga berpotensi memengaruhi siklus menstruasi, kualitas sel telur, dan kesuburan. Sementara pada laki-laki, penggunaan vape dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma, baik dari jumlah, pergerakan, maupun bentuknya.

Dampaknya bagi Kehamilan

Risiko vape menjadi lebih besar ketika digunakan selama kehamilan. Nikotin dapat melewati plasenta dan mencapai janin sehingga meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga kelahiran prematur.

Karena itu, organisasi kesehatan di berbagai negara tidak merekomendasikan penggunaan vape selama kehamilan maupun saat merencanakan kehamilan.

Apakah Vape Tanpa Nikotin Aman?

Tidak selalu.

Beberapa produk yang diklaim bebas nikotin tetap mengandung bahan kimia lain yang dapat mengiritasi saluran napas dan memicu stres oksidatif. Selain itu, tidak semua produk memiliki kandungan yang sesuai dengan labelnya, sehingga konsumen sulit mengetahui zat apa saja yang sebenarnya dihirup.

Remaja Perlu Waspada

Masa remaja merupakan periode penting bagi perkembangan organ reproduksi. Paparan nikotin pada usia ini dapat memengaruhi perkembangan otak, meningkatkan risiko kecanduan, dan berdampak pada kesehatan reproduksi di masa depan.

Oleh karena itu, menghindari vape sejak dini merupakan langkah terbaik untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Vape bukan sekadar gaya hidup atau tren. Meskipun sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok, bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaannya tetap memiliki risiko bagi kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi.

Menjaga organ reproduksi tidak hanya dilakukan dengan pola makan sehat dan olahraga, tetapi juga dengan menghindari paparan zat adiktif seperti nikotin. Bagi remaja maupun pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, berhenti menggunakan vape merupakan investasi penting untuk kesehatan reproduksi di masa depan.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. World Health Organization. (2024). Electronic cigarettes: Protecting children and young people from e-cigarette use. Menegaskan bahwa rokok elektronik tidak aman dan dapat berdampak pada kesehatan reproduksi serta perkembangan janin.
  2. American Society for Reproductive Medicine. (2023). Tobacco or marijuana use and infertility: A committee opinion. Fertility and Sterility, 120(5), 1027–1044.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Health Effects of Vaping. Menjelaskan bahwa nikotin pada vape dapat membahayakan perkembangan otak remaja dan kehamilan.
  4. Kaiser, U. B., et al. (2023). Nicotine and female reproductive health: Current evidence and future directions. Reproductive Toxicology, 118, 108–116.
  5. Bhatta, D. N., & Glantz, S. A. (2022). Association of e-cigarette use with respiratory disease and reproductive health outcomes: A review. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology, 34(6), 365–372.