Fenomena “Silent Struggle”: Banyak Remaja Alami Stres, Cemas, dan Depresi Tanpa Disadari

Fenomena “Silent Struggle”: Banyak Remaja Alami Stres, Cemas, dan Depresi Tanpa Disadari

Created by: Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb

Di balik aktivitas sekolah, interaksi media sosial, dan keseharian yang tampak normal, banyak remaja ternyata sedang menghadapi masalah kesehatan mental secara diam-diam. Kondisi ini dikenal sebagai silent struggle, yaitu keadaan ketika remaja mengalami stres, kecemasan, dan depresi namun tidak terdeteksi atau tidak mendapatkan penanganan yang memadai.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai kondisi yang paling umum. Gangguan ini sering muncul pada masa remaja awal dan dapat berlanjut hingga dewasa apabila tidak ditangani secara tepat (World Health Organization, 2025).

Data Penelitian Menunjukkan Angka yang Mengkhawatirkan

Sejumlah penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada remaja merupakan fenomena nyata dan meluas. Penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi, Moeliono, dan Kendhawati (2022) terhadap 647 remaja usia 14–18 tahun di Bandung menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42) menemukan bahwa:

  • 58,7% remaja mengalami kecemasan,
  • 34,7% mengalami stres, dan
  • 32,15% menunjukkan gejala depresi.

Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki, mengindikasikan adanya kerentanan berbasis gender dalam kesehatan mental remaja.

Temuan serupa juga terlihat secara global. Sebuah meta-analisis oleh Racine et al. (2021) yang melibatkan lebih dari 80.000 anak dan remaja di berbagai negara melaporkan bahwa 25,2% remaja mengalami gejala depresi dan 20,5% mengalami kecemasan selama pandemi COVID-19. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sebelum pandemi, menandakan dampak besar perubahan sosial terhadap kesehatan mental remaja.

Sementara itu, meta-analisis besar lainnya yang mencakup lebih dari 1,3 juta anak dan remaja menunjukkan bahwa 31% mengalami gejala depresi dan kecemasan, serta 42% mengalami gangguan tidur (Pan et al., 2022). Gangguan tidur ini diketahui berkaitan erat dengan stres psikologis dan penurunan kesehatan mental secara keseluruhan.

Tekanan Akademik dan Media Sosial Jadi Faktor Dominan

Para peneliti menyoroti bahwa tekanan akademik, tuntutan prestasi, dan ekspektasi keluarga menjadi pemicu utama stres pada remaja. Selain itu, penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan juga berkontribusi terhadap meningkatnya kecemasan dan depresi.

Penelitian terbaru oleh Dai dan Ouyang (2025) terhadap lebih dari 50.000 anak dan remaja di Amerika Serikatmenemukan bahwa remaja dengan screen time ≥4 jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan (adjusted OR 1,45) dan depresi (adjusted OR 1,65). Penggunaan gawai yang berlebihan sering kali berdampak pada kurangnya aktivitas fisik, gangguan tidur, dan meningkatnya perasaan kesepian.

Selain itu, studi di Asia juga menunjukkan hasil yang konsisten. Penelitian terhadap 22.380 remaja di Tiongkokmelaporkan bahwa 25,6% mengalami depresi dan 26,9% mengalami kecemasan, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada remaja perempuan (Li et al., 2021).

Dampak Nyata bagi Kehidupan Remaja

Masalah stres, kecemasan, dan depresi tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis remaja, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Remaja dengan gangguan mental berisiko mengalami penurunan prestasi akademik, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, menarik diri dari pergaulan sosial, serta penurunan kualitas hidup.

Penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi (alexithymia) memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi, sehingga cenderung memendam masalah tanpa mencari bantuan (Zakiyyah et al., 2025).

Pentingnya Deteksi Dini dan Dukungan Lingkungan

Para ahli menekankan bahwa deteksi dini kesehatan mental remaja sangat penting, terutama melalui lingkungan sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan. Skrining kesehatan mental, edukasi psikologis, serta penyediaan ruang aman bagi remaja untuk berbagi cerita dapat membantu mencegah dampak jangka panjang.

WHO juga menegaskan bahwa dukungan emosional dari orang tua, guru, dan teman sebaya, disertai promosi gaya hidup sehat seperti tidur cukup, aktivitas fisik, dan pengelolaan waktu penggunaan gawai, merupakan langkah kunci dalam menjaga kesehatan mental remaja.

Masalah yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan

Fenomena silent struggle menegaskan bahwa kesehatan mental remaja bukan sekadar masalah individu, melainkan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Dengan meningkatnya kesadaran, intervensi berbasis sekolah dan komunitas, serta kebijakan kesehatan yang berpihak pada remaja, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dengan kondisi mental yang lebih sehat dan sejahtera.


Referensi 

  1. Pertiwi, S. T., Moeliono, M. F., & Kendhawati, L. (2022). Depresi, kecemasan, dan stres remaja selama pandemi COVID-19. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 6(2). https://doi.org/10.36722/sh.v6i2.497
  2. Racine, N., McArthur, B. A., Cooke, J. E., Eirich, R., Zhu, J., & Madigan, S. (2021). Global prevalence of depressive and anxiety symptoms in children and adolescents during COVID-19: A meta-analysis. JAMA Pediatrics, 175(11), 1142–1150.
  3. Pan, K. Y., Kok, A. A. L., Eikelenboom, M., et al. (2022). Prevalence of mental health symptoms in children and adolescents during the COVID-19 pandemic: A meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 31–42.
  4. Li, X., Zhang, S., & Xue, S. (2021). Prevalence of and risk factors for depressive and anxiety symptoms in Chinese adolescents in the post-COVID-19 era. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 15, 80.
  5. Dai, Y., & Ouyang, N. (2025). Excessive screen time and mental health problems among children and adolescents. arXiv preprint.
  6. World Health Organization. (2025). Mental health of adolescents. WHO.
D3 dan S1 Kebidanan – Profesi Bidan: Mana yang Lebih Penting?

D3 dan S1 Kebidanan – Profesi Bidan: Mana yang Lebih Penting?

Dalam sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak, bidan memegang peran yang sangat strategis. Bidan hadir sejak fase kehamilan, persalinan, nifas, hingga kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga. Namun, masih sering muncul anggapan bahwa satu jenjang pendidikan bidan lebih “unggul” dibanding yang lain. Padahal, D3 Kebidanan dan S1 Kebidanan–Profesi Bidan sama-sama penting, dengan keunggulan dan peran yang saling melengkapi.

Perbedaan jenjang pendidikan bukan untuk dibandingkan secara hierarkis, melainkan untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan dari hulu hingga hilir. Mari kita Simak penjelasan berikut:

D3 Kebidanan: Kuat di Pelayanan Klinis dan Lapangan

Program Diploma Tiga (D3) Kebidanan dirancang untuk mencetak bidan yang terampil secara praktik dan siap bekerja di layanan kesehatan dasar dalam waktu yang lebih singkat.

Keunggulan D3 Kebidanan:

  • Fokus pada keterampilan klinis: Mahasiswa D3 dibekali kemampuan praktik kebidanan yang intensif, terutama dalam pelayanan kebidanan dasar, meliputi pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir normal.
  • Siap terjun langsung ke lapangan: Lulusan D3 banyak berperan di puskesmas, klinik, dan fasilitas pelayanan primer, terutama di daerah yang membutuhkan tenaga bidan terampil. 
  • Responsif terhadap kebutuhan layanan dasar: D3 menjadi tulang punggung pelayanan kebidanan sehari-hari yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

D3 Kebidanan sangat penting untuk memastikan akses layanan kebidanan tetap tersedia, merata, dan berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya.

S1 Kebidanan–Profesi Bidan: Penguat Peran Edukasi, Kepemimpinan, dan Promosi Kesehatan

Sementara itu, S1 Kebidanan yang dilanjutkan dengan Profesi Bidan memiliki fokus yang lebih luas, tidak hanya pada keterampilan klinis, tetapi juga pada pengambilan keputusan berbasis ilmu, kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat meskipun membutuhkan waktu studi lebih lama.

Keunggulan S1 Kebidanan–Profesi Bidan:

  • Kemampuan berpikir kritis dan berbasis evidence: Lulusan dibekali kemampuan menganalisis masalah kesehatan ibu dan anak secara komprehensif.  
  • Kuat dalam promosi dan edukasi kesehatan: Sangat berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, kesehatan mental ibu, dan perencanaan keluarga.
  • Peran kepemimpinan dan manajerial: S1 Kebidanan–Profesi Bidan dipersiapkan menjadi pimpinan Praktik Mandiri Bidan (PMB), pengelola pelayanan, penggerak tim, pendidik, konselor, dan agen perubahan di masyarakat.
  • Landasan untuk pengembangan karier: Membuka peluang lebih luas dalam dunia akademik, penelitian, kebijakan kesehatan, dan pengembangan layanan.

S1 Kebidanan–Profesi Bidan berperan penting dalam meningkatkan kualitas layanan, bukan hanya kuantitas, serta menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks.

Tidak Sama tapi Satu Kesatuan dan Berperan Saling Menguatkan

D3 dan S1 Kebidanan–Profesi Bidan tidak berdiri saling menggantikan, melainkan saling melengkapi:

  • D3 memastikan pelayanan kebidanan berjalan efektif di lini terdepan.
  • S1 Kebidanan–Profesi Bidan memastikan pelayanan tersebut berkembang secara ilmiah, edukatif, dan berkelanjutan.

Keduanya dibutuhkan agar sistem kesehatan ibu dan anak dapat berjalan secara berkesinambungan, bermutu, dan terintegrasi dalam mendukung kebijakan nasional.

Menjadi Bidan: Pilihan Profesi, Pilihan Pengabdian.

Apapun jalur pendidikan yang dipilih, menjadi bidan pada hakikatnya adalah memilih profesi dengan tanggung jawab besar. Seorang bidan hadir menjaga kehidupan sejak awal, mendampingi perempuan dalam setiap fase penting, sekaligus berkontribusi dalam membangun generasi masa depan.

Bagi yang ingin berkontribusi lebih luas dalam edukasi, promosi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat, melanjutkan pendidikan ke S1 Kebidanan dan Profesi Bidan menjadi langkah strategis.
Bagi yang ingin fokus pada pelayanan langsung dan praktik kebidanan, D3 Kebidanan dapat menjadi fondasi yang sangat berharga.

Karena pada akhirnya, setiap Bidan di jenjang apa pun memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan Perempuan, ibu, bayi, dan masa depan bangsa Indonesia.

Universitas Alma Ata memahami bahwa tantangan kesehatan saat ini membutuhkan Bidan yang terampil secara klinis serta didukung pendekatan berbasis bukti ilmiah dalam promosi kesehatan dan pemberdayaan Masyarakat.

Baik memulai dari D3 Kebidanan, atau S1 Kebidanan–Profesi Bidan, keduanya adalah pilihan bermakna untuk masa depan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Mari menjadi bagian dari bidan profesional yang berilmu, berempati, dan berdampak luas bersama Universitas Alma Ata.

REFERENSI

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan. Available at: https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&opi=89978449&url=https://peraturan.bpk.go.id/Download/94989/UU%2520Nomor%25204%2520Tahun%25202019.pdf&ved=2ahUKEwjh1OeG1uaRAxXnUGcHHRAMDsAQFnoECBoQAQ&usg=AOvVaw1KPpyV9TPKFKjcNpjY5vs6

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020. Available at: https://repositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id/294/2/Buku%20digital%20Standar%20Profesi%20Bidan.pdf

Perjuangan Perempuan Belum Berakhir: Bidan Harus Ikut Andil

Perjuangan Perempuan Belum Berakhir: Bidan Harus Ikut Andil

Cretad by: Fatimatasari, M.Keb., Bdn

Peringatan Hari Ibu seharusnya tidak hanya menjadi momen simbolik untuk mengucapkan terima kasih, tetapi juga ruang refleksi untuk melihat secara jujur realitas yang masih dihadapi perempuan. Di balik peran besar perempuan dalam keluarga dan masyarakat, masih terdapat ketimpangan dan kerentanan yang berdampak langsung pada kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup mereka.

Kemajuan di bidang pendidikan dan partisipasi kerja perempuan memang patut diapresiasi. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan perempuan belum berakhir. Tantangan yang dihadapi hari ini bukan hanya soal akses, tetapi juga soal beban struktural yang terus melekat pada kehidupan perempuan sepanjang siklus hidupnya.

Beban Ganda yang Masih Dianggap Wajar

Salah satu tantangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan adalah beban ganda. Banyak perempuan menjalani peran sebagai pekerja—baik di sektor formal maupun informal—sekaligus tetap memikul tanggung jawab utama atas pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan keluarga.

Di Indonesia, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai sekitar 54%, sementara laki-laki berada di atas 80%. Namun meskipun semakin banyak perempuan yang bekerja, tanggung jawab pekerjaan domestik dan perawatan keluarga masih sangat didominasi perempuan. Pekerjaan domestik dan perawatan ini sebagian besar bersifat unpaid domestic work: tidak dibayar, tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi, dan sering dianggap sebagai “kodrat”. Padahal, pekerjaan ini membutuhkan  waktu, energi, dan mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental perempuan.

Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Selain beban domestik, perempuan juga lebih rentan mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, baik di ranah domestik maupun publik. Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 10 perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan selama hidupnya, dan angka ini lebih tinggi jika termasuk kekerasan oleh pelaku non-pasangan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat puluhan ribu kasus kekerasan berbasis gender setiap tahun, dengan kekerasan seksual sebagai salah satu bentuk yang paling dominan. Dampaknya tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga mencakup trauma psikologis, gangguan kesehatan reproduksi, dan penurunan kualitas hidup perempuan.

Kematian Ibu dan Penyakit Degeneratif pada Perempuan

Dalam bidang kesehatan, ketimpangan terhadap perempuan juga tercermin dari masih tingginya angka kematian ibu. Berdasarkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu di Indonesia mencapai sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup, padahal sebagian besar penyebabnya dapat dicegah melalui pelayanan kesehatan yang tepat waktu dan berkualitas.

Di luar kehamilan dan persalinan, perempuan juga menghadapi beban penyakit degeneratif yang signifikan. Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hipertensi, dan osteoporosis merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Perempuan memiliki kerentanan khusus terhadap beberapa penyakit ini, dipengaruhi oleh faktor biologis, hormonal, beban kerja ganda, stres kronis, serta keterlambatan deteksi dini.

Mengapa Bidan Harus Ikut Andil?

Dalam konteks tantangan tersebut, bidan memiliki peran yang sangat strategis. Bidan bukan hanya tenaga kesehatan yang hadir saat persalinan, tetapi pendamping perempuan sepanjang siklus hidup—dari remaja, usia reproduksi, kehamilan, nifas, hingga masa lanjut usia.

Peran bidan menjadi krusial dalam hal:

  • promosi kesehatan yang peka gender,
  • deteksi dini masalah kesehatan dan kekerasan terhadap perempuan,
  • penguatan perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi,
  • pemberdayaan perempuan agar memiliki pengetahuan dan posisi tawar dalam pengambilan keputusan kesehatan.

Hari Ibu sebagai Momentum Perubahan

Hari Ibu seharusnya menjadi pengingat bahwa menghormati perempuan tidak cukup dengan simbol dan ucapan. Penghormatan sejati terwujud melalui upaya nyata untuk mengurangi beban yang tidak adil, melindungi perempuan dari kekerasan, serta memastikan perempuan dapat hidup sehat dan bermartabat sepanjang hidupnya.

Perjuangan perempuan belum berakhir. Dan bidan, dengan ilmu, empati, dan perannya di masyarakat, harus ikut andil dalam perjuangan ini.

Untuk mewujudkan keadilan dan kesehatan bagi perempuan, dibutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga peka terhadap realitas sosial. Program Studi S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata memegang peran penting dalam menyiapkan bidan yang mampu berkontribusi nyata bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat.
Menjadi bidan bukan sekadar profesi, tetapi panggilan untuk mendampingi, melindungi, dan memperjuangkan kesehatan perempuan—hari ini dan untuk generasi yang akan datang.

Daftar Pustaka 

  1. Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia 2023. Jakarta: BPS; 2023.
  2. Badan Pusat Statistik. Angka Kematian Ibu (AKI) Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020. Jakarta: BPS; 2021.
  3. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024. Jakarta: KemenPPPA; 2024.
  4. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan. Jakarta: Komnas Perempuan; 2024.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
  6. World Health Organization. Noncommunicable Diseases Country Profile: Indonesia. Geneva: WHO; 2022.
Mencegah Perilaku Seksual Remaja: Langkah Penting Menghindari Kehamilan Tidak Diinginkan

Mencegah Perilaku Seksual Remaja: Langkah Penting Menghindari Kehamilan Tidak Diinginkan

Mencegah Perilaku Seksual Remaja: Langkah Penting Menghindari Kehamilan Tidak Diinginkan

created by: Fatimatasari, M.Keb., Bdn

Kehamilan tidak diinginkan pada remaja masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat kehamilan, tetapi juga memengaruhi pendidikan, kesehatan mental, serta masa depan sosial dan ekonomi remaja. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan laporan BKKBN menunjukkan bahwa sebagian remaja mulai terpapar perilaku seksual berisiko sejak usia sekolah, sementara kesiapan fisik, emosional, dan sosial mereka masih terbatas.

Di sisi lain, penggunaan alat kontrasepsi bagi remaja belum menjadi kebijakan yang dilegalkan secara luas di Indonesia. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya pencegahan kehamilan remaja tidak dapat hanya mengandalkan kontrasepsi, melainkan perlu difokuskan pada pendekatan protektif non-kontraseptif, terutama pencegahan perilaku seksual pranikah.

Secara ilmiah, menghindari hubungan seksual pranikah merupakan satu-satunya cara yang memberikan perlindungan maksimal terhadap kehamilan. Tidak ada metode kontrasepsi yang sepenuhnya bebas dari risiko kegagalan. Karena itu, promosi kesehatan reproduksi yang melibatkan berbagai pihak menjadi sangat penting dan relevan dengan konteks sosial dan kebijakan di Indonesia.

Berikut upaya bersama yang dapat dilakukan:

1. Peran Remaja

Remaja memiliki peran utama dalam melindungi dirinya sendiri. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memahami kesehatan reproduksi secara benar, termasuk risiko perilaku seksual dan konsekuensinya.
  • Mengembangkan keterampilan menolak tekanan dari teman sebaya dan lingkungan.
  • Menetapkan batasan diri dalam pergaulan sesuai nilai agama dan norma sosial.
  • Memfokuskan diri pada pendidikan, pengembangan potensi, dan perencanaan masa depan

2. Peran Orang Tua

Orang tua adalah pendamping terdekat remaja. Peran penting orang tua meliputi:

  • Membangun komunikasi terbuka dan aman tentang pubertas, pergaulan, dan relasi yang sehat.
  • Menjadi teladan dalam nilai moral, sikap, dan perilaku sehari-hari.
  • Memberikan pengawasan yang suportif dan penuh empati, bukan kontrol yang menekan.

3. Peran Sekolah

Sekolah memiliki posisi strategis dalam pencegahan kehamilan remaja melalui:

  • Penyediaan edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai usia dan kebutuhan remaja.
  • Integrasi pendidikan karakter, nilai agama, dan kesehatan mental dalam pembelajaran.
  • Penguatan peran guru BK dan layanan konseling sebagai ruang aman bagi remaja.

4. Peran Masyarakat

Lingkungan sosial yang sehat akan memperkuat perlindungan bagi remaja, antara lain dengan:

  • Menciptakan lingkungan yang aman dan ramah remaja.
  • Menghidupkan nilai sosial dan budaya yang mendukung perilaku sehat.
  • Mendukung program pendampingan dan promosi kesehatan remaja di komunitas.

Pencegahan kehamilan tidak diinginkan pada remaja tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama: remaja yang berdaya, orang tua yang terlibat, sekolah yang proaktif, dan masyarakat yang peduli. Promosii kesehatan reproduksi yang ramah remaja, berbasis nilai, dan berorientasi pencegahan adalah kunci untuk melindungi generasi muda Indonesia.

Ingin berkontribusi langsung dalam promosi kesehatan remaja dan perempuan Indonesia?
Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menawarkan keunggulan dalam health promotion kebidanan, membekali mahasiswa tidak hanya dengan keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan edukasi, pencegahan, dan pemberdayaan masyarakat. Bersama Universitas Alma Ata, mari mencetak bidan profesional yang berperan aktif menjaga kesehatan remaja, ibu, dan generasi masa depan Indonesia.

Referensi:

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2018). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: BKKBN, BPS, Kementerian Kesehatan, dan ICF.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2020). Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R): Pedoman Pengelolaan. Jakarta: BKKBN.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Direktorat Kesehatan Keluarga.

World Health Organization. (2011). Preventing early pregnancy and poor reproductive outcomes among adolescents in developing countries. Geneva: WHO.

World Health Organization. (2018). Global accelerated action for the health of adolescents (AA-HA!): Guidance to support country implementation. Geneva: WHO.

Madkour, A. S., Farhat, T., Halpern, C. T., Godeau, E., & Gabhainn, S. N. (2010). Early adolescent sexual initiation as a problem behavior: A comparative study of five nations. Journal of Adolescent Health, 47(4), 389–398. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2010.02.008

Puspitawati, H., & Herawati, T. (2017). Pengaruh keharmonisan keluarga terhadap perilaku berisiko remaja. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 10(1), 1–10.

Fitriah, N., & Mardhiah, A. (2022). Kehamilan tidak diinginkan pada remaja dan faktor yang memengaruhinya. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 13(2), 85–94.

Salah satu dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata, Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, resmi menerima kenaikan jabatan fungsional menjadi Lektor. Penyerahan Surat Keputusan Jabatan Fungsional (Jabfung) ini dilaksanakan dalam acara resmi yang diikuti oleh para dosen dari berbagai perguruan tinggi swasta di wilayah LLDIKTI V.

Kenaikan jabatan ini menjadi bukti konsistensi Program Studi dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia serta mendorong pengembangan karir dosen secara berkelanjutan. Selama ini, Ibu Lia aktif dalam berbagai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi; pengajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Kontribusinya dalam berbagai inovasi pembelajaran turut memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu akademik di lingkungan FKIK.

Program Studi menilai pencapaian ini sebagai langkah penting dalam memperkuat kualitas tenaga pendidik sekaligus menjadi motivasi bagi dosen lain untuk terus meningkatkan kompetensi akademik maupun profesional. Prestasi tersebut juga mempertegas komitmen Prodi dalam menciptakan lingkungan akademik yang suportif, berorientasi mutu, dan mendorong hadirnya pendidik yang unggul serta berdampak bagi masyarakat.

Dengan capaian ini, Program Studi Kebidanan semakin meneguhkan perannya dalam mendukung visi Universitas Alma Ata untuk menghadirkan pendidikan berkualitas dan menghasilkan lulusan yang kompeten serta siap menjawab tantangan masa depan.

Merawat Emosi Ibu di Masa Kehamilan dan Setelah Melahirkan

Merawat Emosi Ibu di Masa Kehamilan dan Setelah Melahirkan

Kehamilan sering digambarkan sebagai masa yang penuh kebahagiaan. Banyak yang membayangkan ibu yang tersenyum lembut sambil membelai perutnya, atau suasana haru ketika bayi pertama kali hadir dalam pelukan. Namun, di balik gambaran indah tersebut, kenyataan bagi sebagian ibu bisa sangat berbeda. Kehamilan dan kelahiran adalah proses besar yang tidak hanya melibatkan perubahan fisik, tetapi juga perubahan emosional dan mental yang mendalam. Di sinilah pentingnya memahami kesehatan mental perinatal selama hamil hingga satu tahun setelah melahirkan.

Pada masa ini, tubuh ibu mengalami perubahan hormon yang begitu cepat, memengaruhi suasana hati dan kestabilan emosinya. Selain itu, ibu juga mulai menyesuaikan diri dengan peran baru, menghadapi berbagai harapan sosial, serta belajar menerima tanggung jawab untuk merawat seorang bayi yang sepenuhnya bergantung padanya. Semua ini bukan hal kecil. Tidak heran jika banyak ibu merasa kewalahan, cemas, atau bahkan sedih, meski mereka sangat mencintai anaknya.

Perasaan seperti mudah menangis, khawatir berlebihan, atau merasa tidak percaya diri dalam merawat bayi, sering kali muncul pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan. Kondisi ini dikenal sebagai baby blues dan biasanya akan mereda dengan dukungan dan istirahat yang cukup. Namun, bagi sebagian ibu, perasaan sedih dan tertekan dapat berlangsung lebih lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Inilah yang dikenal sebagai depresi perinatal. Ibu mungkin merasa dirinya gagal, merasa tidak mampu menjadi ibu yang baik, atau merasa terputus dari bayinya. Kondisi ini bukan berarti ibu lemah atau kurang bersyukur. Ini adalah reaksi emosional yang nyata dan membutuhkan perhatian.

Sayangnya, banyak ibu menyimpan perasaannya sendiri. Mereka takut dianggap tidak kuat, tidak cukup keibuan, atau khawatir dinilai sebagai ibu yang buruk. Mereka tersenyum di depan orang lain padahal hatinya berjuang keras setiap hari. Ketika hal seperti ini terjadi, keberadaan lingkungan yang memahami menjadi sangat penting. Sebuah kalimat sederhana seperti “Tidak apa-apa merasa lelah, kamu tidak sendirian” bisa menjadi pelukan emosional yang sangat berarti.

Dalam hal ini, bidan memiliki peran yang sangat dekat dan penting. Bidan tidak hanya mendampingi ibu dalam perawatan kehamilan dan proses persalinan, tetapi juga dapat menjadi sosok yang peka terhadap kondisi emosional ibu. Dengan mendengarkan cerita ibu tanpa menghakimi, memberikan rasa aman untuk berbagi, dan mengenali tanda-tanda stres yang berlebihan, bidan dapat menjadi jembatan antara ibu dan layanan pendampingan psikologis jika diperlukan. Sebuah sentuhan hangat pada bahu, tatapan yang penuh empati, atau sekadar menyediakan ruang untuk ibu menceritakan kekhawatirannya, dapat membantu mengurangi rasa kesepian yang sering dirasakan ibu baru.

Keluarga pun memegang peran penting. Dukungan yang paling dibutuhkan ibu bukanlah nasihat panjang atau tuntutan untuk “tetap kuat”, melainkan kehadiran yang tulus. Membantu pekerjaan rumah, memberikan waktu agar ibu bisa beristirahat sejenak, mendengarkan keluhannya tanpa menyela, atau sekadar memeluknya saat ia merasa lelah, dapat membantu ibu merasa lebih dihargai dan tidak sendirian.

Kesehatan mental perinatal bukan hanya tentang menjaga perasaan seorang ibu. Dampaknya jauh lebih luas. Ibu yang tenang dan merasa didukung dapat membangun hubungan emosional yang lebih hangat dengan bayinya. Bayi yang tumbuh dalam pelukan penuh cinta dan ketenangan akan berkembang dengan lebih baik, baik secara emosional maupun fisik. Dengan kata lain, merawat kesehatan mental ibu berarti merawat masa depan anak dan keluarga.

Maka, penting bagi kita semua—tenaga kesehatan, pasangan, keluarga, dan lingkungan—untuk melihat ibu bukan hanya sebagai sosok yang melahirkan, tetapi juga sebagai manusia yang sedang berjuang. Ia tidak hanya membutuhkan perawatan fisik, tetapi juga ruang untuk merasa, menangis, tersenyum, dan dipahami. Sebab menjadi ibu bukan pekerjaan yang mudah, tetapi dengan dukungan yang tepat, perjalanan itu dapat menjadi lebih lembut dan penuh makna.