written by Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb

Menjadi mahasiswa tidak selalu identik dengan masa yang menyenangkan. Ada tugas yang menumpuk, jadwal kuliah yang padat, praktikum, organisasi, skripsi, hingga tuntutan untuk mendapatkan nilai yang baik. Sesekali merasa lelah setelah menyelesaikan banyak aktivitas adalah hal yang wajar. Namun, jika rasa lelah berlangsung terus-menerus dan mulai membuat kita kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, atau merasa tidak mampu menjalani kuliah, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres dan berbagai masalah kesehatan mental masih cukup banyak ditemukan pada mahasiswa di berbagai negara.

Lalu, apa bedanya capek biasa dengan burnout? Capek biasanya muncul setelah kita melakukan banyak aktivitas dan dapat membaik setelah tidur, beristirahat, atau mengambil waktu untuk melakukan hal yang menyenangkan. Sementara itu, burnout ditandai dengan kelelahan yang lebih menetap, munculnya sikap semakin tidak peduli atau sinis terhadap aktivitas yang dijalani, serta merasa kemampuan diri semakin menurun. Kajian tahun 2024 yang melibatkan lebih dari 26.000 mahasiswa menunjukkan bahwa burnout menjadi masalah yang perlu diperhatikan pada mahasiswa.

Burnout juga tidak selalu terlihat dari luar. Seorang mahasiswa mungkin tetap datang kuliah, mengerjakan tugas, bahkan terlihat aktif di organisasi, tetapi sebenarnya sedang merasa sangat lelah secara mental. Tanda lain yang perlu diperhatikan antara lain sulit tidur, sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan motivasi, sering merasa kewalahan, atau mulai menarik diri dari orang lain. WHO menjelaskan bahwa stres yang berlebihan dapat memengaruhi pikiran dan tubuh, termasuk menyebabkan sulit berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, dan masalah tidur.

Kalau mulai merasakan tanda-tanda tersebut, jangan menunggu sampai benar-benar tidak sanggup. Cobalah mengatur kembali jadwal, memberi waktu untuk tidur dan beristirahat, makan secara teratur, melakukan aktivitas fisik, serta berbicara dengan orang yang dipercaya. Mengurangi beban untuk sementara bukan berarti malas atau gagal. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa berbagai strategi pengelolaan stres, aktivitas fisik, mindfulness, dan pendekatan mind-body dapat membantu meningkatkan kesehatan mental mahasiswa.

Kuliah memang penting, tetapi kesehatan diri juga merupakan bagian dari perjalanan menjadi mahasiswa. Tidak semua hari harus produktif dan tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Jika rasa lelah, kehilangan motivasi, atau tekanan yang dirasakan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan berlangsung terus, mahasiswa dapat mencari bantuan dari dosen wali, konselor kampus, psikolog, tenaga kesehatan, atau orang yang dipercaya. Menjaga kesehatan mental bukan tanda bahwa kita lemah, tetapi bagian dari belajar mengenali dan menjaga diri.

Refrensi:

  1. Abraham, A., et al. (2024). Burnout increased among university students during the COVID-19 pandemic: A systematic review and meta-analysis. Scientific Reports. 
  2. Ansari, S., Khan, I., & Iqbal, N. (2025). Association of stress and emotional well-being in non-medical college students: A systematic review and meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 368, 200–223. 
  3. Paiva, U., et al. (2025). Prevalence of mental disorder symptoms among university students: An umbrella review. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 175, 106244. 
  4. World Health Organization. (2026). Stress
  5. Antón-Ruiz, J. A., Bernabé, M., & Heredia-Oliva, E. (2026). Prevalence of depression, anxiety, and stress among university students in the post-COVID-19 period: A systematic review and meta-analysis. BMC Psychology.