Oleh Fatimatasari, M.Keb., Bd

Hidup sehat sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit dilakukan. Ada yang merasa tidak memiliki cukup waktu, ada yang menganggap biayanya terlalu mahal, dan ada pula yang berpikir bahwa hidup sehat hanya dapat dilakukan jika memiliki fasilitas yang memadai. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan yang dilakukan secara konsisten daripada oleh mahal atau tidaknya pilihan yang diambil.

Bagi remaja akhir dan dewasa awal, tantangan terbesar bukan hanya kesibukan sekolah dan kuliah, tetapi juga bagaimana mengelola kebiasaan sehari-hari. Jadwal belajar yang padat, tugas, kegiatan organisasi, hingga aktivitas di media sosial dapat membuat waktu makan, aktivitas fisik, dan tidur menjadi kurang teratur. Kondisi tersebut sering kali mendorong pilihan yang lebih praktis, seperti melewatkan sarapan, memilih makanan siap saji, mengurangi aktivitas fisik, atau tidur larut malam.

Padahal, kebiasaan yang terbentuk pada masa remaja dan dewasa awal cenderung berlanjut hingga usia dewasa. Oleh karena itu, periode ini merupakan waktu yang penting untuk membangun gaya hidup sehat.

Kabar baiknya, hidup sehat tidak selalu membutuhkan perubahan besar ataupun biaya tambahan. Dalam banyak situasi, hidup sehat dimulai dari pilihan-pilihan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih makanan yang lebih bergizi, meluangkan waktu untuk bergerak, dan menjaga waktu tidur merupakan contoh kebiasaan yang dapat dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya yang lebih besar.

Memilih Makanan yang Lebih Bergizi

Pola makan sehat tidak selalu identik dengan makanan yang mahal. Telur, tempe, tahu, ikan lokal, sayuran, dan buah musiman merupakan contoh bahan pangan bergizi yang relatif terjangkau dan mudah ditemukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mengeluarkan biaya yang hampir sama, tetapi memperoleh kualitas gizi yang sangat berbeda. Misalnya, harga satu gelas minuman berpemanis sering kali setara dengan beberapa butir telur. Sebungkus camilan atau keripik dapat memiliki harga yang tidak jauh berbeda dengan satu papan tempe atau beberapa potong tahu. Demikian pula, satu porsi makanan cepat saji atau makanan tinggi tepung belum tentu lebih murah dibandingkan seporsi nasi dengan lauk sederhana seperti telur, tempe, atau tahu yang dilengkapi sayur.

Perbedaannya bukan hanya pada rasa kenyang, tetapi juga pada kandungan gizinya. Minuman berpemanis umumnya mengandung gula tambahan yang tinggi, sedangkan camilan seperti keripik didominasi oleh lemak, garam, dan kalori yang terbukti meningkatkan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya jika dikonsumsi secara berlebih. Sebaliknya, telur, tempe, tahu, dan ikan memberikan protein berkualitas, sementara sayur dan buah melengkapi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral yang membantu tubuh belajar, berpikir, dan beraktivitas secara optimal, sekaligus memberikan rasa kenyang yang lebih lama.

Memilih untuk Tetap Bergerak

Kesibukan sering menjadi alasan untuk tidak berolahraga. Sebagian orang juga menganggap olahraga yang efektif harus dilakukan di pusat kebugaran dengan berbagai peralatan modern. Padahal, manfaat utama aktivitas fisik diperoleh dari tubuh yang bergerak secara teratur, bukan dari mahalnya tempat atau fasilitas olahraga.

WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit setiap minggu, atau sekitar 30 menit sehari selama lima hari. Aktivitas tersebut dapat berupa berjalan kaki, bersepeda, menaiki tangga, jogging ringan, senam, atau latihan kekuatan menggunakan berat badan sendiri di rumah.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik sederhana yang dilakukan secara rutin tetap memberikan manfaat yang besar, seperti meningkatkan kebugaran jantung dan paru, membantu menjaga berat badan, menurunkan risiko diabetes dan penyakit jantung, memperbaiki kualitas tidur, serta membantu mengurangi stres dan kecemasan. Dengan kata lain, berjalan kaki selama 30 menit setiap hari tetap memberikan manfaat kesehatan yang nyata meskipun tidak pernah berolahraga di pusat kebugaran. Yang terpenting bukanlah seberapa mahal tempat berolahraga, tetapi seberapa konsisten tubuh diajak bergerak.

Memilih Waktu Istirahat yang Cukup

Tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika tugas sekolah atau kuliah mulai menumpuk. Selain itu, penggunaan media sosial juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya waktu istirahat pada remaja dan mahasiswa. Tidak sedikit yang berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi tanpa disadari menghabiskan waktu hingga berjam-jam sebelum tidur.

Padahal, orang dewasa dianjurkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga konsentrasi, daya ingat, suasana hati, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan metabolik. Sebaliknya, kurang tidur dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit kardiovaskular.

Mengurangi penggunaan gawai dan media sosial sebelum tidur merupakan langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Selain memberikan waktu istirahat yang cukup, kebiasaan ini juga membantu tubuh dan otak pulih sehingga siap belajar dan beraktivitas keesokan harinya.

Mulai dari Pilihan Sederhana

Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada siswa yang harus membantu orang tua setelah pulang sekolah, mahasiswa yang aktif berorganisasi, atau yang harus bekerja sambil kuliah. Karena itu, hidup sehat bukan berarti melakukan semua anjuran secara sempurna.

Yang lebih penting adalah memilih perubahan yang realistis dan dapat dilakukan secara konsisten. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Hidup sehat dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari sebagai berikut:

1. Pilih makanan dan minuman yang lebih bergizi.

  • Perbanyak konsumsi sayur, buah, serta sumber protein seperti telur, tempe, tahu, dan ikan.
  • Kurangi konsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta camilan ultra-proses yang rendah nilai gizi.
  • Pilih air putih sebagai minuman utama dan batasi konsumsi minuman berpemanis.

2. Pilih untuk tetap aktif bergerak setiap hari.

  • Luangkan sekitar 30 menit untuk berjalan kaki, bersepeda, senam, atau aktivitas fisik lainnya.
  • Kurangi waktu duduk yang terlalu lama dengan berdiri atau berjalan singkat setiap 30–60 menit.

3. Pilih waktu tidur yang cukup dan berkualitas.

  • Usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam.
  • Batasi penggunaan gawai dan media sosial menjelang waktu tidur agar kualitas istirahat lebih baik.

4. Pilih mengelola waktu dengan lebih bijak.

  • Kesibukan sekolah dan kuliah memang tidak dapat dihindari, tetapi menyisihkan waktu untuk makan, bergerak, dan beristirahat merupakan bagian dari menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan produktivitas belajar.

5. Pilih perubahan yang realistis dan konsisten.

  • Tidak perlu menunggu semua kondisi menjadi ideal.
  • Mulailah dari satu kebiasaan sehat yang paling mudah dilakukan, kemudian tingkatkan secara bertahap hingga menjadi bagian dari gaya hidup.

Hidup sehat tidak selalu membutuhkan biaya yang besar. Dalam banyak situasi, pilihan yang lebih sehat justru dapat dilakukan dengan biaya yang relatif sama, bahkan lebih hemat, dibandingkan pilihan yang kurang sehat. Yang membedakan sering kali bukan kemampuan finansial, melainkan kebiasaan yang dipilih dan dilakukan secara konsisten setiap hari.

Membangun gaya hidup sehat membutuhkan pengetahuan yang benar dan kemampuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata siap menjadi tempat bertumbuh bagi calon bidan yang profesional. Melalui pembelajaran yang berbasis bukti (evidence-based midwifery), mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat serta berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan perempuan, ibu, bayi, anak, remaja, dan keluarga.

Referensi

  1. Bull FC, Al-Ansari SS, Biddle S, et al. World Health Organization 2020 Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. British Journal of Sports Medicine. 2020;54(24):1451–1462. doi:10.1136/bjsports-2020-102955.
  2. World Health Organization. Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO; 2020.
  3. World Health Organization. Healthy Diet. Geneva: World Health Organization. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Sleep. Available at: https://www.cdc.gov/sleep/about/index.html
  5. Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. The Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228. doi:10.1016/S2352-4642(18)30022-1.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2024.
  8. World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: WHO; 2015.
  9. World Health Organization. Global Action Plan for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases 2013–2030. Geneva: WHO.