by Admin Kebidanan | Feb 9, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Apa Itu Fenomena Brain Rot pada Anak?
Perkembangan teknologi digital membawa dampak besar pada pola pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Salah satu isu yang kini banyak dibahas adalah fenomena brain rot. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan menurunnya kemampuan konsentrasi, fungsi kognitif, dan pengendalian emosi anak akibat paparan layar yang berlebihan, terutama dari konten digital yang cepat dan minim interaksi.
Meskipun brain rot bukan istilah medis resmi, namun fenomena ini relevan dalam kajian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) karena berkaitan langsung dengan kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Perkembangan Otak Anak dalam Perspektif Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Dalam pelayanan KIA, masa bayi dan balita dikenal sebagai golden period, yaitu periode emas perkembangan otak anak. Pada fase ini, otak berkembang sangat pesat dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan, stimulasi, serta kualitas pengasuhan dari orang tua.
Stimulasi yang optimal mencakup komunikasi dua arah, sentuhan, bermain aktif, dan respons emosional yang hangat. Sebaliknya, paparan layar yang berlebihan tanpa pendampingan orang tua dapat mengurangi interaksi langsung anak dengan lingkungan. Anak menjadi lebih pasif, sehingga proses pembelajaran bahasa, sosial, dan emosi tidak berkembang secara optimal.
Dampak Brain Rot terhadap Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak
Fenomena brain rot berpotensi menimbulkan berbagai dampak kesehatan anak, antara lain:
- Gangguan perkembangan kognitif dan bahasa, seperti kesulitan fokus, keterlambatan bicara, dan rendahnya kemampuan berpikir kritis.
- Masalah kesehatan mental dan emosional, termasuk mudah marah, tantrum, serta kesulitan mengelola emosi.
- Gangguan kesehatan fisik, seperti berkurangnya aktivitas fisik dan gangguan pola tidur yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.
Dampak-dampak tersebut menjadi perhatian penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak secara holistik.
Peran Orang Tua dan Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan Brain Rot
Dalam pendekatan KIA, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama orang tua. Keterlibatan aktif ayah dan ibu dalam mendampingi anak, termasuk saat menggunakan gawai, sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Bidan dan tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada orang tua melalui pelayanan antenatal, postnatal, dan pemantauan tumbuh kembang balita. Edukasi tersebut meliputi pembatasan waktu layar sesuai usia anak, pemilihan konten yang edukatif, serta pentingnya stimulasi dini melalui interaksi langsung dan bermain.
Kesimpulan
Fenomena brain rot merupakan tantangan baru dalam upaya menjaga kualitas tumbuh kembang anak di era digital. Dalam perspektif Kesehatan Ibu dan Anak, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat berdampak pada perkembangan kognitif, emosional, dan fisik anak. Oleh karena itu, peran aktif orang tua yang didukung oleh edukasi dari tenaga kesehatan menjadi kunci dalam menciptakan pola asuh yang seimbang dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi:
- Hutton JS, Dudley J, Horowitz-Kraus T, DeWitt T, Holland SK. Associations between screen-based media use and brain white matter integrity in preschool-aged children. JAMA Pediatrics. 2019;173(3):244–250.
- Madigan S, McArthur BA, Anhorn C, Eirich R, Christakis DA. Associations between screen use and child language skills: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2020;174(7):665–675.
- World Health Organization. Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children Under 5 Years of Age. Geneva: WHO; 2019.
- Domingues-Montanari S. Clinical and psychological effects of excessive screen time on children. Journal of Paediatrics and Child Health. 2017;53(4):333–338.
- Radesky JS, Schumacher J, Zuckerman B. Mobile and interactive media use by young children: The good, the bad, and the unknown. Pediatrics. 2015;135(1):1–3.
- Christakis DA. The challenges of defining and studying “digital addiction” in children. JAMA. 2019;321(23):2277–2278.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK). Jakarta: Kemenkes RI; 2022.
- American Academy of Pediatrics. Media and young minds. Pediatrics. 2016;138(5):e20162591.
by Admin Kebidanan | Feb 6, 2026 | Artikel D3
Penulis; Dosen Prodi Kebidanan
Salah satu alasan paling umum seseorang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) dengan kepanikan adalah nyeri dada. Pasien sering kali yakin mereka mengalami serangan jantung, namun setelah diperiksa (EKG dan tes darah), jantung mereka ternyata sehat. Diagnosanya? GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah GERD hanya sekadar “peniru” serangan jantung, atau bisakah asam lambung benar-benar merusak jantung?
Literatur medis internasional tahun 2023-2024 memberikan jawaban yang bernuansa: GERD tidak secara langsung menyumbat pembuluh darah jantung, tetapi memiliki korelasi kuat dengan gangguan irama jantung (aritmia) dan berbagi faktor risiko yang sama.
1. Fenomena “Nyeri Dada Non-Kardiak” (The Mimic)
Hubungan yang paling sering terjadi bukanlah sebab-akibat, melainkan kesalahan persepsi tubuh.
- Persarafan yang Sama: Jantung dan kerongkongan (esofagus) berbagi jalur saraf yang berdekatan saat mengirim sinyal rasa sakit ke otak, yaitu melalui saraf vagus dan akar saraf toraks.
- Kebingungan Otak: Ketika asam lambung membakar esofagus bagian bawah, otak sering kali salah menafsirkan sinyal nyeri tersebut sebagai nyeri dari jantung (angina). Ini disebut Non-Cardiac Chest Pain (NCCP).
2. Hubungan GERD dengan Aritmia (Atrial Fibrillation)
Ini adalah temuan riset yang paling signifikan dalam dekade terakhir. Meskipun GERD tidak menyebabkan penyumbatan koroner, GERD terbukti dapat memicu gangguan irama jantung, khususnya Atrial Fibrillation (AFib).
- Mekanisme Vagal: Riset dalam jurnal Frontiers in Cardiovascular Medicine menjelaskan bahwa asam yang naik ke esofagus merangsang saraf vagus secara berlebihan. Karena saraf vagus juga mengatur detak jantung, rangsangan ini bisa menyebabkan jantung berdetak tidak teratur (berdebar) setelah makan.
- Inflamasi Sistemik: Peradangan kronis pada mukosa esofagus akibat GERD melepaskan sitokin (zat radang) ke dalam aliran darah, yang diduga dapat mempengaruhi aktivitas listrik jantung.
3. “Dua Sisi Mata Uang”: Faktor Risiko Bersama
Sering kali, GERD dan penyakit jantung koroner muncul bersamaan bukan karena yang satu menyebabkan yang lain, tetapi karena keduanya disebabkan oleh “akar” yang sama.
Studi epidemiologi menunjukkan bahwa pasien GERD memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung karena faktor gaya hidup berikut:
- Obesitas Sentral (Perut Buncit): Lemak perut menekan lambung (memicu refluks) dan juga melepaskan zat yang merusak pembuluh darah jantung.
- Pola Makan: Diet tinggi lemak jenuh dan kolesterol memperlambat pengosongan lambung (memicu GERD) sekaligus menumpuk plak di pembuluh darah.
- Merokok: Melemahkan katup esofagus dan merusak dinding arteri jantung.
4. Perdebatan Obat Asam Lambung (PPI) dan Risiko Jantung
Beberapa tahun lalu, muncul kekhawatiran bahwa obat GERD golongan Proton Pump Inhibitors (PPI) seperti Omeprazole dapat meningkatkan risiko serangan jantung.
- Konsensus Terbaru: Tinjauan terbaru di jurnal Gastroenterology dan JAMA mengklarifikasi bahwa bagi populasi umum, penggunaan PPI tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung.
- Pengecualian Penting: Perhatian khusus diberikan pada pasien yang mengkonsumsi pengencer darah Clopidogrel (Plavix) pasca pasang ring jantung. Beberapa jenis PPI dapat mengurangi efektivitas Clopidogrel, sehingga meningkatkan risiko sumbatan ulang. Oleh karena itu, dokter jantung biasanya akan memilih jenis obat lambung yang aman (seperti Pantoprazole) untuk pasien ini.
Kesimpulan
Secara langsung, GERD tidak menyebabkan penyumbatan pembuluh darah jantung (Penyakit Jantung Koroner). Asam lambung tidak bisa masuk ke pembuluh darah dan menyumbat arteri.
Namun, GERD dapat memicu gangguan irama jantung (aritmia) melalui rangsangan saraf, dan nyeri dada akibat GERD seringkali membingungkan diagnosis serangan jantung. Jika Anda memiliki GERD kronis, ini adalah “alarm” dari tubuh untuk memperbaiki gaya hidup (turunkan berat badan, berhenti merokok) yang secara otomatis juga akan melindungi jantung Anda.
Penting: Jangan pernah mendiagnosis diri sendiri. Jika Anda mengalami nyeri dada (terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, atau menjalar ke lengan kiri), selalu anggap itu jantung sampai dokter membuktikan sebaliknya. Lebih baik waspada di UGD daripada terlambat.
Artikel kesehatan yang menarik lainya tentang Gerd bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.
Referensi
- Sinha, T., et al. 2025.. The association between gastroesophageal reflux disease and atrial fibrillation: A systematic review and meta-analysis. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40034621/
- Katz, P. O., et al. (2022). ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease. The American Journal of Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34807007/
- Lanas, A., et al. (2023). Proton Pump Inhibitors and Cardiovascular Events. Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39354720/
by Admin Kebidanan | Feb 4, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Pernah merasa capek padahal tidak melakukan aktivitas fisik yang berat? Atau merasa “ramai” di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian? Jika iya, kamu tidak sendirian. Inilah gambaran remaja di era sekarang, hidup di dunia yang serba cepat, penuh tuntutan, dan nyaris tanpa jeda.
Remaja masa kini tidak hanya dituntut untuk pintar di sekolah, tetapi juga harus terlihat keren, aktif, produktif, dan selalu “update”. Tanpa disadari, hal ini bisa menjadi beban tersendiri.
Dunia Remaja yang Tidak Lagi Sederhana
Dulu, pergaulan remaja terjadi di sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. Sekarang, pergaulan berpindah ke layar ponsel. Satu unggahan bisa menentukan rasa percaya diri, satu komentar bisa mempengaruhi suasana hati seharian.
Remaja saat ini menghadapi :
- Tekanan untuk selalu terlihat bahagia
- Standar hidup yang tidak realistis di media sosial
- Persaingan akademik yang semakin ketat
- Ekspektasi keluarga dan lingkungan
- Ketakutan akan kegagalan dan masa depan
Semua ini terjadi di usia ketika remaja masih belajar memahami emosi dan jati diri.
Pergaulan: Antara Teman, Tren, dan Tekanan
Teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan remaja. Di satu sisi, teman bisa menjadi sumber dukungan. Namun disisi lain, tekanan untuk “ikut-ikutan” sering membuat remaja melakukan hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan.
Mulai dari cara berpakaian, gaya bicara, kebiasaan nongkrong, hingga penggunaan media sosial, semuanya bisa menjadi ajang pembuktian diri. Tanpa disadari, remaja bisa kehilangan batasan dan nilai diri hanya demi diterima.
Remaja Butuh Dipahami, Bukan Hanya Dinilai
Banyak remaja terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Tidak semua masalah bisa diungkapkan lewat kata-kata. Ada yang memilih diam karena takut tidak dipahami, ada pula yang takut dianggap lemah.
Di sinilah peran lingkungan menjadi sangat penting. Remaja membutuhkan :
- Ruang aman untuk bercerita
- Dukungan tanpa menghakimi
- Contoh nyata, bukan sekadar nasihat
- Kepercayaan bahwa mereka mampu bertumbuh
Menjadi Remaja di Era Sekarang: Apa yang Bisa Dilakukan?
Menjadi remaja di zaman ini memang tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil untuk dijalani dengan sehat dan bermakna. Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
- Belajar mengenali dan menerima diri sendiri
- Mengurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain
- Memilih pergaulan yang saling mendukung
- Berani berkata “tidak” pada hal yang merugikan diri
- Mencari bantuan ketika merasa lelah atau kewalahan
Ingat, tidak semua hal harus kamu selesaikan sendiri.
Remaja Tidak Harus Sempurna
Menjadi remaja bukan tentang siapa yang paling cepat berhasil, paling populer, atau paling terlihat sukses. Ini adalah tentang proses bertumbuh, belajar dari kesalahan, dan menemukan arah hidup sedikit demi sedikit.
Kamu boleh lelah. Kamu boleh bingung. Kamu boleh gagal. Tapi jangan berhenti menjadi dirimu sendiri.
Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang salah satu kampus terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.
Daftar Pustaka
Ali, M., & Asrori, M. (2019). Psikologi remaja: Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Arnett, J. J. (2018). Adolescence and emerging adulthood (6th ed.). New York: Pearson Education.
Hurlock, E. B. (2017). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Santrock, J. W. (2019). Life-span development: Perkembangan masa hidup (Edisi 13). Jakarta: Erlangga.
Steinberg, L. (2017). Adolescence (11th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Panduan penguatan karakter dan kesejahteraan peserta didik. Jakarta: Kemendikbudristek.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Kurikulum Merdeka: Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek.
World Health Organization. (2020). Adolescent mental health. Geneva: WHO.
Yusuf, S. (2018). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
by Admin Kebidanan | Feb 2, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Masa remaja merupakan fase transisi krusial yang dikenal sebagai the second window of opportunity atau jendela kesempatan kedua setelah periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Bagi remaja perempuan, fase ini bukan sekadar tentang pertumbuhan fisik, melainkan fondasi utama bagi kesehatan reproduksi, ketahanan mental, dan kualitas generasi penerus bangsa.
Nutrisi dan Fondasi Fisik: Memutus Rantai Stunting
Salah satu tantangan kesehatan terbesar bagi remaja perempuan di Indonesia adalah anemia defisiensi besi. Data nasional menunjukkan angka anemia pada remaja putri masih cukup tinggi, yang berdampak pada penurunan konsentrasi belajar dan kebugaran.
Dalam jangka panjang, remaja putri yang anemia berisiko tinggi menjadi ibu hamil yang anemia, yang merupakan salah satu penyebab utama kelahiran bayi stunting. Oleh karena itu, intervensi hulu seperti pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin menjadi sangat vital untuk memastikan remaja putri tumbuh optimal tanpa hambatan kesehatan kronis.
Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM)
Informasi mengenai manajemen kebersihan menstruasi sering kali masih dianggap tabu, padahal sangat penting untuk mencegah infeksi saluran kemih dan reproduksi. Remaja perempuan perlu mendapatkan edukasi mengenai cara penggantian pembalut secara rutin (setiap 4–6 jam), penggunaan air bersih, serta pemahaman bahwa menstruasi adalah proses biologis normal, bukan sesuatu yang memalukan atau membuat mereka “kotor”.
Resiliensi Mental dan Keamanan di Era Digital
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental remaja perempuan memerlukan perhatian khusus. Di era digital, remaja perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan (anxiety) akibat tekanan standar kecantikan (body image) di media sosial.
Lebih jauh lagi, literasi digital menjadi aspek perlindungan diri yang penting. Remaja perempuan harus dibekali pengetahuan untuk mengenali dan menghindari Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), seperti pelecehan di dunia maya atau penyebaran konten pribadi tanpa izin. Membangun resiliensi mental berarti memberikan mereka keberanian untuk menetapkan batasan (boundaries) dan mencari bantuan jika merasa tidak aman di ruang digital.
Peran Strategis Posyandu Remaja
Meskipun sering identik dengan pemeriksaan fisik, Posyandu Remaja berperan sebagai “Safe Space” atau ruang aman bagi remaja perempuan untuk mendapatkan informasi akurat. Di sini, mereka tidak hanya dipantau kesehatannya, tetapi juga diberdayakan melalui pendidik sebaya (peer counselor). Dengan membekali remaja perempuan literasi kesehatan yang utuh dan kecakapan digital, kita sedang menyiapkan calon ibu yang cerdas, sehat secara fisik, dan tangguh secara mental untuk menuju Indonesia Emas 2045.
Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.
Sumber Pustaka :
1. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (2020). Panduan Mengenali dan Mencegah Kekerasan Berbasis Gender Online. Jakarta: KemenPPPA.
2. UNICEF Indonesia. (2021). Profil Manajemen Kebersihan Menstruasi di Indonesia. Jakarta: UNICEF.
3. Azzahra, S., & Kurniasari, R. (2022). “Pentingnya Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri untuk Pencegahan Stunting”. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(3).
4. Putri, A. W., dkk. (2020). “Kesehatan Mental Remaja di Era Digital: Tantangan dan Solusi”. Jurnal Penelitian Psikologi, 11(2).
5. Hulu, V. T., dkk. (2022). “Kaitan Citra Tubuh (Body Image) dengan Rasa Percaya Diri pada Remaja Perempuan”. Jurnal Psikologi Kesehatan, 5(1).
6. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
7. World Health Organization (WHO). (2021). Adolescent Health: Facing the Future. Geneva: WHO Press.
by Admin Kebidanan | Jan 30, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Banyak penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang terbiasa hidup dengan “rasa terbakar” di dada dan hanya mengandalkan obat antasida warung saat kambuh. Namun, data medis menunjukkan bahwa membiarkan esofagus (kerongkongan) terpapar asam lambung secara kronis, bertahun-tahun dapat memicu kerusakan jaringan yang permanen dan berbahaya.
1. Esofagitis Erosif: Luka Kronis
Ini adalah komplikasi tahap awal yang paling umum. Asam lambung yang bersifat korosif (pH 1-2) mengikis lapisan mukosa kerongkongan.
- Dampak: Terjadi peradangan, pembengkakan, dan luka terbuka (ulkus).
- Gejala: Nyeri saat menelan (odynophagia) dan risiko perdarahan yang bisa menyebabkan anemia atau muntah darah. Penyembuhan total esofagitis erosif seringkali memerlukan terapi obat penekan asam (PPI) selama minimal 8 minggu.
2. Striktur Esofagus (Penyempitan Saluran)
Tubuh berusaha menyembuhkan luka akibat asam dengan membentuk jaringan parut (scar tissue). Sayangnya, proses penyembuhan ini bisa menjadi masalah baru.
- Mekanisme: Jaringan parut bersifat kaku dan tidak elastis. Jika menumpuk, jaringan ini akan mempersempit diameter kerongkongan.
- Gejala Klinis: Disfagia atau kesulitan menelan. Pasien sering merasa makanan “tersangkut” di dada, yang bisa memicu penurunan berat badan drastis karena takut makan.
3. Barrett’s Esophagus: Transformasi Sel Prakanker
Ini adalah komplikasi yang paling diwaspadai oleh dokter spesialis gastroenterologi.
- Mutasi Sel (Metaplasia): Sebagai mekanisme pertahanan diri, sel-sel pelapis kerongkongan (skuamosa) berubah bentuk menyerupai sel-sel usus (kolumnar) yang lebih tahan asam. Perubahan ini disebut Barrett’s Esophagus.
- Risiko: Meskipun sel ini lebih “tahan banting”, mereka tidak stabil secara genetik. Jurnal Gastroenterology menyebutkan bahwa pasien dengan Barrett’s memiliki risiko 30-40 kali lipat lebih tinggi terkena kanker esofagus dibandingkan populasi umum.
4. Adenokarsinoma Esofagus (Kanker Kerongkongan)
Ini adalah ujung tombak dari komplikasi GERD yang paling fatal.
- Tren Global: adenokarsinoma esofagus adalah salah satu jenis kanker dengan pertumbuhan tercepat di negara maju, berkorelasi lurus dengan peningkatan angka obesitas dan GERD kronis.
- Deteksi: Kanker ini sering kali tidak bergejala di tahap awal, itulah sebabnya pemantauan rutin (surveilans) pada pasien GERD kronis sangat vital.
5. Komplikasi Ekstra-Esofageal (Di Luar Saluran Cerna)
Asam lambung tidak hanya merusak kerongkongan, tetapi bisa naik lebih tinggi (laringofaringeal) atau teraspirasi ke paru-paru (mikro-aspirasi).
- Paru-paru: GERD yang tidak terkontrol dapat memicu atau memperparah asma, menyebabkan bronkitis kronis, hingga fibrosis paru idiopatik (jaringan parut di paru-paru) akibat iritasi asam yang terhirup sedikit demi sedikit saat tidur.
- Gigi dan Mulut: Asam yang mencapai rongga mulut dapat mengikis enamel gigi bagian dalam, menyebabkan gigi sensitif dan keropos yang parah.
Kesimpulan
GERD bukanlah penyakit yang boleh dianggap “normal”. Perjalanan penyakit ini bersifat progresif: dimulai dari peradangan (esofagitis), penyempitan (striktur), perubahan sel (Barrett’s), hingga keganasan (kanker).
Kabar baiknya, komplikasi ini sangat bisa dicegah. Pengobatan dini, perubahan gaya hidup yang konsisten, dan pemantauan endoskopi berkala bagi pasien berisiko tinggi adalah kunci untuk memutus mata rantai kerusakan ini.
Artikel kesehatan yang menarik lainya tentang Gerd bisa diakses di website Prodi
D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul
Referensi
- Katz, P. O., et al. 2022. ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease. The American Journal of Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34807007/
- Rakhmetova, V, et,al. 2024. New Mechanisms of Barrett’s Esophagus Development. Journal of Clinical Medicine of Kazakhstan. https://www.clinmedkaz.org/article/new-mechanisms-of-barretts-esophagus-development-14680
- WHO. 2026. The global landscape of esophageal squamous cell carcinoma and esophageal adenocarcinoma incidence and mortality in 2020 and projections to 2040: new estimates from GLOBOCAN 2020. https://www.iarc.who.int/news-events/the-global-landscape-of-esophageal-squamous-cell-carcinoma-and-esophageal-adenocarcinoma-incidence-and-mortality-in-2020-and-projections-to-2040-new-estimates-from-globocan-2020/
by Admin Kebidanan | Jan 28, 2026 | Artikel D3
“Terkadang, obat terbaik untuk hati yang lelah bukanlah resep dokter, melainkan telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi.”
Siapa yang tidak terpesona dengan kembalinya Kim Seon-ho di drama terbarunya, Can This Love Be Translated?. Dipasangkan dengan Go Youn-jung, drama ini tidak hanya menyuguhkan visual yang memanjakan mata, tetapi juga premis cerita yang unik tentang seorang penerjemah multibahasa dan seorang bintang top.
Namun, di balik bumbu romansa dan komedinya, drama ini menyentil isu yang sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama bagi generasi muda: Kesehatan Mental dan Komunikasi.
Seringkali kita merasa berbicara dengan bahasa yang sama (Bahasa Indonesia), tapi kenapa rasanya lawan bicara kita tidak paham apa yang kita rasakan?
1. Fenomena “Lost in Translation” pada Emosi
Dalam drama, tokoh Joo Ho-jin (Kim Seon-ho) bekerja menerjemahkan bahasa asing. Tapi di dunia nyata, tugas terberat kita sebenarnya adalah menerjemahkan isi kepala dan perasaan agar dimengerti orang lain.
Banyak masalah kesehatan mental, mulai dari burnout, kecemasan (anxiety), hingga depresi, berawal dari emosi yang gagal diterjemahkan. Kita sering bilang “Aku nggak apa-apa” (I’m fine), padahal hati berteriak “Tolong dengarkan aku”. Ketidakmampuan lingkungan untuk memahami kode ini sering membuat seseorang merasa terisolasi.
2. Pentingnya Validasi: Lebih dari Sekadar Kata-kata
Pelajaran mahal dari drakor ini adalah tentang Validasi. Kesehatan mental yang terjaga dimulai dari perasaan “diterima”.
Ketika seseorang curhat tentang lelahnya kuliah, beratnya pekerjaan, atau pusingnya masalah percintaan, mereka seringkali tidak butuh solusi. Mereka butuh penerjemah yang bisa berkata: “Wajar kok kamu merasa begitu,” atau “Aku ngerti kenapa kamu marah.”
Validasi adalah P3K (Pertolongan Pertama) pada kecelakaan mental. Tanpa validasi, “luka” kecil di hati bisa menjadi infeksi yang berbahaya bagi jiwa.
3. Apa Kaitannya dengan Dunia Kesehatan?
Meskipun drama ini tentang industri hiburan, filosofi “penerjemah” ini sangat relevan dengan dunia kesehatan, termasuk kebidanan.
Tahukah kamu? Tenaga kesehatan modern tidak lagi hanya diajarkan menyuntik atau memberi obat. Di jurusan kesehatan yang berkualitas, mahasiswa diajarkan seni Komunikasi Terapeutik.
Seorang Bidan, misalnya, sejatinya adalah “Penerjemah Kehidupan”.
- Menerjemahkan rasa sakit ibu menjadi semangat.
- Menerjemahkan tangisan bayi menjadi tanda kehidupan.
- Menerjemahkan kecemasan remaja menjadi rasa aman.
Kemampuan mendengarkan dan memahami emosi orang lain (empati tingkat tinggi) adalah skill mahal yang dibutuhkan di semua lini pekerjaan masa depan, bukan hanya di rumah sakit.
Belajar dari Can This Love Be Translated?, mari kita mulai lebih peka. Tanyakan kabar temanmu dengan sungguh-sungguh. Dengarkan tanpa memotong. Di Universitas Alma Ata, khususnya Prodi D3 Kebidanan, kami percaya bahwa healing terbaik dimulai dari hearing (mendengarkan) yang baik. Ingin punya skill komunikasi sekeren Kim Seon-ho tapi versi tenaga kesehatan? Yuk, kepoin prodi kami yang sudah Terakreditasi Unggul dan menjadi salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja.
Referensi:
- Goleman, D. (2021). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books
- Adler, R. B., & Proctor, II, R. F. (2019). Looking Out, Looking In. Cengage Learning.
- Lee, S., et al. (2023). The Impact of Korean Dramas on Mental Health Awareness among Youth. Journal of Cultural and Psychological Studies.
- Linehan, M. M. (2018). Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder. Guilford Press.
- World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health: Strengthening Our Response
- Kementerian Kesehatan RI. (2022). Kurikulum Berbasis Kompetensi Tenaga Kesehatan: Komunikasi Terapeutik